Merubah takdir ' Mawar Putih '

Merubah takdir ' Mawar Putih '
BAB 16


__ADS_3

Awal minggu ini aku menghadiri kelas pembelajaran Tuan Louise tanpa Albert . Tuan Louise tetap mengajar dengan serius, selayaknya ia merasa tak ada yang berubah sama sekali .


Aku menikmati hari-hari single ku tanpa Albert, aku melakukan apapun yang menyenangkan . Aku juga kadang-kadang mengumpat pelan ketika tidak ada orang di sekitar, aku merasa lebih bebas karena tidak ada yang mengawasi tingkahku ' apakah anggun atau tidak, apakah layak atau tidak ' .


3 hari berturut-turut berlalu dengan cepatnya, kini saat pembelajaran militer kembali . Minggu ini juga tetap bersama Kapten Felix karena Raja Damien masih sibuk dengan segala urusan dengan delegasi asing .


Kami melanjutkan tentang taktik dan strategi pasukan seperti kemarin, kali ini Kapten Felix membawa peta benua dunia ini serta beberapa balok-balok dan tiang-tiang bendera mini . Kali ini Kapten Felix juga memperagakan sebagian adegan sehingga aku mudah untuk mengerti .


Mungkin Raja Damien lah yang mengusulkan metode ini karena tahu jika Kapten Felix tidak pandai berbicara .


Kapten Felix ialah seorang yang pemalu sehingga pada usianya ini, ia belum juga memiliki pasangan . Atau dia terlalu serius dengan pekerjaannya sehingga tidak berminat memiliki keluarga, tapi kurasa hampir semua prajurit seperti itu . Bagaimana pun sangat di sayangkan untuk wajah tampan yang di milikinya, ' Hah ... jika saja aku juga menyukai tipe hot daddy maka aku juga akan bermain-main dengannya ' pikirku .


Pembelajaran militer minggu ini cukup menyenangkan, aku dapat memahami sebagian besar dari yang di jelaskan oleh Kapten Felix .


Sampailah pada akhir pekan pelatihan beladiri lagi bersama Kapten Molly yang lugas, Kapten Molly sendiri lebih muda  2 atau 3 tahun dari Kapten Felix, juga merupakan satu-satunya seorang Kapten wanita . Dia menjadi idola bagi kaum wanita di kamp pelatihan prajurit kekaisaran dan pelayan istana .


Kapten Molly juga memimpin sebuah pasukan khusus yang terdiri dari sekelompok prajurit wanita bertugas untuk menyusup di pasukan musuh .


Kali ini Kapten Molly mengajariku secara langsung bagaimana menunggangi kuda untuk melewati berbagai rintangan . Kami menunggangi Blake dengan posisi Kapten Molly yang berada di belakangku memberikan arahan .


Aku memacu Blake ke landasan pacu kuda, aku sedikit tegang karena kejadian kemarin tapi aku tetap mencoba setenang mungkin .


" Jangan takut, jika Yang Mulia Putri takut maka kudanya akan panik " teriak Kapten Molly dari arah belakang


Aku pun memantapkan hatiku agar tidak takut . Ketika balok rintangan pertama terlihat di depan, aku menarik tali kekang dengan sedikit kencang tapi tidak terlalu keras . Blake mengangkat kaki depannya dan melompat dengan mudah, aku sedikit terguncang ke depan ketika kuda itu menapak lalu berlari lagi . Lompatan ke dua aku menjadi sedikit tenang dan tidak khawatir lagi . Ke tiga lalu ke empat dan seterusnya akhirnya rintangan awal yang paling sederhana sudah terlewati . Aku menarik tali kekang ringan dan akhirnya Blake berhenti, aku mengelus surai itu sedikit .


" Sangat bagus Yang Mulia Putri, kali ini anda akan mencoba melewati rintangan sendiri " ujar Kapten Molly lalu melompat turun dari Blake


Aku mengangguk dan memacu kudaku lagi dengan keyakinan kali ini . Aku melewati rintangan dengan mudah, aku pun tersenyum dengan gembira ' Sialan, aku sungguh terlihat keren sekarang ' pikirku sombong


Kapten Molly pun memerintahkan berberapa prajurit yang berjaga untuk mengganti balok rintangan dengan ukuran yang lebih tinggi, dan ketika aku melihatnya yang terlintas di pikiranku ' Aku sungguh ingin menampar mulutku tadi '


Kapten Molly naik ke atas kudanya dan memperagakan lagi, kuda itu melaju sangat cepat dan dengan hentakan keras kuda itu melompat sangat tinggi dan mendarat dengan gagah . ' Ah, aku merasa seperti pemain figuran  ' batinku


Kapten Molly pun memerintahkan aku untuk mencobanya . Aku menarik nafas dingin lalu memacu Blake dengan cepat, ketika balok rintangan di depan mata aku menghentakkan tali kekang dengan keras, Blake melompat dengan tinggi tapi itu tidak cukup tinggi sehingga kaki belakangnya tetap tersandung balok rintangan . Blake mendarat dengan tidak stabil, aku terlonjak dari punggung kuda berteriak dengan panik lalu reflek mencengkeram leher Blake dengan keras .


Para prajurit yang berjaga segera bergegas menenangkan kuda, setelah kurasa Blake sudah tenang aku bangkit duduk dengan tegak lagi . Kapten Molly menghampiri sambil menunggang kudanya datang untuk memeriksa kondisiku .


" Yang Mulia Putri apa anda terluka ?? " tanyanya santai seolah basa basi


Aku menggeleng sambil tersenyum malu " Tidak, hanya terkejut "


" Kalau begitu kita bisa melanjutkan lagi latihannya " katanya santai lalu berlalu kembali ke sisi tepi landasan .


' Sialan, apa definisi kenapa-napa baginya itu aku harus terluka dulu ' pikirku tercengang, lalu menggerutu ringan


" Huh, bagaimana pun aku adalah seorang Putri yang di manjakan " gumamku kesal


Aku tidak tahu dan tidak peduli apakah prajurit di sisi yang memegangi Blake mendengar atau tidak bagaimana pun mereka tidak akan berani mengatakan apa-apa di depanku . Aku membalikkan Blake kembali ke tengah landasan pacu, lalu kembali berkonsentrasi dengan balok-balok rintangan lagi .


Sepanjang hari ini aku berlatih memacu kuda melewati berbagai balok rintangan di lintasan . Aku berlatih hingga sore hari, dan  berhenti ketika Kapten Molly berkata cukup . Hasil yang diperoleh oleh latihan yang ekstrim hari ini cukup memuaskan bagi Kapten Molly, aku dapat melewati rintangan sederhana dengan mudah, melewati rintangan sedang dengan tingkat keberhasilan 50 %, dan rintangan rumit 20% .


Aku kembali ke istanaku dengan langkah kaki goyah seakan-akan bisa rubuh kapan saja . Ketika sampai di istana aku bersandar pada para pelayan pribadiku dan bergumam " aku lelah, kakiku sakit " , Deenna sangat khawatir dibuatnya sampai akan memanggil dokter kekaisaran tapi aku segera tersenyum menenangkannya agar tidak panik . Akhirnya aku dipapah oleh mereka ke kamar mandi untuk membersihkan diriku, air hangat dan pijatan segera merilekskan diriku .


Selesai membersihkan diri aku bersantai di ruang depan kamar tidurku sambil meminum teh yang di sajikan . Aku menunggu Lady Marie Antoinette untuk datang mengajar, aku ingin mengulas beberapa ritme biolaku karena sudah lama aku tidak memainkannya .


Lady Marie datang tidak lama, ia seorang yang selalu tepat waktu dalam janjinya . Kami maemainkan biola di balkon kamarku yang menghadap hamparan bunga di taman, menikmati teh bunga yang ringan dan segar juga hingga senja datang dan Lady Marie pamit untuk kembali ke kediaman Antoinette .


Saat malam aku berjalan menuju ruang makan di istana utama, untuk makan malam bersama Raja Damien dan Ratu Carissa . Makan malam hangat seperti biasanya, kami berbincang-bincang sedikit lalu kembali ke urusan masing-masing .


Aku menyeret langkahku lelah menuju kamar tidurku . Aku sangat lelah hari ini melemparkan tubuhku langsung ketika melihat kasur empuk lalu jatuh tertidur ketika bertemu dengan bantal yang lembut . Tidur nyaman sampai keesokan harinya .


Pagi-pagi sekali Tuan Muda Albelart sudah berkunjung ke istana Putri Clea, tapi justru Deenna datang memberitahu jika Yang Mulia Putri sendiri belum bangun dari tidurnya .


" Yang Mulia Putri merasa lelah kemarin seusai latihan kuda sehingga belum bangun dari tidurnya sampai sekarang " kata Deenna sopan


" Tak masalah, aku tidak  akan mengganggu dan menunggunya disini " kata Albert datar sambil duduk di sofa ruang tamu bawah


Para pelayan pribadiku pun saling memandang dan tidak mengatakan apa-apa lagi . Mereka membawakan teh dan makanan ringan untuk Tuan Muda Albelart itu .

__ADS_1


Albert menyesap teh bunga di cangkir kaca yang indah, teh bunga merupakan ciri khas teh yang di sediakan oleh istana Yang Mulia Putri karena beliau sangat menyukai bunga . Sudut bibir Albert sedikit naik, ia melihat ke arah luar jendela yang menunjukkan hari hampir siang ' dasar gadis pemalas ' pikirnya, tapi matanya melembut seakan sudah jatuh hati pada Putri Clea .


Aku mengerjapkan mataku yang terganggu oleh sinar matahari, bangkit duduk karena sudah terganggu dan tidak bisa tidur lagi . Aku menguap lebar-lebar sambil merenggangkan tubuh yang kaku, lalu bangkit dan turun dari tempat tidur . Blance dan Chacha yang menunggu diluar, mendengar suara dari dalam kamar tidur segera mengetuk pintu .


" Putri, apa anda sudah bangun ?? " tanya Blance dari balik pintu


" Sudah, masuklah " kataku serak sehabis bangun tidur, aku masih duduk melamun di tepi tempat tidur .


Blance dan Chacha memasuki kamar tidurku, Blance membantuku untuk mengenyeka sisi-sisi wajahku dengan air hangat, Chacha sibuk membuka korden dan merapikan tempat tidurku . Aku berjalan ke arah kamar mandi yang sudah di siapkan dengan Alice . Aku mandi singkat lalu berganti dengan gaun yang cantik, gaun itu bercorak bunga musim semi yang indah tapi sangat rumit . Aku sedikit mengernyit heran ketika Alice memilih gaun itu karena hari ini adalah hari libur dan aku tidak harus berpakaian rumit, aku pun menatapnya tapi gadis itu justru menunduk dengan ekspresi malu .


Aku ingin bertanya ' ada apa ? ' ketika pintu kamarku tiba-tiba terbuka dan Deenna muncul dari arah pintu .


" Putri, Tuan Muda Albelart sedang menunggu di bawah " kata Deenna sopan


" Albert ?? dia datang ?? apa dia sudah lama sampai ?? " tanyaku bingung


" Uhuk , Tuan Muda Albelart sudah tiba sejak tadi pagi tetapi ketika saya mengatakan Tuan Putri masih tidur, Tuan Muda mengatakan akan menunggu " kata Deenna terbatuk canggung


" Ah, jadi begitu " kataku santai seolah tidak berfikir bahwa jika akulah orang yang sedang di tunggu itu


" Kalau begitu dandani aku dengan cantik sehingga Albert tidak akan marah nanti " kataku ringan


Alice mulai menata rambutku, ia mengoleskan gel wangi bunga yang membuat rambut lurusku menjadi bergelombang cantik, ia juga membuat kepang kecil di atasnya dan terakhir di sematkan mahkota kecil berhias berlian yang membuat penampilanku sangat cantik dan anggun . Aku menarik laci dan mencari-cari sesuatu di dalamnya .


" Deenna bantu aku mencari kalung red diamond yang di hadiahkan keluarga bangsawan Albelart dulu waktu aku berulang tahun " kataku pada Deenna yang menunggu di samping


Deenna datang ke sisiku dan membuka beberapa laci perhiasanku, ia lalu mengambil sebuah kotak sedang untuk di berikan padaku .


" Putri perhiasan dengan red diamond ada di kotak ini semua " katanya sambil menyerahkan kotak perhiasan sedang itu padaku


Aku membuka kotak itu, yang berisi beberapa perhiasan yang terdapat red diamond yang langka . Aku menyingkirkan beberapa anting, cincin, dan kalung yang bukan sesuai dengan ingatanku . Setelah mengobrak-abrik sedikit akhirnya aku menemukan kalung itu, kalung pemberian keluarga bangsawan Albelart pada ulang tahunku ke 7 tahun .


Aku memakainya dan berjalan ke cermin, lalu tersenyum puas ' cantik sangat cocok dengan bunga-bunga di gaunku ' pikirku .


Aku pun berjalan keluar kamar tidurku, lalu berjalan ke arah tangga . Dari kejauhan terlihat Albert yang sedang duduk dan meminum teh di sofa ruang tamu, terlihat seperti seorang pria bangsawan yang elegan . Aku pun tersenyum lalu berjalan turun dari tangga, Albert mengadah ketika mendengar suara langkah kaki . Aku berhenti di tengah tangga ketika ia menatapku .


" Albert " teriakku sambil tersenyum manis


" Putri, hati-hati " teriak Deenna cemas


Albert langsung bangkit panik dan bergegas ke arah tangga ketika melihatku yang berlari menuruni tangga, ia juga takut aku akan jatuh di tangga .


Aku melihatnya bergegas ke arah tangga dengan cemas, aku pun tertawa dan melompat ke pelukannya . Albert sedikit terhuyung mundur karena tekanan tubuhku tapi ia segera memegangi pinggangku agar aku stabil, aku melingkarkan lenganku di lehernya dan menenggelamkan wajahku di ceruk lehernya .


" Albert, apa kau merindukanku ?? " kataku di samping telinganya


" Ehm " gumamnya sedikit malu karena banyak sekali yang melihat


" Aku juga " bisikku di telinganya


" Uhuk " Albert terbatuk malu dengan ujung telinga yang memerah .


Aku terkikik geli di buatnya . Aku melepaskan pelukanku dan menggandeng tangannya ke sofa untuk duduk mengobrol .


" Putri, apakah tidur anda nyenyak ?? " tanyanya basa-basi


Aku berfikir dia sedang menyindirku jadi aku membalas dengan dingin " aku jatuh tertidur begitu saja karena kelelahan "


" Jangan terlalu memaksakan dirimu saat berlatih " katanya perhatian


' Ah ! ternyata dia tidak sedang menyindirku ' pikirku malu


" Yah mau bagaimana lagi tidak ada yang menggendongku ketika aku lelah selesai berlatih " kataku iseng


" Maaf Putri, ini salah saya karena tak bisa menemanimu " kata Albert sambil menunduk menyesal


" Lupakanlah, aku juga bersenang-senang tanpamu " kataku ringan


" Apa ?? " seru Albert terkejut

__ADS_1


Matanya berfluktuasi lagi antara terkejut, takut, bingung, dan sedikit kecewa . Aku tertawa menanggapi responnya


" Hehehe aku hanya bercanda " kataku sambil tersenyum geli


" Hah ... kukira ... " gumamnya terputus sambil menghela nafas lega


" Apa ?? kau kira aku sudah menemukan penggantimu begitu ?? " kataku sambil cemberut


Albert terseyum penuh arti ketika melihatku dapat mengerti apa yang ada di pikirannya


" Aku tidak akan menggantimu, memang ada yang lebih bagus darimu ?? " kataku menantang


" Tentu saja tidak ada " jawabnya langsung, terlihat yakin tanpa keraguan sedikitpun


" Hehehe kau benar, dimana lagi aku menemukan yang setampan dirimu " kataku menggodanya


" Uhuk Putri " Albert tersedak mendengarnya " jangan terlalu langsung, banyak pelayan yang melihat " lanjutnya pelan


" Ah ! jadi kau ingin berduaan bersamaku saja " kataku malu-malu


Albert tersedak panik, bingung akan bereaksi apa


" Albert aku lapar " kataku pelan sambil menyentuh perutku


Albert menunduk menatap perut rataku, ia baru sadar sekarang jika aku baru bangun tidur dan belum sempat sarapan .


" Kalau begitu mari ku temani makan " katanya sambil mengandeng tanganku


" Putri, silahkan anda pergi ke meja makan saya akan segera meminta koki untuk  menyajikan hidangan " kata Deenna yang menunggu agak jauh


Mereka akan segera pergi ke dapur ketika aku berteriak


" Tunggu !! aku tidak akan makan di meja makan . Kemas saja beberapa sandwich dan kue di keranjang, aku ingin piknik dengan Albert di taman " kataku pada mereka


" Baik Putri " kata pelayanku serempak lalu berlalu menyiapkan perlengkapan


" Kau suka ?? " kataku pelan sambil melirik Albert yang tersenyum penuh arti


10 menit kemudian,


Kini aku dan Albert sedang berjalan di ladang bunga, kami sedang menuju ngarai tepi danau untuk bersantai di sana . Aku memegang payung putih penuh renda yang cantik sedangkan Albert membawa keranjang besar penuh peralatan piknik dengan satu tangan, sedangkan tangan lainnya sedang menggandengku .


Beberapa saat lalu,


" Putri, mari " kata Alice dengan Deenna yang membawa payung serta keranjang piknik yang besar


" Kalian tetaplah di kediaman, aku akan piknik berdua bersama Albert saja " kataku ringan


" Tapi ... " kata Deenna ingin membujuk tapi segera di hentikan Alice


Deenna pun menangguk ringan mengerti lalu menyerahkan keranjang besar itu pada Tuan Muda Albelart yang menunggu di sisiku, Albert menerimanya dan berjalan bersamaku membawa payung itu sendirian .


Kini,


Kami berjalan menyusuri kebun bunga yang sedang mekar dengan indah, aroma bunga semerbak di sepanjang jalan yang kami lewati .


" Apa kau lelah ?? " tanya Albert kepadaku


Aku menggeleng sambil tersenyum " Tidak apa-apa, ini tidak jauh sebentar lagi akan sampai " kataku sambil menatapnya


Itu memang tidak jauh karena baru saja aku selesai berbicara, danau itu sudah terlihat . Kami berjalan ke arah pohon besar yang rindang, Albert meletakkan keranjang besar itu di tepi dan mulai membongkar isinya .


" Biar kubantu " kataku pada Albert yang akan menggelar tikar untuk duduk


" Tidak apa-apa, saya bisa melakukan sendiri . Putri, anda tidak perlu repot, tunggu saja sebentar " kata Albert pelan


Aku pun tidak berdebat dengannya, aku berlalu melihat danau yang berkilau terkena sinar matahari . Albert pun menggelar tikar untukku duduk, lalu menyiapkan seperangkat teh dan bebagai cemilan yang ada di keranjang .


" Putri, duduklah " teriak Albert ke arahku yang melihat danau

__ADS_1


Aku berjalan ke arahnya dan duduk di sisinya . Albert menuangkan secangkir teh untukku minum, aku menyesap teh bunga itu dan memakan beberapa kue untuk menenangkan perutku yang lapar .


Kami pun menikmati piknik itu besama ....


__ADS_2