Merubah takdir ' Mawar Putih '

Merubah takdir ' Mawar Putih '
BAB 41


__ADS_3

' Ternyata pelayan milik Yang Mulia Putri, pantas saja .... ' Gilbert Albelart


' Hihihi ... sepertinya Yang Mulia Raja akan mendapat masalah tambahan dari 2 wanita tercintanya ' Lady Antoinette


' Ah ... ternyata pelayan milik Yang Mulia Putri, kudengar ia amat sangat di manjakan oleh Yang Mulia Raja Damien dan sepertinya itu benar ' prajurit perbatasan dari Timur


' Hal ini harus dilaporkan pada jenderal Cassiopeia ' prajurit perbatasan Utara


' Apa Yang Mulia Raja lupa soal makan malam bersama ?? ku kira Yang Mulia Raja sudah mengirim pesan tidak akan datang, dan sepertinya ... ' Kapten Felix


' Tunggu ... makan malam ?? pukul berapa sekarang ?? kenapa tidak ada yang mengingatkanku ?? ' Raja Damien


Pikiran Raja Damien kacau seketika, ia terlalu larut dalam perkerjaannya dan sungguh tidak sadar melupakan makan malam bersama keluarga tercintanya . Raja Damien tetap diam dengan seribu pikiran bersatu bersamaan di benaknya, Deenna menunggu dengan sopan akan jawaban dari Raja Damien yang masih kacau .


" Tidak heran Lady Antoinette tahu siapa pelayan itu, bagaimana pun juga anda adalah guru dari Tuan Putri Clea " cetus Gilbert Albelart dengan sinis


Lady Antoinette mengguncang kipasnya perlahan, ia tetap tersenyum dengan anggun seolah tak mendengar perkataan sarkasme dari Kepala keluarga Albelart .


" Tuan Albelart tak perlu merendah diri, bukankah Tuan Muda Albelart juga teman belajar dari Tuan Putri . Apalagi kudengar hubungan mereka sangat baik, tapi dari yang kulihat hari ini sepertinya itu hanya rumor ... " kata Lady Antoinette


Lady Antoinette berbisik dengan perlahan dan sikap yang anggun, ia menutupi mulutnya dengan kipas sutra dan berbicara dengan pelan supaya tidak terdengar ke telinga Yang Mulia Raja .


Gilbert Albelart yang mendengar perkataan sarkasme halus dari Lady Antoinette, mengeratkan rahangnya kesal tapi ia tak boleh marah saat ini . Apalagi bersikap tak sopan di hadapan yang Mulia Raja Damien, bisa-bisa itu menjadi bumerang masalah untuk dirinya sendiri .


" Kau ... ukh ... " geram Tuan Albelart tercekat di tenggorokan


Lady Antoinette tetap menatap lurus ke depan dan bersikap elegan, ia tak menggubris lagi akan kekesalan tak jelas dari Kepala keluarga Albelart itu . Lady Antoinette sedang tersenyum dan menggoyang-goyangkan kipasnya perlahan sambil menatap situasi kaku yang di depannya, begitu pula dengan semua orang yang ada di ruangan itu, mereka tengah diam menunggu kelanjutan dari situasi di depannya .


Jantung Deenna berdetak dengan sangat kencang, telapak tangannya berkeringat gugup bersama setiap detik ia berdiri di situ . Ia tak berani mengangkat kepalanya atau bersikap kurang sopan sedikitpun, karena semua orang yang ada di ruangan ini tengah memperhatikan setiap detail dari tingkah lakunya . Seolah mereka dapat mengetahui secuil informasi tentang Putri Clea dari dirinya .


Deenna harus berdiri tegak dan sopanĀ  meskipun ia merasakan kakinya saat ini lemas dan bisa jatuh terduduk kapan saja, ia terus berharap agar Yang Mulia Raja Damien segera memberinya jawaban agar ia dapat lekas pergi secepat mungkin dari tatapan menyelidik dari orang-orang tinggi di ruangan ini .


Raja Damien tetap diam, seribu pikiran berkecamuk di dalam benaknya . ' bagaimana ia bisa lupa ', ' betapa cerobohnya ia ', ' kenapa ia bisa membuat kesalahan yang fatal seperti ini ', ' jam berapa sekarang ', ' apakah permaisuri dan putrinya kini sedang marah sekarang ', ' kenapa tidak ada yang mengingatkannya ', ' pasti permaisuri dan putrinya kelaparan menunggunya ', ' mengapa mereka tidak makan dahulu ', ' bagaimana cara meminta maaf pada putri dan permaisurinya ', dan sebagainya .


Felix yang melihat situasi sekitar menjadi canggung sedangkan Raja Damien sendiri termenung dengan pikirannya yang berkeliaran kemana-mana, ia berdehem keras untuk menyadarkan Raja Damien yang sedang melamun .


Ehemmm ..


Raja Damien tersadar mendengar geraman suara Felix yang cukup keras di ruangan itu, Raja Damien bersikap tenang dan pandangan matanya pun menyapu sekitar pada semua orang yang kini sedang menatap serius padanya . Raja Damien meraih dan melihat jam di saku mantelnya, sudut matanya sedikit bergetar ketika ia tahu jam berapa saat ini .


Tapi Raja Damien tetap berpura-pura bersikap tenang meskipun kini hatinya tengah mengumpati kesalahannya, dan pikirannya tengah berputar keras untuk mencari-cari cara agar permaisuri dan putri kesayangannya tidak kesal .


" Ehem, Deenna kau kembalilah dulu . Minta kepala koki agar menghidangkan makanannya, aku akan datang sebentar lagi " ujarnya singkat


" Baik, Yang Mulia Raja . Hamba permisi dahulu " sahut Deenna hormat


Deenna pun menghela nafas lega akhirnya terbebas dari situasi kaku ini, ia pun menunduk memberi hormat pada Yang Mulia Raja dan semua orang yang ada di ruangan itu . Lalu ia berjalan pergi ke arah pintu ruang kerja, Felix yang masih di dekat pintu pun membukakan pintunya dan mengantarkan Deenna keluar dari ruang kerja Raja Damien .


Setelah Deenna keluar dari ruang kerja Raja Damien, ia berjalan dengan cepat di lorong istana seolah dikejar oleh sesuatu . Baru ketika ia yakin sudah agak jauh, Deenna berhenti sejenak dan bersandar ke dinding istana yang dingin karena kakinya lemas, ia menghela nafas keras-keras dan menyeka sedikit keringat di dahinya . Nyatanya Deenna hanya ingin kabur secepat mungkin dari sana sedari tadi, jantungnya sungguh tak mampu bertahan lagi jika berada lebih lama di sana .


Setelah Deenna pergi, para bangsawan kembali diam . Raja Damien menatap mereka sejenak dan berbicara serius kembali .


" Segera selidiki dengan teliti dan laporkan padaku tentang orang-orang yang mencurigakan tadi, dan jika terbukti mereka seorang mata-mata maka berikan mereka hadiah yang bagus " ujar Raja Damien dingin dan suram

__ADS_1


" Baik . Akan kami pastikan mereka akan menyesal pernah datang ke Kekaisaran Benedicte " sahut prajurit dari perbatasan Utara itu


" Tetap awasi dengan seksama pergerakan sekecil apapun dari Kekaisaran Theodore, dan laporkan dengan detail padaku . Jangan lengah dan siap siaga selalu " kata Raja Damien datar


" Baik !! " jawab prajurit dari perbatasan Timur dengan lantang


" Buat persiapan jika terjadi perang, berikan laporannya padaku secara rinci " perintah Raja Damien dengan singkat


" Mengerti, Yang Mulia " jawab Gilbert Albelart dengan datar juga


" Lady Antoinette, pertegas posisi netral kita pada kedua Kekaisaran secara langsung " perintah Raja Damien


" Baik, akan saya laksanakan segera " sahut Lady Antoinette dengan anggun


" Kalau begitu, kita lanjutkan lagi besok " ujar Raja Damien tergesa-gesa


Ia lantas langsung bangkit berdiri dan berjalan pergi berlalu keluar dari ruang kerja secepat angin, diikuti dengan Felix yang selalu setia di belakangnya .


Para tamu yang di tinggalkan begitu saja di ruangan tersebut tercengang hingga tak bisa mempercayai penglihatannya mereka masing-masing, setelah beberapa saat suara tawa kecil dari Lady Antoinette lah yang mengisi keheningan .


" Hihihi ... baiklah, tuan-tuan mari kembali " ujar Lady Antoinette dengan anggun sambil menggoyangkan kipasnya perlahan


Para prajurit utusan pun dengan kaku sambil menggaruk kepalanya canggung, menyetujui usulan dari Lady Antoinette . Mereka pun bersama-sama keluar dari ruangan tersebut dan berjalan di lorong istana .


" Ternyata kabar bahwa Yang Mulia Raja sangat menyayangi Putri, benar adanya " ceplos salah satu prajurit saat sedang berjalan


" Yang Mulia Putri adalah gadis yang cantik, pintar dan baik, kurasa tidak akan ada orang yang tidak menyayangi Yang Mulia Putri " sahut Lady Antoinette dengan wajah lembutnya ketika mengingat sosok Putri Clea


Para prajurit utusan pun hanya mengangguk-angguk mengerti, sedangkan Gilbert Albelart yang berjalan memimpin di depan sedikit melirik ke belakang pada 3 orang yang sedang mengobrol itu .


" Rumor apa ?? " tanya prajurit utusan dari Timur bingung


" Putri Mahkota ... " jawabnya dengan suara yang amat pelan dan hanya terdengar di antara mereka berempat saja


Prajurit dari perbatasan Timur pun berubah ekspresinya ketika mendengar apa yang keluar dari mulut prajurit satunya . Lady Antoinette berhenti menggoyangkan kipas sutranya, sedangkan Gilbert Albelart menajamkan pandangannya ketika telinga menangkap kata-kata itu .


" Apa yang kau katakan, diamlah jika tidak ingin mati " seru prajurit dari perbatasan Timur dengan waspada


" Hehehehe ..... aku hanya penasaran, apakah kasih sayang Yang Mulia Raja segitu besarnya hingga menjadikan Putri sebagai penerusnya " jawab berani prajurit itu lagi


Sepertinya ia sengaja memancing obrolan ke arah sini sedari awal tadi, entah apa yang dia inginkan sebenarnya . Mungkin Jenderal besar Cassiopeia tengah resah akan rumor ' Putri Mahkota ' yang tiba-tiba menyebar sangat cepat keseluruh Kekaisaran Benedicte, seperti api yang berkobar gila .


Prajurit dari perbatasan Timur pun menutup mulutnya dengan hati-hati, ia tak ingin terlibat masalah akan hal ini . Ia pun sedikit menjauh dari prajurit perbatasan Utara tersebut .


Gilbert Albelart diam membisu, ia tengah sibuk dengan pikirannya sendiri . ' Rumornya menyebar lebih cepat dari perkiraanku ' pikirnya dengan serius, kini ia harus mempersiapkan rencana lebih cepat karena sebentar lagi akan banyak anak bangsawan lainnya yang ingin menjadi pasangan pendamping dari Putri Clea jika ia sungguh menjadi Putri Mahkota .


Tak


Suara kipas di tutup dengan kencang menarik autensi dari keempat orang itu, mereka sama-sama menoleh ke arah Lady Antoinette yang kini berhenti berjalan dan berbalik menghadap prajurit utusan Utara itu .


Tatapan Lady Antoinette tetaplah ramah dan anggun, ia sama sekali tidak terlihat marah . Tapi entah kenapa autensi yang dihasilkannya membuat tidak nyaman orang yang sedang ditatapnya, seolah matanya bisa melubangi kepala prajurit itu dan melihat apa yang di pikirkan di dalamnya .


Prajurit utusan dari perbatasan Utara itu pun menjadi salah tingkah ketika di tatap langsung oleh Lady Antoinette .

__ADS_1


" Tuan ini, katakan saja pada orang yang menyuruhmu untuk menanyakan langsung yang ingin di ketahuinya pada Yang Mulia Raja sendiri . Sayang sekali kau membuang nyawamu hanya untuk rasa penasaran pada rumor belaka bukan ?? " sarkas Lady Antoinette


Prajurit dari Utara itu pun ekspresinya membeku, ia terdiam di tempatnya tak bisa berkata apapun sampai Lady Antoinette berbalik dan melanjutkan berjalan lagi di ikuti oleh Gilbert Albelart dan Prajurit dari Timur .


.


.


.


Jauh di depan ke empat orang itu ....


Raja Damien sedang berjalan dengan sangat cepat sehingga Felix yang mengikuti di belakangnya harus berlari kecil untuk mengikuti kecepatan Raja Damien .


Felix menggelengkan kepalanya kecil menatap Raja Damien yang tengah berwajah sangat serius saat ini, ia menghela nafasnya geli karena ekspresi itu . Orang yang tidak tahu kejadiannya mungkin mengira perang antara Kekaisaran Versailles dan Kekaisaran Theodore sudah meletus .


" Yang Mulia, tidak perlu terburu-buru " ujar Felix datar


" Tidak perlu terburu-buru kepalamu ..!! aku sudah terlambat 1 jam dan kau masih bilang tidak perlu terburu-buru .. !! " seru Raja Damien kesal


Kini ia tak memperhatikan kosakatanya sama sekali pada Felix, lagi pula awalnya mereka juga seorang teman seperjuangan dan juga hanya ada mereka berdua di lorong istana ini jadi Raja Damien tak menahan kekesalannya sama sekali dan melupakannya pada Felix yang ada di belakangnya .


Felix hanya menghela nafas kasar mendengar ucapan Raja Damien, ia sama sekali tak tersinggung, marah, ataupun kesal dengan ucapan itu . Lagipula ini bukan pertama kalinya Raja Damien menggunakannya untuk pelampiasan kekesalannya jika hanya ada mereka berdua saja . Raja Damien membuang martabatnya sebagai Raja dan Felix menerima begitu saja dan menganggapnya kekesalan dari seorang teman .


" Kau juga, kenapa tidak mengingatkanku makan malam .. !!! " omel Raja Damien lagi


' Bukankah anda sendiri yang bilang, tak ingin di ganggu siapapun ... ' batin Felix sambil memutar bola matanya jenuh


Jika sedang mengomel begini, Yang Mulia Raja Damien sungguh mirip dengan Putri Clea yang sedang marah .


" Sekarang alasan apa yang harus ku gunakan nanti .. ??!! " katanya lagi


" Yang Mulia Raja tak perlu mencari alasan, Yang Mulia Ratu dan Putri akan mengerti dengan sendirinya kesibukan dari anda " jawab Felix


" Tapi, aku masih merasa bersalah telah membuat kedua orang yang kucintai menungguku untuk makan bersama . Pasti mereka lapar karena aku terlalu lama " omel Raja Damien lagi


Felix hanya menghela nafasnya lagi dan diam tak berusaha menjawab perkataan Raja Damien lagi ..


Kami berjalan sangat cepat diiringi oleh geeutuan Raja Damien di sepanjang jalan ke ruang makan utama, sehingga Felix hampir tersiksa telinganya . Ketika pintu ruang makan sudah terlihat di depan, Felix akhirnya bernafas lega . Ia sama sekali tak menyembunyikan kelegaannya, meskipun Raja Damien melirik kesal padanya .


Prajurit yang sedang berjaga di depan pintu melihat kedatangan Yang Mulia Raja Damien, mereka hendak membuka pintu itu untuk Raja Damien tapi di hentikannya . Raja Damien berhenti di depan pintu sejenak, ia berdiri tegak mempersiapkan mental dan menimbang - nimbang dengan seksama ekspresi apa yang akan di gunakan .


Tanpa aba-aba, terdengar cekikikan tawa khas dari Putri kecilnya dari arah dalam ruang makan, Raja Damien mengernyit heran lalu tersenyum kecil . Ia membuka pintu itu perlahan dan masuk kedalam sambil tersenyum .


Cklek


Ratu Carissa dan Putri Clea yang bersendau gurau dengan ceria, menoleh ke arah pintu bersama-sama ketika mendengar suara . Nampak Raja Damien yang masuk ke dalam ruang makan dengan senyuman di wajahnya, ekspresinya terlihat rindu, bersalah, dan senang ketika melihat Ratu Carissa dan Putri Clea .


" Yang Mulia sudah datang ?? " sapa Ratu Carissa dengan senyum lembutnya


" Ayah datang lebih cepat dari perkiraan kami, padahal kami masih ingin berbicara lagi hihihi " kata Putri Clea dengan cekikikan


" Wah .... apa ayah salah tempat . Padahal aku sangat cemas kalau kalian akan marah padaku " kata Raja Damien berpura-pura merajuk

__ADS_1


" Hehehehe " tawa Putri Clea menanggapi


Ratu Carissa pun tersenyum senang akan suasana keluarga hangat dan harmonis miliknya . Mereka pun berakhir dengan makan malam bersama yang menyenangkan .


__ADS_2