Merubah takdir ' Mawar Putih '

Merubah takdir ' Mawar Putih '
BAB 14


__ADS_3

" Ayo kembali berlatih " ucapku sambil tersenyum


Kapten Molly langsung bangkit dari rebahan, berjalan mendahului kami . Albert juga bangkit lalu menggandeng tanganku berjalan bersama kembali ke lapangan pelatihan . Ketika kami sampai di atas area latihan, Blake berserta kuda lainnya sudah menghilang di gantikan dengan papan sasaran panah, anak panah, dan busur .


" Kita akan belajar memanah sekarang " kata Kapten Molly ringan


" Apa Yang Mulia Putri sudah pernah belajar sebelumnya ?? " tanyanya kemudian


" Ehem ... tidak sama sekali " kataku canggung


' Bahkan dalam 2 kehidupanku, aku tak pernah belajar memanah ataupun menembak ' batinku


" Kalau begitu Tuan Muda Albelart, tolong tunjukkan postur memanah agar saya bisa menjelaskan kepada Yang Mulia Putri " kata Kapten Molly


Albert langsung mengangkat busur, mengambil satu anak panah dan menariknya kebusur .


" Tahan " perintah Kapten Molly


" Yang Mulia Putri, lihat dan perhatikan . Berdiri tegak dan gunakan kaki yang kuat sebagai tumpuan, ujung anak panah taruh di atas tangan kiri yang menggenggam busur dan sesuaikan menggunakan jempol tangan lalu jepit ekor anak panah dengan jari-jari tangan kanan, angkat busur setinggi bahu harus lurus, tarik busur sekuat mungkin , bidik sasaran lalu lepaskan !! " seru Kapten Molly


Albert langsung melepaskan anak panahnya dan mengenai tepat tengah sasaran tembak . Aku bertepuk tangan gembira .


" Keterampilan Tuan Muda Albelart cukup baik " kata Kapten Molly ringan, tidak seperti memuji


" Hanya keterampilan dasar " balas Albert sinis


" Kalau begitu Yang Mulia Putri silahkan coba " kata Kapten Molly berbalik ke arahku, seperti tidak mendengar ucapan Albert


Aku berjalan semangat ke posisi Albert tadi, lalu mengangkat busur tapi ... ' sialan, kenapa berat sekali ?? ' batinku terkejut , mengambil anak panah dan menempatkannya di jari-jariku seperti yang Albert lakukan tadi, lalu mengangkat busur itu setinggi bahu, aku mengernyitkan dahiku karena sangat berat tapi tetap ku coba menarik tali busurnya . Sangat sulit, tangan dan lenganku gemetar karena beratnya, peluh menetes di dahiku yang mengernyit kesusahan bahkan tali busur yang kutarik hanya sampai setengahnya sudah menguras tenagaku .


" Hah ... " helaan nafas Kapten Molly terdengar di samping


" Tidak apa-apa, coba berulang-ulang menarik busur panahnya " perintah Kapten Molly


Aku melonggarkan tali busur sebentar untuk mengambil nafas lalu mencoba menariknya lagi sambil di awasi oleh Kapten Molly juga Albert , terus begitu berulang-ulang hingga entah percobaan keberapa aku bisa menariknya sampai ekor anak panahnya sejajar dengan hidungku . Kubidik papan sasaran itu dengan konsentrasi yang sungguh-sungguh, lalu kelepasan anak panah pertama itu dengan antusiasme yang tinggi . Tapi kenyataan sungguh menampar dengan keji ...


Syung....


Jangankan tepat sasaran, belum juga mencapai papan sasaran anak panah itu sudah jatuh kebawah hanya berjarak 2 m dari aku berdiri . Semua mata memandang ke arah anak panah itu jatuh . Aku berbalik putus asa ke arah Albert


" Albert .... anak panahnya .... " kataku tersedak


" Tidak apa-apa, ini yang pertama kali jadi wajar jika gagal " katanya menghampiri mencoba menghibur ku


Sebenarnya semua orang ingin tertawa melihatnya, tetapi tidak berani ketika melihat wajah putus asaku . Albert menghampiri ku dengan ekspresi tidak berdaya melihat ku yang memelas dengan mata merah menahan tangis karna sudah berusaha berkali-kali menarik busur panah hingga wajahku memerah tapi hasilnya tetap gagal . Albert pun tersenyum menenangkan sambil menepuk puncak kepalaku dan meraih jariku tetapi ia terkejut ketika aku justru meringis kesakitan


" Akh ..... Sssttt ...... " ringis ku


" Ada apa ??? " katanya panik, lalu menunduk melihat jari-jari ku yang tergores oleh busur dan anak panah


" Kau terluka !?? " katanya terkejut tidak percaya memandangi jari ku


" Hah .... itu wajar jika jari tergores ketika pertama kali belajar memanah, apalagi dengan kulit lembut Yang Mulia Putri " sahut Kapten Molly santai ketika melirik jariku yang tergores kemerahan


" Kapten Molly, tolong jaga bicara anda . Jika anda tahu kulit Putri sangat lembut, seharusnya anda menyediakan sarung tangan kulit juga " peringat Albert tajam, aku segera meraih tangan Albert agar ia tidak marah


" Huh... baiklah ini juga kelalaianku maka dari itu kelas hari ini cukup sampai di sini saja . Minggu depan akan ku sediakan sarung tangan untuk Yang Mulia Putri " balas Kapten Molly tak kalah sengit


" Hormat saya untuk kemuliaan Yang Mulia Putri Clea " ucap Kapten Molly berbalik ke arahku lalu pergi berlalu meninggalkan kami


" Sungguh tidak sopan !!! " seru Albert marah


" Sudahlah Albert .... " kataku sambil menarik lengannya sedikit


" Tapi .... " kata Albert terputus olehku


" Aku lelah ... " kataku memelas


" Hah .... yasudah jika itu keinginanmu " kata Albert sambil menghela nafas tidak berdaya


" Naiklah aku akan menggendong Putri " lanjutnya seraya berlutut dengan punggung mehadapku .


Aku pun tersenyum lalu naik ke atas punggungnya melingkarkan lenganku di lehernya lagi, Albert berdiri dan berjalan sambil menggendongku kembali ke istana tempat tinggalku . Di perjalanan aku juga mengusap-usap hidungku ke lehernya mencoba menggodanya


" Putri, itu geli . Jangan bercanda, anda bisa jatuh ... " katanya sambil meringis geli


" Hihihi .... Albert jangan langsung pulang nanti tinggallah sebentar " kataku terkikik pelan di telinganya


" Baik " katanya patuh


Ketika sampai di istanaku, para pelayan sudah menunggu untuk menyambutku

__ADS_1


" Putri, ini masih awal apakah terjadi sesuatu ?? " kata Deenna cemas


" Tidak ada masalah serius, jariku hanya lecet . Aku lelah, aku ingin berendam air hangat " kataku masih di gendongan Albert


" Baik Putri " kata Alice dan Chacha berlalu menyiapkan bak mandiku


" Deenna kirimkan pesan untuk Lady Marie Antoinette jika aku kelelahan, maka pelajaran menari hari ini ditunda minggu depan saja " kataku pada Deenna


" Baik Putri akan saya sampaikan sekarang " kata Deenna beranjak pergi meninggalkan istanaku


" Albert, ayo naik ke kamar tidurku . Aku ingin rebahan " kataku sambil menepuk pundak Albert


" Putri, ini... ini sepertinya tidak pantas . Saya akan menunggu di sini saja " kata Albert canggung lalu mencoba menurunkan kakiku


" Mengapa tidak pantas ?? memangnya kita akan melakukan apa ?? ayo naik, aku lelah kakiku tak bisa berjalan lagi " kataku final mengeratkan lenganku di leher Albert tidak ingin turun


Blance yang sedang menunggu di sisi menundukkan kepalanya dalam-dalam, wajahnya merona merah mendengar perkataanku .


" Uhuk ... baiklah kalo begitu " kata Albert tersedak, wajahnya memerah ketika memikirkan perkataanku


Kami berjalan menaiki tangga melingkar yang megah dengan karpet merah tebal dan ketika kau menoleh ke samping terdapat lampu gantung kristal yang mewah dan besar di tengah-tengah aula . Di ujung tangga kami berbelok ke kanan, berjalan melewati lorong dan sampailah di pintu ganda mewah satu-satunya di lorong tersebut . Alice membuka pintu lebar-lebar agar Albert yang mengendongku dapat leluasa memasuki ruangan, di ruang depan kamar tidurku ialah ruangan santai dengan sofa besar juga meja teh serta rak-rak buku kecil dengan berbagai bunga mawar di vas kaca yang tertata di setiap sudut ruangan juga jendela besar dengan pemadangan halaman depan istanaku . Kami masuk di pintu kamar tidurku di sebelah kiri ruangan, kamar tidur mewah khas seorang putri terletak mencolok di tengah-tengah ruangan di sisi kiri ruangan terdapat jendela kaca yang dapat dibuka dan mengarah ke pemandangan taman bunga mawar di istanaku, ada juga sofa kecil di sudut kamar dan di sudut lainnya terdapat meja rias dengan kaca yang sangat besar melebihi ukuran tubuh pemiliknya sendiri dan juga lemari pakain yang memenuhi 2 sudut lainnya . Di sampingnya terdapat pintu bercat putih yang merupakan kamar mandi karena terdapat suara aliran air dari dalam .


Albert memindai sekeliling ruangan sekilas, lalu segera menunduk sopan seperti tidak melihat apapun . Albert berjalan ke arah tempat tidur, lalu menurunkanku perlahan di atas kasur putih bersih dan nyaman itu . Aku duduk bersandar nyaman, Blance datang untuk melepaskan sepatuku . Terlihat Albert yang ingin pergi, aku refleks memegangi tangannya segera melupakan jariku yang lecet


" Akh.... " kataku meringis ketika meraih tangannya


" Jangan bergerak dulu " kata Albert cemas lalu melihat luka di jari-jari tanganku apakah terbuka


" Jangan pergi " kataku memohon


" Saya tidak pergi Putri, saya hanya akan duduk di sofa sana " kata Albert sambil menunjuk sofa tunggal di sudut ruangan


" Duduklah disini " kataku sambil menepuk sisi tempat tidur


Albert duduk di sisi tempat tidur dengan kaku, telinganya terus memerah . Blance sudah menyeka kakiku lalu beralih ke tanganku, aku sedikit mengernyit sakit Blance takut aku kesakitan melihat tanganku yang  tersores ia pun menyudahi nya lebih cepat .


" Putri, akan saya ambilkan obat dan perban dahulu " kata Blance meminta izin


" Terimakasih, pergilah " kataku


Blance berjalan pergi keluar dari kamar tidur kini hanya tersisa aku dan Albert, aku tersenyum menggoda menyandarkan kepalaku di bahunya dan menautkan tangan kami bersama .


" Ini baru pertama kali, nanti pasti akan lebih baik " katanya lembut sambil mengelus pelan rambut ku


" Tapi aku terlihat payah tadi, kau pasti tidak suka " kataku iseng


" Bagaimana mungkin ?? saya tetap menyukai Putri bagaimana pun itu " katanya cepat sambil menatapku


Aku mengangkat kepalaku dari bahunya dan melikarkan lenganku di sekeliling lehernya dan tersenyum menatap Albert " Aku juga menyukai Albert, kau sangat tampan " kataku pelan di depan wajahnya


Bluss....


Rona merah langsung menutupi seluruh wajahnya, matanya yang tajamnya melebar  terlihat bingung, ekspresi tenang yang selalu di jaganya hancur di ganti dengan keterkejutan . Aku tersenyum melihat Tuan muda Albert yang sedang terpana karena pengakuan cinta kecil, ' hehehe remaja memang sangat manis ' batinku


Aku mendekat wajah ku dan mencium ringan bibirnya, bukan sebuah ciuman dewasa yang di sertai ******* di bibir tetapi kecupan ringan di bibir yang saling menempel sedikit, seringan kupu-kupu yang hinggap di bunga lalu pergi berlalu tetapi membawa keindahan yang tiada duanya . Ini adalah ciuman pertama kami setelah 4 tahun saling mengenal, ' apa aku bisa menyebut nya ciuman ?? ' pikirku


Albert masih mematung, aku masih mengembara dengan fikiranku . Posisi kami masih sama seperti sedang berpelukan hingga sesuatu mengejutkan kami .


.


.


.


Brugh


Aku menoleh melihat Alice yang terjungkal kebelakang kaget, dengan Chacha yang berdiri mematung terkejut serta wajah yang merah padam . Sebuah pemikiran terlintas di hadapan ku ' Ah mereka melihatnya ', Albert salah tingkah lalu melepaskan tanganku pelan dan bangkit berdiri .


" Uhuk ... saya akan menunggu di sofa depan, silahkan nikmati waktu berendam Putri " katanya canggung lalu pergi ke ruang teh depan


Aku mengangguk menanggapi, Chacha segera membantu Alice bangkit berdiri lalu berjalan ke arahku . Dan ' brugh ' berlutut kembali di depanku, aku mengernyit bingung dengan tingkah mereka tapi sebelum aku bertanya ' ada apa ? ' Alice segera menjelaskan dengan tergesa-gesa .


" Putri mohon ampuni kami, kami tidak bermaksud mengintip tadi tetapi ketika kami selesai menyiapkan bak mandi terdengar suara Putri dari luar . Kami pun bermaksud memberi tahu dan ... lalu ... lalu ... " ucapnya gugup lalu tersendat-sendat di akhir wajahnya mulai memerah .


Chacha semakin menundukkan dalam-dalam kepalanya, wajahnya bersemu merah lagi . Aku terkekeh ringan oleh tingkah mereka .


" Bangunlah aku tidak menyalahkan kalian, tapi ingatlah jangan katakan pada siapapun mengerti " kataku ringan


Chacha dan Alice segera mengangguk mengerti lalu bangkit berdiri, mereka datang ke arahku untuk membantuku mandi .


" Oh ya, Alice kau temui Albert di ruang depan, antarkan ia ke ruang tamu untuk istirahat dan membersihkan diri . Panggil beberapa pelayan untuk melayani " kataku menoleh ke Alice

__ADS_1


Terlihat raut mukanya Alice yang sedikit ragu mendapat perintahku, mungkin ia masih malu berhadapan dengan Tuan Muda Albelart karena situasi tadi . Tapi, Alice segera menunduk sopan lalu melakukan yang aku perintahkan .


Aku berjalan memasuki kamar mandi bersama Chacha, melepas baju latihan beladiriku yang kotor karena debu dan keringat lalu memasuki bak mandi air hangat yang di taburi oleh kelopak bunga mawar. Aku bersandar di dindingnya membiarkan Chacha menggosok dan memijat kaki, tangan, serta rambutku dengan sabun beraroma bunga mawar, aku memejamkan mataku menghela nafas nyaman .


Cukup lama aku berendam ketika air sudah mulai mendingin aku bangkit, memakai handuk besar berjalan keluar . Di dalam kamar tidur sudah menunggu Blance yang membawa krim obat, melihatku baru selesai mandi ia menyisihkan krim obat itu di atas laci lalu berjalan membantuku memakai gaun . Aku memilih gaun cream ringan yang cocok untuk bersantai, berjalan menuju meja rias untuk membiarkan Blance menata rambutku dengan lilitan pita yang cantik .


" Putri, biar saya oleskan krim obat di jari anda " kata Blance meraih krim obat di laci ketika melihat ku bangkit hendak pergi


" Tidak perlu, aku akan meminta Albert untuk mengoleskannya " kataku sambil meraih krim obat di tangan Blance


Blance masih terbengong ketika aku sudah berlalu pergi dari kamar tidur . Aku berjalan ke lorong menuju sayap kiri istana tempat kamar-kamar tamu penting di istanaku, yah .... meskipun tidak pernah digunakan karena tidak ada tamu yang datang . Aku berjalan menyusuri lorong dan berpapasan dengan Alice yang berjalan ke arah berlawanan . Alice melihat ku dan segera menepi membungkuk memberi hormat


" Alice dimana ruangan Albert ?? " tanyaku langsung


" Putri, Tuan Muda Albelart berada di ruangan ujung dekat balkon taman mini " kata Alice sambil menunduk


" Baiklah " kataku lalu berlalu menuju ruangan Albert


Aku berjalan menuju ruangan Albert di ujung lorong, sampailah di depan pintu kayu bercat putih . Aku mengetuk ringan lalu menunggu balasan di dalam, seorang pelayan kecil di istanaku lah yang membukakan . Dia terlihat terkejut melihatku yang datang tapi segera menunduk takut sambil memberi salam .


" Pelayan ini memberi salam untuk kemuliaan Yang Mulia Putri Clea " cicitnya pelan


" Bangunlah " ucapku singkat sambil menengok ke arah dalam ruangan .


Albert yang mendengar suaraku, segera bangkit dari sofa yang di dudukinya


" Putri, anda datang " kata Albert menghampiriku, pelayan kecil tadi segera menyingkir melanjutkan tugasnya


" Oleskan krim obat di jariku " kataku sambil mengulurkan krim ke arahnya


" Dengan senang hati " kata Albert sambil tersenyum


Aku memasuki ruangan tempat istirahat Albert, sangat sederhana dengan interior khas kamar tamu di hotel kuno . Aku berjalan ke arah sofa di tepi balkon yang diduduki Albert tadi, menyandarkan punggungku ringan sambil melihat taman kebun belakang istanaku


" Kalian keluarlah " usir Albert pada para pelayan kecil yang membereskan perabotan tadi .


Para pelayan segera memberi hormat dan menunduk patuh berjalan keluar satu persatu . Albert mengambil kursi kecil untuk duduk dan meletakkannya di sampingku .


" Putri, ulurkan jarimu " kata Albert setelah duduk


Aku mengulurkan jari tangan kananku, " Pelan-pelan aku takut sakit " kataku iseng


" Ehm, akan saya oles sepelan mungkin " katanya perhatian


Lalu Albert segera berkonsentrasi pada goresan-goresan di jari-jariku, aku memejamkan mata menikmati perhatiannya yang halus . Albert sangat berhati-hati dan perlahan saat mengoleskan krim di setiap goresan, kadang sesekali ia mencuri pandang ke arahku untuk melihat reaksiku . Dan ketika aku tidak bereaksi kesakitan maka Albert akan menunduk konsentrasi lagi .


" Putri, jari tangan satunya " kata Albert, ia tahu aku tidak tidur walaupun memejamkan mata


Aku mengulurkan jari tanganku satunya ke arahnya, Albert kembali fokus mengoleskan krim obat lagi sedangkan aku merilekskan diri lagi . Setelah beberapa saat Albert sudah selesai dengan krim obat itu, ia mengukirkannya ke sisi .


" Albert bacakan cerita untukku " kataku membuka mata lalu menoleh kearahnya


" Baiklah " katanya lalu beranjak mengambil sebuah buku yang dirasa cukup menarik, lalu kembali duduk di bangku kecil


" Jangan duduk di situ " kataku segera


Albert bangun lagi dan menaikkan sebelah alisnya seolah bertanya ' kenapa ?? '


" Duduk sini, sofanya besar " kataku sambil bergeser memberi ruang untuk Albert


" Uhuk " Albert terbatuk menanggapi


" Ayolah, aku ingin memelukmu " kataku memohon


Wajahnya memerah mendengar permohonanku tadi akhirnya duduk dengan kaku di sampingku . Aku bergeser untuk memeluknya dari samping melingkar kan lenganku di perutnya dan meletakkan kepalaku di bahu remaja yang mulai membacakan cerita itu . Sesekali aku juga akan merengsek ke ceruk lehernya dan menggosokkan ujung hidungku ke lehernya, Albert semakin kaku di buatnya, wajah dan lehernya memerah


" Albert, aku sangat suka baumu " gumamku ketika merengsek ke ceruk leher Albert


Tidak ada tanggapan atau sahutan yang pasti, tapi aku mendengar jelas nada suaranya sedikit bergetar saat bercerita . Aku meraih merebut buku itu, membuat Albert menoleh ke arahku yang masih bersandar di bahunya . Tidak ada jarak antara wajah kami, mata kami saling bertabrakan memandang satu sama lain, ujung hidung kami bersentuhan sehingga dapat merasakan setiap hembusan nafas masing-masing .


" Katakan padaku bahwa kau milikku " kataku serius sambil menatap ke mata Albert


Mata Albert bergetar gejolak dengan emosi yang tak dapat disembunyikan meskipun dia masih menjaga ekspresinya dengan tenang, tapi sudut telinganya tak bisa di sembunyikan rona merah itu


" Aku milikmu, Putri " katanya yakin, tapi terdengar sedikit bergetar


Aku mengangkat sebelah tanganku menangkup pipinya " Aku tahu .... karena Albert kau sudah di tandai olehku " kataku pelan lalu menyatukan bibir kami


Kali ini berlangsung sedikit lama hingga aku dapat merasakan aroma nafas mint samar dari bibirnya, barulah aku melepaskan bibir kami . Dapat kulihat fluktuasi keinginan lebih di dalam mata Albert tapi di tahannya . Aku tersenyum ringan lalu kembali bersandar padanya


" Aku mengantuk, bacakan cerita lagi " kataku nakal, meninggalkan seorang remaja untuk menahan keinginannya sendiri setelah di picu olehku .

__ADS_1


__ADS_2