
Musim semi terus berlalu, aku tetap dengan rutinitas pembelajaranku seperti biasanya dengan Tuan Louise dan di temani oleh Albert . Suasana istana tetap sama saja di permukaan, yang berbeda hanyalah kini lebih sering terlihat prajurit utusan dari perbatasan yang berlalu-lalang melapor tiap 3-7 hari sekali .
Aku menghabiskan waktuku dengan belajar dan berjalan-jalan di taman istana dengan Albert, minum teh, berkuda, dan membaca buku di temani bunga-bunga di tepi danau .
Kadang sering kali aku melihat penjaga istana yang berlalu-lalang untuk berpatroli semakin banyak dari sebelumnya, tak peduli itu siang bolong maupun tengah malam sekali pun . Mereka rutin melakukannya, aku pun sadar penjagaan di istana pun semakin di perketat . Mungkin situasi di perbatasan semakin mencekam ... dan Albert pun sepertinya memahami juga, tapi kami tak pernah saling membicarakannya . Kami hanya saling memahami dalam diam ..
Pembelajaran militer dengan Raja Damien pun sangat sulit dilakukan, hampir setiap waktu ayah akan berada di ruang kerjanya mengurus setiap laporan yang semakin menumpuk dari perbatasan di atas mejanya .
Jadi aku hanya di temani oleh Felix yang mengajariku dengan semakin lancar, aku pun dengan samtai menanggapinya dan sesekali menikmati wajahnya yang tampan itu .
Arena pelatihan pun selalu penuh dengan prajurit yang berlatih setiap harinya, kadang kali saat aku berlatih memanah dengan Kapten Molly, anak panah yang meleset dari papan sasaran akan mengarah ke prajurit lain yang berlatih di sekitarnya . Untungnya mereka sangat terlatih, sehingga mereka dapat dengan mudah menghindari panah sialanku . Tetapi saat itu juga aku akan merasa sangat malu hingga ingin kabur rasanya .
.
.
.
Ketika akhir bulan tiba dan aku bertemu dengan Curtis, aku berangkat pagi-pagi sekali . Kini para pelayan tidak banyak bertanya seperti sebelumnya, mereka hanya menuruti semua perkataanku tanpa banyak bicara lagi .
Aku dan CurtisĀ menghabiskan waktu berkuda berkeliling ke desa-desa di sekitar ibukota, kadang kami berhenti sekedar menikmati makanan-makanan lokal dan khas di setiap desa-desa itu, kadang pula kami akan mengikuti perayaan panen ataupun festival tertentu yang kebetulan sedang berlangsung di kota-kota sekitar .
Curtis menemaniku melakukan berbagai hal yang ingin kulakukan, ia tak membatasi ku melakukan apapun . Aku pun menjadi diriku sendiri tanpa perlu ku tutup-tutupi atau berpura-pura menjadi sempurna, dan kakak tampanku yang baik akan menuruti semua permintaanku tanpa terkecuali ....
Situasi di desa ataupun kota-kota lainnya tak ada yang tegang ataupun kebingungan, seperti hanya bangsawan-bangsawan dan orang-orang berpengaruh saja yang tahu akan situasi mencekam di perbatasan Kerajaan Versailles dan Theodore . Rakyat jelata tetap bersenang-senang dan bersemangat melewati musim panas dan musim semi yang indah .
Tetapi tetap saja, para penjaga serta prajurit di setiap kota ataupun desa kecil selalu ada untuk patroli rutin . Mereka lebih banyak dari biasanya sehingga kadang kala menimbulkan kecurigaan dari penduduk setempat, dan ketika mereka bertanya maka akan di jawab .
" Musim panen sangat bagus tahun ini, Yang Mulia Raja khawatir jika menimbulkan bandit gunung yang mengincar . Sehingga Yang Mulia Raja memerintahkan memperketat patroli keliling di setiap tempan " jawab setiap prajurit atau pun penjaga yang di tanyai
Dan dengan itu rakyat jelata akan kembali tenang dan percaya begitu saja, bahkan mereka akan mengucapkan terimakasih dengan tulus pada Yang Mulia Raja . Sepertinya setiap para prajurit dan penjaga mereka di koordinir dengan jawaban seperti itu, sehingga aku selalu mendengar jawaban yang sama .
Saat itu kami sedang duduk di samping jendela di dalam rumah makan lokal yang sederhana menikmati hidangan babi guling kesukaanku, aku spontan berhenti mengunyah daging di mulutku ketika mendengar obrolan dari prajurit serta beberapa rakyat jelata di jalanan dekat rumah makan .
Curtis yang melihatku sebelumnya sangat bersemangat tiba-tiba berhenti mengunyah dengan ekspresi seperti terganggu oleh sesuatu, ia pun bertanya dengan khawatir .
" Ada apa ?? apa tulangnya keras ?? " tanya Curtis khawatir
Aku tersenyum dan menggelengkan kepalaku seraya menjawab " tidak ada apa-apa "
" Hmm " gumam Curtis singkat sebagai tanggapan
Ia pun kembali menikmati hidangannya sendiri, aku yang melihat Curtis begitu tak bereaksi pada obrolan tadi pun menjadi penasaran di buatnya . Aku memandang Curtis yang menunduk fokus pada potongan daging di piringnya, seolah tak terganggu dengan tatapan menyelidikku .
" Kakak tampan, apa kau tidak penasaran sama sekali ?? " tanyaku tanpa aba-aba
Curtis mengadah, melihatku dengan datar . Ia menaikkan sebelah alisnya seolah bertanya ' apa ?? '
Aku yang melihatnya begitu dingin dan acuh tak acuh pun menghela nafas kasar, lalu kembali menjelaskan .
" Tentang prajurit-prajurit itu ?? " kataku sambil mendongakkan daguku ke arah prajurit di luar yang masih asyik mengobrol
Curtis melirik sedikit ke arah luar, lalu kembali menunduk menatap piring di meja . Aku melihatnya enggan bertanya, jadi aku mencondongkan diriku ke arah Curtis dan berbisik memancing .
" Kakak tampan, apa kau sungguh tak penasaran dengan perang di perbatasan ?? " bisikku pelan
Sontak seperti dugaanku, Curtis langsung mendongak tiba-tiba dan menatap ke arahku dengan alis yang mengkerut erat seolah memberikan peringatan atas kata-kata ku baru saja .
Aku yang di tatap dengan garang oleh Curtis hanya menaikkan bahuku tak perduli .
" Tak perlu begitu, bukankah semua bangsawan tahu kalau perang benar-benar akan terjadi antara Kerajaan Versailles dan Kerajaan Theodore " sahutku santai
Curtis masih tak bisa terima dengan pernyataan santai yang kubuat, jadi aku pun menjelaskan lebih rinci .
" Tak perlu ragu begitu, lagi pula dengan status keluargaku aku tentu tahu beritanya . Jadi aku tak berbicara sembarangan " jelasku lagi
Kali ini Curtis melonggarkan ekspresinya dan percaya dengan perkataanku, tapi ia tetap diam tak berbicara .
__ADS_1
" Kakak tampan, apa kau tidak khawatir jika terjadi perang ?? " tanyaku iseng
Curtis mengernyitkan alisnya bingung ke arahku lalu menjawab " Kenapa ?? lagipula Kerajaan Benedicte tak akan ikut perang juga " sahutnya datar
Aku terkejut dan spontan menjawab, " Eh ..?? kau tahu .. ?? "
Curtis menatapku lagi dengan aneh, lalu berkata dengan dingin " apa yang tak tahu ?? di lihat sekilas pun akan tahu jika para prajurit itu hanya sedang berjaga-jaga saja, bukan bersiap-siap untuk peperangan . Dan juga, bukankah kau juga sudah tahu ?? jangan bercanda lagi .. "
Aku yang tertangkap basah pun hanya bisa tertawa canggung menanggapi, " hehehe "
" Aku lupa jika kakak tampanku ini sangat jago dalam beladiri, kau pernah bilang ingin menjadi Kapten Prajurit bukan ?? " tanyaku
" Uhm " gumam Curtis menyetujui
" Jangan buru-buru, temani aku sedikit lebih lama lagi " kataku singkat
" Eh ..?? " Curtis mendongak terkejut dengan perkataanku, aku hanya tersenyum menatapnya ...
Yah ... beginilah situasi di luar istana Kerajaan Benedicte yang damai dan tenang ...
Mungkin untuk sementara .... karena ....
..
...
....
" LAPORAN DARURAT MILITER .... !!!! "
Teriak keras menggema di jalan utama menuju istana utama, seorang prajurit utusan dari Perbatasan Utara berteriak untuk menyampaikan laporan darurat .
Terlihat dari penampilannya yang di penuhi debu dari atas sampai ke bawah, ia pasti menunggangi kuda dengan kencang di sepanjang jalan tanpa istirahat . Hal itu membuktikan jika laporan itu sangat-sangat mendesak dan penting .
Prajurit utusan itu segera di arahkan ke ruang kerja milik Yang Mulia Raja Damien .
Suara garpu dan pisau di taruh serentak kembali di sisi piring, makan malam rutin bersama-sama yang awalnya nikmat dan hangat pun kini menjadi hambar .
Ketiga orang yang sedang duduk di depan meja makan besar itu sama-sama terdiam, mereka sama-sama mengerti betapa seriusnya laporan yang akan disampaikan oleh prajurit utusan dari Perbatasan Utara tersebut .
Perang sudah pecah ...
Meskipun sudah di prediksi akan terjadi cepat atau lambat, tapi ketika fakta sungguh ada di depan mata, ternyata masih sulit untuk menerimanya .
Raja Damien menghela nafas dan bangkit berdiri, ia tersenyum sedikit pada Ratu Carissa yang kini nampak sangat khawatir dan Putri Clea yang melamun dengan pikiran sendiri .
" Sepertinya aku harus pergi dulu, kalian lanjutkan makannya saja " kata Raja Damien sambil tersenyum
Aku tersadar dari lamunanku ketika mendengar perkataan Raja Damien, Ratu Carissa yang sangat cemas tak bisa tidak meraih tangan Raja Damien untuk meminta penjelasan .
" Yang Mulia, apakah ... "
Perkataan Ratu Carissa terputus di tengah-tengah, ia cemas dan bingung sehingga ia tak bisa berkata-kata dengan benar . Raja Damien yang melihat ekspresi dari pendampingnya pun mengerti apa yang ia ingin katakan, Raja Damien tersenyum dan meremas lembut tangan rapuh di genggamannya lalu berkata perlahan .
" Jangan khawatir, tidak terjadi apapun . Ada aku di sini " ujarnya menenangkan
Nada suara Raja Damien tidak keras dan tidak pelan, tapi mengandung momentum keyakinan serta wibawa seorang pemimpin . Sehingga siapapun yang mendengarnya akan di yakinkan oleh perkataannya tadi, begitu pula dengan Ratu Carissa .
Ia kembali tersenyum dengan cantiknya dan mengangguk pelan nan elegan, " Iya " katanya pelan
Aku tetap diam dan duduk di tempat dudukku sambil melihat live drama picisan yang ada di depanku ketika tiba-tiba Raja Damien menoleh ke arahku dengan penuh makna, aku pun tersenyum pura-pura polos sebagai balasannya .
Yang Mulia Raja Damien tanpa berbicara lagi, ia berlalu pergi bersama Felic ke ruang kerja .
Ratu Carissa duduk kembali dengan tidak bersemangat, aku tersenyum dan meraih tangannya menenangkan .
" Tidak usah khawatir bu, ayah sudah mempersiapkan segalanya dengan seksama " kataku
__ADS_1
Ratu Carissa sedikit terkejut dengan perkataanku, ia tak menyangka aku sudah mengetahuinya dan responku yang jauh lebih tenang darinya . Ratu Carissa pun menghela nafas dan berkata
" Hhhhaaa.... ibu tahu " sahutnya lembut
" Kau tidak makan lagi ?? " tanyanya lagi mencoba mencari pengalihan suasana
Aku menggeleng kepalaku pelan, dan membuka mulutku " tidak, jika ibu masih lapar ... aku bisa menemanimu "
Ratu Carissa menggeleng sedikit dan berkata " Ibu sudah kenyang, jika kau sudah selesai maka kembali istirahatlah agar tak terlambat di pembelajaran Tuan Louise esok "
Aku cemberut dan menggerutu protes, " aku tidak .... " rengekku
Lalu aku bangkit berdiri dan berjalan ke arah Ratu Carissa lalu mengecup pipinya ringan, untuk berpamitan .
" Kalau begitu aku akan kembali beristirahat, Selamat malam " kataku
" Selamat malam " jawab Ratu Carissa sambil tersenyum penuh kasih sayang
Aku berjalan di jalan setapak untuk kembali ke istanaku dengan Deenna, aku berhenti sejenak menikmati udara musim gugur yang sedikit dingin . Aku memejamkan mataku sejenak, waktu berlalu sangat cepat...
" Putri, ayo lekas kembali . Udaranya mulai dingin, nanti anda bisa terkena flu " ujar Deenna mengingatkan
" baik " sahutku sambil lanjut berjalan
' Nampaknya semua orang akan sibuk dan ramai besok ' batinku
.
.
.
Pagi sekali aku terbangun karena kegaduhan dari para pelayan di istanaku, aku turun dari tempat tidur sambil menguap, aku mengucek mataku mencoba mengumpulkan sisa-sisa kesadaran yang masih belum lengkap .
Aku berjalan ke arah pintu kamar tidurku dan membukanya, ' cklek ' pintu berbunyi nyaring membuat para pelayan pribadiku serta pelayan kecil lainnya yang ada di luar ruangan terperanjat kaget .
" Ah ... Putri ... " seru mereka bersamaan
Aku mengangguk sedikit, masih dengan wajah bantal ku . Terlihat jelas aku belum cukup tidur, dan juga ini masih terlalu dini untukku bangun . Alice yang cerewet pun bertanya dengan polosnya padaku yang masih terlihat mengantuk .
" Putri, ini masih terlalu pagi, mengapa Putri sudah bangun ?? " tanya Alice
Aku menguap sambil menutup mulutku sedikit ketika Alice bertanya, kulirik dengan datar padanya lalu menjawab dengan acuh tak acuh .
" Kalian sangat ramai di pagi buta, menurut mu apa aku masih bisa tidur dengan nyenyak ?? " tanyaku balik
Alice, Chacha dan Blance serta para pelayan kecil lainnya pun menunduk bersalah, mereka merasa bersalah karena mengganggu tidurku dan juga takut jika aku akan menghukum mereka . Aku menghela nafas sedikit lalu berkata lagi .
" Sudahlah, buatkan saja aku teh . Dan yang lainnya, cepat kembali pada perkerjaan kalian masing-masing " seruku pada mereka
" Baik Putri !! " jawab mereka serentak
Aku pun berbalik dan masuk kembali ke kamar tidurku dengan malas-malasan, para pelayan di luar itu segera membubarkan dirinya masing-masing . Aku berjalan ke arah jendela besar di ruang santai ku, Chacha datang dari arah belakang dan membuka jendela depan meja teh menghadap ke taman bungaku yang mulai berguguran karena musim
Aku menghirup udara dingin ke dalam paru-paruku, dan bersandar santai sambil memejamkan mata . Alice datang sambil membawa teh bunga favoritku, aku membuka mataku dan menikmati teh hangat di cangkir porselen putih itu .
Aku menundukkan pandanganku mencoba tak tahu akan sikap para pelayanku yang saat ini sedang berdiri gelisah, tapi Alice dan Chacha yang terus bergerak-gerak saling menyenggol satu sama lain membuatku terusik . Jadi aku menolehkan kepalaku menatap mereka .
" Ada apa ?? " tanyaku langsung
" Ti .. tidak, tidak ada apa-apa Putri " jawab Chacha terbata-bata
Aku menaikkan sebelah alisku tak yakin, lalu beralih menatap Alice yang kini sedang gugup menatap ke segala hal di sekitar .
" Hah .... jika ada yang ingin kalian tahu, maka tanyakan saja . Jika hal itu bukan rahasia penting, mungkin aku bisa memberikan jawabannya " kataku santai sambil menikmati teh di cangkir
Alice dan Chacha pun saling berpandangan dengan ragu-ragu akan bertanya atau tidak, dan ketika Alice akan membuka mulutnya untuk bertanya, sebuah suara terdengar dari arah belakang menyelanya
__ADS_1
" Putri, apakah sungguh akan terjadi perang ?? "