
Kami kembali ke villa cepat-cepat, karna matahari sudah hampir tenggelam . Akan berbahaya jika berkuda di malam hari .
" Kau bersiap-siap lah cepat " suruh Curtis sambil berlalu pergi ke ruangannya
Aku kembali masuk ke kamar tamu dengan Elise yang sudah menunggu di dalam membawa serta gaunku tadi pagi yang sudah di bersihkannya . Dia segera membantu ku berganti pakaian dengan sedikit tergesa-gesa . ' Huh kenapa juga aku harus keluar istana saat memakai gaun rumit ini' pikirku, setengah jam kemudian aku turun dengan Elise yang mengekor di belakangku .
Di halaman villa terlihat Pak tua Lin dan bocah laki-laki kecil yang berdiri diam memegang tali kuda serta Curtis yang sudah terlihat tidak sabar, ketika aku muncul ia melirikku sambil cemberut lalu menyerahkan jubah di tangannya kepadaku
" Pakai !! gaunmu terlalu mencolok " ujarnya singkat .
Aku pun mengambilnya sambil tersenyum, lalu memakainya dengan di bantu oleh Elise . Curtis tetap menunggu sambil memperhatikanku memakai jubahnya . Jubahnya agak kebesaran di tubuh kecilku sehingga ujungnya menyeret di tanah . Curtis yang melihatnya sedikit mengernyitkan dahi, aku yang mengira ia marah karena jubahnya kotor hanya meringis hehehe
" Ayo naik " ujarnya singkat
Aku pergi ke arah kuda yang di pegang oleh anak laki-laki itu, menunduk melihat tidak ada bangku yang di siapkan aku akan mulai bertanya-tanya dalam hati ketika tiba-tiba kurasakan pinggang ku di pegang erat oleh 2 tangan lalu mengangkatnya ke atas kuda . Aku yang terkejut sedikit memekik lalu merespon dengan berpegang pada pelana kuat-kuat, ketika aku sudah merasa stabil duduk di atas kudanya aku menoleh ke samping dan terkejut melihat Curtis yang membantuku tapi ia memasang wajah datar seolah tidak terjadi apa-apa . Pak tua Lin, Elise dan bocah laki-laki itu juga terkejut melihat sikap tuan muda mereka . Curtis melompat dengan mudah ke atas kuda dan duduk di belakang ku . Lalu ia melirik Pak Lin seraya berkata " Aku akan datang lagi nanti "
" Elise terimakasih sudah membantuku, ketika kita bertemu lagi aku akan membawakanmu hadiah " ujarku riang . Elise yang mendengarnya segera wajahnya memerah malu
" Pak tua Lin dan anak laki-laki kecil aku akan membawakan untuk kalian juga " lanjutku sambil tersenyum . Pak tua Lin menjawab sopan sedangkan bocah laki-laki kecil itu terlihat salah tingkah
Setelah aku selesai berbicara, Curtis melajukan kudanya menuruni bukit perkebunan . Di tengah jalan ia bergumam di belakangku " Siapa yang bilang kau boleh datang lagi "
" Bukankah kita tadi sudah berteman ?? lagi pula kakak tampan kau sudah memperlakukan ku lebih baik tadi jadi kuanggap kita sudah berteman " ujarku menoleh kebelakang menggodanya .
Entah karena sinar matahari sore yang mengenai wajahnya atau bukan, pipinya terlihat memerah .
" Lihat kedepan, nanti jatuh " ujarnya ketus . Aku hanya tertawa kecil menanggapinya .
Kuda melaju dengan cepat di jalan setapak setelah keluar dari desa Reives, aku tak pernah berkuda secepat ini sebelumnya dengan Albert ia selalu memperlakukanku dengan lembut . Aku sangat senang, angin liar menerpa wajahku, aku tak takut jatuh karena lengan kuat Curtis menjepit pinggangku erat . Aku berpegang pada tali kekang kuda, sambil bertanya-tanya tentang sekitar dari sawah gandum, desa kecil di kejauhan, hutan , dan sebagainya . Kali ini Curtis selalu menjawab setiap perkataanku walaupun singkat . Aku tersenyum menemukan teman yang tulus kepadaku dengan sifatku yang sebenarnya .
Kami memasuki area hutan, matahari sudah terbenam langit mulai gelap . Aku sedikit takut dengan suasana yang gelap mencekam, hutan di dunia ini sangat menyeramkan mungkin karena masih asli belum terjamah seperti di duniaku . Aku sedikit beringsut mundur ke pelukan Curtis, ia yang melihatku ketakutan tersenyum menggoda .
" Takut ??? " tanyanya dengan smirk khasnya
" tidak " seruku gengsi
Curtis hanya melirikku dengan senyum di matanya, aku hanya mendengus pura-pura marah . Dari kejauhan terlihat rumah bobrok yang menjadi jalan keluarku tadi, sangat gelap terlihat seperti rumah hantu . ' Sial !!! bukankah nanti aku harus kembali lewat situ lagi ?? ' pikirku ketakutan, membuat bulu kudukku berdiri . Curtis yang melihatku menengok ke arah rumah tua yang kosong lalu sedikit bergetar ketakutan, ia mengernyit lalu menutupi mataku dengan sebelah telapak tangannya .
" Jangan lihat jika takut, aku disini tidak apa-apa " ujarnya lembut . Aku terdiam sedikit terkejut dengan suara lembutnya, ' sangat merdu ' pikirku .
Curtis yang melihatku tetap diam, semakin mempercepat laju kudanya hingga sampai lah kami di pinggiran kota barulah Curtis melepaskan tangannya dari mataku . Aku mengerjap dan menyipitkan mataku terhadap cahaya di depan, saat kami melewati pos penjagaan di luar kota banyak orang uang mengantri untuk pemeriksaan berbeda dengan bangsawan yang memiliki hak khusus, Curtis mengeluarkan token identitasnya untuk di perlihatkan pada prajurit penjaga gerbang . Aku memperhatikan dengan penasaran pada hal-hal baru di depanku, setelah token selesai di periksa kami pun masuk ke kota kekaisaran Benedicte .
Suasana ramai menyambut kami, banyak pedagang di sekeliling sisi jalanan yang ramai, restoran-restoran maupun kedai yang melayani pelanggannya, anak-anak kecil yang berjalan-jalan dengan orang tua mereka, serta segerombolan orang yang sedang melakukan akraksi di pinggir jalanan . Aku selalu berseru semangat melihat setiap aktifitas yang di lakukan di depan mataku, Curtis hanya tersenyum melihatnya .
" Kemana kau akan pergi ?? " ujarnya di samping telingaku
" Aku... aku tidak tahu ... hehehe " ucapku pelan sambil menunduk lalu cengengesan
Curtis mengerutkan dahinya lagi, terlihat sebal dengan tingkahku " Kalau begitu aku akan mengantarmu pulang ke kediaman Cassiopeia " putusnya
__ADS_1
Aku yang mendengar ucapannya panik, segera berkata " Jangan..... kau kan tahu aku menyelinap pergi tanpa ijin, bagaimana bisa kau mengantarkanku begitu saja " ucapku cemberut
Curtis menghela nafasnya lalu berkata " Kalau begitu apa yang ingin kau lakukan ?? " tanyanya padaku
" Aku hanya ingin berjalan-jalan lalu pulang secara diam-diam lagi " ujarku sambil tersenyum manis
" Kau ingin kemana ?? " tanyanya singkat
" Aku lapar.. " ujar ku pelan sambil memegangi perutku
Curtis membelokkan kudanya ke arah sebuah restoran 2 lantai yang ramai, Curtis melompat turun lalu meraih pinggangku menurunkanku perlahan . Aku melihat ke arah restoran sederhana tapi ramai sekali, Curtis agak ragu menggandeng tanganku takut aku terpisah, aku yang memahami itu langsung meraih tangannya tanpa canggung sama sekali mungkin ia pikir itu tindakan yang kurang sopan tapi aku tidak mempermasalahkan hal kecil seperti ini . Aku menarik tangannya agar cepat memasuki restoran, ketika baru memasuki pintu restoran aroma makanan yang lezat segera tercium aku semakin antusias di buatnya .
" Hmmm... baunya sangat lezat, apa restoran ini menjual babi ?? aku ingin makan babi... " seruku antusias sambil menggoyangkan lengannya .
" Hm " gumamnya menyetujui, aku melihatnya sedikit menaikkan sudut bibirnya tersenyum bangga . Mungkin ia khawatir aku tidak menyukai makan di restoran sederhana seperti ini .
" Kakak tampan, apa kau tersenyum ?? tersenyumlah lebih sering terlihat semakin tampan jika tersenyum " ujarku menggodanya
Curtis yang terpergok olehku tersenyum langsung terbatuk canggung, aku melihat ujung telinganya memerah malu . Aku semakin tertawa di buatnya lalu berjinjit berbisik di telinganya " Sangat manis " .
Curtis pun semakin salah tingkah di buatnya, aku tertawa terbahak-bahak menarik perhatian banyak orang . Pelayan menghampiri kami melihatku ramai sendiri berniat mengusirku tapi ketika ia mendekat melihat penampilanku yang mewah segera berubah tersenyum ramah .
" Lady dan ... " melirik ke atas kebawah Curtis yang berpakaian cukup rapi tapi tak sebanding dengan ku, sedikit ragu melanjutkan ucapannya . Aku yang melihatnya ragu langsung menyela tidak sabar
" Antarkan kami ke meja paling bagus di tempat ini " ujarku angkuh dan dingin
Curtis yang melihat sikapku berbeda jauh sedikit mengerutkan kening, aku yang melihatnya menatapku aneh diam-diam mengedip genit ke arahnya . Curtis yang melihat aku bersikap asal-asalan lagi padanya segera memalingkan muka tidak memperdulikan tingkahku lagi .
" Pesankan untukku " ucapku sambil tersenyum
Curtis pun hanya mengangguk dan memesan hidangan babi lalu memesan yang menurutnya enak saja . Pelayan pergi, lantai 2 ini tidak sepenuhnya kosong ada juga pengunjung lain yang melirik-lirik kami seperti ingin tahu, apa lagi melihat penampilanku yang mewah terlihat seperti bangsawan kelas atas . Aku merapatkan kerudung jubahku, Curtis yang melihatku tidak nyaman dengan pandangan orang lain segera memandang dingin pada pengunjung yang melihatku, orang-orang yang memperhatikanku pun segera mengalihkan wajahnya lalu Curtis menurunkan tirai manik-manik untuk menghalangi pandangan lainnya agar nyaman .
" Terimakasih " aku tersenyum tulus, lalu membuka tudung jubahku .
Melihat ke arah jauh terdapat kolam air mancur besar yang sangat ramai, terlihat itu tempat para pemain atraksi berkumpul menghibur orang-orang . Mataku berbinar-binar melihat pertunjukan atraksi kuno, Curtis hanya memandangiku .
" Kau ingin melihatnya ?? " tanyanya padaku .
" Em, ayo nanti pergi sebentar setelah makan " kataku . " apa kau tidak akan pulang dulu ?? " tanyaku penasaran
" Tidak perlu " katanya singkat sambil mengerutkan alisnya .
Pelayan datang menyajikan berbagai hidangan, aku langsung memasukkan daging babi yang terlihat menggiurkan itu ke mulutku . Aku makan dengan lahapnya tanpa memperhatikan etika lagi, Curtis juga tidak terlihat terganggu sama sekali dengan cara makanku yang tidak sopan . Ketika aku sedang menunduk sibuk mengunyah daging babiku, aku dikejutkan dengan tangan dingin yang menempel di pipiku . Aku mendongak melihat Curtis lah yang mengulurkan tangannya, mengusap saos yang menempel di pipiku dengan ibu jarinya lalu menjilat bekas saos yang menempel di jarinya . Aku membelalak terkejut, ia juga baru sadar dengan perbuatannya sendiri membeku terkejut lalu kembali santai seolah tidak terjadi apa-apa .
" Kakak tampan kau sungguh tidak bisa di tebak " cetusku serius .
Curtis menunduk berpura-pura sibuk dengan makanannya, aku melihat ujung telinganya merah lalu tak tahan menertawakannya . Aku sangat menikmati makannya dan makan dengan sangat banyak, Curtis juga terkejut dengan banyaknya makanan yang kumakan ia berpikir aku tidak akan sanggup menghabiskannya . Curtis masih menatapku dengan tidak percaya, aku hanya menanggapi dengan cengengesan malu .
" Aku biasanya tidak makan sebanyak ini, ini karena sudah lama aku tidak makan daging babi " ujarku mencari-cari alasan yang masuk akal .
__ADS_1
Curtis hanya menaikkan sebelah alisnya tidak percaya terhadap alasanku yang cukup aneh, aku yang semakin malu pun segera memanggil pelayan untuk membayar tagihan . Pelayan datang dengan senyum diwajahnya, lalu menyebutkan tagihan . Aku hanya menganggukkan kepalaku, lalu melepaskan salah satu cincin berlian di jariku untuk membayar tagihan .
" Aku sedang tidak membawa uang, apa aku bisa memakai ini ?? " tanyaku sambil menunjuk cincin emas dengan batu berlian di sekelilingnya, semua baju dan perhiasan yang kupakai adalah barang langka dan mewah yang di berikan oleh Raja dan Ratu . Pelayan itu tampak bersemangat melihatnya, segera mengangguk-anggukan kepalanya .
" Tentu !! Tentu saja Lady !! " jawabnya bersemangat .
Aku akan menyerahkan cincin itu kepada pelayan ketika tangan Curtis segera meraihku . Raut mukanya terlihat jengkel, aku hanya bingung menatapnya . ' apa ia marah karena aku membayar makanan dengan cincinku atau ia khawatir jika cicinku palsu sehingga ia akan malu ?? '
" Ada apa ?? kau tidak perlu khawatir, ini berlian asli pasti cukup jika hanya membayar makanan " kataku polos
" Jangan bodoh, biar aku saja yang bayar " ujarnya sambil mengatupkan giginya.
Pelayan itu yang melihat aku tidak jadi memberikan cincin berlian mahal karena di cegah oleh Curtis terlihat kecewa tapi tak bisa melakukan atau berkata apapun . Curtis menaruh sekantung koin di atas meja lalu berdiri, berjalan ke arahku lalu menggandeng tanganku untuk keluar restoran . Aku berjalan sambil memperbaiki tudung jubahku dengan satu tangan yang tidak di genggam Curtis .
Kami berjalan keluar restoran, lalu pergi ke sudut jalan barulah Curtis melepaskan tanganku dan berbalik tidak mau melihatku . Aku melihatnya yang melepaskan tanganku tiba-tiba menjadi bingung .
" Kenapa di lepaskan gandengan nya ?? " tanyaku bingung, Curtis tetap diam tak menanggapi .
" Kenapa mengacuhkanku lagi ?? Apa kau marah ?? " tanyaku sambil berjalan mendekatinya, kudengar helaan nafas Curtis .
" Kenapa kau marah ?? " tanyaku berdiri di depannya mendongak untuk melihat ekspresinya .
Curtis tetap memalingkan mukanya ke arah lain tidak ingin menatapku, akupun mengulurkan tanganku memegangi pipinya lalu menekan membuatnya menunduk melihat ke arahku .
" Lihat aku Curtis, kenapa kau marah ?? " tanyaku pelan tapi serius
Curtis mengerutkan alisnya sangat erat, terlihat berusaha menekan kemarahannya . Ku lihat tatapannya yang rumit mengarah padaku, ia merapatkan bibirnya erat seperti enggan berbicara . Kami terus saling memandang hingga Curtis memejamkan matanya seraya menghela nafas, lalu membukanya lagi berkata dengan suara tertekan .
" Kenapa, kenapa kau tidak memintaku untuk membayarnya jika kau tidak punya uang ?? kenapa kau lebih memilih menyerahkan perhiasanmu ?? "
Kini ku lihat sedikit luka di matanya, ' apa ia berfikir aku merendahkan dan meremehkannya tidak mampu membayar tagihan ?? Huh sungguh konyol ... ' pikirku . Akupun tersenyum geli lalu berjinjit mendekatkan wajah kami, mengalungkan lenganku di lehernya dan menyandarkan tubuhku pada Curtis membiarkannya menompang beratku sepenuhnya . Kulihat ia bingung melihatku tersenyum lalu berganti terkejut segera panik memegangi pinggangku agar tidak jatuh .
" Aku tidak melakukan itu karena aku bersungguh-sungguh ingin berteman denganmu, aku tidak ingin memanfaatkan mu . Banyak orang yang mendekatiku dengan maksud tertentu akupun hanya bisa ikut bersandiwara bersamanya tapi denganmu berbeda... denganmu aku hanya ingin menjadi diriku sendiri " kataku serius .
" Kakak tampan jangan marah padaku hanya karena daging babi " godaku lagi akhirnya sambil bergelayut manja padanya .
Curtis terlihat terkejut wajahnya memerah malu, akupun hanya tertawa terbahak melihat reaksinya yang lucu lalu meraih tangannya menariknya ke arah alun-alun kota .
Alun-alun kota penuh sesak dengan masyarakat yang menikmati hiburan, Curtis mengeratkan genggamannya agar aku tidak terpisah darinya . Aku sangat bersemangat ingin segera ikut menikmati kegembiraan, menarik curtis ke arah atraksi api yang sangat seru . Aku berseru dan berteriak senang sambil bertepuk tangan dengan semangat sampai tanganku memerah, dengan Curtis berdiri di belakangku menghalangi orang-orang yang saling mendorong . Ketika pertunjukan atraksi selesai Curtis melemparkan beberapa keping koin dan kami berpindah ke pertunjukan tari dan musik yang cukup ramai, terlihat pemusik yang memainkan musik dengan 2 orang gadis yang menari dengan lincah di depannya . Para penonton melihat sambil bertepuk tangan, aku berbisik pada Curtis " aku ingin menari " kataku lalu melepaskan tangannya .
Aku berjalan ke depan sambil tersenyum, para penonton dan gadis penari yang melihatku sedikit heran tapi segera mengerti ketika aku menunduk memberikan hormat ingin bergabung dengan tarian mereka . Mereka saling pandang lalu tersenyum ke arahku, kami mulai menari bersama . Kami menari dengan lincah, langkah ku sangat ringan dan menarik tidak menyia-nyiakan upaya Lady Marie Antoinette yang mengajarkanku .
Aku tertawa senang, para gadis pengunjung rakyat jelata yang melihatku bersenang-senang pun ikut maju menari bersama-sama . Aku menari berputar-putar hingga tak sadar jika jubahku terlepas memperlihatkan paras cantikku dan penampilanku yang anggun mempesona membuat para penggunjung semakin padat melihat pertunjukan tari atau lebih tepatnya melihat padaku . Aku yang tidak menyadarinya tetap menari dengan tawa senang hingga seseorang menarik lenganku membawaku ke pelukannya sambil berbisik tajam .
" Jubahmu terlepas, kau menarik perhatian semua orang " katanya serak seperti menahan sesuatu .
Aku yang mendengar ucapan Curtis, mulai panik ingin mencari jubahku . Tapi sebelum aku sempat melakukan apapun, Curtis sudah menyampirkan jubahku kembali lalu menarikku ketepi alun-alun di ikuti oleh tatapan kecewa para pengunjung pria yang menonton . Aku yang melihat semua perhatiannya kepadaku, segera memeluknya erat sambil bergumam
" Aku sangat senang Curtis " ujarku
__ADS_1
" Sudah malam, ayo aku akan mengantarmu pulang " katanya pelan
' Sial !!! Kakak tampan aku sudah hampir lupa dan kau mengingatkanku pada rumah hantu lagi ' umpatku dalam hati