Merubah takdir ' Mawar Putih '

Merubah takdir ' Mawar Putih '
BAB 18


__ADS_3

Albert berjalan cepat di tengah pepohonan yang rapat, kaki jenjangnya membelah semak-semak yang menghalangi di sepanjang jalan .


Albert sungguh bingung dengan reaksi Putri, awalnya ia sangat senang dengan pohon-pohon buah persik itu . Tapi ketika Putri melihat ke bangunan rumah kecil yang aneh di sebelah pohon sakura besar, tampak keterkejutan di raut wajahnya . Seperti ia mengenal gaya arsitektur yang aneh menurut Albert, tapi Albert tidak terlalu terkejut bahkan jika sang Putri tahu asal-usul gaya bangunan itu bagaimana pun Putri tadi memberikan penjelasan tentang buah persik yang tak ia ketahui tadi .


Albert sedikit curiga karena Putri yang tiba-tiba mengetahui tentang asia tenggara yang berada di benua timur seberang lautan . Tapi ketika Putri menyebutkan bahwa ia tahu dari beberapa buku yang diberikan oleh Kerajaan Hilaire maka Albert langsung melemparkan kecurigaan itu di belakang kepala . Karena Albert sendiri tahu Kerajaan Hilaire mempunyai banyak barang-barang unik hasil dari perdagangan di seluruh benua .


Yang membuat Albert penasaran adalah mengapa ada sebuah bangunan di sudut istana yang tidak di ketahui siapapun ini . Rumah kecil ini terletak di tengah pepohonan yang rindang, sangat sulit untuk di cari dan tidak ada seorangpun prajurit yang berjaga di sekitarnya . Tapi di lihat dari kondisi bangunan yang bersih dan terawat, bukan tidak mungkin bangunan di malah di rahasiakan sehingga hanya beberapa orang saja yang tahu .


Dan ketika Albert mencoba bertanya pada Putri tentang kegunaan rumah kecil ini, Putri Clea terlihat berfikir keras mengingat-ingat . Ini menandakan bahwa Putri sendiri juga tidak tahu bangunan apa ini, tapi mungkin saja ia bisa menebaknya .


Hening lama Albert menunggu jawaban dari Putri tapi tak kunjung ada suara, akhirnya Albert pun akan bertanya kembali seraya menoleh ke arahnya . Siapa sangka Putri terlihat gemetar ketakutan serta wajah yang pucat pasi, Albert kaget dan khawatir ingin meraih tangannya sambil bertanya kenapa ia terlihat ketakutan .


Tapi justru tangan Albert di tepis kasar olehnya, Putri melihat Albert sambil mundur ketakutan mencoba untuk menghindar . Albert syok, sangat bingung, cemas, khawatir, serta sedikit sedih karena reaksi Putri . Albert sungguh bingung apa yang terjadi, ia sangat cemas melihat Putri yang seperti ketakutan terhadapnya sehingga ia pun bertanya dengan sedih .


" Putri, ada apa ?? ini saya Albert ... " lirih Albert pelan


Setelah mendengar perkataan itu Putri segera sedikit tenang, tapi ia tetap gemetaran . Segera matanya berkaca-kaca terlihat seperti bisa menangis kapan saja .


" Albert ... aku takut ... "


Rengekan penuh kesedihan terdengar jelas di telinga Albert, ini pertama kalinya Albert melihat sosok Putri yang sangat rapuh . Albert menjadi tidak berdaya dan ikut sedih di buatnya, Albert pun memeluk Putri mencoba menenangkannya tapi justru ia mendapatkan Putri yang menangis terisak-isak di pelukannya .


Albert semakin bingung dibuatnya, ia tak tahu harus berbuat apa ketika suara serak Putri yang meminta ingin pulang di sela isak tangisnya terdengar di pelukan Albert . Albert pun segera menggendong Putri di pelukannya berjalan secepat mungkin meninggalkan area situ, kini Albert tahu jika sang Putri ketakutan melihat rumah itu meskipun Albert tak tahu apa alasannya .


Albert juga tidak berani bertanya lebih lagi melihat kondisi Putri sekarang, kami melewati pepohonan dengan cepat hingga tepi danau di kejauhan sudah terlihat . Putri sudah berhenti menangis terisak-isak, kini ia diam menguburkan kepalanya di pundak Albert dan badannya sudah berhenti gemetaran meskipun masih tegang .


Clea POV


Suara riak danau dan burung-burung gereja yang bernyanyi mulai terdengar, aku mengetahui bahwa kami sudah menjauh dari tempat itu .


Aku pun merilekskan tubuh tegangku yang ketakutan tadi, aku masih menolak bangun dan tetap menguburkan wajahku di ceruk leher Albert menghirup aroma wanginya yang khas .


Albert tidak bertanya apapun di sepanjang jalan tadi, ia mungkin terkejut melihat reaksiku yang berlebihan tadi . Albert berjalan sangat cepat sehingga kini kami sudah berada di tepi danau, sinar matahari menerobos dedaunan yang menaungi kami mengenai mataku yang tertutup .


Aku terganggu dan semakin mengeratkan lingkaran lenganku di leher Albert, mengusap-usap wajahku di bahu remaja itu . Aku sungguh tidak menyangka ia sanggup menggendongku di sepanjang jalan kembali tanpa mengeluh sedikitpun .


" Putri, saya akan membawa anda kembali ke istana kediamanmu " kata Albert di atas kepalaku


" Jangan kembali, duduk dulu sebentar " kataku dengan suara serak di pelukannya


" Baik " jawab Albert sambil menunduk melihatku yang masih menyembunyikan wajah di bahunya


Albert pun berjalan kembali mengintari sesi sungai sampai ke seberang, ia lalu berjalan ke tikar piknik yang di tinggalkan tadi . Albert menunduk menatapku yang masih bersembunyi di lehernya, tanpa mengatakan apapun Albert langsung duduk bersandar di batang pohon sambil tetap membawaku di pelukannya .


Suara burung pipit berkicau ria di dahan, semilir angin sejuk musim semi berhembus menerpa air danau yang tenang menimbulkan riak di sekitarnya . Aku membuka mataku melihat sekitar, mataku masih berair karena sehabis menangis serta ujung hidung yang memerah .


" Kau tidak tanya padaku ?? " kataku pelan dengan suara serak


" Jika Putri tidak nyaman mengatakannya maka saya tidak akan bertanya " katanya tenang


Hening lagi, aku bimbang akan mengatakan atau tidak . Jika aku mengatakan aku tidak tahu lagi bagaimana reaksi spontan dari tubuh asli ini tapi jika aku tidak mengatakannya maka Albert akan curiga sehingga menimbulkan jarak di kita nanti .


Aku menyandarkan kepalaku lagi di bahu Albert, Albert tetap tenang sambil membawaku di pelukannya .


" Itu tempat terlarang ... " kataku pelan


Albert tidak mengatakan apapun tapi tatapannya menyipit tajam . Aku menghela nafas lagi ...


" Ayah dan Ibu tak pernah menyebutkannya padaku . Aku hanya pernah dengar gosip di antara para pelayan tua di istana, bahwa ada tempat untuk mengucilkan Ratu dan Selir yang jatuh " kataku menjelaskan


Albert tetap diam, ekspresinya tetap tenang seperti tidak menganggap itu hal yang penting . Albert menunduk menatapku yang berada di lengannya .


" Lalu mengapa kau takut " tanyanya pelan


degh,


" Aku ... aku ... aku tidak tahu, aku ... aku hanya merasa tempat itu menakutkan " kataku panik


' Sial, pikir lah alasan yang masuk akal Clea ... ' batinku berteriak


Albert melihatku yang panik salah tingkah takut bahwa ia tak mempercayai perkataan ku melihat mata berair dan hidung yang kemerahan serta wajah yang sembab .


Albert sebenarnya sedikit ragu akan ucapanku karena ia melihat sendiri reaksiku tadi, Albert hanya bisa menghela nafas melepaskan masalah itu lalu tersenyum lembut sambil mengusap puncak kepalaku .

__ADS_1


" Kalau begitu mari kita lupakan saja dan jangan melihat lagi " kata Albert lembut


Aku mengangguk menyetujuinya, lalu teringat sesuatu dan terlonjak duduk tiba-tiba .


" Ah .... buah persik ku ... " seruku keras


Albert tercengang lalu tertawa kecil melihat tingkahku yang tadi sangat sedih dan sekarang malah menghawatirkan buah persik yang tertinggal .


" Ah... sayang sekali " rengekku pahit memikirkan buah-buahan persik segar yang kupilih dengan cermat tadi


" Siapa yang suruh Putri ini ketakutan sampai menangis tadi " goda Albert sambil tertawa kecil


" Albert .... " rengekku malu lalu teringat sesuatu dan menunduk lagi


" Ah sayang sekali kita tak bisa melihat bunga persik yang cantik bersama di musim semi nanti " gumamku pelan


Kukira aku sudah bergumam sangat pelan tapi siapa sangka Albert masih juga mendengarnya . Albert menarik daguku keatas agar menatap ke wajahnya .


" Secantik apapun itu, jika membuat Putri sedih maka saya tidak akan menyukainya " kata Albert pelan dan serius


Aku tercengang lalu tiba-tiba wajahku merona merah malu, aku langsung menunduk menutupi wajahku dengan telapak tangan .


' Sialan, darimana juga Albert mempelajari kata-kata rayuan padahal biasanya selalu aku yang memulai duluan . Ah .... sial aku sungguh tak bisa tahan dengan rayuan remaja tampan ' pikir ku panik


Albert yang melihatku memerah malu semakin senang dan tertawa geli . Aku memukul pelan lengannya agar berhenti tertawa, sambil cemberut kesal .


" Berhenti tertawa Albert, ayo kembali ke istana . Makan siang sudah lama lewat, para pelayan pasti cemas menungguku " kataku pada Albert


" Ehm, ayo kembali " katanya menyetujui


Albert lalu bangkit dan membereskan kembali peralatan teh dan juga melipat tikar ke dalam keranjang . Aku berdiri di samping menunggunya berberes, ketika Albert sudah selesai ia pun menggandeng tanganku berjalan kembali ke istana kediamanku .


Kami berjalan bergandengan melewati kebun bunga mawar yang mulai bermekaran .


" Albert jangan katakan pada siapapun tentang tadi " gumamku pelan tapi masih bisa didengar oleh Albert


" Saya mengerti Putri " ucap Albert datar


" Putri, anda kembali sangat terlambat " sindir halus Deenna


" Maaf Deenna, aku terlalu asyik bermain sehingga melupakan waktu " kataku menunduk berpura-pura menyesal


" Tidak apa-apa Putri, kami hanya khawatir saja " kata Alice menimpali


" Terimakasih, tapi aku sangat lapar sekarang " kataku pada mereka


" Mari masuk Putri, saya akan menyuruh makanan akan segera di sajikan " kata Deenna tergesa-gesa


Deenna dan Alice segera berlalu ke dapur istana, Chacha dan Blance mengambil keranjang piknik yang di bawa Albert serta payung yang kupakai .


Aku berjalan beriringan dengan Albert menuju meja makan, kami pun makan siang bersama . Setelahnya Albert berpamitan untuk kembali ke kediaman Albelart, ia tak bisa berlama-lama karena Albert baru saja kembali semalam dan langsung mengunjungiku di pagi harinya .


Aku mengangguk mengerti lalu mengantarkannya sampai ke kereta kuda . Albert menatapku lembut dan tersenyum seraya mengelus rambutku sedikit sebelum ia naik ke dalam kereta kuda menuju kediaman Albelart .


" Istirahatlah dengan baik " katanya pelan di dekat jendela


" Aku tahu " kataku sambil tersenyum


" Sampai jumpa besok " kata Albert


" Ehm, besok akan kutunjukan lagu baru yang kupelajari " kataku ceria


Albert mengangguk lalu kereta berjalan pergi ke luar istana, aku melambaikan tangan sedikit hingga kereta tidak terlihat lagi .


Aku melangkah kembali ke istanaku, aku tidak pernah menyembunyikan kedekatanku dengan Albert di istana . Mungkin semua penghuni istana kerajaan sudah tahu, yah ... gosip sangat mudah menyebar kan .


Meskipun begitu Raja dan Ratu tak pernah mengatakan apapun mengenai hal tersebut, Raja Damien menganggapku sangat pintar sehingga ia tak mencampuri urusanku, ia hanya memantau dan membantuku jika aku meminta . Sedangkan Ratu Carissa sangat memanjakanku, selama aku bahagia maka ia tidak akan mengatakan apapun .


Aku kembali ke istanaku, berjalan ke bak mandi hangat yang sudah di siapkan oleh para pelayan . Aku berendam sejenak, membiarkan Alice dan Blance memijat bahuku .


Selesai mandi dan berganti pakaian, Deenna menyuruh semua orang pergi dan mendandaniku seorang diri . Aku tahu Deenna pasti akan bertanya-tanya soal siang tadi, bagaimana pun wajah sembab dan gaun robekku tak bisa disembunyikan . Mungkin, para pelayan yang lain juga mengetahui tapi tidak ada yang berani bertanya .


" Putri, apa terjadi sesuatu ?? " tanya Deenna pelan sambil menyisir rambutku

__ADS_1


" Tidak ada yang serius, gaunku hanya robek tersangkut ranting " kataku tentang


Deenna terdiam, ia tahu aku sedang tidak ingin membahasnya jadi Deenna hanya bisa melepaskan hal itu .


' Hah.... Putri sudah tumbuh dewasa ' pikir Deenna


" Kalau begitu Putri istirahatlah " kata Deenna sambil meletakkan sisir rambutku


Aku mengangguk menyetujui, Deenna membantuku berbaring di tempat tidur dengan nyaman lalu berjalan pergi sambil menutup pintu membiarkan aku istirahat dengan nyaman .


Aku termenung menatap langit langit kamar tidurku, pikiran ku mengembara kembali ke bangunan kecil di tempat sepi tadi . Bangunan itu jelas memiliki unsur estetika Asia tenggara tapi kenapa bisa ada di istana bergaya barat seperti ini, apa mungkin salah satu selir atau ratu yang di gulingkan berasal dari benua timur .


Tapi jika benar bangunan kecil itu sebuah tempat untuk pengasingan seseorang yang di buang maka tempat itu terlalu indah untuk di jadikan penjara .


Aku juga masih bingung kenapa tubuh Clea bereaksi sangat keras hanya dengan melihat rumah kecil itu, seperti ada kesedihan yang sangat mendalam memeluk erat diriku hingga tak tertahankan . Aku sangat takut hingga gemetar tak terkendali karena tiba-tiba muncul emosi yang tidak bisa ku kendalikan sama sekali .


Dan ketika aku melihat Albert akan menyetuhku, aku merasa marah dan sedih serta kekecewaan yang sangat besar padanya tapi tak bisa tersampaikan .


Aku sangat bingung apa ini emosi yang ditinggalkan oleh Clea atau ada maksud lain yang aku tidak tahu . Aku sangat bingung hingga tertidur tanpa sadar, aku tidur dengan gelisah dan bermimpi seseorang yang tidak kuketahui tapi aku merasa nyaman dan sedih saat bersamaan .


.


.


.


Seorang gadis tengah berdiri dibawah pohon bunga sakura yang sedang bermekaran dengan indahnya, tapi sayang sekali pemandangan indah itu tidak menarik bagi seorang gadis yang mengenakan gaun putih kusut sederhana tapi terlihat sudah kekuningan, rambut hitam panjang lurus terurai asal seolah tidak pernah ditata rapi lagi, tertiup angin lembut yang mengalir di sisi, rupanya layaknya usia remaja sangat sangat cantik bagai bunga mawar sang sedang mekar penuh .


Kecantikan yang menawan dan memikat itu terlihat kurus dan pucat tanpa riasan sedikitpun tapi tetap mempesona dengan sendirinya . Hanya saja mata birunya yang biasa terlihat cerah bersinar terang, sekarang terlihat redup dan kosong seolah tidak bernyawa . Ia menatap datar pada seseorang pria yang duduk bersandar di atas batang pohon sakura dengan nyaman sambil memainkan suling bambu yang dibawanya .


" Kenapa kau kemari lagi " suara dingin datar Clea terdengar sayu seperti tanpa harapan


" Kenapa aku harus memberitahu mu " kata pria itu main-main


Suara pria itu jernih dan jelas, rambutnya berwarna pirang pendek dan disisir dengan rapi kebelakang, ia memiliki rahang yang tegas dilengkapi dengan bibir tipis yang tersenyum miring seakan bermain-main sambil menatapku . Sorot matanya tajam dengan bola mata yang berwarna merah menyala seakan membakar apapun yang di lihatnya, alis hitam berbentuk pendang yang lurus dengan mata uang dalam melengkapi aura menindasnya .


Clea tidak bergeming di tatap tajam oleh pria itu, ia hanya memandang kosong tak peduli apapun lagi . Clea pun berbalik ingin pergi, tapi suara tenang pria itu menghentikan langkahnya .


" Apa kau sungguh akan hidup seperti ini sampai mati " katanya tajam


" Bukan urusanmu " jawab Clea ketus


" Apakah kau masih mengharapkannya datang padamu lagi " kata pria itu lagi terdengar marah


Hening sejenak, hingga aku berfikir Clea tidak akan menjawab .


" Tidak " kata Clea singkat tapi nadanya terdengar putus asa


Pria itu melompat turun dengan marah lalu meraih Clea agar menatapnya .


" Lalu apa yang kau lakukan dengan menunggu dengan bodoh di tempat buruk seperti ini, apa kau masih mencintainya ?? " teriak pria itu marah


Clea marah mendengar perkataan itu tapi ia hanya mendengus pergi tanpa menjawabnya, seolah Clea tak sanggup mengendalikan ketenangannya lagi jika berhadapan dengan mata tajam itu . Clea pun berbalik berjalan menjauh tanpa peduli lagi


" Hah ... dasar gadis bodoh " sinis pria itu meremehkan


Clea tidak tahan lagi dan berbalik dengan mata menyala dengan marah, ia menatap pria itu dengan menantang .


" Apa pedulimu, jangan ikut campur . Pergi sekarang dan jangan kemari lagi " katanya marah


Pria itu justru tersenyum miring pada Clea,


" Aku  sebenarnya adalah orang yang cuek  tapi jika itu kau entah kenapa aku sangat ingin peduli " katanya tenang


Clea diam raut wajahnya tetap dingin seolah tidak goyah sama sekali . Angin berhembus membawa kelopak-kelopak indah bunga sakura melewati mereka yang berdiri saling berhadapan tapi terasa ada dinding yang membatasinya .


" Aku tidak perlu kau perdulikan, kita tak punya hubungan apapun " ujar Clea dingin


" Tapi aku ingin memiliki hubungan denganmu " ujar pria itu ambigu di sertai senyuman miring khasnya


Kini aku melihat sekilas gelombang emosi melintas di mata biru kosong itu, seperti bunga mawar mati dan layu di tinggalkan berjuang seorang diri tapi kini ada sebuah pohon ingin berdiri bersamanya dan ingin menjadi sandarannya berbagi kesulitan .


Mata biru Clea bergetar sedikit, sinar kecerahan yang hilang itu kembali melintas dengan indahnya bersamaan dengan bunga yang berguguran . Pemandangan ini sangat indah dan layak untuk di kenang ....

__ADS_1


__ADS_2