
Aku menarik nafasku perlahan dan memasang senyum termanisku lalu membuka pintu ruang makan istana dengan perlahan .
" Ayah .... ibu .... maaf, Clea terlam .... eh ?? " seruku sambil membuka pintu
Perkataanku terhenti ketika pandanganku menyapu ruang makan yang masih sepi, hanya Ratu Carissa yang duduk diam menunggu dengan anggun sambil meminum teh di cangkir porselen putih yang warnanya hampir menyatu dengan jari lentiknya .
Ratu Carissa menoleh perlahan ke arahku, ia tersenyum lembut dan berujar perlahan .
" Putriku sudah datang " katanya
" Ibu seorang diri saja ?? " tanyaku sambil menoleh ke kanan dan ke kiri
" Iya, Yang Mulia masih sibuk dengan urusannya " jawab Ratu Carissa
Aku berjalan perlahan ke tepi meja makan besar nan mewah tersebut, dan duduk dengan sopan di depan Ratu Carissa . Aku mengangguk-anggukkan kepala mengerti, selayaknya boneka cantik yang kini sedang melamun . Ratu Carissa tersenyum senang melihat Clea yang bertingkah menggemaskan .
' Sepertinya ayah kewalahan dengan situasi perbatasan yang semakin memanas ' pikirku
' Apakah perang akan segera pecah ?? ' tanyaku membatin
Aku sedang melamun memikirkan peristiwa bergejolak pertama yang tertulis di novel akan terjadi dan mungkin akan kualami nanti . Pikiranku sedang berkeliaran ketika suara pertanyaan Ratu Carisssa menyadarkanku .
" Bagaimana denganmu, apa yang kau lakukan sehingga membuat ibu menunggu " tanyanya
" Ah .., saya sedang belajar di perpustakaan istana seperti sebelumnya dan lupa waktu lagi " jelasku dengan raut wajah pura-pura malu
Wajahku memerah seolah-olah seorang putri cantik jelita dan lugu sedang mengakui kesalahannya dengan jujur di hadapan orang tuanya, suara ku kian mengecil di ujung kata-kata .
Ratu Carissa tersenyum lembut selayaknya seorang bunda maria yang berbelas kasih, lalu Ratu Carissa menatapku dengan sedikit kekhawatiran yang tersirat jelas di ekspresinya .
" Jangan memaksakan dirimu ... " ujarnya perlahan
Mendengarnya aku langsung tahu Ratu Carissa sedang mencemaskan kesehatanku, aku tersenyum lembut dan meraih tangan rapuh di sebrang lalu berkata perlahan .
" Jangan khawatir, aku tahu batasku . Lagi pula aku suka belajar " kataku senang
' Omong kosong yang bagus Cleo, kau bersenang-senang dengan pemuda tampan dengan alasan belajar . Ha ha ha ...' batinku
" Baiklah, ibu percaya pada putriku yang pintar ini . Tapi jangan lupakan makan, mengerti " kata Ratu Carissa lagi
" Hihihi .... kali ini aku tidak lupa ibu, jangan cemas . Ah ... dan juga aku sangat berhati-hati terhadap tangga kali ini " jawabku usil
Ratu Carissa ikut tertawa kecil mendengar candaanku, ia tersenyum lembut dan mencolek pelan ujung hidungku dengan jari telunjuknya .
" Kau ini ... " serunya gemas
Aku terkikik kembali, bertingkah imut selayaknya gadis kecil polos yang dimanjakan oleh orangtuanya . Setelah selesai tertawa, aku melihat sekitar lalu bertanya lagi .
" Apa kita akan menunggu ayah ?? " tanyaku lagi
Ratu Carissa melihat jam atau pengukur waktu kuno yang terpasang di dinding ruangan, lalu ia menoleh ke arah pintu masuk yang masih sepi . Tak terlihat tanda-tanda Raja Damien akan datang dalam waktu dekat .
" Kurasa Yang Mulia masih akan lama " gumam Ratu Carissa pelan
__ADS_1
" Tanya saja dulu, lagipula kita bisa menunggu sebentar lagi . Aku akan menyuruh Deenna pergi tanyakan ke ruang kerja ayah " sahutku
Ratu Carissa tak sempat berbicara, aku sudah memutuskan seenaknya . Ia hanya tersenyum sambil melihat pada semua tindakanku yang sangat cepat dalam mengambil keputusan berbeda sekali dengan dirinya yang selalu ragu-ragu .
" Deenna, pergilah ke ruang kerja Yang Mulia Raja . Tanyakan apakah Yang Mulia Raja akan datang ke meja makan ?? " kataku pada Deenna di hadapanku
Ratu Carissa memperhatikanku yang sedang berbicara dengan Deenna, ia juga sadar akan pemilihan kata-kata khusus yang ku gunakan untuk bertanya pada Raja Damien . Kata-kata ' tanyakan apakah Yang Mulia Raja akan datang ke meja makan ?? ', kalimat itu memberikan kesan bahwa kami sedang mengundangnya . Hal itu akan berefek jika kalau ada orang lain di dalam ruang kerja tersebut, kata-kata itu tidak akan menyinggung tamu dan membuat Raja Damien malu .
Berbeda dengan kata-kata ceroboh yang biasa di gunakan oleh anak-anak lainnya, mereka akan bertanya dengan spontan ' kapan ayah akan datang ?? ' . Pertanyaan polos khas anak kecil, memang terdengar tak ada yang salah tapi jika ditempatkan di dalam ruang kerja Raja yang sedang membahas hal-hal penting dengan bangsawan . Maka hal itu akan terdengar sangat canggung .
Para tamu bangsawan akan berfikir, bahwa mereka sedang mengganggu waktu istirahat Yang Mulia Raja, atau Yang Mulia Raja lebih mementingkan makan malam daripada urusan Kerajaan yang mendesak, hal-hal itu dapat memicu rumor yang berbahaya .
Ratu Carissa berfikir bahwa putrinya terlihat dewasa daripada anak-anak lain di usianya, tapi Ratu Carissa pun bersyukur bahwa Clea putrinya sangatlah cerdas . Sehingga Ratu Carissa tak perlu khawatir ia akan di manfaatkan oleh bangsawan licik serta orang jahat lainnya .
" Baik Putri "
Suara Deenna menyahuti membangunkan pemikiran dari Ratu Carisssa, ia tersenyum menatap Putrinya lalu berkata .
" Apa Clea tidak lapar ? " tanyanya lembut
" ( menggelengkan kepala ) aku sudah makan banyak kue tadi siang, jadi aku bisa menunggu sampai ayah datang " kataku
" Putriku sungguh perhatian " pujinya lagi
Aku hanya terkikik senang menanggapinya, ' aku memang tak lapar, tapi badanku sungguh lelah . Bahkan kupikir aku bisa tidur sambil makan sekarang ' pikirku
" Bagaimana dengan ibu " tanyaku mencari topik obrolan untuk menunda kantuk
Kami pun mulai mengobrol dengan hangat di ruang makan yang sepi tersebut
.
.
.
Sementara itu di istana utama ...
Raja Damien sedang duduk dengan ekspresi dingin di meja kerjanya . Berkas-berkas menumpuk tinggi di setiap sisi, hampir memenuhi seluruh meja kayu yang besar tersebut .
Kertas-kertas itu berisi setiap laporan perkembangan dari perbatasan di sebelah Utara dan Timur yang kian di perketat . Di hadapannya kini terdapat 4 orang yang sedang berdiri tegak, ekspresi mereka sama tegang dan seriusnya dengan situasi yang sedang di bahas .
" Yang Mulia, Kerajaan Versailles semakin gencar untuk memprovokasi Kerajaan Theodore " ujar seseorang yang berpakaian zirah besi milik pasukan
" Yang Mulia, menurut laporan rahasia dari mata-mata yang di tempatkan di wilayah Kerajaan Theodore . Pasukan Kerajaan Versailles mulai membantai dan menjarah desa-desa kecil di sekitar perbatasan, sepertinya tak lama lagi pasukan Theodore akan membalas " ujar seseorang yang berpakaian serupa dengan yang berbicara pertama tadi
Raja Damien terdiam, ia memikirkan dalam-dalam semua laporan rutin berisi situasi di perbatasan yang diterimanya oleh Jenderal yang menjaga perbatasan wilayah Utara dan Timur .
Laporan-laporan itu berisi setiap pertikaian kecil seperti penjarahan diam-diam, pengrusakan desa-desa kecil, ancaman dan penyerangan dalam gelap hingga penyerangan secara terang-terangan dan dalam skala pemusnahan total dari sebuah desa atau kota di sekitar perbatasan . Kini setiap catatan itu menumpuk dan menyita semua perhatiannya .
Raja Damien mengangkat kepalanya menatap ke empat orang dewasa yang berdiri di depannya, ia melirik 2 lainnya yang belum berbicara . Kedua orang itu berpakaian selayaknya bangsawan, mereka menunggu dalam diam untuk giliran mereka berbicara . Kini Raja Damien menatap mereka dan saatnya mereka menyampaikan pendapat mereka .
" Yang Mulia, perekonomian Kekaisaran Benedicte saat ini bisa di katakan yang terbaik dalam 10 tahun ini . Keputusan Yang Mulia Raja untuk menghindari perang demi kesejahteraan rakyat, ialah keputusan paling tepat " jawab seorang bangsawan pria itu
__ADS_1
" Pernyataan bahwa ' Kekaisaran Benedicte tidak ikut campur ataupun membantu kedua belah pihak, jika memang terjadi perang ' sudah di sampaikan secara lisan kepada masing-masing perwakilan Kekaisaran Versailles dan Kekaisaran Theodore . Meskipun belum secara resmi, tapi kedua belah pihak pasti sudah tahu " jawab seorang bangsawan wanita yang satunya
Raja Damien kembali terdiam setelah mendengar jawaban dari kedua bangsawan itu . Lalu ia kembali melirik pada kedua prajurit penyampai berita yang masih menunggu dengan posisi siap siaga .
" Bagaimana dengan wilayah kita ? " tanya Raja Damien
Nada suara Raja Damien sangat datar, tapi membawa suasana yang berat dan mencengkam semua orang yang mendengarnya . Suasana di situ kembali ke titik bawah yang tegang, dengan setiap pertanyaan yang di lontarkan oleh Raja Damien .
" Menjawab Yang Mulia, pasukan di perbatasan sudah memperketat pengawasan dan menemukan beberapa orang yang mencurigakan . Saat ini kami masih menyelidiki mereka dengan ketat " jawab seorang prajurit
" Menjawab Yang Mulia, saat ini belum ada pergerakan atau tindakan khusus dari pihak Kekaisaran Theodore yang mengusik ataupun membuat masalah di wilayah kita " jawab prajurit satunya
Prajurit pertama ialah prajurit yang di kirimkan dari perbatasan utara, dan seperti perkiraan sebelumnya . Kerajaan Versailles mulai mengirimkan penyusup ke perbatasan mereka, untung saja kali ini Kerajaan Benedicte sudah bersiap-siap untuk antisipasi jika tidak maka akan terjadi masalah besar .
Prajurit kedua ialah prajurit yang di kirimkan dari perbatasan timur, Kekaisaran Theodore merupakan kerajaan yang angkuh . Mereka selalu menilai Kekaisaran Benedicte ialah kerajaan yang mengandalkan kekayaan tambang berlian mereka untuk hidup bermewah-mewahan dan tetap setara dengan Kerajaan yang lainnya . Oleh kerena itu Kekaisaran Theodore tak pernah menaruh perhatian khusus pada Kekaisaran Benedicte, hal itulah yang menciptakan perdamaian antara kerajaan mereka dan kita . Jadi hubungan antara kami selalu ' suam-suam kuku ' artinya asalkan tidak ada sebelah pihak yang mengganggu maka tidak akan ada peperangan .
Tapi meskipun demikian, Raja Damien tidak melonggarkan pengawasan di perbatasan Timur hanya karena dasar pemikiran tersebut .
tok, tok, tok,
Ditengah-tengah pembicaraan serius tersebut, tiba-tiba terdengar ketukan dari pintu ruang kerja . Semua orang yang ada di ruangan tersebut serempak menoleh ke arah pintu tersebut, mereka sungguh tidak suka ada yang yang mengganggu pembicaraan penting yang sedang berlangsung saat ini .
Begitu pula dengan Raja Damien ia mengernyitkan alisnya tak senang terhadap gangguan tersebut, padahal ia sudah berpesan pada penjaga di depan ruangan agar tidak memperbolehkan semua orang mengganggu .
Raja Damien melirik sedikit pada Felix yang berdiri menunggu di belakangnya . Felix dengan cekatan mengerti maksud dari Raja Damien . Ia dengan dingin berjalan ke arah pintu hendak mengusir siapapun yang sangat berani menganggu rapat, serta memperingatkan dan menghukum para penjaga di luar pintu yang sudah melanggar perintah .
Felix membuka pintu tersebut dengan perlahan, dan diluar pintu berdiri dengan gugup seorang penjaga pintu yang mengetuk tadi serta seorang pelayan wanita di belakangnya .
Felix mengetahui bahwa pelayan ini merupakan pelayan pribadi dari Putri Clea, jadi Felix mengurungkan semua niat pertamanya saat akan membuka pintu . Kemudian ia beralih berjalan ke sisi sampingĀ dan membuka pintu itu lebar-lebar, agar Raja Damien dapat dengan jelas melihat kedatangan dari pelayan pribadi Putri Clea .
Semua orang termasuk Raja Damien melihat dengan heran Felix membukakan pintu lebih lebar dan menyingkir ke samping, seperti memberi jalan pada orang yang datang . Setelah Felix minggir, terlihatlah seorang pelayan biasa yang berdiri di depan pintu . Pria bangsawan serta kedua prajurit yang tadi pun menjadi kesal karena seorang pelayan berani mengganggu pembicaraan penting yang sedang berlangsung, hal itu karena mereka tak mengenal siapa pelayan tersebut . Berbeda dengan wanita bangsawan tadi ia tampak tersenyum ramah dan menyingkir ke tepi, memberi jalan pelayan tersebut untuk menghadap Raja Damien . Sikap wanita bangsawan tesebut seperti itu, karena ia mengenali pelayan tersebut dan seseorang yang berdiri di belakangnya .
" Dari mana pelayan yang begitu berani mengganggu pertemuan penting di ruangan kerja milik Yang Mulia Raja, sangat tidak tahu sopan santun " gerutu pria bangsawan itu
" Kepala keluarga Albelart tidak perlu marah . Sebentar lagi anda akan tahu pelayan ini milik siapa, sehingga berani mengganggu pertemuan penting Yang Mulia Raja " sahut wanita bangsawan itu sambil menggoyangkan kipas sutranya dengan perlahan
Gilbert Albelart terdiam lalu melirik wanita bangsawan di sampingnya dengan sinis, ia selalu benci ketika kata-kata di bantah oleh orang lain . Para prajurit di ruangan itupun tetap diam menunggu di samping, mereka juga mendengar percakapan antara kedua bangsawan di depan mereka . Sekarang mereka hanya penasaran dengan identitas tuan dari pelayan itu sehingga Kapten Felix dan Yang Mulia Raja tidak memarahinya, melainkan mengijinkannya masuk .
Deenna dengan perasaan sedikit ketakutan, ia masuk ke dalam ruang kantor milik Raja Damien . Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam menghadapi semua tatapan penuh ketidakpuasan dari orang-orang di dalam ruangan tersebut .
Raja Damien mengurungkan niat memarahi tamu tak diundang tersebut begitu ia melihat jika pelayan pribadi putri kesayangannya yang datang, Raja Damien tahu bahwa pelayan ini pasti di perintahkan oleh Putri Clea untuk menyampaikan sesuatu .
Deenna masuk dengan hati-hati dan berdiri di tengah ruangan, ia membungkukkan badannya dan menundukkan kepalanya hormat untuk memberi salam .
" Salam untuk kemuliaan Yang Mulia Raja Damien Cassiopeia " ucap Deenna sopan sambil menunduk
" Bangunlah, ada apa ? " tanya Raja Damien dingin dan langsung pada tujuannya
Deenna bangkit berdiri dengan sopan lalu menyampaikan pesan yang di minta oleh Putri untuk tanyakan pada Raja Damien .
" Yang Mulia Raja, Yang Mulia Putri menyuruh saya untuk bertanya pada anda . ' apakah Yang Mulia Raja akan datang ke meja makan ?? ' " kata Deenna perlahan dengan sopan
Suara Deenna jatuh dan semua orang terdiam dengan pikirannya masing-masing . Ruangan itu menjadi sunyi seketika ...
__ADS_1