
" Emmm ... begini . Aku dan kakak tampan di sana itu ( sambil menunjuk ke arah Curtis ) akan pergi ke sungai di sekitar sini . Tapi kakak itu bilang tak bisa menggunakan kuda ... " kataku memulai cerita
" Ah ... sungai yang di sana . Jalannya kecil, berbatu, agak curam jadi memang benar tak bisa di lewati kuda " kata anak perempuan itu jujur dan polos
" Jadi benar ya .... Ah, sayang sekali .... padahal aku ingin melihatnya " kataku memasang wajah sedih
Anak-anak kecil itu dengan polosnya ikut bersedih pada sandiwaraku, bocah laki-laki kurus itu pun menyahuti dengan lugunya .
" Nona bisa berjalan kaki ke sana, jika melewati sawah-sawah ini maka tidak akan jauh " katanya
" Itu benar " sahut anak perempuan kecil itu dengan semangat
Bocah laki-laki satunya pun ikut mengangguk-anggukan kepalanya setuju .
" Benarkah ?? lalu bagaimana dengan kudaku ?? " kataku berpura-pura bingung
Anak-anak itu kembali dengan polosnya mengikuti reaksi pura-puraku, mereka dengan lugunya benar-benar bingung dengan masalah yang kubuat-buat . Aku tersenyum senang dalam hati, dan mulai mengutarakan maksudku sebenarnya .
" Ah !! bukankah kalian akan tetap di sini hingga sore hari, tak bisakah aku menitipkan kudanya sebentar . Aku janji akan kembali sebelum matahari terbenam " kataku lancar
" Ini .... " anak perempuan itu bingung, ia tak berani menyanggupinya sesuka hati
" Kami tidak berani berkata ' iya ', nanti ibu akan marah " kata bocah laki-laki kurus itu dengan ekspresi menyesal
" Ah ... benar juga ... maaf membuat kalian susah " kataku sedih
Anak-anak kecil itu pun menyesal tak bisa membantuku, mereka pun saling memandang sejenak dengan penuh arti . Melihatku yang nampak sedih, mereka pun memberanikan dirinya untuk mengajukan penawaran .
" Kakak bisa mencoba bertanya pada ibu, mungkin saja mereka mau menerimanya " kata bocah kurus itu
" Benar, nanti akan kami bantu untuk membujuk ibu agar bersedia " kata bocah perempuan itu dengan berseri-seri
Bocah laki-laki satunya pun mengangguk setuju dengan perkataan temannya .
" Benarkah ??!! kalau begitu terima kasih " kataku riang
" Tak masalah " ujar mereka bersamaan sambil tersenyum manis
" Kalau begitu sebagai hadiah sudah membantuku, permen di kotak ini milik kalian " kataku sambil menyerahkan kotak permen yang masih termakan sedikit
Anak-anak kecil itu menerima kotak permen itu dengan semangat dan berbinar-binar . Mereka menerima kotak itu dan mengucapkan terimakasih dengan sungguh-sungguh .
" Terimakasih nona ...!!! " seru mereka keras
Curtis yang mendengar percakapan mereka sedari tadi pun, menghela nafas . Jelas sekali ia tahu bocah-bocah itu sudah di permainan dari awal oleh gadis kecilnya, mereka diputar-putar hingga mencapai jawaban yang di ingin oleh Cleo .
Curtis membuka matanya menatap gadis kecilnya yang kini tersenyum dengan senang, Curtis termenung memperhatikan gadis kecilnya ketika tepat Cleo menoleh kebelakang lalu tersenyum sombong seolah mengatakan ' lihat !! sudah beres kan ??!! ' .
1 jam sebelumnya ...
" Kakak tampan, kapan kita pergi ke sungainya ?? " tanyaku
" Sekarang " katanya singkat
Aku dan Curtis sedang berkuda ke luar pinggir desa, jalan di sini masihlah sangat kasar dan cukup banyak batu berukuran besar yang tajam . Aku cukup kesulitan mengendalikan kuda di jalan yang ini
" Kakak tampan, tak bisakah lewat jalan yang lebih mudah ?? " kataku mulai tak sabar
" Tidak bisa, hanya ada ini " katanya singkat
" Apa ???!! " seruku terkejut
Aku cukup syok ketika mendengar jawaban Curtis dan ketika aku akan bertanya kembali, suara Curtis sudah menyelaku .
" Sudah sampai " katanya
Aku terkejut dan menoleh ke arah pandangan Curtis tuju, terlihat di balik semak semak yang cukup rimbun di depan kami terdapat sungai yang berukuran cukup besar dan sangat jernih . Airnya sebening kristal hingga terlihat batu-batu di bawahnya, tapi seperti kata Curtis sebelumnya bahwa arusnya deras .
Aku tersenyum senang dan akan segera melompat turun dari kuda, ketika pertanyaan Curtis menghentikan gerakanku .
" Mau kemana ?? " tanyanya tiba-tiba
Aku sedikit bingung dengan pertanyaannya tapi tetap kujawab, " mau turun " kataku ringan
" Turun ?? apa kau tak lihat ?? " tanya Curtis datar
" Lihat ?? lihat apa ?? " gumamku sambil mulai memperhatikan sekitar
Ternyata kami berdiri di tepi jurang yang curam, pinggiran jurang di tutupi oleh semak belukar yang lebat sehingga aku tidak menyadarinya tadi . Dan juga meskipun jurang ini tidak terlalu tinggi tapi bebatuan tajam yang menempel di dinding dan bawah sangatlah tajam . Aku membayangkan jika terpeleset sedikit saja bukankah akan mati karena gegar otak .
Aku menoleh menatap Curtis dengan tidak terima,
__ADS_1
" Kakak tampan, bukankah kau bilang akan membawaku melihat sungai ??!! " protesku
" Bukankah kita sedang melihatnya " ujar Curtis bingung
Aku tercengang mendengar jawaban singkat Curtis, aku menatapnya dengan tak percaya pada definisi yang di maksud ' melihat sungai ' olehnya .
' apakah ada seorang gadis yang bisa suka pada jenis pria seperti ini ?? ' pikirku
' Kakak tampan, aku sungguh khawatir kau tidak akan menikah nanti ' batinku iba
" Kakak tampan, yang ku maksud ' melihat sungai ' itu bukan hanya bisa memandangnya dari jauh ...!! " seruku gemas dengan raut putus asa
' Oh ayolah, aku bukannya sedang menatap seorang idol ' pikirku frustasi
Curtis terdiam, lalu bergumam pelan " tapi ini yang paling dekat "
" Hah ..??!!! " tanyaku seolah tak mempercayai indra pendengaranku
" Sepanjang sungai ini di penuhi bebatuan, dan kuda tak bisa melewatinya " jelasnya perlahan
" Kalau begitu apa harus jalan kaki ?? " tanyaku mulai paham
" Hemb " gumamnya mengiyakan
" Lalu kudanya ..?? " tanyaku lagi
Kali ini Curtis diam tak menjawab, ia mengernyitkan alisnya dan mengerutkan bibirnya rapat . Aku memperhatikannya seolah menahan perkataannya .
" Bukankah tadi kita melewati sawah penduduk desa ?? " kataku iseng
Pupil mata Curtis bergetar, ia bereaksi terhadap perkataanku . Aku tersenyum dengan jahil dan mulai mengerti apa masalahnya jadi aku meneruskan kata-kata ku dengan santai seolah tak tahu apapun .
" Kalau begitu kita titipkan saja pada mereka " ujarku santai
" Tidak bisa !! " seru Curtis tiba-tiba
" Kenapa ?? " tanyaku berpura-pura tidak tahu, tapi pandanganku menggodanya
Curtis terdiam, mengerutkan dahinya erat . Ia nampaknya terganggu tapi tak bisa mengatakan apapun . Aku yang melihatnya berpenampilan lucu seperti sedang di aniaya, tak bisa mengendalikan tawaku yang menyembur keluar .
" Hahahaha ..... ahahahah ........ kakak tampan, kau harus melihat ekspresimu sekarang bagaimana !!? ahahhaha ..... " kataku sambil tertawa terpingkal-pingkal
Curtis mengerutkan alisnya erat, raut wajahnya dingin tapi ujung telinganya memerah cerah .
Aku segera menghentikan tawaku dan mengusap sedikit air mata yang keluar karena tertawa terlalu lepas .
" Kakak tampan, aku tahu kau tak suka bergaul dengan orang asing . Tak masalah, serahkan padaku !! " seruku percaya diri
Curtis membuang muka, enggan melihat ekspresiku yang sombong sekarang . Aku tersenyum senang melihatnya yang terlihat lucu ketika kesal, aku memacu kudaku mendekatinya lalu meraih pelan tangannya yang sedang memegang tali kendali kuda .
Curtis terkejut, badannya menegang sesaat ketika aku meraih tangannya . Ia menoleh menatapku dengan tatapan bingung, dan kelembutan di sorot matanya . Aku tersenyum manis, dan berfikir ' sungguh naif dan tulus ' ....
" Ayo !!! " ajakku
.
.
.
Kami berlima menuruni bukit kecil itu, aku berjalan sambil menggandeng bocah perempuan tadi . Ia nampak sangat antusias untuk mengenalkanku pada orang tuanya, Curtis masih mengepak kuda di belakang sedangkan 2 anak laki-laki tadi sudah berlari mendahului kami .
Aku berjalan dengan hati-hati di sepanjang jalan di sisi sawah, rok gaunku kuangkat agak tinggi . ' Bisa menjadi masalah jika ada lumpur yang menempel di gaunku, Deenna akan curiga nanti ' pikirku, apalagi gaun ini berwarna putih jadi akan susah untuk di tutupi . Untungnya jalan di sisi ini tidak terlalu berlumpur .
Aku berjalan dengan lambat sehingga 2 bocah laki-laki tadi sudah sampai di tempat wanita yang sedang menumbuk padi, dari arah kejauhan terlihat 2 orang paruh baya dan 3 orang remaja sedang berbicara dengan bocah-bocah itu . Tak lama mereka lalu menoleh ke arahku yang sedang berjalan sambil menggandeng anak perempuan di sisiku, aku tersenyum sopan ketika jarak kami sudah dekat .
Wanita desa itu buru-buru berjalan ke arahku sambil membungkuk dalam, mereka terlihat sedikit takut, segan, dan bingung .
" Nona ... sa, .. salam " ujar wanita paruh baya 1
" Tak perlu sungkan " kataku melambaikan tanganku
" Nona, ka ... kami sudah mendengarnya dari anak-anak ini jika em .. em ... " kata wanita paruh baya 2 terbelit ketika ingin merangkai kata yang sopan di gunakan
" Hihihi ... bibi, tak perlu terlalu gugup . Dan juga, benar kata anak-anak itu . Aku dan temanku hendak ke tepi sungai di sana, tapi aku menghawatirkan kuda kami jadi bisakah aku meminta tolong untuk menitipkannya sebentar . Kami akan kembali sebelum senja " ujarku menjelaskan panjang lebar
" Umm ... ini .. tentu saja boleh Nona, kami akan menjaganya baik-baik . Tapi kudanya .... " kata wanita paruh baya 1
Ia bingung ketika melihatku tak membawa kuda, padahal aku berkata ingin menitipkan kuda . Jadi wanita-wanita desa itu saling melirik ke belakangku dengan bingung .
" Ah .... kudanya ..... " kataku mengerti
__ADS_1
Aku menoleh ke arah belakang mencari-cari sosok Curtis, ketika tepat waktu Curtis muncul sambil menarik 2 ekor kuda di setiap sisinya . Aku tersenyum lalu menunjuk sambil berseru senang .
" Itu dia .... !! " seruku senang
Curtis berjalan dan sampai di tempat kami berdiri, pandangannya yang dingin menyapu ke arah wanita-wanita desa ini, sontak membuat mereka gemetar ketakutan . Aku tersenyum senang dan menjelaskan bahwa mereka telah setuju untuk menjaga kuda kami .
" Aku sudah bicara, dan mereka setuju " kataku riang
" Uhm " gumamnya datar
Raut wajah dan perkataan dingin, acuh tak acuhnya semakin membuat wanita-wanita desa itu menjadi gugup dan canggung kembali . Aku menepuk ringan bahu Curtis, mengisyaratkannya untuk tak terlalu datar .
" Hahaha ini temanku yang kukatakan tadi " kataku mencairkan suasana
" Iya nona, ini ... kami sudah mengenal .. Tuan Muda Colombain ... " kata salah seorang remaja di belakang
Aku menoleh menatap, remaja itu yang paling muda diantara ketiganya . Wajahnya cukup manis dengan body penuh yang menggoda, sesekali ia melirik Curtis dengan wajahnya yang semerah pantat monyet .
Aku menyipitkan pandanganku, melihatnya . ' apa gadis ini tertarik pada kakak tampan ??!! Yah ... mau bagaimana lagi, kalau hanya melihat wajahnya memang tak ada yang salah .. ' pikirku .
" Bibi, di mana kami harus mengikat kudanya " tanyaku pada wanita paruh baya 2
" Ah ... sebelah sini " katanya ingin menuntun jalan
Curtis mengikuti dengan diam dan patuh di belakangnya, sedangkan gadis desa ' pantat monyet ' tadi bergegas mengikuti di belakangnya .
' Ternyata benar tebakanku ' batinku
Aku menarik pandanganku dan tak memperhatikan lagi . Salah seorang remaja yang berdiri di belakang bibi 1, menatapku dengan ragu-ragu . Ternyata ia sedang anak perempuan kecil yang masih menggandeng tanganku dengan polosnya, ia ragu-ragu sejenak dan akhirnya memanggil anak perempuan itu .
" Rui, kemari .. !! " panggilnya pelan
Gadis itu melihat seseorang memanggilnya, ia menoleh menemukan wajah remaja desa itu . Anak perempuan itu tersenyum cerah, lalu berlari menghampirinya .
" Ibu .... !!! nona itu memberiku banyak permen enak .. !!! " serunya nyaring
degh
Aku tercengang sejenak, memikirkan kembali kemungkinan telingaku salah dengar .
" ibu ...???!! " seruku kaget
Wanita paruh baya pertama itu mendengar seruanku, ia menoleh dengan bingung .
" Apa ada sesuatu nona ?? " tanyanya bingung
Aku memperhatikan kembali dengan teliti penampilan remaja yang sedang di peluk anak perempuan kecil itu, ' remaja ini mungkin seumuran kakak tampan, tapi ... sudah punya anak ... . Dan lagi bocah itu kemungkinan berumur 4 tahun, kakak tampan berumur 17 tahun - 4 tahun \= 13 tahun ... ' pikirku mulai menilai
Mataku melotot mengetahui hasik perkiraanku dan ketika aku berseru dengan keras tiba-tiba .
" Bukankah ia menikah ketika seumurku !! " seruku lantang
Semua orang yang ada di situ terkejut serentak ketika aku tiba-tiba berbicara dengan kencang . Lalu tanpa di duga, suara dingin menyahuti dari arah belakang ...
" Siapa yang menikah !!?? "
Curtis POV
Aku mengikuti seorang wanita desa yang menunjukkan jalan di depan . Gadis kecilku berurusan dengan hal-hal yang canggung untuk kulakukan sendiri, aku terbiasa untuk bersosialisasi orang lain . Aku terbiasa dengan diriku sendiri saja, dan tak pernah berbicara tentang hal yang tak penting dengan orang lain . Bahkan keluargaku dan pelayan di rumahku pun punya batasan sendiri denganku, dan aku cukup nyaman dengan keadaan ini ...
Cleo ...
Tanpa berkata apapun ia mengerti keadaanku, ia sendiri turun tangan langsung untuk menemukan solusi . ' gadis kecilku memang istimewa ... ' pikirku tersenyum dalam hati .
" Tuan Muda, kudanya bisa di ikat di sini " kata wanita paruh baya itu
Ia menunjuk ke sebuah pohon tak terlalu kecil dan besar tak jauh dari gunungan padi yang di kumpulkan petani .
Tanpa sepatah katapun aku maju sambil menarik kedua kuda di belakangku ke arah pohon itu . Seorang gadis yang sejak tadi mengikuti kami pun bergegas maju ke arahku, ia tersenyum malu-malu sambil menawarkan bantuan .
" Tu .. tuan muda ... bisakah saya membantu " ujarnya pelan
Aku diam bersikap seolah tak mendengar apapun . Wanita paruh baya tadi yang berdiri agak jauh kami, memberikan isyarat pada gadis muda yang mencoba mendekatiku untuk pergi . Tetapi gadis itu mengacuhkannya, ia tetap memasang senyum malu-malunya yang menjijikkan lalu duduk di dekatku yang sedang fokus membuat simpul tali di pohon .
" Tuan Muda terlihat sangat ahli dalam mengikatkan tali kuda, pasti tuan muda terbi .... " ucapnya terpotong olehku
" Enyahlah !! " seruku dingin
Gadis itu tercengang dan terduduk ke belakang, ia menatap mataku dengan ketakutan . Matanya yang bundar melebar, pupil matanya bergetar dan tercemin penampilanku di matanya jernih . Raut wajahku datar dan sedingin es, sorot mataku seperti seekor binatang buas yang sedang diganggu, gadis itu tubuhnya bergetar ketakutan .
Wanita paruh baya tadi segera bergegas mendekat ketika gadis di depanku memancing emosiku . Wanita itu segera merangkul pundak gadis yang ketakutan di depanku ini, lalu menariknya untuk bersujud bersama-sama .
__ADS_1
" Tuan Muda, mohon ampuni kami ... !!! " katanya bergetar dalam sujudnya