Merubah takdir ' Mawar Putih '

Merubah takdir ' Mawar Putih '
BAB 55


__ADS_3

Akhir tahun telah tiba, istana Kekaisaran Benedicte di hias dengan sangat indah . Hari ini ialah ulang tahun Yang Mulia Putri Clea ke 12 tahun, kado-kado dari para bangsawan tengah mengalir tanpa henti memenuhi aula tamu istana Clea, namun yang tengah berulang tahun saat ini masih meringkuk nyaman di atas tempat tidurnya yang hangat .


" Putri, waktunya bersiap " panggil Deenna membangunkan ku


Aku melenguh lalu duduk, membiarkan Deenna dan alice menuntunku ke kamar mandi, di sana sudah menunggu Chacha dan Blance yang tengah menyiapkan wewangian di bathtub air hangat .


Aku membiarkan mereka membersihkan tubuhku, sedangkan aku mengumpulkan nyawa yang belum sepenuhnya terbangun . Air hangat di awal musim dingin sangat nyaman, membuatku semakin mengantuk .


Setelah selesai mandi, aku menuju ke ruang ganti . Deretan gaun mewah kreasi terbaru dari berbagai butik terkenal berjejer rapi di depanku, ada sepuluh gaun terbaik yang di gantung  pada patung batu . Sedangkan sisanya sedang di bereskan ke dalam lemari oleh para pelayan kecil .


" Putri, silahkan pilih gaunnya " kata Deenna


Aku menatap semua gaun indah nan rumit itu, banyak sekali ornamen-ornamen kristal, emas, permata, mutiara, pita-pita dan sebagainya yang menghiasi pada setiap gaun-gaun tersebut .


' pasti berat sekali ... ' batinku


" Yang hitam itu " kataku menunjuk sebuah gaun di patung


Aku memilih gaun dengan dominasi warna hitam, gaunnya cukup terbuka dan seksi namun tetap elegan . Gaunnya tanpa lengan namun ada pita leher yang menutupi bagian dadanya, renda-renda sutra putih memberikan kontras yang mencolok pada rok yang lebar, serta hiasan bunga-bunga mawar biru dengan tepian emas yang menyala menambah kesan mewah pada gaun tersebut .


Aku tersenyum senang ketika melihat gaun itu, ' kakak tampan pasti akan terpana ' pikirku jahil .


Para pelayan mulai sibuk memakaikanku gaun yang kupilih, butuh usaha lima orang untuk sebuah gaun yang rumit itu .


Setelah memakai gaun indah itu, aku duduk di depan meja riasku dan membiarkan para pelayan sibuk mendandani wajahku . Sebenarnya aku bisa bermake-up sendiri lagi pula alat-alat makeup di sini tidak terlalu kuno, bagaimana pun jiwaku bukan gadis kecil tapi aku lebih suka di layani begini . Kapan lagi gadis yang terlahir miskin seperti diriku di dunia asli justru menjadi Putri di sini, tentu saja aku tidak akan sungkan untuk dilayani dan memanjakan diri ...


Rambut hitamku di sanggul tinggi dengan kepangan kecil di kanan dan kiri, untaian kristal kecil yang indah melingkar dari dahiku, rambut dan menjuntai panjang ke punggung lalu sentuhan terakhir mahkota berlian khas Putri Kerajaan yang anggun bertengger indah di atasnya .


Aku tersenyum saat membuka mata, wajah cantik ini semakin memukau seiring waktu berlalu . Para pelayan bersorak kegirangan melihat mahakarya mereka, aku mendesah pada kelakuan mereka ini setiap tahunnya .


" Apa hadiah Albert belum datang ?? " tanyaku


" Sudah Putri, hamba akan mengambilnya .. " kata Alice bergerak lebih cepat dari ucapannya


Aku menunggu Alice datang sambil merias wajahku, tak lama Alice datang dengan kotak kado yang cukup besar di kedua tangannya .


Deenna mengambil alih kotak kado itu dari Alice, ia membantu membuka bungkusnya . Di dalamnya terdapat kotak perhiasan yang cukup besar, Deenna menaruh kotak perhiasan itu di depanku .


Aku membuka kotak perhiasan berwarna merah itu, di dalamnya terdapat sepasang hiasan punggung tangan yang indah terbuat dari untaian emas dan permata putih bersih . Perhiasannya melingkar dari jari tengah menutupi punggung tangan dan melilit pergelangan tangan . Ukurannya pun pas dengan tanganku .


" Pakaikan " kataku pada Deenna


Deenna dengan hormat memakaikan kedua perhiasan punggung tangan di tanganku yang putih bersih .


Aku tersenyum dan  berdiri, " ayo pergi " ujarku


Deenna mengikuti di belakangku, kami berjalan menelusuri lorong istana ke ruang makan tempat acara ulangtahun setiap tahunnya .


Di dalam ruang makan, Yang Mulia Raja Damien dan Permaisuri Carissa tengah menunggu Putrinya datang . Ketika Clea datang, mereka cukup terkejut dengan penampilan putri mereka yang biasanya terlihat cantik, lembut, dan imut kini terlihat seperti kecantikan yang sedang mekarnya pada usia remaja .


" Putri kecilku sudah besar " kata Permaisuri tersenyum lembut


" Aku tidak bisa membiarkan orang lain melihatnya yang secantik ini, apalagi si licik dari Albelart itu " gumam Raja Damien


Aku tersenyum dan memeluk Permaisuri Carissa terlebih dahulu, " kau sangat cantik hari ini sayang " ujar Permaisuri pelan di telingaku, aku terkikik senang mendengarnya lalu mencuri ciuman kecil pada pipi Permaisuri Carissa .


Lalu aku melemparkan diriku ke pelukan Raja Damien, " ayah ... apa aku cantik hari ini ?? " kataku manja sambil berkedip centil

__ADS_1


Raja Damien tertawa bahagia, fasad dinginnya hancur seketika . Ia memeluk dengan hati-hati putri tersayangnya yang bertubuh mungil itu, " jangan berprilaku seperti ini pada pria lain mengerti ?!! " ancam Raja Damien sambil tersenyum memanjakan .


" Ayahku adalah priaku satu-satunya .. " kataku tegas dengan wajah polos


" Oh ... benarkah ?? " tanya Raja Damien tak yakin


" tentu saja " kataku yakin


' Setelah Albert dan kakak tampan tentunya ' tambahku dalam hati


Raja Damien tersenyum senang, walaupun ia tahu ucapan putrinya hanya untuk menyenangkannya .


" Lalu apa yang kau inginkan untuk hadiah ulang tahunmu tahun ini ?? " tanya Raja Damien lembut


Aku tersenyum misterius lalu berbisik di telinga Raja Damien, ia menoleh menatap dengan tatapan menelisik pada Putrinya yang menatapnya dengan tatapan polos . Raja Damien pun mengangguk menyanggupi .


Jamuan ulangtahun Clea selalu mewah seperti sebelumnya, kue ulangtahun bertingkat yang besar dan tinggi, berbagai hidangan daging, sup, manisan, permen dan banyak lainnya .


Meja makan penuh canda tawa selama dua jam penuh, hari mulai siang Clea berpamitan dengan kedua orangtuanya lalu berjalan di lorong istana . Clea berhenti di jalan bebatuan di belakang istana utama, lalu menoleh melihat Deenna .


" Ambilkan jubahku, aku ingin ke perpustakaan " kataku pada Deenna


Deenna mengangguk mengerti, ia pergi cepat-cepat mengambil jubah untukku . Aku berjalan perlahan-lahan di jalan bebatuan ke arah perpustakaan istana, jalan menuju perpustakaan cukup sepi karena ini bagian belakang istana dekat dengan tempat tinggal pelayan kecil jadi tidak ada pengawasan khusus di area ini .


Aku berjalan perlahan untuk menunggu Deenna menyusulku, sampai di tiga perempat jalan yang sudah kulalui Deenna akhirnya sampai dengan napas tersengal-sengal .


Aku meraih jubah bulu rubah di tangannya, lalu berkata " Deenna kembalilah dulu, nanti malam aku tidak ikut makan malam bersama . Pikirkan alasannya, dan jemput aku jam 10 malam di perpustakaan . Jangan biarkan orang tahu " kataku sambil tersenyum lalu berjalan cepat meninggalkan Deenna tanpa sempat protes .


Aku berjalan sangat cepat sambil mengenakan jubah di tubuhku, di depan perpustakaan yang selalu sepi aku membuka pintu besi seperti biasanya lalu masuk kedalam dan tak lupa mengunci pintu .


Aku berlari kecil ke arah rak buku di pojokan, berjongkok untuk menekan tombol rahasia . Setelah pintu rahasia terbuka, aku segera masuk dan rak buku otomatis tertutup . Aku berlari kencang di sepanjang lorong rahasia, mengangkat bagian depan gaun mewahku, bergegas sampai ke ujung secepat mungkin .


Hah ... hah ... hah ..


Suara gema sepatuku dan napas tersengal-sengal memenuhi lorong yang sepi, ketika hampir sampai di ujung aku melihat seseorang pemuda yang menungguku . Pemuda itu sudah berbalik ketika gema sepatu terdengar dari kejauhan .


Curtis melihat gadis kecilnya berlari dengan kencang di lorong, ia mengerutkan dahinya tidak suka lalu maju beberapa langkah . Cleo melompat bergelantungan di leher Curtis, Curtis segera menahan pinggangnya agar tidak jatuh .


" Hah ... hah ... hhh... kakak tampan ... hah ... apa .. apa kau .. menunggu lama ?? " tanyaku dengan napas ngos-ngosan


Curtis menundukkan kepalanya, menatap wajah cantik gadis kecilnya yang memerah karena berlari kencang . Gulungan rambutnya agak longgar, mahkota di atas kepalanya agak miring, permata di dahinya bergeser, wajahnya di rias dengan teliti . Gaun yang di kenakannya sangat mewah, perhiasan di seluruh tubuh gadis kecilnya bernilai seluruh harta keluarga Colombain . Hal inilah yang membuat Curtis selalu menahan dirinya, karena ia tahu gadis kecilnya hanya bisa menjadi miliknya sebulan sekali .


Cleo melompat turun dari pelukan Curtis, lalu mundur dua langkah . Cleo tersenyum manis memutar tubuhnya menunjukkan penampilannya saat ini .


" Bagaimana ?? cantik kan ?? aku berdandan sangat lama untuk menunjukkan padamu " kataku riang


Curtis terkejut lalu mengalihkan wajahnya dengan datar, namun ujungnya telinganya memerah malu . Aku terkikik senang lalu meraih tangan Curtis, " ayo pergi " kataku


Aku menaiki tangga besi di dinding dengan bantuan Curtis, lalu kami meninggalkan rumah tua itu dengan menaiki kuda bersama . Aku menggunakan tudung jubahku untuk menutupi penampilanku yang mencolok .


Kekaisaran Cassiopeia terletak di tengah-tengah benua, dengan iklim sub tropis . Sehingga musim dingin di sini tidak terlalu dingin, tanaman masih bisa tumbuh, dan musim dinginnya cenderung berlangsung lebih singkat dari musim panas .


Kami menuju ke Desa Reives dan langsung naik ke bukit villa keluarga Colombain, aku melihat perkebunan yang sepi tidak seperti biasanya merasa heran .


" Kakak tampan, kemana semua orang ?? " tanyaku penasaran


" libur " jawab Curtis singkat

__ADS_1


" Oh " seruku singkat


Kami sampai di depan gerbang villa keluarga Colombain, Pak Lin, Elise, dan bocah laki-laki kecil sedang menunggu kedatangan kami di depan . Curtis menghentikan kuda tepat di depan villa, bocah laki-laki kecil bergegas datang mengambil kendali kuda .


Curtis melompat turun lebih dahulu, lalu ia mengulurkan tangannya ke pinggangku untuk membantuku turun . Aku tidak keberatan karena gaunku hari ini sangat berat .


Setelah aku menyapa semua orang kami masuk ke dalam villa, aku terkesiap melihat ruang tamu villa di dekorasi dengan suasana pesta ulangtahun .


" apa kau menyiapkannya untukku ?? " kataku sontak menoleh ke arah Curtis


Curtis berdehem tidak menjawab, ujung telinganya memerah . Aku terkikik senang lalu memeluknya, " terimakasih " gumamku .


Curtis mengangguk singkat, lalu menepuk punggungku pelan . " makan kue dulu " katanya pelan


Aku mengangguk senang, lalu melepaskan jubahku . Pak Lin dan Elise yang menunggu di belakang terkesiap melihat penampilanku, baru pertama kalinya mereka melihat perhiasan seindah dan semewah ini sepanjang hidupnya .


Aku tersenyum memberikan jubah rubahku pada Elise yang masih terbengong, " apakah aku cantik ?? " tanyaku menggoda


Elise dengan lugu manggut-manggut lucu, aku terkikik kecil " jadi apakah biasanya aku tidak cantik " kataku pura-pura sedih .


Elise panik seketika, ia membuka tutup mulutnya ingin menjelaskan dirinya tapi aku tertawa lepas melihat tingkahnya yang menggemaskan . Curtis yang melihatku asyik menggoda anak pelayan kecil miliknya hanya bisa menghela nafas, lalu meraih tanganku menariknya lembut .


" makan " katanya singkat


Aku tersenyum mengangguk menggosok perutku sakit karena tertawa terlalu keras sambil mengikuti Curtis ke meja makan, " lihat bahkan Elise mengakui kecantikanku, kakak tampan kenapa kau tidak jatuh juga ?? " tanyaku blak-blakan


" tidak sopan " seru Curtis langsung, namun ujung telinganya yang memerah mengkhianatinya


" beberapa orang benar-benar suka bermain jual mahal " sindirku santai


Curtis terbatuk-batuk canggung .


Meja makan lebih ramai dari biasanya, ada kue buah segar di atasnya, kalkun panggang utuh, beberapa sayuran, kentang tumbuk, buah-buahan, permen, teh dan lainnya .


Aku memotong kue menjadi beberapa bagian, mengambil sepotong untukku dan sepotong untuk Curtis dan menyerahkan sisanya pada Pak Lin untuk di bagikan .


Pak Lin dan Elise menerima kue lalu mengundurkan diri meninggalkan kami berdua . Curtis makan dengan perlahan, aku hanya menyentuh sedikit makananku karena perutku sudah penuh tadi . Aku menatap Curtis yang sedang makan, Curtis berpakaian formal hari ini .


Kemeja putih dengan jas hitam menambah kesan agung pada penampilannya yang dingin dan acuh tak acuh, aku tersenyum manis melihat tangannya yang sedikit kaku saat memotong daging .


" Kakak tampan, mana hadiahku ?? " tanyaku tanpa malu


Curtis mengangkat kepalanya menatapku yang tersenyum lebar, alisnya mengernyit lalu bergumam " tidak sopan " . Aku tetap tersenyum manis seolah tidak mendengar apapun .


Curtis bangkit, berjalan ke arah lemari pajangan di sisi dinding . Curtis membuka pintu lemari dan mengeluarkan sebuah kotak kayu besar dan panjang, lalu Curtis meletakkannya di depanku .


Aku tercengang menatap kotak kayu besar di depanku, kotak kayu ini polos dan sederhana, tak ada ukiran khusus ataupun terbuat dari kayu langka . Hanya bisa digambarkan sebagai biasa-biasa saja, aku berkedip melirik Curtis yang kembali duduk di tempatnya .


Aku mengulurkan tanganku membuka kotak kayu di depanku, bola mataku melebar melihat isi di dalamnya .


" Bukankah kau bilang baru belajar memanah baru-baru ini, aku memberikanmu busur dan panah yang ringan agar nyaman bagimu " kata Curtis dingin dengan wajah datar, namun ujung telinganya yang memerah mengkhianati sikapnya yang berpura-pura tenang


Aku membelai busur kayu dengan sabuk ornamen perak sederhana di bagian tengah, pengerjaannya sangat halus dan teliti . Aku meraih busur itu dan mengangkatnya, hatiku berseru kagum dengan bobot busur yang sangat ringan padahal memiliki ukuran yang tidak kecil . Aku membolak balik busur dan menemukan sebuah ukiran kecil di sudut paling bawah, ' untuk gadis kecilku, Cleo ' .


Aku menoleh pada Curtis yang saat ini mengalihkan pandanganya dariku, " ini buatanmu ?? " tanyaku namun aku sudah tahu jawabannya


Curtis terbatuk canggung dan berdehem menyetujui, " Hemb " gumam Curtis . Aku tersenyum sembari berfikir pantas saja sangat pas baik ukuran, bentuk, berat, dan ketegasan tali . Aku tertawa kecil lalu berkata dengan tulus,

__ADS_1


" aku menebaknya, Kakak tampan memang paling baik padaku ... "


__ADS_2