
" N .. nno .. nona Cleo tak perlu, kami hanya pelayan . Sungguh, sangat tak pantas " ujar Pak Lin terbata-bata
Pak Lin dan Elis kini sangat gelisah, mereka bingung akan menolak dengan cara apa . Mereka tahu dengan status mereka yang rendah sungguh tak mungkin untuk bisa berbaur bersama dengan seorang bangsawan, sekalipun aku duluan yang mengajak mereka .
" Tapi aku membawa sangat banyak, tak perlu khawatir . Sekarang aku hanyalah seorang tamu biasa anggap saja aku sebagai nona kecil yang tak membedakan status sosial " kataku mencoba menjelaskan
Pak tua Lin sangat gugup hingga berkeringat dengan deras, ia sungguh bingung akan menolak dengan kata apa lagi . Pak Lin sangat sadar bahwa nona di hadapannya ialah seorang bangsawan atas yang mungkin lebih mulia daripada Tuan Mudanya . Pak Lin tentu saja tak bisa menolak secara langsung dan harus berhati-hati dengan setiap ucapannya agar tak menyinggung perasaan nona Cleo sehingga tak akan membawa masalah untuk keluarganya, apalagi jika sampai menyeret masalah untuk Tuan Mudanya, Pak Lin sungguh tidak mampu .
Elis yang mendengar dari samping obrolan kami sejak tadi, kini gemetar ketakutan . Raut wajahnya sangat pucat, tubuhnya gemetar, matanya berkaca-kaca menandakan gadis kecil itu bisa menangis setiap saat tapi ia mencoba menahannya sebisa mungkin .
Curtis yang sedari tadi diam di tempat tanpa ekspresi pun, kini membuka mulutnya untuk meredakan situasi yang sulit ini .
" Jangan paksa mereka " ujarnya datar
" Tapi ... " aku akan mencoba menjelaskan alasanku, tapi di sela dengan cepat oleh Curtis
" Aku tahu maksudmu, mereka juga tahu dan berterima kasih " sela Curtis lalu menoleh menatapku " tetapi jangan paksa lagi, tidak semua orang berfikiran terbuka " katanya pelan ke arahku dengan ekspresi datar
Aku menatap Curtis yang masih terlihat dingin dan tak peduli ketika menjelaskan padaku, lalu aku menoleh ke arah Pak Lin yang terlihat gugup, canggung dan serba salah . Lalu aku menoleh ke arah Elis yang berdiri di belakang Pak Lin, aku terkejut melihat gadis kecil itu sangat ketakutan . Badan mungilnya bergetar pelan, ia menundukkan kepalanya dalam-dalam tapi itu tak menutupi ekspresinya dan matanya yang berlinang air mata .
Hah ....
Aku menghela nafasku pelan, menatap Curtis yang masih tanpa ekspresi seolah tak terjadi apapun . Aku bangkit lalu menundukkan kepalaku sedikit .
" Maaf membuat kalian tak nyaman, aku tak akan memaksa lagi " ujarku meminta maaf
Pak Lin dan Elis sangat terkejut dengan permintaan maafku awalnya mereka mengira akan kena marah atau pukul tapi mereka sungguh tak menyangka yang mereka dengar justru permintaan maaf, mereka mengangkat kepalanya dengan serentak melihatku yang bangkit menunduk meminta maaf . Pak Lin dan Elis sangat bingung dan merasa bersalah melihat tindakanku .
" Ti .. tidak ... nona, ku mohon jangan meminta maaf begini . Kami sungguh tak pantas mendapatkannya " ujar Pak Lin tergesa-gesa
Elis juga mengangguk keras menyetujui perkataan Pak Lin, ia tak mengira nona Cleo akan langsung meminta maaf seperti ini .
" Benar nona, kamilah yang bersalah . Nona Cleo jangan meminta maaf begini " sahut Elis terburu-buru
Aku mengangkat kepalaku dan menatap mereka sambil tersenyum lembut .
" Aku tidak menyadari membuat kalian tidak nyaman, aku salah karena itu jadi aku meminta maaf " kataku pelan
" Tapi aku tetap ingin membagi kue-kue dengan kalian, karena itu memang niat awalku untuk membawanya . Jika kalian tidak nyaman untuk makan bersama maka ambillah beberapa untuk di makan di rumah " ujarku menjelaskan
Pak Lin dan Elis saling berpandangan, mereka sungguh bingung akan menjawab bagaimana . Aku yang melihat mereka masih ragu dan bingung pun segera berkata lagi .
" Jangan menolakku lagi kali ini, kumohon " tambahku
Aku melihat Pak Lin dan Elis yang masih terdiam gugup tanpa tanda-tanda akan mengambil makanan di meja, aku pun menoleh ke arah Curtis meminta bantuan .
" Ambillah " ujar Curtis datar
Pak Lin dan Elis yang mendengar Tuan Muda mereka sudah menyetujui dan menyuruh mereka . Jadi Pak Lin dan Elis pun tak punya alasan untuk menolak lagi . Mereka maju selangkah ke arah meja makan dan melihat berbagai makanan manis yang terlihat cantik dan lezat, ini pertama kalinya mereka berdua menyaksikan makanan bangsawan atas yang sesungguhnya . Sekali lihat pun mereka tahu harga kue-kue ini sangat mahal, untuk dapat kesempatan memakannya di kehidupan ini merupakan keberuntungan bagi pelayan seperti mereka .
Aku tersenyum saat melihat Pak Lin dan Elis maju ke depan, mereka mengedarkan pandangannya penuh keterkejutan dan minat melihat kue-kue cantik di atas meja . Pak Lin dan Elis masih bingung akan mengambil apa, mereka tak pernah melihat kue-kue seperti ini sepanjang hidupnya . Mereka takut salah memilih yang harganya mahal, maka itu akan terkesan serakah . Tapi mereka juga tak mengenali mana kue yang harganya termurah, jadi mereka hanya diam tak bergerak sambil terus melihat .
Aku melihat Pak Lin dan Elis yang diam mematung sambil menatap meja, aku bingung mengapa mereka belum mengambil apapun . Jadi kupikir ' mungkin mereka tak tahu ' . Aku pun tersenyum sambil mengambil masing-masing 2 kue yang menurutku cocok dengan selera Pak Lin dan Elis, lalu menaruhnya di hadapan mereka .
" untuk Pak Lin, aku menyarankan 2 kue ini . Yang ini truffle dengan kacang hazelnut yang tidak terlalu manis, yang ini Cinnamon roll yang beraroma kayu manis yang kuat dan sirup apel yang manis " ujarku pada Pak Lin
" untuk Elis, ini 2 kue kesukaanku . Cheese Chocolat dan Strawberry Parfait, gadis-gadis sangat menyukainya . Elis kau cobalah juga " kataku pada Elis
" Nona, jika ini kesukaan nona, bagaimana aku bisa mengambilnya . Nona, aku bisa memakan apapun jadi aku akan mengambil yang lain saja " ujar Elis tiba-tiba
" Yang lain apa !!? aku bisa memakan kue ini kapanpun, aku sudah memberikan padamu jadi terima saja " seruku berpura-pura kesal
__ADS_1
Akhirnya Pak Lin dan Elis pun hanya dapat menerima keputusanku, mereka melihat kue-kue yang ada di tangan mereka dengan perasaan campur aduk . Mereka pun menunduk sambil mengucapkan terimakasih dengan sopan, aku tersenyum sambil melambaikan tangan seraya berkata .
" Tak perlu sungkan, aku memang berjanji untuk membawa hadiah terakhir kali " kataku
Ketika aku berkata ' hadiah ', tiba-tiba sesuatu melintas di pikiranku . ' Brak ' aku menggebrak meja makan dengan tiba-tiba membuat meja dan piring-piring itu bergetar sedikit . Curtis, Pak Lin dan Elis terkejut terlonjak kaget karena tindakanku . Curtis menoleh dengan ekspresi dingin menahan kesal karena aku yang mengejutkan orang dan bersikap tak sopan .
" Ada apa denganmu ?? " tanyanya datar dengan ekspresi dingin
Aku hanya cengengesan melihat Curtis yang terlihat kesal .
" hehehe aku akan mengganti mejanya jika rusak " gurauku
" Ah ya, aku hampir melupakannya " seruku tiba-tiba
Curtis mengernyitkan alisnya bingung dan tidak suka, tapi aku tak mempedulikannya sekarang . Aku berbalik menunduk lalu mengangkat kembali keranjang piknik yang ada di bawah, membuka tutupnya dan mencari sesuatu di antara kain-kain sutra yang di gunakan untuk membungkus kotak makanan sambil terus bergumam .
" Dasar Cleo bodoh !!! bagaimana bisa kau lupa, kau belum tua jadi bagaimana bisa kau pikun " gerutuku pada diri sendiri
Aku terus mengobrak-abrik wadah kue dan kain pengikat yang tertumpuk di dalam keranjang piknik, Curtis yang melihatku mencari sesuatu pun mulai bertanya tak sabar .
" apa yang kau cari ?? " tanya Curtis tak sabar
" Tunggu sebentar, aku yakin pelayanku pasti menaruhnya di dalam keranjang " gumamku sambil terus mencari-cari
Pak Lin dan Elis yang sudah tak terkejut lagi pun segera pulih, dan berniat membantuku mencari .
" Nona Cleo, apa yang nona cari ?? biar saya carikan " kata Elis pelan sambil berjalan ke arahku
" Aku mencari sebuah ... Ini dia !!! " seruku keras
" Kecilkan suaramu ! tidak sopan " tegur Curtis
" Aku mencari ini " kataku pada Curtis yang masih mengerutkan dahi
Elis yang melihatku sudah menemukan apa yang kucari akhirnya hanya membantu membereskan barang-barang yang berserakan dan memasukkannya kembali ke dalam keranjang lalu menyingkirkannya ke bawah lagi . Aku duduk kembali dengan nyaman dan menoleh pada Curtis yang masih mengerutkan dahinya tak senang .
Aku meletakkan kantong itu di atas meja lalu mencondongkan tubuhku ke arah Curtis, aku mengulurkan kedua tanganku ke wajahnya . Kedua ibu jariku lalu menekan kerutan di tengah alisnya lalu mengusapnya perlahan .
" Kakak tampan, jangan suka mengerutkan alis seperti itu . Kau terlihat galak !! " ujarku merajuk
Wajahku tepat di hadapan Curtis ketika aku berbicara . Curtis cukup terkejut dengan tindakanku, tapi segera ia merasa malu . Terbukti dengan ujung telinganya yang berubah merah cerah, lalu ia tiba-tiba terbatuk canggung untuk mengalihkan suasana . Aku hanya melihatnya sambil tersenyum manis, ' Ah, lucu sekali responnya ' pikirku
" Uhuk, uhuk, uhuk .... "
" Ehem, kantong apa itu ?? " tanya Curtis mencoba mengalihkan topik
Aku tersenyum menggoda, tapi tetap menanggapi Curtis yang mencoba mengalihkan pembicaraan dengan topik bodoh . Pak Lin dan Elis hanya menunduk dalam-dalam seolah tak melihat apapun . Tapi dapat kulihat Pak Lin yang canggung dan Elis yang memerah malu .
" Ah, ini .... kantong uang tentu saja " kataku ringan
" Uang ?? " tanya Curtis bingung
" Uhm, bukankah aku berhutang uang makan restoran padamu ?? " kataku ringan
Curtis kembali mengernyit dengan tidak suka ketika aku kembali membahas hal itu, aku yang melihatnya kembali kesal segera menambahkan cepat-cepat .
" Jika, kau tidak suka menerimanya maka biarkan aku mentraktirmu sesuatu nanti " kataku cepat-cepat
Kali ini kerutan di dahi Curtis sedikit melonggar, kulihat ia yang sudah mulai tenang jadi segera aku memberikan alasan lainnya agar kekesalannya semua hilang .
" Juga, hari ini aku memberikan bonus untuk semua pelayanku . Jadi aku membawakan juga jatah Pak Lin dan Elis " kataku sambil menengok ke arah mereka lagi
__ADS_1
Pak Lin dan Elis merasakan situasi tadi akan terjadi lagi, mereka mulai bertanya-tanya pada diri mereka sendiri ' apakah mereka pernah menyinggungku ?? ' .
" Tidak perlu nona, kita hanya bertemu beberapa kali jadi tak pantas menerimanya " kata Pak Lin sopan sambil tersenyum
" Mana bisa begitu !! meskipun aku bukan tuan kalian tapi kalian pernah melayaniku, orang yang melayaniku maka ia juga pelayanku " jelasku kukuh
Pak Lin dan Elis kebingungan lagi, tapi aku tak memberikan kesempatan mereka menolak . Aku segera menoleh ke Curtis .
" Kakak tampan, jika ada orang yang memperlakukanku dengan baik jika aku membalasnya apakah salah ?? " tanyaku perpura-pura polos
Curtis menatap tajam padaku, aku pun dengan teguh balas menatapnya dengan ekspresi polos . Curtis pun akhirnya menghela nafasnya kalah lalu berkata pelan " tidak "
" Kakak tampan, aku hanya ingin memberikan sedikit hadiah . Apakah tidak boleh ?? " tanyaku lagi
Curtis menghela nafas kalah menghadapiku, ia bersandar ke belakang kursi dan melirikku sedikit . Aku tersenyum manis menghadapinya tetap menunggu kata-kata persetujuan dari mulutnya dengan yakin dan tenang .
" Terserah kau saja " kata Curtis datar
Aku terkikik kesenangan melihat Curtis yang menyerah berdebat denganku . Aku pun tersenyum menang ke arah Pak Lin dan Elis yang tak bisa menolak lagi .
" Pak Lin, Elis majulah . Ulurkan tangan kalian " kataku pada mereka
Pak Lin dan Elis pun maju selangkah kembali di samping lalu mengulurkan tangan mereka . Aku merogoh ke dalam kantong putih itu dan mencakup segenggam koin di dalamnya dengan 2 tanganku . Bunyi gemerincing koin terdengar teredam oleh kain sutra putih, Curtis mengernyitkan dahi terganggu oleh sesuatu . Aku membawa segenggam koin itu ke atas tangan Pak Lin dan Elis lalu melepaskannya .
Kini gemerincing koin yang berjatuhan terdengar sangat jelas, koin-koin emas itu berkilauan terkena cahaya . Segera ekspresi semua orang yang berada di situ berubah, tangan Pak Lin gemetar dengan hebat matanya melotot terkejut pada kepingan koin emas di tangannya sedangkan Elis sangat terkejut juga hingga menjatuhkan beberapa keping koin ke lantai dan berbunyi gemerincing yang nyaring .
Curtis awalnya mengira aku akan memberikan beberapa koin recehan perunggu atau tembaga yang umumnya di gunakan . Siapa yang mengira ia akan memberikan bonus pada pelayan menggunakan koin emas, Curtis sungguh terkejut hingga tak bisa mengatur ekspresinya .
" Ada apa ?? " tanyaku heran melihat semua orang mematung
" Apa terlalu sedikit ?? " gumamku tak yakin
Aku pun mulai merogoh lagi ke dalam kantong itu berniat mengambil lagi segenggam koin, Curtis yang tersadar ketika mendengar suara Cleo pun segera meraih tangan Cleo yang hendak mengambil koin lagi . Cleo bingung ketika Curtis menggenggam tangannya tiba-tiba untuk menghentikannya .
" Kakak tampan, ada apa ?? " tanyaku bingung
" Apa kau bercanda ?? " tanya Curtis dingin
" Hah ?? " seruku bingung
" Kau tidak tahu atau sedang pura-pura tidak tahu nilai kepingan emas ini ?? " tanya Curtis geram
" Apa maksudmu kakak tampan, bukankah hanya beberapa keping koin emas ?? kenapa berteriak padaku ?!! " seruku kesal
" Beberapa koin ?? apa kau tak tahu berapa nilai mereka ?? " tanya Curtis datar
" Aku tak tahu !! " teriakku marah seraya menepis tangan Curtis
" Hah ...!!! " Curtis pun menghela nafas kasar menyadari kesalahannya, ia pun menoleh ke Pak Lin dan Elis yang masih berdiri terdiam di samping .
" Letakkan " perintah Curtis
Pak Lin dan Elis pun buru-buru meletakkan kembali koin emas itu di meja dengan hati-hati, aku yang melihat mereka mengembalikannya dengan mudah merasa semakin tersinggung .
" Nona ini tidak pernah mengambil lagi barang yang sudah kuberikan !!! " teriakku marah
Curtis mengerutkan dahi tak senang, akupun tetap menatap matanya tak kalah garang . Wajahku memerah karena kesal, aku sudah menahan semua umpatan yang akan keluar kapan saja di mulutku .
" Ambil satu, lalu pergi " ujar Curtis dingin sambil tetap menatapku
Pak Lin dan Elis menyadari kata-kata itu tentu saja untuk mereka, jadi mereka pun mengambil sebuah koin dan menunduk mengucapkan terimakasih dengan hormat lalu cepat-cepat pergi keluar . Mereka merasa sungguh tak sanggup lagi berdiri lebih lama lagi di sana .
__ADS_1