Merubah takdir ' Mawar Putih '

Merubah takdir ' Mawar Putih '
BAB 28


__ADS_3

Cleo POV


Curtis memimpinku keluar dari rumah tua tersebut, aku menoleh terheran dengan pintu kayu yang kurobohkan terakhir kali kini sudah terpasang di tempatnya meskipun terlihat tidak terlalu kuat menghadapi benturan tapi lebih baik dari pada tidak ada sama sekali .


Aku menuruni beranda depan dan melihat seekor kuda yang tengah istirahat memakan rumput yang tinggi di halaman . Curtis berjalan ke arah kuda tersebut lalu meletakkan keranjang makanan di sampingnya lalu ia menoleh ke arahku, sebelum ia akan mengatakan sesuatu aku sudah tahu yang ada di pikirannya . Jadi aku menyunggingkan senyum penuh makna lalu segera menyela sebelum Curtis sempat berbicara apapun .


" Kakak tampan, lihatlah apa yang kupelajari akhir-akhir ini " kataku sombong


Aku berjalan ke depan di bawah perhatian intens dari Curtis, aku mendorong kotak biolaku ke tangannya lalu menghampiri kuda yang kini sedang menunggu kami . Aku sebenarnya agak gugup, selama ini aku hanya menunggangi Blake tidak ada kuda lainnya . Tapi kupikir jika ini kuda biasa kediaman mungkin ini tidak terlalu agresif di bandingkan dengan kuda yang di pakai prajurit istana, aku maju melepaskan tali kekang yang mengikatnya di tiang kayu lalu membetulkannya . Aku mengangkat rok gaunku sedikit ke atas, gaun kasual ini terbuat dari sutra yang sangat ringan meskipun terlihat mewah tapi sangat nyaman di pakai . Aku menaruh kaki kiri ku di atas pedal kuda lalu menjejaknya dan melompat ringan ke atas kuda, kuda ini sedikit bergoyang pada awalnya tapi aku segera menarik tali kekangnya agar ia tenang . Setelah itu aku menepuk sisi lehernya dan menoleh sambil tersenyum cerah ke Curtis .


" Kakak tampan, tunjukkan jalannya . Aku akan memberimu tumpangan " kataku menggoda


Curtis melihatku yang terkikik senang, alisnya mengernyit, kedalaman matanya bergejolak emosi . Curtis menundukkan wajahnya sebentar lalu mengangkatnya lagi kini sudah tak ada emosi lagi yang bergejolak, ia kembali tenang dan berekspresi datar seperti biasanya .


" Eh ...., eh .... , " seruku kaget


Tanpa mengatakan apapun Curtis membawa barang-barang lalu meraih tali kuda dan menariknya keluar dari halaman lalu menutup pagar yang berkarat . Curtis melepaskan jubah yang dipakainya lalu menyerahkannya padaku, aku langsung memakai jubah kain sederhana ini . Setelah aku selesai memakai jubah, Curtis menyerahkan kotak biolaku kembali padaku setelah itu ia melompat dengan mudah ke atas kuda tanpa berpegangan . Aku menoleh dengan terkejut melihat aksinya .


" Kakak tampan, kau sangat keren " kataku serius


" Uhuk, lihat depan . Kita jalan " katanya singkat


Curtis meraih tali kekang dengan satu tangan yang bebas lalu melajukan kuda dengan cepat, aku juga mengambil tali kuda dengan satu tanganku yang bebas dan memperhatikan jalan di depan . Tapi baru sekejap aku sadar dan menengok ke belakang dengan tiba-tiba dan secara tak sengaja ujung hidungku bergesekan dengan dagu Curtis . Curtis sontak kaget, matanya melebar terkejut, rona merah samar mulai menyebar ke seluruh telinganya . Aku yang merasa tidak ada yang salah pun menganggap hal itu masalah sepele dan tidak memperhatikan ekspresi Curtis yang berubah mulai mengomel tanpa henti .


" Kakak tampan, ini tidak benar !! kau mengalihkan perhatianku dari intinya " keluhku


" Bukankah tadi kita sepakat aku yang akan mengemudi, kenapa sekarang jadi kau lagi ?? " keluhku


Curtis tetap termenung tak mendengar keluhanku, aku yang tak mendengar jawaban dari seseorang di belakang menjadi semakin kesal . Aku menghembuskan napasku keras dan mulai lanjut mengomel lagi sambil memasang ekspresi cemberut .


" Kakak tampan, apa kau meremehkan kemampuan berkudaku ?? " tanyaku sewot


" Aku sudah belajar sungguh-sungguh dengan guru terbaik di keraj .... maksudku di rumahku " keluhku hampir kelepasan


Aku yang tetap tidak mendengar sahutan dari belakang tak repot-repot lagi bicara lebih banyak, aku segera melemparkan mukaku kesal dan tak berbicara lagi . Curtis yang baru saja sadar ketika aku sudah terdiam kesal, segera menunduk melihatku yang berekspresi cemberut dengan wajah yang kemerahan karena marah terlihat sedikit lucu .


Curtis menundukkan pandangannya dan sudut mulutnya naik sedikit ke atas, ia pun bergumam pelan di belakangku .


" Nanti, di perkebunan " gumamnya datar


Suaranya serak dan dalam, namun terasa merdu di telinga . Curtis berbicara santai seperti biasa namun entah mengapa aku merasa ada yang memikatku dalam suara merdu itu . Curtis sangat dekat denganku bahkan punggungku menempel di depan dadanya, aku menoleh dan melirik ke arah belakangku sedikit dan tiba-tiba mata kami bertemu tak sengaja . Aku terkejut dan segera menghadap ke depan secepatnya, kurasakan wajahku memanas .


' Sial, ayolah Cleo kau bukan lagi remaja yang sedang kasmaran ' pikirku mencela


' Wajah tampan... wajah tampan ... akh ... aku tak bisa menolaknya ' teriak batinku frustasi


Curtis pun tak kalah terkejutnya dengan Clea, ia tak pernah mengira akan ketahuan saat memandangi gadis kecilnya secara diam-diam . Curtis langsung salah tingkah dan membuang mukanya ke segala arah melihat kanan kiri tak karuan untuk menghilangkan kegugupannya .


Aku mengipasi wajahku yang panas dengan sebelah tanganku, untuk mengalihkan rasa maluku aku berpura-pura kembali marah .


" Kakak tampan, tak bisakah kau melaju sedikit cepat . Disini sangat panas !!! " keluhku cepat

__ADS_1


Curtis yang melihat Cleo mencoba mengalihkan suasana yang canggung dengan berdalih mengeluh pada cuaca pun segera menanggapinya dengan serentak juga .


" Uhm " gumam Curtis singkat lalu ia mulai memacu kudanya dengan lebih cepat .


Kuda segera berlari dengan cepat meninggalkan jejak debu di sepanjang jalan yang telah di lalui . Aku menstabilkan dudukku dengan mudah, jika saja ini diriku yang sebelumnya maka aku sudah bergoyang kesana kemari di atas pelana kuda karena hentakan yang di timbulkan . Kini aku dapat dengan tenang duduk di atas kuda yang sedang melaju sangat cepat di jalan .


Angin awal musim panas menerpa wajahku, membuat setiap helai rambutku berkibar ikut terbawa angin . Untaian mutiara yang bergantung pun ikut bergemerincing saat saling menabrak, aku melihat ke sekeliling jalan yang ramai akan orang-orang yang berlalu lalang . Entah itu rombongan pedagang yang berjejer panjang ataupun penduduk desa yang sedang membawa hasil bumi ke ibukota dengan kereta kerbaunya . Jalan hutan rimbun terlewati berganti dengan ladang pertanian penduduk yang membentang luas sepanjang mata ku melihat, dengan banyak petani yang sedang memanen hasil ladangnya, orang tua, dewasa, serta anak-anak kecil yang berlarian di sepanjang pemetang sawah sambil membawa capung jerami di tangannya . Aku tersenyum dan terkikik kecil merekam semua aktivitas kecil yang kulihat di dunia ini dengan penuh perhatian, agar aku bisa mengingatnya kelak ketika kembali ke duniaku sendiri .


" Kakak tampan, mereka terlihat bahagia " ujarku pelan


Curtis menengok arah aku melihat lalu bergumam mengiyakan " Uhm ", sudut mulutnya sedikit naik ketika pandangannya sedikit kabur memikirkan sesuatu .


Kami terus memacu kuda dengan cepat sepanjang jalan sehingga belum tengah hari kami sudah sampai di desa Reives, ini kedua kalinya aku memasukinya desa ini . Suasana lebih ramai akan penduduk yang beraktivitas daripada pertama kali aku melihatnya . Mungkin ini awal musim panas sehingga orang-orang sangat sibuk dengan usahanya masing-masing, aku tetap tersenyum ramah dan melambai pada orang yang berlalu lalang melewati kami . Aku sama sekali tak memperdulikan Curtis yang memasang ekspresi jelek sejak kami memasuki desa dan aku mulai bertingkah  'norak' .


Kami melewati pemukiman desa di bawah lereng bukit dan menuju ke villa milik keluarga Curtis atas bukit, kuda menapaki jalan berbatu yang menanjak melingkar di sekeliling bukit melewati perkebunan buah dimana petani yang sedang sibuk menanam bibit baru serta memanen hasil kebun . Aku tersenyum dan terus menyapa setiap perkerja yang kami lewati sepanjang jalan perkebunan, kini Curtis sama tak repot untuk melihat tingkahku lagi, ia hanya mempercepat laju kuda agar cepat sampai di puncak bukit dan mengakhiri rasa malunya .


Setelah perjalanan yang cukup melelahkan akhirnya kami sampai di puncak bukit, terlihat Pak tua Lin, Elis, dan bocah laki-laki pengurus kuda sedang berdiri menunggu di depan gerbang villa . Curtis melambatkan laju kuda dan berhenti tepat di hadapan mereka, aku tersenyum cerah dan menyapa mereka .


" Pak Lin, Elis, kita bertemu lagi " seruku ceria


Bocah laki-laki kecil itu pun langsung menghampiri lalu mengambil alih kendali kudanya, Curtis melompat turun dengan ringan sambil tetap menenteng keranjang besar piknikku . Pak tua Lin langsung menghampiri Curtis, ia pun menyerahkan keranjang besar itu kepada Pak Lin . Ketika menerima keranjang piknik itu, Pak Lin sedikit terkejut dengan beratnya, ia pun segera menentengnya dengan kedua tangannya .


Curtis mengulurkan tangannya berniat untuk membantuku untuk turun, tapi aku tak menangkap maksudnya tersebut sebab aku berfikir bahwa aku sudah bisa turun dengan mudah seorang diri jadi aku tak terlalu memikirkan soal itu . Jadi aku dengan polosnya menyerahkan kotak biolaku ke tangannya yang terulur, Curtis sedikit mengernyit tak senang tapi aku tak memperhatikan ekspresinya saat itu .


Setelah aku menyerahkan kotak biolaku, aku segera memangkis rokku dan melompat turun dari kuda . Aku tersenyum ramah pada bocah kecil yang terbengong melihatku melompat turun dari kuda seorang diri .


" Hai bocah kecil, senang bertemu denganmu lagi " sapaku dengan ramah


" Ah .. ya, kelak tak perlu repot-repot mencari bangku lagi " lanjutku sambil terkikik senang .


" Ehem " gumam Curtis


" Ah .... Tuan Muda silakan masuk " ujar Pak tua Lin segera setelah ia pulih


Curtis segera memasuki halaman villa dengan menenteng kotak biola milik Cleo di tangannya, di ikuti dengan Pak Lin di belakangnya membawa keranjang piknik yang berat dengan kedua tangannya serta Elis yang berjalan perlahan di belakang Pak Lin . Aku berdiri menunggu mereka di depan pintu villa, sambil melihat burung biru di dalam sangkar yang tergantung di atas langit-langit .


Curtis berjalan menghampiriku yang sedang melihat ke atas langit-langit, ia menengok ke arah yang sedang kuperhatikan . Curtis menarik tanganku sedikit agar aku melihatnya dan berkata pelan .


" Ayo masuk " katanya


" Uhm " aku bergumam sambil mengangguk


Curtis pun membawaku memasuki Villa dan Curtis menaruh kotak biolaku di atas meja di ruang tamu lalu menyuruh Pak Lin untuk menaruh keranjang piknik itu di sana juga .


" Letakkan saja di atas meja " perintah Curtis


Pak Lin pun meletakkan keranjang piknik di atas meja dengan hati-hati, aku menoleh ke Curtis dan berkata .


" Aku akan memperbaiki gaunku dulu " kataku pada Curtis


" Uhm " Curtis bergumam mengerti

__ADS_1


Aku berbalik dan meraih Elis yang masih berdiri menunggu perintah di pinggir .


" Ayo Elis, bantu aku " seruku sambil menarik tangan Elis menaiki tangga ke lantai atas .


Ketika berlari menaiki tangga ke lantai 2 aku teringat sesuatu dan melonggok kembali ke bawah .


" Aku akan menggunakan ruangan yang kemarin !! " teriakku keras pada Curtis yang masih di bawah dengan Pak Lin


Curtis terkejut mendengar teriakkanku dan menoleh ke arah tangga tempat asal suara teriakan ku lalu bergumam " tidak sopan "


Pak tua Lin yang tetap berdiri patuh di sekitar, mendengar gumaman tak jelas dari Tuan Mudanya .


" Ya, Tuan Muda ?? " tanyanya memastikan


" Bukan apa-apa, lupakan saja " sahutnya datar


Pak tua Lin masih sedikit bingung dengan maksud Tuan Mudanya tapi ia pun hanya menaruh kebingungan itu di belakang sesuai perintah, sedangkan aku tanpa  menunggu jawaban apapun dari Curtis kembali berlari ke arah kamar tamu kemarin .


Aku membuka pintu kamar tidur itu lebar-lebar, tampak kamar ini sedikit lebih bersih dan terawat dari terakhir kali . Seperti seprai tempat tidur yang lama kini di ganti dengan baru, dan ruangan di bersihkan hingga tak terlihat debu sedikit pun, lemari tua di sudut pun telah di ganti dengan yang baru dan juga kini kaca meja rias di ganti dengan yang besar, perabotannya meskipun terlihat bukan barang mahal tapi untuk ukuran sebuah desa kecil ini termasuk layak . Aku berjalan ke arah jendela besar yang menghadap perkebunan, aku membuka tirai putih tipis yang menutupi dan membuka jendela kayu itu lebar-lebar . Seketika angin sejuk awal musim panas menerpa wajahku, rambut lurus sehitam tintaku serta pita putih yang kontras melambai di terbangkan oleh angin, bunyi gemerincing karena mutiara yang menjuntai indah di gaunku saling bertabrakan .


Aku tersenyum menutup mataku sejenak lalu berbalik melihat Elis yang masih setia berdiri di belakang menunggu perintahku . Aku terkikik pelan, Elis bingung dibuatnya


" Elis, terimakasih " ujarku pelan


" Hah ..?? te .. terimakasih untuk apa nona ?? " tanya Elis bingung


Aku berjalan maju ke arahnya, dan melihat sekeliling ruangan " Tempatnya sangat nyaman " kataku


Elis yang akhirnya mengerti maksudku segera menggeleng cepat-cepat lalu menjelaskan dengan tergesa-gesa, terlihat lucu seperti drum kecil .


" Tidak nona, anda salah . Ini semua Tuan Muda yang mempersiapkannya sendiri, budak ini hanya menuruti perintah " katanya tergesa-gesa untuk menjelaskan


Aku tersenyum manis lalu menghampirinya lalu meraih tangan kecil kurusnya yang saling meremas dengan gugup, Elis mendongak melihatku dengan terkejut dan bingung .


" Aku tahu, tapi aku juga tahu pasti kau yang memberikan saran bukan ?? " tebakku sambil tersenyum manis


Mata Elis melebar terkejut lalu segera wajahnya merona merah dan ia menjadi lebih kikuk . Aku terkikik kecil melihat tingkahnya yang polos .


" Baiklah, karna kau sudah menyambutku dengan baik tentu saja aku pasti memberikan balasan juga " ujarku langsung


" Hah ...?? " seru Elis bingung


" Bukankah terakhir kali aku mengatakan untuk membawakan hadiah untuk kalian ?? " kataku ringan sambil berjalan ke depan meja rias


" Ti .. tidak, tidak perlu nona, saya tidak bisa menerimanya " tolak Elis tergesa-gesa


" Huh , aku sudah membawanya dengan susah payah dan aku tak menerima penolakan " ujarku datar sambil melihat ke cermin .


Aku melihat pantulan diriku di cermin, berputar ke kanan dan ke kiri . ' Baik, gaunku tidak terlalu berantakan hanya debu kecil di beberapa bagian yang bisa di bersihkan dengan mudah jadi tak perlu berganti, lagi pula aku tidak terlalu nyaman memakai pakaian orang lain dan juga rambutku sedikit berantakan karna angin ' pikirku melihat penampilan ku di cermin . Elis masih bingung akan menolak dengan cara apa, tapi aku tak memberinya kesempatan untuk bicara .


" Sudah, kemari bantu aku menghilangkan debu di beberapa bagian ini dan merapikan rambutku yang terkena angin " kataku menyela pikirannya

__ADS_1


Elis pun hanya bisa menunduk dan melemparkan cara penolakannya nanti, Elis maju dan melaksanakan apa yang kuperintahkan .


" Baik nona " ujarnya pelan


__ADS_2