Merubah takdir ' Mawar Putih '

Merubah takdir ' Mawar Putih '
BAB 29


__ADS_3

Setelah membersihkan beberapa debu ringan di sudut gaunku putihku yang kontras dengan warna putihnya dan menyisir rambut ku yang sedikit berantakan karena tertiup oleh angin . Setelah menyisir rapi rambutku, Elis kembali memakaikan pita sutra berhiaskan dengan untaian mutiara yang bersinar terkena cahaya matahari . Aku memang sengaja untuk berdandan simpel, karena kupikir Elis akan tidak terlalu bingung ketika merapikanku nanti di villa .


" Nona, sudah selesai " ujar Elis pelan


Aku bangkit dan berputar ke kanan dan ke kiri sambil melihat pantulan diriku di cermin, ' baiklah sudah cantik lagi ' pikirku centil sambil terkikik geli . Elis yang melihatku tertawa sendiri sambil melihat cermin sedikit bingung, tapi ia tetap diam menunggu di samping .


Setelah memastikan sudah rapi kembali, aku pun mengajak Elis untuk turun ke bawah .


" Ayo turun " kataku lalu berjalan ke arah pintu


Elis yang mengikuti di belakang pun teringat kembali akan penolakannya tadi, ia akan membuka mulutnya untuk berbicara tapi memikirkan saat ini sepertinya belum tepat maka ia pun menutup mulutnya kembali sambil berpikir ' nanti saja ' lalu berjalan kembali mengikuti dengan tenang di belakangku .


Aku berjalan menuruni tangga kembali ke lantai bawah, aku melihat Curtis yang sedang berbicara dengan Pak Lin di sofa besar ruang tamu . Aku berjalan ke arah mereka, ketika sudah di dekat meja aku melihat banyak sekali kertas tentang catatan pengeluaran dan pemasukan tentang perkebunan . Aku berjalan lalu duduk di samping Curtis, Pak Lin dan Elis yang berdiri di samping melihat tindakanku dengan terkejut tapi tak berani berbicara .


Aku duduk di samping Curtis yang sedang memegang sebuah buku besar di sebelah tangannya dan kalkulator manual di tangan kirinya, ia kini tengah serius dengan angka-angka yang ada di buku besar tersebut . Aku melonggok ke dalam buku besar yang di pegang oleh Curtis dan melihat tentang angka dari pendapatan dan pengeluaran yang tertulis di sana .


Pak Lin dan Elis pun sangat terkejut melihat tindakanku sampai tak bisa berkata-kata, yang lebih mengejutkan lagi ialah respon dari Tuan Muda mereka yang seolah tidak menyadari kehadiranku dan tidak terganggu sama sekali dengan semua tindakanku . Tuan Muda mereka yang selalu pendiam, dingin, dan penyendiri kini tak terganggu sama sekali dengan kehadiran seorang gadis yang tengah duduk di sampingnya tanpa jarak sama sekali .


Pak Lin dan Elis masih terbengong dengan pikiran mereka yang tengah berkeliaran kemana-mana, sedangkan aku sama sekali tak memperhatikan ada apa dengan mereka ataupun apa yang mereka tengah pikirkan . Aku melihat Curtis yang dengan dahi berkerutnya tengah berperang dengan keras terhadap angka-angka di buku besar di tangannya .


Aku melirik keranjang piknik yang masih tergeletak seperti sebelumnya di ujung meja, lalu melirik penampilan Curtis yang masih mengenakan pakaian yang sama, hanya saja kini kancing atas kemeja dan lengannya di buka agar lebih santai .


' apa dia terus duduk di sini dari tadi ?? ' pikirku dalam hati


" Kakak tampan, aku sudah membawa banyak kue enak . Ayo makan dulu " kataku pelan di sampingnya


" Uhm , kau dulu " ujarnya singkat tanpa menoleh ke arahku


" Tapi aku ingin makan bersama-sama, apa asyiknya makan sendiri " ujarku sambil cemberut


Curtis menghentikan kegiatan menghitungnya lalu menoleh ke arahku dengan datar, aku masih memasang wajah cemberut tanda protesku . Pak Lin yang melihat Tuan Mudanya di interupsi olehku dengan alasan yang sepele menjadi khawatir padaku, karena Pak Lin sangat memahami sifat Tuan Mudanya yang tidak bisa di ganggu sama sekali ketika sedang berkerja . Jadi Pak Lin sangat gugup ketika Curtis menghentikan pekerjaannya dan mengalihkan pandangannya langsung kearahku dengan ekspresi yang datar, Elis yang berdiri di belakang pun sama gugupnya dengan Pak Lin tapi apalah daya gadis kecil itu hanya bisa menundukkan kepalanya takut .


Aku masih menatapnya dengan keras kepala berpegang teguh pada perkataanku sebelumnya, Curtis pun yang melihat gadis kecilnya tak takut ataupun khawatir sama sekali jika di marahi olehnya melunakkan pandangannya mengalah . Curtis pun menghela nafas ringan lalu berbalik menghadap buku akuntannya lagi .


" Aku akan menyusul setelah selesai menghitung ini " ujarnya pelan


" Kapan ?? kulihat sejak kita datang sampai sekarang kau hanya menghadap angka-angka itu tapi belum juga selesai " ujarku sewot


" Bahkan untuk berganti atau membersihkan debu pun tak sempat " tambahku sambil melirik kebawah ke arah sepatu boot kulit yang di gunakan Curtis


" Hah ... jangan mengacau . Aku harus menyelesaikan ini dulu baru bisa menemanimu bermain " ujar Curtis datar


Aku melihat Curtis kembali fokus pada perhitungan angka-angka di bukunya dan tak menghiraukan ku lagi menjadi semakin kesal . Aku semakin memasang wajah cemberut tak sabar .


" Huh !! bukankah hanya sekumpulan kecil angka, kenapa terlihat susah sekali " kataku  menggerutu tak sabar


Pak Lin dan Elis menjadi semakin gugup ketika mendengarku menggerutu dan mengomel tak karuan . Curtis yang mendengar omelan ku pun, hanya menganggapnya sebagai angin lalu dan tetap fokus dengan perhitungannya .


" **** " umpatku pelan

__ADS_1


Curtis menoleh mendengar suaraku yang pelan, ia tak mengerti dengan kata yang ku ucapkan tetapi nalurinya mengatakan bahwa itu bukan ucapan yang bagus .


" Bicara dengan baik " ujarnya datar


" Memang kakak tampan tahu artinya ?? bagaimana kau tahu jika itu bukan kata-kata yang baik " kataku menantang


Curtis hanya menatapku datar lalu menghela nafasnya lagi dan kembali fokus pada pekerjaannya yang semakin rumit karna di ganggu oleh gadis kecilnya sedari tadi . Cleo yang melihat provokasi tak berefek pada Curtis kembali mengomel tak jelas .


" Kakak tampan, sungguh jika aku membantumu menyelesaikan angka sialan itu, apa kau akan menuruti permintaanku ?? " tanyaku kesal


" Apa yang kau tahu ?? " ujar Curtis dingin sambil melirikku datar


" Hah !! bukankah hanya sekumpulan angka kecil !! kakak tampan apa kau meremehkanku ?? " seruku semakin kesal karna di remehkan


Curtis menoleh ke arahku, melihat wajahku yang mulai memerah lucu karena kesal . Ia pun mulai berfikir untuk sedikit menggoda gadis kecilnya yang kini mulai marah karena tak di perhatikan .


Curtis mengangkat sebelah alisnya seolah bertanya ' memang kau mengerti ?? ', Cleo yang merasa di remehkan kecerdasannya oleh Curtis mulai kehilangan kesabarannya sama sekali dan marah-marah tak karuan .


" Hah !! Tuan Muda Colombain, ingat ini baik-baik ' aku .. Cleo adalah gadis terpintar di seluruh Kerajaan Benedicte ini ' " ujarku penuh emosi


" Sekarang lihat dan perhatikan baik-baik " seru ku kesal sambil merebut buku akuntan dan kalkulator manual di tangan Curtis


Curtis cukup terkejut dengan perkataan dan tindakan Cleo yang tiba-tiba merampas buku di tangannya dengan penuh emosi . Pak Lin hampir pingsan ketika melihat nona Cleo yang tiba-tiba merampas buku di tangan Tuan Mudanya dengan tak sopan sama sekali , tapi yang membuatnya berkeringat dingin ialah ekspresi Tuan Mudanya, bukan hanya tak emosi melainkan ia bersikap seolah tak tersinggung dengan ucapan kasar dan tindakan tak sopan nona Cleo terhadapnya .


" Bukankah hanya sekumpulan angka sialan, sekarang lihat baik-baik cara nona ini membereskannya " seruku sombong pada Curtis


Curtis hanya menatapku tanpa suara, tak peduli pada hal-hal kecil seperti umpatan yang ku keluarkan . Tatapannya melembut seolah melihat gadis kecilnya yang kini marah-marah dengan lucunya, sudut mulutnya sedikit naik seolah memanjakan .


Curtis yang awalnya hanya ingin menggoda gadis kecilnya tapi siapa sangka ia kini terkejut hingga tak bisa berkata-kata ketika melihat Cleo yang membolak-balik kalkulator dengan lihai di tangan kiri dan menulis dengan tangan kanan . Bahkan tak perlu 1 menit untuk gadis kecilnya memahami buku akuntan dari perkebunan yang menurut Curtis cukup membuat sakit kepala untuknya setiap minggu . Kini ekspresi Curtis semakin serius di tiap detiknya di iringi dengan suara ' tak tak tak ' dari manik-manik di  kalkulator manual yang saling bertabrakan .


5 menit kemudian


' tak '


' tak '


' takk '


Suara terakhir dari manik-manik yang berbunyi, menandakan aku telah selesai menghitung . Aku menggoreskan hasil angka terakhir dan catatan pendukung untuk evaluasi selanjutnya di akhir tulisan .


' plugh '


Aku meletakkan kembali pena bulu ke wadah tinta di atas meja, lalu melihat hasil pekerjaanku sekilas dan menoleh dengan bangga ke arah Curtis yang masih mematung di sampingku .


" Kakak tampan, aku sudah selesai " ujarku sambil tersenyum sombong


Curtis tersadar dari keterkejutannya tadi lalu menoleh memperhatikanku yang masih tersenyum dengan bangga dan sombong ke arahnya . Curtis pun meraih buku besar di yang tergeletak di atas meja, ia pun memeriksa dengan cermat pada pengerjaan akuntansi di buku itu .


' Tak ku sangka ia sungguh bisa menyelesaikannya, terlebih lagi perhitungannya sangat cerdas dan mudah di pahami ' fikir Curtis

__ADS_1


Curtis masih menunduk meneliti hasilnya, sedangkan aku sungguh tidak sabar menunggu Curtis untuk lebih cepat lagi . Aku pun meraih buku itu lagi dari tangannya, Curtis mengernyit tidak senang dengan tindakanku .


" Jangan dilihat lagi, sampai kapan kau akan melihatnya kakak tampan . Bukankah kau berjanji akan menurutiku jika aku membantumu, sekarang kau harus mendengarkanku " kataku langsung


" Biar kuperiksa dulu " ujarnya singkat


Tangan Curtis terulur seolah akan meraih kembali buku yang kupegang, tapi aku segera menjauhkannya darinya .


" Tak perlu, aku sangat yakin tidak ada yang salah " ujarku bangga


Curtis menaikkan sebelah alisnya seolah tak puas, aku memasang ekspresi cemberutku kembali .


' Jika kulihat tadi sepertinya memang tak salah, tapi ... sudahlah aku bisa memeriksanya lagi besok ' pikir Curtis


Curtis pun menghela nafas lalu menatap ringan pada gadis kecilnya lagi . Aku melihatnya seolah mengatakan ' baiklah ', segera bangkit dan berseru dengan senang .


" Yeah .... " teriakku


Pak Lin yang sedari tadi melihatku yang menghitung dengan sangat cepat dan mudah sangat terkejut hingga mulutnya terbuka lebar-lebar, belum juga ia pulih dari keterkejutannya kini ia merasa jantungnya berhenti berdetak karena teriakkanku yang tiba-tiba . Elis pun tak jauh beda reaksinya dengan Pak Lin, ia tak menyangka nona Cleo akan menyelesaikan pekerjaan Tuan Muda dengan begitu mudah . Elis merasa nona Cleo bukan hanya sangat cantik tapi juga pintar, pantas saja ia berbicara dengan sombong sebelumnya tapi tentu saja Elis merasa hal itu tak salah .


Aku yang beranggapan teriakanku mengejutkan semua orang, jadi aku hanya cengengesan sambil meminta maaf karena aku berteriak dengan tiba-tiba sehingga mengejutkan Pak Lin dan Elis .


" Hehehe ... maaf, aku terlalu bersemangat " ujarku cengengesan sambil menggaruk ujung hidungku yang tidak gatal


" tidak sopan " gumam Curtis pelan


Aku pun hanya terkikik mendengar sahutan dari Curtis .


" Kakak tampan ayo makan bersama, aku sudah membawa banyak sekali kue-kue yang enak " ajakku sambil meraih tangan Curtis dan menyeretnya ke meja makan


Curtis pun membiarkan dirinya di tarik ke meja makan oleh Cleo, Pak Lin secara sadar membawa keranjang piknik yang tergeletak di atas meja dan mengikuti nona Cleo dan Tuan Mudanya ke meja makan . Curtis duduk di posisi utama sedangkan aku duduk di samping kanannya, Pak Lin mengangkat keranjang berat itu ke atas meja dengan kedua tangannya dan di letakkan di depanku .


Elis secara sadar membawa 2 set peralatan makan dan di letakkan di depan kami . Aku membuka penutup keranjang piknik itu, dan mulai mengeluarkan satu persatu kue-kue cantik, sandwich, serta makanan ringan favoritku ke atas meja . Dalam sekejap meja makan sederhana itu telah tertutup berbagai jenis kudapan ringan yang terlihat cantik, lezat, dan mahal . Aku  mengeluarkan 2 termos teh bunga dan jus buah segar akan menghidangkannya dengan set teh ketika kulihat meja di depan ku sudah penuh dengan piring-piring kue .


" Sudah penuh ??! " ujarku heran


Curtis menghela nafas sambil melihat meja kini telah penuh dengan berbagai jenis kudapan ringan yang jelas terlihat berasal dari kelas bangsawan atas .


" ada lagi ?? " tanyanya pelan tapi sangat heran di pikirannya


" tinggal 1 set teh dan 1 termos jus buah " ujarku sambil menunjukkannya di tanganku


Curtis bangkit untuk mengatur sedikit piring-piring kue di atas meja, dan menumpuk beberapa toples kecil makanan ringan di sudut . Aku pun menaruh set teko dan cangkir teh di ruang yang di sediakan Curtis, aku pun menuangkan teh di termos ke dalam teko keramik yang cantik dan berkualitas yang kubawa .


Setelah menyajikan semua makanan yang kubawa, aku kembali duduk di kursiku di ikuti oleh Curtis yang duduk di kursinya . Aku mengadah menatap Pak Lin yang berdiri dengan sopan di tepi bersama Elis di sampingnya yang menunduk dengan sopan, tapi dapat kulihat sesekali ia akan mencuri pandang pada kue-kue di atas meja dengan matanya yang berkilau rasa ingin tahu .


" Pak Lin, Elis, ayo duduk, kita makan bersama " ujarku sambil tersenyum ramah


Curtis cukup terkejut ketika mendengarku berkata seperti itu, ia memang mengira jika gadis kecilnya berbeda dengan bangsawan lainnya tapi ia tak mengira ia akan bersedia untuk makan bersama dengan pelayan yang berstatus rendah .

__ADS_1


Pak tua Lin dan Elis yang mendengar suaraku segera bingung dan sedikit takut karena perkataaanku, mereka tak pernah berfikir sekalipun dalam hidupnya untuk bisa makan makanan mewah seperti di hadapannya sekarang apalagi untuk makan bersama dengan Tuan mereka yang berstatus terhormat di meja makan bersama-sama . Jadi ketika mereka mendengar ajakan dari nona Cleo yang berkata untuk datang dan makan bersama mereka sangat kebingungan akan menjawab apa .


__ADS_2