Merubah takdir ' Mawar Putih '

Merubah takdir ' Mawar Putih '
BAB 15


__ADS_3

Hari ini akhir pekan, aku menghabiskan waktu bersantai seharian di istana ku, kadang-kadang mengunjungi Ratu Carissa untuk sekedar minum teh bersama serta mengobrol ringan .


Setelah sore hari itu, saat bersama Albert di balkon kamar tamu . Aku dengan cerobohnya ketiduran begitu saja di pelukan Albert, Albert menungguku hingga sore hari dan ketika tidak ada tanda-tanda aku akan terbangun, Albert menggendongku ala bridal style ke arah tempat tidur di ruangan itu . Tempat tidur sudah di bersihkan oleh pelayan-pelayan kecil tadi, karena tidak mungkin juga Albert menggendongku yang ketiduran kembali ke ruang tidurku sendiri hal itu pasti akan menimbulkan rumor di istana yang tidak enak di dengar .


Setelah meletakkanku dengan nyaman, Albert meninggalkan note di samping meja kecil di sisi tempat tidur yang berisi ' ia kembali ke kediaman Albelart duluan karena hari sudah larut, ia tidak berpamitan karena tidak ingin mengganggu tidurku ' .


Setelah itu Albert pergi kembali ke kediaman Albelart dan memberitahukan kepada seorang pelayan pribadiku Alice bahwa aku tertidur di kamar tamu . Alice yang mendengar itu segera memerintahkan seorang pelayan untuk mengantarkan Tuan Muda Albelart kembali ke kediamannya lalu berlari memeriksa keadaan ku di kamar tidur tamu, apakah benar tertidur atau tidak .


Setelah memastikan aku sungguh tertidur dengan keadaan yang masih sama rapinya barulah ia lega . ' Oh ****, ayolah apakah ia sungguh berfikir aku akan dimanfaatkan ?? Heh.... justru nona besar inilah yang memanfaatkan remaja kecil tampan tadi ' pikir ku


Aku juga melewatkan makan malam bersama Raja Damien dan Ratu Carissa di istana utama dikarenakan jari-jariku yang masih terluka membuatku tidak nyaman melakukan apapun sendiri . Aku makan malam sendiri di kamar tidurku dengan di bantu oleh Deenna yang menyuapi, seusai makan malam Raja Damien dan Ratu Carissa datang untuk menjengukku karena khawatir . Setelah melihat keadaanku yang tidak terluka kecuali lecet di jari-jari saja, mereka berlalu kembali ke istana utama .


Hari libur sungguh berlalu dengan cepat, kini sudah awal minggu lagi untuk sibuk kembali dengan pembelajaran dari Tuan Louis . Kini Albert selalu datang lebih pagi, untuk duduk mengobrol sebentar sebelum Tuan Louis datang . Kami sudah seperti sepasang kekasih kecil yang sedang kasmaran, Albert sudah tidak canggung lagi ketika aku mencium ringan ataupun memeluknya . Dia memperlakukanku sangat lembut dan istimewa, selalu menuruti apapun yang kuinginkan .


Saat siang hari, kami selalu makan siang bersama-sama di istanaku . Di sela-sela istirahat selesai makan, Albert dan Tuan Louis selalu membicarakan hal-hal yang terhadi di kalangan sosial bangsawan kadang juga mereka membicarakan para Tuan Muda dan Lady di akademi kekaisaran karena Albert selalu datang untuk belajar di akademi kekaisaran juga ketika tidak menemani ku untuk belajar di istana . Aku mendengarkan dengan perhatian pada semua yang mereka katakan, kadang sesekali juga aku bertanya-tanya pada mereka yang menurut ku penting .


Ternyata Lady Charlotte Cassiopeia sepupu perempuanku anak dari kakak laki-laki ayah yang merupakan kepala keluarga Cassiopeia, juga seorang jenderal di perbatasan ialah Lady yang memimpin di kalangan sosialita para putri bangsawan . Tak heran dengan status serta kedudukan keluarga yang tinggi, Lady itu tumbuh dengan sombong dan angkuh sehingga banyak menarik para putri-putri bangsawan kecil yang ingin menjilat kekuasaan . Dan tentu saja tidak usah di tanyakan tentang siapakah yang memimpin kalangan sosialita para Tuan Muda bangsawan, karena itu pasti Albert . Tak ada yang kurang ataupun bisa menandinginya dalam hal apapun .


Kelas militer 2 hari ini di gantikan oleh kapten Felix karena Raja Damien sedang sibuk dengan perdagangan bersama utusan dari Kerajaan Hilaire . Kapten Felix ialah seorang kapten dari rakyat biasa, ia bukanlah seorang putra bangsawan yang tinggi atau apapun itu, Kapten Felix dapat berdiri di posisinya sekarang semua murni karena kerja kerasnya sendiri . Kapten Felix merupakan teman Raja Damien semasa di akademi kekaisaran dahulu, mereka teman dekat yang saling mengerti satu sama lain . Dan ketika Raja Damien naik takhta, ia membutuhkan seseorang yang dapat di percaya untuk berada di sisinya maka dari itu ia menunjuk Kapten Felix sebagai pengawal pribadinya .


Tak ada yang meragukan Kapten Felix soal seni beladiri ataupun militernya, karena bagaimanapun ia mengukir prestasinya dengan usahanya sendiri . Jadi ketika Kapten Felix mengajariku tentang mengolah serta mengatur pasukan, ia sangat lihai dan terampil meskipun Kapten Felix bukan pembicara yang bagus tapi jika kau mengerti apa yang di maksudnya maka itu akan sangat berharga . Strategi penataan pasukan yang di ajarkan oleh Kapten Felix sangat rumit dan cerdas, ia sangat ahli dalam taktik penyerangan serta penyergapan .


Sangat susah untukku memahami hal-hal yang rumit ini, sehingga 2 hari pembelajaranku dengan Kapten Felix aku hanya dapat memahami sebagian kecil dari taktik penyerangan . Hah .... baru kali ini aku merasakan otak jenius Clea tidak dapat menyerap hal-hal tentang strategi militer .


Tibalah akhir pekan lagi dengan pembelajaran beladiri bersama Kapten Molly, kali ini Albert tidak datang karena keluarganya sedang mengurusi suatu urusan di luar kota . Sehingga Albert yang sebagai seorang Tuan Muda Albelart harus mewakili keluarga untuk mengurusi itu sendiri, bagaimana pun Albert sudah debut di kalangan sosial bangsawan sangat lah wajar jika Kepala Keluarga Albelart mulai melatihnya untuk mengurusi urusan ekonomi di keluarga .


.


.


.


Waktu itu...


Hari terakhir waktu pembelajaran Tuan Louis kemarin, Albert seperti termenung tidak fokus selama proses belajar bahkan sesekali ia melirik langsung kearah ku tak peduli ada Tuan Louis yang memperhatikan seolah ada yang ingin di katakannya . Dan ketika usai pembelajaran hari itu aku berjalan ke arahnya, untuk menanyakan sifat anehnya seharian ini .


" Ada apa ?? " tanyaku sambil tersenyum


Albert mendongak untuk menatapku, lalu telapak tangannya yang kuat menangkatku dan meletakkanku di atas meja belajarnya . Albert lalu menyandarkan kepalanya ke pahaku yang dijadikan bantal, dan melingkarkan lengannya di sekeliling pinggangku . Melihat sikapnya yang lunak membuatku mulai berfikir ' mungkin hal serius terjadi '


" Apa terjadi sesuatu ?? " kataku lebih pelan


" Ayahku menyuruhku untuk mengurus perjanjian bisnis perdagangan keluargaku di luar kota " gumamnya pelan


" Ah, kau akan pergi ?? " tanyaku memastikan


Albert mengangguk di pangkuanku, aku terdiam sebentar memikirkan sesuatu


' Apa alur ceritanya berubah ?? ' batinku


" Apa Putri marah ?? " tanyanya khawatir


Aku segera tersenyum kecil lalu menggeleng . " Kapan kau kembali ?? " tanya ku


" Aku pergi sekitar 10 hari, karena itu akhir minggu saat beladiri serta pekan depan, saya tidak akan bisa menemani Putri " katanya sedih


Aku menangkup wajahnya lalu berkata " Tidak apa-apa, aku akan menunggumu pulang disini " ujarku lembut


Mata Albert melebar terkejut segera wajahnya merona merah, ekspresi tenangnya menghilang . Aku tersenyum menggodanya

__ADS_1


" Yah ... jika kau tidak memberikan kompensasi padaku mungkin ketika kau kembali aku akan punya teman belajar baru " kataku asal


" Akan kuberikan ... Akan kuberikan apapun yang Putri inginkan " katanya cepat


" Hihihi, Albert kau sangat manis " kikikku gemas


' Ah sial, aku sungguh ingin menerkam remaja polos ini sekarang juga ' batinku


Aku turun dari meja dan naik duduk di atas pangkuannya, Albert panik bukan main . Matanya melebar terkejut dengan tindakanku, rona merah menyebar dari wajah, telinga, hingga ke lehernya, jantungnya berdegup dengan kencang, kulitnya memanas . Aku tersenyum jahil di atasnya ' Ah sungguh remaja yang berdarah panas ' pikirku


" Pu ... putri .. i .. ini ... " katanya gugup bukan main


" Sssttt , jangan berisik ." bisikku di depannya


Aku menyatukan bibir kami dan ********** sedikit, Albert sedikit gemetar karenanya . Ia mencengkram pegangan kursi hingga buku-buku jarinya memutih, mati-matian menahan hasratnya ingin menyentuhku . Aku tersenyum di sudut bibirku melihat reaksinya, lalu aku menunduk kearah lehernya putih yang memerah dan panas, aku mulai mengusap-usap dengan ujung hidungku . Albert menurunkan pandangannya dan menahan nafas atas perlakuanku, dengan smirk aku menjilat sedikit dengan ujung lidah ku .


Albert seperti tersengat listrik, matanya melebar terkejut, tangannya yang mencengangkan pegangan kursi berlari mencengkram pinggang rampingku seolah mengingatkan akan tindakanku .


" Putri " tegurnya pelan


" Diamlah, aku tahu batas ku " kataku serius


Albert menatapku, lalu kembali dengan ekspresi tenang walaupun ujung telinganya memerah, ia menurunkan pandangannya patuh tidak bersuara lagi . Aku kembali menunduk, menjilati sisi leher Albert tadi . Menjilat naik turun menggoda, Albert gemetar dibuatnya, tangannya yang mencengkram pinggangku sedikit mengencang tapi tidak sampai sakit . Aku membuka mulutku dan menggigit kecil dan menghisap sedikit meninggalkan tanda kissmark merah cerah di lehernya yang mencolok


" Ah ... " lenguhan Albert lolos begitu saja


Aku bangkit menatapnya, kini ia panik dan malu karena ketahuan mengeluarkan suara yang tidak senonoh tadi . Aku tidak mempermasalahkan hal itu sungguh, aku tersenyum lalu melingkarkan lenganku di lehernya .


" Albert, kau milikku . Jangan berfikir untuk melihat yang lain nanti " bisikku di depan wajahnya


.


.


" Sepertinya Yang Mulia Putri sedang bahagia " kata Kapten Molly langsung


" Hehehe Kapten Molly berkata benar " jawabku tak kalah langsung, tak peduli akan sindiran dari perkataan Kapten Molly tadi


" Uhuk, kalau begitu mari kita mulai latihannya " tersedak, Kapten Molly canggung karena jawabanku yang lebih spontan


Kali ini di pagi hari kami belajar memacu kuda dengan cepat, kuda berlari berputar di landasan pacu . Aku memacu Blake sekencang yang aku bisa, kini aku sudah bisa duduk stabil di atas kuda yang berlari . Blake bukanlah kuda militer, tetapi termasuk jenis kuda yang bagus juga sehingga ia mampu berlari kencang di lintasan .


" Putri kita akan mencoba membawa kuda melewati rintangan " kata Kapten Molly ketika kami berhenti


Aku mengangguk menanggapi


" Putri, tolong anda ingat intruksi dan perhatikan contoh dari saya " kata Kapten Molly ringan, lalu ia mencontohkan cara melompat melewati rintangan sederhana .


Kini giliranku untuk mencoba, 2 orang prajurit sebelumnya juga berjaga di sisi ku untuk memastikan keamanan .


Aku mencambuk ringan Blake, agar mau melompati papan setinggi sepertiga meter . Jatungku berdetak kencang, bulir keringat menetes di pelipisku, aku sangat gugup sehingga mencengkeram tali kekang terlalu keras . Blake meringkik tidak stabil, aku berteriak kaget segera refleks memeluk leher Blake . 2 orang prajurit tadi langsung melompat memegang tali kekang dan menenangkan kuda .


" Putri, jangan gugup dan jangan takut . Suasana hati anda akan mempengaruhi kuda itu sendiri " kata Kapten Molly menghampiri ku meninggalkan kudanya


" Maaf Kapten Molly, aku hanya sedikit panik tadi " kataku dengan suara sedikit bergetar


" Hah .... kalau begitu mari kita istirahat dulu, minggu depan kita akan melanjutkan menunggang kudanya " kata Kapten Molly final


Aku mengangguk dan melompat turun dari kuda, sedikit terhuyung-huyung tapi tidak sampai jatuh seperti kemarin . Kami makan siang bersama dan istirahat sebentar lalu di lanjutkan dengan pembelajaran memanah kemarin .

__ADS_1


Aku sedikit tidak bersemangat mengingat kejadian kemarin, tapi aku harus terus mencoba hingga ahli jika ingin menjadi seorang pewaris tahta . Hari ini Kapten Molly menyediakan sarung tangan kulit untuk melindungi tangan halusku agar tidak lecet seperti kemarin .


Aku berlatih memanah hingga sore hari, meskipun tidak satupun yang mengenai papan target paling tidak aku memiliki beberapa kemajuan . Anak panahku kini dapat melesat sejauh 5 - 7 meter, mungkin tenagaku masih kurang .


Sore harinya setelah latihan memanah, aku kembali ke istanaku berendam dan membersihkan diri . Aku memejamkan mataku menikmati air panas serta pijatan dari Alice dan Blance, lau Deenna datang dari samping melaporkan .


" Putri, Lady Marie Antoinette sudah datang " katanya sopan


" Baiklah, tolong minta ia menunggu dan layani dengan baik , aku akan turun sebentar lagi " kataku sambil bangkit


Blance segera mengambil handuk untuk mengeringkan tubuhku, Deenna segera pergi melaksanakan perintahku . Aku berjalan menuju lemari gaunku, memilih gaun hijau muda yang sederhana tapi anggun, di lengkapi dengan set perhiasan berlian yang mewah serta rambut yang di tata dengan tinggi di hias dengan untaian permata di sekitarnya .


Aku berjalan menuruni tangga menemui seorang wanita muda berusia 23 tahun, sangat anggun dan cantik . Lady Marie sedang meminum teh bunga yang di sajikan oleh pelayan, lalu mengadah ketika melihatku turun . Ia meletakkan cangkir teh itu perlahan dengan jari lentiknya, lalu bangkit tersenyum memberikan salam padaku .


" Salam untuk kemuliaan Yang Mulia Putri Clea " katanya lembut menundukkan pinggangnya dengan anggun


" Bangkitlah Lady Marie tak perlu terlalu sopan . Maaf membuat anda menunggu lama " kataku sambil tersenyum manis lalu mempersilahkannya untuk duduk kembali .


" Tidak Putri, anda tak perlu khawatir saya sangat nyaman di sini " kata Lady Marie pelan


" Untuk kelas minggu kemarin juga saya meminta maaf karena membatalkannya seenaknya " kataku lagi


" Saya mengerti Putri, anda kelelahan maka dari itu sudah sepatutnya untuk istirahat . Jangan terlalu memaksakan diri, kesehatan anda adalah yang terpenting " ujarnya menasehati


Aku tersenyum manis menanggapi wanita lembut ini, " Lady Marie benar " kataku


" Ah ya, beberapa hari lalu saya membuat karangan bunga untuk Yang Mulia Raja dan Yang Mulia Ratu . Tapi, saya malu karena kemampuanku yang sangat kurang mengakibatkan karangan bunga itu sangat berantakan . Saya bersyukur yang menerimanya adalah Yang Mulia Raja dan Yang Mulia Ratu sendiri sehingga tidak terlalu mempermalukan diriku sendiri " jelasku panjang lebar


" Jadi, hari ini saya ingin meminta sedikit nasehat dari Lady Marie tentang merangkai bunga " kataku sambil bersemu merah


" Putri, telalu sungkan . Merangkai bunga adalah hal yang sederhana, saya juga bukan ahlinya jadi tidak ingin menyombongkan . Jika Putri ingin merangkai bunga bersama maka dengan senang hati saya menemani " katanya sopan


" Sekarang musim semi, bunga-bunga di taman belakang juga sedang mulai bermekaran . Mari jika Lady Marie tidak keberatan menemaniku berjalan-jalan sore di taman " kataku seraya bangkit


" Dengan senang hati, saya juga ingin melihat keindahan taman bunga mawar Putri Clea yang terkenal " katanya sambil berdiri


Kami berjalan-jalan sambil berbincang di sepanjang taman bunga mawar yang akan mekar dengan indah di musim panas, sesekali kami memetik beberapa bunga yang cantik untuk di rangkai nanti . Kami berjalan menuju paviliun di tepi danau yang jernih dan tenang, sore hari di musim semi sangat indah dan nyaman . Paviliun terlihat cantik dengan beberapa tanaman rambat yang melingkar di pilarnya serta burung pipit yang bernyanyi di antara dahan pepohonan, para pelayan pribadiku segera menyiapkan peralatan merangkai serta sekeranjang bunga yang kami petik tadi .


" Taman bunga Yang Mulia Putri sungguh sangat indah " puji sopan Lady Marie


" Lady terlalu menyanjung . Mari kita duduk dan merangkai bunga di paviliun " ajakku


Aku dan Lady Marie yang mengajarkan merangkai bunga, duduk berbincang dengan santai sesekali Alice akan menyajikan teh bunga untuk di nikmati . Kami berbincang hingga tak terasa hari sudah petang, matahari akan turun . Kami pun kembali ke istanaku, sambil membawa rangkaian bunga yang tadi sudah jadi .


Sampai di istanaku, Lady Marie berpamitan untuk kembali ke kediaman Antoinette . Aku mengantarkannya sampai di depan istana utama, setelah melihat Lady Marie menaiki kereta kudanya dengan aman dan berlalu keluar dari istana kekaisaran . Aku berjalan menuju ruang makan untuk makan malam bersama Raja Damien dan Ratu Carrissa, membawa serta rangkaian bunga mawar yang kubuat tadi . Aku menunggu Raja dan Ratu di meja makan .


" Ayah, ibu, anda sudah datang " kataku bangkit sambil tersenyum manis


" Ah, tumben sekali Putriku ini datang lebih awal " goda Raja Damien


" Huh, aku datang karena ingin memberikan buket bunga yang kurangkai bersama Lady Marie tadi kepada ibu " kataku pada Ratu dan memberikan buket bunga itu .


" Wah... Cantik sekali " puji Ratu Carissa


" Apakah ayah tidak dapat ?? " tanya Raja Damien iri


" Karena ayah mengejekku tadi, jadi buket bunga ayah akan di tunda sampai minggu depan hehehe " godaku balik


" Ah ... " Raja Damien kecewa

__ADS_1


Aku dan Ratu Carissa pun tertawa menanggapinya, kami pun makan malam dengan suasana yang hangat .


__ADS_2