Merubah takdir ' Mawar Putih '

Merubah takdir ' Mawar Putih '
BAB 7


__ADS_3

Sudah 6 tahun sejak aku pindah ke dunia ini, dan inilah pertama kalinya aku pergi keluar istana . Menyelinap keluar lebih tepatnya, pergi berjalan-jalan ke perkebunan buah milik seseorang yang baru saja aku temui . Entahlah apa yang sedang kupikirkan hingga ikut saja dengannya yang tak ku ketahui identitas nya , aku hanya terlalu lelah berjalan dan tidak menyangka jika jalan rahasia itu berakhir di luar ibukota dan di tengah hutan .


Aku duduk di atas kuda yang di tarik oleh anak laki-laki tadi berjalan perlahan melihat seisi perkebunan, perkebunan ini tidak hanya menanam buah pir, tapi juga apel dan jeruk . Aku melihat para pekerja yang sibuk memetik buah, kadang sesekali mereka melihatku dengan penasaran aku pun balas tersenyum dan melambaikan tangan kepada mereka . Kadang juga aku iseng meraih memetik buah yang terjangkau oleh tanganku dan langsung menggigit nya . Anak laki-laki kecil kembali tercengang dengan sikapku yang asal-asalan, aku pun tersenyum sambil menawarkan apel yang kupetik tadi ia yang melihatku memergoki reaksi tidak sopannya padaku segera menggeleng sambil menunduk lagi .


Satu jam setelah berkeliling perkebunan, aku merasa lelah dan meminta kembali ke villa . Dari kejauhan di depan villa terlihat Pak Lin yang mengomeli Elin yang menunduk seperti ingin menangis, lalu mereka yang sadar aku muncul sambil duduk di atas kuda segera menghela nafas lega . ' Ah... mungkin mereka mencariku ' pikirku


" Aku baru selesai berjalan-jalan melihat perkebunan " ujarku santai


" Saya mengerti, kami hanya sedikit panik karena nona tiba-tiba menghilang " katanya menjelaskan


" Tidak apa-apa, akulah yang tidak memberitahu dulu " jawabku cepat " Aku lelah " kataku sambil turun dari kuda .


Pak tua Lin dan Elin segera membantuku untuk turun lalu kami masuk ke dalamnya villa . Aku langsung mendudukkan pantat ku ke sofa yang empuk, meminum air yang baru saja di suguhkan oleh Elin .


" Dimana Tuan muda kalian ?? bukankah ia berkata akan kembali ke ibukota saat sore dan sekarang sudah hampir petang " tanyaku


" Tuan muda mungkin masih ada di sekitarnya sungai di belakang villa " jawab Pak Lin


" Masih ada juga sungai di sini ?? apakah jauh ?? " teriakku antusias


" Ya nona, tidak terlalu jauh kita bisa ke sana dengan berjalan kaki " jawab Pak Lin


" Antarkan aku ke sana " perintah ku sambil berdiri


Pak Lin memimpin jalanku ke arah sungai yang di maksud, kami berjalan di jalan setapak tanah di antara ladang buah labu kuning yang bergelundungan . 5 menit kemudian, terdengar deru air sungai yang deras di kejauhan terlihat seorang pemuda yang berlatih pedangnya di samping sungai . Pemuda itu menoleh melihat kedatangan kami, Pak Lin memberi hormat pada Tuan mudanya lalu pergi kembali ke villa . Aku tersenyum melambaikan tanganku ke arahnya, ia tetap melihatku dengan acuh tak acuh .


" Apa yang sedang kau lakukan di sini ?? " tanyaku membuka obrolan sambil duduk di atas batu besar di sisi sungai


" Berlatih " jawabnya singkat lalu melanjutkan latihannya .


" Wah kau bisa beladiri rupanya, apa kau juga seorang murid di akademi kekaisaran " tanyaku penasaran


" Hm " gumamnya menyetujui


" Ngomong-ngomong kita belum berkenalan loh " kataku tiba-tiba teringat


" Sudah " jawabnya singkat, aku pun berpikir sebentar mencerna maksud perkataannya lalu berseru kencang


" Hei .... itukan hanya nama keluargaku bukan nama ku " kataku cemberut, ia tidak menoleh sama sekali


" Namaku Cleo, Cleo Cassiopeia  " kataku tersenyum tidak merasa bersalah, ' aku tidak berbohong kan ini Cleo juga namaku ' batinku


Tapi pemuda itu tidak menjawab perkataan ku, aku pun memanggil nya lagi " Hei... " tapi ia tidak menggubris, aku pun semakin berteriak jengkel padanya


" Hei !!! kamu... "


" Curtis.. Curtis Colombain " jawabnya sambil menyarungkan pedangnya lalu menoleh kepadaku .


Sosoknya tersiram sinar matahari sore dari arah belakang, siluetnya terlihat kabur . Aku menutupi mataku sedikit karena silau, sebenarnya pemuda bernama Curtis ini termasuk mempunyai wajah yang tampan tapi karena  ia selalu bersikap acuh tak acuh dan dingin itu menutupi ketampanannya . Ketampanannya berbeda dengan Albert yang sempurna hingga cenderung memikat siapapun, Curtis ini mempunyai daya tarik sendiri yang membuat orang nyaman dan menjadi diri mereka sendiri ketika bersamanya . Ya... bersamanya aku tak perlu membatasi diriku bersikap sopan sesuai dengan status dan embel-embel seorang putri . Aku masih terbengong ketika Curtis datang mendekat .


" Ayo kembali " ujarnya singkat


" Hei, apa kau tahu kau itu sangat tampan " ujarku serius

__ADS_1


Curtis hanya mengerutkan keningnya merasa aku berbicara omong kosong, lalu berbalik berjalan meninggalkanku aku yang melihat sifat acuh tak acuhnya semakin ingin menggoda . Aku pun melompat turun dari batu yang kududuki lalu berlari kecil mengejarnya .


" Hei Tuan muda Curtis berapa umur mu ?? " tanyaku penasaran . Curtis mengacuhkan ku tetap berjalan lurus seolah tidak mendengar apapun .


" Oh ayolah aku sedang berbicara padamu " sentakku menghalangi jalannya .


" 17 tahun " jawabnya enggan, lalu berlalu melewati ku


" Ah ... baiklah karna aku masih 11 tahun maka aku memanggilmu kakak tampan " seruku spontan


" tidak sopan " gumamnya jengkel


" Oh ayolah aku lelah menjadi gadis penurut, setidaknya aku ingin menjadi diriku saat bersama mu " jawabku pelan


Curtis menghentikan langkahnya karna ucapaku, lalu berbalik menghadap ku sambil bertanya " kenapa ?? "


" Karna kamu terlihat tulus " jawabku sambil tersenyum lalu melanjutkan " Kakak tampan ayo berteman denganku "


Curtis tertegun sejenak, lalu berbalik berjalan meninggalkanku lagi tapi kali ini kurasakan langkah tidak terlalu cepat seperti sedang menungguku menyusulnya . Aku pun tersenyum lalu berlari mengejarnya lagi .


Curtis Colombain adalah seorang kesatria jujur dan pemberani yang membantu Raja Damien berperang, sayang sekali ia hanya karakter lewat yang mati bersama Raja . Paling tidak sekarang aku ingin berteman sungguhan dengannya, memiliki seorang yang tulus padamu tidak akan merugikan bukan ???


Curtis POV


" Apa kau tahu kau itu sangat tampan "


" Karna kamu terlihat tulus "


" kakak tampan jadilah temanku "


Ini di mulai ketika aku sedang pergi mengecek perkebunan di desa Reives seperti biasa, aku selalu pergi ke sana setiap hari libur di akhir pekan seminggu sekali untuk melihat dan membuat pengaturan karena hasil perkebunan itulah penompang kehidupan kami .


Aku pergi menunggang kuda seperti biasanya, ketika sampai di hutan pinggiran ibukota dari kejauhan aku melihat seorang gadis kecil yang duduk sendirian di bawah pohon . Aku mengernyit heran, mengapa ada seorang gadis kecil sendirian di tengah hutan yang sepi ini ?? gadis kecil itu mendongak lalu melambaikan tangannya meminta ku berhenti . Aku menghentikan kudaku agak jauh darinya, gadis kecil itu berlari menghampiriku sambil tersenyum . ' Ah... cantik ' terlintas di pikiranku tiba-tiba lalu mengutuknya sendiri .


Gadis kecil itu meminta tumpangan ke pusat ibukota, ketika aku bertanya kenapa ia sendirian gadis itu justru berbohong . Aku tidak suka kebohongan apalagi dengan alasan yang sungguh konyol, pergi berpiknik katanya..... dengan gaun mewah  berhias taburan permata dengan sedikit debu yang menempel dan juga dandanan cantik yang sedikit berantakan tapi tetap terlihat seperti akan menghadiri sebuah pesta yang penting . Aku berbalik akan pergi tak memperdulikannya .


Gadis itu terkejut dengan respon ketidak pedulianku, berteriak meminta ku berhenti lagi aku menoleh melihat apa lagi maunya . Gadis kecil itu berlari menghampiri sampai mukanya memerah lalu mengomel tentang prilakuku, huh... terlihat lucu dan imut tak pernah ku temui gadis bangsawan yang asal-asalan sepertinya . Aku menyatakan kalau ucapannya bohong, ia sedikit terkejut aku berbicara langsung ( no filter ) lalu cengengesan seperti tidak bersalah lalu berbicara panjang alasan bisa ada disini yang kupahami dengan singkat bahwa ' ia kabur ' . Aku mengerutkan dahiku sedikit aneh, gadis kecil ini terlihat seperti gadis kecil baik-baik . Lalu aku bertanya dari keluarga bangsawan mana asalnya, aku tidak ingin terlibat masalah yang cukup merepotkan . Gadis kecil itu terlihat cukup ragu-ragu untuk menjawab, aku berfikir bahwa ia tidak akan mau mengungkapkan identitasnya jadi aku beranjak pergi untuk tidak terlibat lagi . Siapa yang tahu gadis itu mengejarku dan mau mengatakan identitasnya .


Bangsawan Cassiopeia...


Sial.. aku tidak ingin terlibat dengan keluarga itu, siapa yang tidak tahu jika bangsawan Cassiopeia adalah bangsawan kalangan atas yang keturunannya menjadi Raja di kekaisaran ini sehingga pengaruhnya sangat kuat . Tapi jika difikirkan lagi jika bukan karna ia kabur dari rumahnya, keluarga Cassiopeia tidak akan membiarkan putra-putrinya ada di tengah hutan sendiri ini . Gadis itu yang melihatku terus menatapnya intens berfikir bahwa aku tidak percaya lagi pada ucapannya dan ia berteriak cemas bahwa ia sedang tidak berbohong .


Aku menghela nafas, lalu menjelaskan bahwa aku sedang tidak menuju ke arah ibukota, lalu aku menunjukkan arah yang benar untuk ke sana dan ketika ia mendengarnya, aku mendengar gadis itu mengumpat lalu menggerutu pelan . Aku terkejut dengan sikapnya, di akademi kekaisaran ada seorang senior yang berasal dari keluarga Cassiopeia juga tapi ia terkenal dengan sifat yang anggun dan sombong, tidak seperti gadis kecil di hadapanku ini yang tidak memikirkan citranya sendiri . Gadis kecil itu juga merengek agar membiarkan ia mengikuti ku dulu lalu saat aku kembali nanti bersamanya juga ke ibukota . Sejujurnya aku enggan membawanya bersama ku, tapi ketika melihat penampilannya yang sedikit berdebu dan berantakan ditambah dengan mata berkilau yang menatapku penuh harap itu aku tak bisa mengatakan apapun lagi . Akhirnya aku menyerah lalu membawanya bersamaku ke perkebunan .


Di sepanjang perjalanan ia mengoceh bertanya ini itu, kadang ku tanggapi kadang juga tidak . Ketika kami sampai di desa Reives ia menjadi semakin antusias seperti anak kecil tidak terlihat sedikitpun ia berasal dari bangsawan kalangan atas . Gadis kecil itu juga berkata bahwa ini pertama kalinya ia keluar rumah ketika aku mencoba menegur sikapnya, aku tertegun berfikir apakah semua keluarga bangsawan besar seketat itu terhadap anak-anak mereka ?? akhirnya kuputuskan tetap diam dan membiarkannya melakukan apapun sesuai keinginannya . Gadis itu menyapa setiap penduduk desa dan pekerja perkebunan yang kami lewati, ia terlihat senang dan tidak canggung sama sekali . ' sangat cantik ' batinku .


Kami sampai di villa sederhana milik keluargaku hanya tinggal villa dan perkebunan kecil inilah yang di tinggalkan oleh mendiang ayahku, sekarang villa ini dan juga perkebunan di urus oleh Pak Lin aku hanya mengeceknya sesekali  . Pak Lin adalah seorang pelayan tua yang setia pada keluarga kami meskipun kebangsawanan kami telah jatuh, ia tetap merawat dan menjaga tempat ini meskipun aku dan keluargaku sudah pindah ke ibukota . Aku turun dari kuda lalu menyapa Pak Lin seraya berlalu masuk ke dalam villa, tiba-tiba aku mendengar gadis kecil itu berteriak aku menoleh untuk melihat ia yang mengomel karena tak bisa turun dari kuda . Aku merasa itu sedikit menggemaskan, jadi aku membiarkannya di sana tanpa membantu berbalik masuk ke dalam villa dan memerintahkan Pak Lin untuk melayani dan mengurus gadis kecil itu . Dari dalam villa aku masih mendengar omelannya akan sikapku membuatku tersenyum kecil, lalu aku berjalan ke atas untuk berganti pakaian sederhana lalu turun kembali ke bawah . Di ruang tamu aku melihat Pak Lin yang menungguku sambil membawa buku akuntansi perkebunan , aku duduk di sofa dan mulai memeriksa dengan teliti setiap angka dan catatan di buku itu sesekali aku bertanya pada Pak Lin tentang keadaan perkebunan .


Terdengar suara sepatu yang menuruni tangga kayu, aku mengadah melihat gadis kecil itu yang turun ke meja makan dengan mengenakkan pakaian sederhana khas gadis desa Reives, Ah jika saja perhiasan mewah itu tidak di gunakan maka ia akan menjadi gadis desa tercantik yang pernah di lihatnya . Aku kembali memfokuskan diriku ke buku akuntan di depanku dan terus memberikan beberapa arahan dan masukkan ke Pak Lin, kurasakan gadis kecil itu yang sesekali melirik ke arahku tapi tak kuperhatikan . Selesai dengan Pak Lin, aku pun menghampiri nya ia mendongak menatapku dengan sedikit remah roti di pipinya . Aku mengerutkan alisku terganggu dengan noda kecil yang ada di pipi putihnya, ingin rasanya kuusap agar ia menghilang dari wajah cantik itu tapi aku segera sadar bahwa aku tidak bisa melakukannya . Akhirnya aku berbalik pergi sambil memberitahunya untuk melakukan apapun sesukanya dan kita akan kembali ke ibukota di sore hari, ada sesuatu yang mengganjal di hatiku yang tidak kuketahui apa penyebabnya .


Akhirnya aku memutuskan untuk pergi berlatih pedang di sungai belakang villa, aku sangat menyukai seni beladiri baik permainan pedang, memanah, ataupun beladiri tangan kosong . Aku termasuk yang terbaik di akademi kekaisaran jika itu tentang militer, yah... kalian bisa menyebutnya sebagai warisan dari ayahku yang seorang prajurit kekaisaran . Hanya saat berlatih beladiri lah aku merasa tenang dan aman, hal-hal yang mengganjal tadi pun tak kurasakan lagi . Aku berlatih sepanjang hari hingga tak kurasakan sudah senja sampai suara langkah kaki mengganggu ku, aku berbalik melihat Pak Lim bersama gadis kecil itu lagi menuju kemari . Gadis kecil itu tersenyum cerah sambil melambaikan tangannya kemari .


Deg

__ADS_1


Kembali perasaan mengganjal ini datang lagi fikirku . Pak Lim memberi hormat lalu pergi, gadis itu mendekat dan duduk di batu besar tepi sungai sambil mengajukan obrolan ringan .


" Apa yang sedang kau lakukan di sini ?? " tanyanya


" Berlatih " jawabku singkat lalu berusaha untuk melanjutkan latihanku tapi tetap tidak fokus .


" Wah kau bisa beladiri rupanya, apa kau juga seorang murid di akademi kekaisaran " tanyanya semakin antusias


" Hm " gumamku, aku sungguh tak bisa konsentrasi hingga gerakanku kacau .


" Ngomong-ngomong kita belum berkenalan loh " katanya tiba-tiba


" Sudah " jawabku singkat tanpa berpikir karena sekarang aku sedang bingung dengan diriku sendiri yang tidak mampu mengingat gerakan pedang apapun


" Hei .... itukan hanya nama keluargaku bukan nama ku " katanya cemberut


Aku tetap tidak menoleh, berusaha memperbaiki teknikku yang sudah hancur dari tadi untunglah gadis kecil itu tidak tahu beladiri atau aku akan mempermalukan diriku sendiri .


" Namaku Cleo, Cleo Cassiopeia  " katanya sambil tersenyum manis . Aku diam tidak menanggapinya, aku berfikir seharusnya kita tidak bisa sedekat ini .


" Hei... " panggilnya . Aku masih bingung akan menanggapinya atau tidak .


" Hei !!! kamu... "  baiklah ia terlihat mulai kesal


" Curtis.. Curtis Colombain " jawabku singkat sambil menyarungkan pedangku menyerah untuk berlatih lagi lalu menoleh ke arahnya .


Aku berjalan menghampirinya, hendak mengajak untuk kembali ke villa untuk bersiap ke ibukota . Kulihat ia terbengong sambil menatapku, 'sangat lucu' pikirku menarik keatas sedikit sudut bibirku .


" Ayo kembali " kataku


" Hei, apa kau tahu kau itu sangat tampan " ujarnya tiba-tiba


Deg


Apa gadis kecil ini bercanda ?? bagaimana bisa ia berbicara langsung seperti itu kepada pria yang baru di temui nya . Aku berbalik berjalan duluan mencoba menyembunyikan diriku yang malu hanya karena ucapan gadis kecil di belakangku .


" Hei Tuan muda Curtis berapa umur mu ?? " tanyanya sambil berlari mengejarku . Aku memperlambat langkahku tapi tetap tak berhenti .


" Oh ayolah aku sedang berbicara padamu " katanya menghalangi jalanku


" 17 tahun " jawabku cepat-cepat, lalu berlalu melewatinya . Aku ingin cepat sampai villa agar gadis kecil itu tidak semakin membuatku salah tingkah .


" Ah ... baiklah karna aku masih 11 tahun maka aku memanggilmu kakak tampan " ujarnya spontan


" tidak sopan " gumamku malu sambil mengerutkan kening


" Oh ayolah aku lelah menjadi gadis penurut, setidaknya aku ingin menjadi diriku sendiri saat bersamamu " jawabnya pelan


Aku menghentikan langkahku, ' apa ia sedih ' pikirku, lalu berbalik menghadap sambil bertanya " kenapa ?? "


" Karna kamu terlihat tulus " jawabnya tersenyum polos


" Kakak tampan ayo berteman denganku " katanya . Aku berbalik berjalan pergi .

__ADS_1


Deg


Sial...!!! aku tak tahan lagi . Apa wajahku memerah ?? Ah..... apa yang sedang ku pikirkan ini !!! Tidak mungkin kan aku menyukainya ?????


__ADS_2