
Kini tersisa hanya kami berdua yang masih di meja makan, Curtis melihat gadis kecilnya yang menatap lurus ke arah lain tanpa melirik sedikitpun padanya . Curtis pun menyadari jika gadis kecilnya sekarang sangat marah, mungkin ia tersinggung akan perkataan Curtis tadi yang seolah menuduhnya .
Curtis pun menghela nafas kasar, ia mengendurkan ekspresinya lalu menyeret kursi kedepan untuk berada di samping Cleo . Ia pun meraih tangan Cleo pelan, kali ini gadis kecilnya tak menepis tangannya seperti tadi .
" Maaf, aku membentakmu " ujar Curtis pelan
Cleo menoleh untuk menatap remaja pria di sampingnya, raut wajahnya masihlah datar dan ekspresinya masih dingin tak seperti orang yang meminta maaf . Tapi di sorot matanya yang biasanya tajam kini tersirat ia tengah menyesal, Cleo pun membuka mulutnya bertanya .
" Apa maksudmu dengan kata-kata ' kau bercanda ' tadi ?? " tanya Cleo
Curtis terdiam sejenak, ia tengah merangkai kata-kata yang layak untuk tidak menambah kemarahan gadis kecilnya .
" Apa kau tahu berapa nilai kepingan emas itu jika di tukar dengan barang ?? " tanya Curtis pelan
" Aku tak tahu " kataku langsung
" Hah .... perkerja perkebunanku di bagi menjadi 3 kelas . Pelayan utama, pekerja tetap, dan pekerja harian . Pelayan utama dan pekerja tetap di gaji setiap bulannya sedangkan perkerja harian mereka akan mendapat upah tiap musimnya . Pelayan utama seperti para pengawas kebun pun hanya di gaji 10 koin perunggu tiap bulannya, sedangkan seseorang seperti Pak Lin yang tangan kananku di gaji 20 koin perunggu " jelas Pak Lin
Aku terdiam mendengar penjelasan Curtis, kini aku menyadari apa masalahnya . Bagaimana mungkin aku tak paham akan makna tersirat dari perkataannya, 1 koin emas bernilai 1000 perunggu . Sedangkan tadi aku memberi mereka paling tidak 10 koin emas, yang senilai dengan upah 80 tahun pekerjaan mereka . Pantas saja mereka kaget dan ketakutan ketika melihatnya, mereka tak pernah membayangkan akan menerima uang yang setara dengan berkerja untuk seluruh hidupnya .
( 1 batang emas \= 10 koin emas
1 koin emas \= 20 koin perak
1 koin perak \= 50 koin perunggu
1 koin perunggu \= 100 koin tembaga )
Aku menunduk menolak menatap mata Curtis yang kini tengah mengawasiku . Curtis yang kini melihat gadis kecilnya menyadari kesalahannya pun tak menjelaskan lebih rinci untuk memojokkan Cleo .
" Aku tak tahu, aku hanya merasa memberikan uang lebih masuk akal dari pada permata " cicitku kecil
Curtis mengernyitkan dahinya bingung, " apa pelayan kediaman Cassiopeia menerima permata sebagai hadiah ?? " tanya Curtis sedikit jengkel
" Aku tak tahu, Deenna yang mengurusnya " jawabku " tapi aku hanya punya perhiasan, permata, mutiara, dan koin emas . Jadi kuputuskan membawa koin emas saja yang paling murah, aku hanya tak menyangka jika ... " jelasku semakin pelan lalu terputus
Curtis mengernyitkan alisnya dalam-dalam, ia sungguh tak mengira bahwa kekayaan bangsawan atas akan segini banyaknya . Bahkan seluruh harta keluarganya saat ini pun jika di uangkan tak akan lebih banyak dari sekantong koin yang sekarang gadis kecilnya bawa, Curtis menghela nafas kasar sambil menatap gadis kecilnya yang kini tengah menunduk menatap jarinya yang saling terpilin . Curtis pun berfikir ' pantas saja para putra dan putri bangsawan itu selalu angkuh dan sombong, mereka akan memandang rakyat jelata sebagai sesuatu yang kecil '
Curtis mengulurkan tangannya meraih dagu gadis kecilnya, mengangkatnya untuk menatap padanya . Cleo mengadah menatap wajah Curtis di hadapannya, wajahnya yang tegas, tampan, hidung yang tinggi, rahang yang kuat, alis pedang disertai sorot mata abu-abu yang tajam .
" Maaf " cicitku kecil
Curtis terkejut lalu ekspresi melunak dan sorot matanya melembut, ' Ya ... mau bagaimana pun bangsawan itu, yang pasti gadis kecilnya berbeda ' ujar Curtis dalam hati .
" Mari lupakan, ayo makan " ujar Curtis sambil menatapku
Aku tersenyum senang lalu mengangguk, aku memasukkan kembali koin-koin itu ke dalam kantong dan menyikirkannya ke tepi . Lalu aku bangkit mengambil kue yang menurutku sesuai dengan selera Curtis lalu menyajikannya di piring Curtis .
" Kakak tampan, cobalah ini . Roti kayu manis dengan krim di dalamnya, aromanya sangat enak dan tak terlalu manis " ujarku pada Curtis
Curtis pun menerimanya dan mencicipi roti itu sedikit lalu mengangguk singkat sambil bergumam " Mmmm... boleh juga " komentarnya singkat
Aku terkikik mendengarnya, ia berkata ' boleh juga ' tapi ekspresi di matanya sangat berlainan . Aku pun tersenyum sambil menatap wajah datar Curtis yang sedang memakan kue dengan hati-hati, aku bangkit menuangkan teh bunga yang sudah di panaskan ke cangkir . Teh panas di cangkir uapnya mengepul, segera aroma bunga yang lembut memenuhi ruang makan .
Curtis menoleh ke arahku seolah bertanya ' teh apa itu ?? '
" Ini teh bunga, aku sangat menyukainya . Spesialis kediamanku, kau tak akan menjumpainya di mana pun " ujarku bangga
Aku meletakkan cangkir teh di hadapan Curtis, " Cobalah " kataku
Curtis mengangkat cangkir teh itu dan menyesapnya ringan, aroma bunga segera menyebar ke dalam mulutnya meninggalkan rasa manis yang lembut dan ringan .
" Bagaimana ?? apa musim semi sedang bermekaran di mulutmu ?? " tanyaku sambil terkikik senang
Curtis termenung mendengar umpamaan gadis kecilnya, melirik tawa kecil di mulut manisnya . Ekspresinya pun melembut, sudut mulutnya terangkat .
" Uhm " gumamnya singkat
__ADS_1
lalu kembali menikmati roti di piringnya, sambil menunduk menyembunyikan kasih sayang di matanya yang muncul . Cleo pun berhenti menggoda Curtis lalu menikmati sandwich kesukaannya sambil terus berbincang .
" Kakak tampan, apa yang akan kau lakukan nanti ?? " tanya Cleo
" menemanimu " jawab Curtis singkat
" Eh ..!!??? " seruku terkejut
Curtis mendongak menatap Cleo lalu bertanya " apa yang kau inginkan ?? "
" A .. aku ?? tunggu sebentar biar kupikirkan " ucapku terbata karena terkejut
" Uhm ... kita tak bisa bermain jauh-jauh karena aku harus kembali sebelum malam hari " gumamku sambil berfikir
Curtis terkejut mendengar gadis kecilnya yang tak bisa tinggal lama, lalu memikirkan ia yang kembali larut malam kemarin membuat sesuatu terlintas di pikirannya ' apa ia ketahuan ?? '
" Kenapa ?? " akhirnya Curtis tak bisa menahan rasa penasarannya dan bertanya
" Ah ... kemarin aku pulang terlalu malam, membuat semua orang khawatir . Jadi mereka mendobrak pintu perpustakaan karena mengira aku pingsan di dalam hahahaha " jelasku lalu tertawa kencang
Curtis mengernyit dahinya tak suka, ia selalu berfikir ' apa orang tuanya terlalu ketat sehingga tak memperbolehkannya keluar rumah ?? '
Aku yang melihat ekspresi bingung Curtis pun tahu apa yang di fikirkannya, jadi aku langsung berkata menjelaskan
" Tubuhku dari kecil selalu lemah, sehingga keluargaku sangat ketat . Aku tak di ijinkan keluar dari kediaman sebelum dewasa " kataku menjelaskan
Curtis semakin mengerutkan alisnya erat mendengar penjelasanku, aku tahu kini ia tengah khawatir . Jadi aku tertawa kecil melihat ekspresinya yang lucu .
" Aku sudah sehat sekarang, jangan khawatir . Aku hanya perlu menunggu 2 tahun lagi untuk debut di kalangan sosial, setelah itu aku bisa pergi kemanapun " kataku sambil melamun
Curtis terdiam mendengar perkataanku, ia tak bisa berkomentar apapun tentang situasi gadis kecilnya karena ia sadar bahwa setiap pendidikan dan etika yang di terima oleh bangsawan atas sangatlah berbeda dengan bangsawan kecil seperti dirinya . Mereka selalu di tuntut untuk menjadi sempurna setiap saat, jadi kini Curtis hanya bisa membiarkannya melakukan apapun jika berada di sampingnya saat ini .
" Apa yang ingin kau lakukan ?? " tanya Curtis tiba-tiba
" Eh ?? apa yang ingin kulakukan ?? aku tak tahu ... " kataku bingung
" kakak tampan, bawa aku melihat sesuatu yang baru " lanjutku sambil tersenyum
Curtis terdiam melihat gadis kecilnya yang kini tersenyum dengan antusias ke arahnya, mata birunya yang cerah berbinar-binar selayaknya berlian yang indah . Sudut mulutnya naik sedikit, Curtis pun menunduk menatap piringnya untuk menyembunyikan ekspresi yang bocor .
Curtis berdehem kecil, untuk meredakan emosinya . Ia pun menengok ke arah luar jendela, matahari sudah di atas kepala . Ini sudah menandakan sudah tengah hari, jika mengajaknya berkeliling terlalu jauh maka akan terlambat kembali, apalagi Cleo juga mengatakan tak bisa pulang terlalu larut .
" sudah tengah hari, tak bisa terlalu jauh . apa kau keberatan hanya berkeliling desa ?? " tawar Curtis .
" tentu saja tidak, melihat-lihat desa sepertinya menarik juga " kataku senang
" Ehm, ada sungai besar di bawah " ujar
" aku mau ke sana !! apakah bisa memancing ikan ?? " tanyaku penasaran
" Bisa " jawabannya singkat, aku akan bangkit dan berseru senang tapi kata-kata Curtis berikutnya membuat teriakan senangku tersangkut di tenggorokan .
" aku tak punya alat pancing " lanjutnya datar
Aku terduduk kembali lesu, " Ah ..... sayang sekali .... " ujarku cemberut .
Curtis merilik sedikit lalu berkata pelan, " ikan di desa ini sedikit, lain kali kubawa ke tempat lain "
Aku yang mendengar respon Curtis pun tersenyum senang lagi, " sudah ku catat, tak bisa di tarik kembali " kataku
Curtis hanya melirikku datar lalu memakan potongan terakhir kue yang ada di piringnya, lalu menghabiskan separuh teh bunga yang tersisa di cangkir .
" Kau sudah selesai ?? " tanyanya padaku
Aku tersadar dari lamunanku yang menatap Curtis sejak tadi, aku pun langsung memasukkan suapan terakhir sandwich ke mulutku lalu mengunyahnya sedikit lalu meneguk banyak-banyak teh agar makanannya cepat turun .
" Sudah ... " ujarku tersenyum sambil mengelap kasar mulutku dengan lengan gaunku yang lebar .
__ADS_1
Curtis mengernyitkan dahinya lalu bergumam " tak sopan "
Aku hanya cengengesan mendengar perkataannya, kami pun bangkit . Aku meraih kembali kantong uang di sudut, Curtis melihatnya dan aku menatapnya seolah berkata ' kenapa ?? '
" Penduduk desa, tak akan punya cukup kembalian jika kau menggunakan koin itu " katanya datar
Aku pun tersadar, " Ah .... benar juga .. lalu bagaimana ?? " tanyaku bingung
" Pakai uangku " ujarnya singkat
" Eh .... tapi " belum juga aku selesai berkata, Curtis sudah melemparkan tatapan tajamnya . Jadi aku pun mengalah dengan syarat
" Kalau begitu, kakak tampan kau simpan uangku . Jadi potong dari situ setiap pengeluaranku nanti dan selanjutnya " ujarku riang
Curtis mengernyitkan dahinya lagi seolah keberatan, tapi aku segera menjejalkan kantong putih itu ke tangan Curtis lalu memasang ekspresi cemberut .
" terimalah ....!!! lagipula aku tak bisa membawanya kembali " rengekku
Kali ini Curtis pun menghela nafas menyerah, aku tersenyum senang setelahnya . Aku meraih setoples kue kering di atas meja, lalu meraih tangan Curtis dan berjalan keluar dari villa . Pak Lin dan Elis nampak tak pergi sedari tadi mereka menunggu di halaman agak jauh dari villa, sepertinya mereka khawatir kami bertengkar .
Ketika Pak Lin dan Elis melihat kami keluar dari villa bersama-sama mereka bergegas menuju kami, sedari tadi mereka sangat ketakutan cemas tak karuan . Mereka takut sekali akan menimbulkan masalah dari perbuatan mereka, jadi mereka tak bisa pergi begitu saja dengan tenang . Jadi ketika melihat kami keluar bersamaan dengan bergandengan tangan dan suasana yang kembali normal, barulah Pak Lin dan Elis menaruh batu berat yang sedari tadi menindih hatinya .
" Kami akan berkeliling desa, bereskan meja " kata Curtis datar
" Baik Tuan Muda " jawab Pak Lin sopan
" Kuenya jangan dimasukkan ke keranjang lagi, kali bagi-bagi saja dengan keluarga atau pekerja lainnya " sahutku
lalu menoleh pada Curtis " Boleh kan ?? tanganku bisa patah jika aku harus membawanya kembali .. " keluhku
Curtis berdehem pelan tanda mengijinkan, aku tersenyum ke arahnya . Lalu menoleh ke arah Pak Lin lagi
" kue-kue kering di toples kemas untuk kakak tampan bawa pulang, sisanya untuk kalian . Ah ... tolong rapikan keranjang piknik ku ... " kataku
" Terimakasih nona " jawab Pak Lin sopan
Setelah mengarahkan panjang lebar, aku menarik tangan Curtis ke kandang kuda dan tersenyum melambai kecil ke Pak Lin dan Elis .
" Kalau begitu kami pergi dulu ... !! " seruku
.
.
Di kandang kuda, seorang anak laki-laki penjaga kuda sedang beristirahat di sudut . Dia sedang duduk di tanah, badannya ia sandarkan di tiang bambu yang tebal sebagai penyangga, sebuah rumput jerami ia mainkan di bibirnya, matanya terpejam mengadah ke langit yang terik .
Kami berjalan mendekat, remaja itu tersadar seseorang datang ketika mendengar suara langkah kaki yang menapak di atas jerami kering mendekatinya . Ia pun membuka matanya malas, karena ia pikir orang yang datang adalah bibi yang bertugas di dapur hendak mengantarkan makan siang .
Tetapi alangkah terkejutnya ia ketika yang datang justru Tuan Mudanya serta nona tadi, ia tergopoh-gopoh bangun dari tempat bersantainya dan memberikan salam .
" Tuan Muda " sapanya sopan serta menunduk
Aku maju ke depan dan menjejalkan toples kue kering yang kubawa ke tangan bocah kecil di depanku, ia terkejut ketika tiba-tiba sebuah toples makanan di jejalkan ke pelukannya . Bocah laki-laki itu pun mengadah dan menatapku kebingungan .
" Untukmu " kataku sambil tersenyum
" Jangan menolak, Pak Lin dan Elis juga mendapatkannya . Jangan takut, Tuan Muda mu sudah mengizinkan . Itu hadiah yang kujanjikan terakhir kali, terimakasih sudah membantuku " lanjutku cepat-cepat
Bocah terkejut dan tak sempat merespon apapun ketika aku langsung berbicara lagi . Ia masih bingung dan termenung menatap toples penuh kue-kue kecil nan cantik di dalamnya, aku yang melihat bocah laki-laki itu tak menolak pun tersenyum puas .
Aku menoleh menatap Curtis dengan makna, Curtis yang mengerti isyaratku pun maju ke depan .
" Ulurkan tanganmu " perintah Curtis datar
Bocah laki-laki kecil itu masih terkejut dan belum menjawab apapun, tapi ia masih mengulurkan tangannya tanpa sadar . Curtis meraih kantong putih yang tadi ku serahkan padanya di dalam kantong mantelnya . Ia pun mengambil sekeping koin emas dan menaruhnya di telapak tangan bocah laki-laki kecil itu .
Bocah itu terkejut hingga matanya melotot, mulutnya terbuka sangat lebar hingga kau bisa memasukkan sebuah telur ke dalamnya . Tangannya yang memegang koin emas itu gemetar, ia masih bingung akan apa yang terjadi .
__ADS_1