Merubah takdir ' Mawar Putih '

Merubah takdir ' Mawar Putih '
BAB 27


__ADS_3

' Ceklek '


Aku menarik tanganku yang berada di bawah kolong rak buku, lalu bangkit berdiri sambil menepuk-nepuk sedikit gaunku yang kotor terkena debu . Aku melihat sebuah celah di antara 2 rak buku yang merupakan pintu masuk dari lorong rahasia sebelumnya, aku mendorong rak buku itu sedikit hingga terpampang lorong yang gelap gulita di baliknya .


Aku berbalik ke arah sofa besar di belakang dan meraih keranjang piknik besar penuh makanan di tangan kanan dan tangan kiri meraih kotak biolaku, ketika tanganku mengangkat keranjang tersebut aku hampir menjatuhkannya karena sangatlah berat .


" Apakah ini berisi batu ?? kenapa sangat berat ?? mereka pikir aku akan menginap 3 hari di perpustakaan sehingga menyiapkan banyak sekali makanan ... " gerutuku pelan


Dengan susah payah aku mengangkat keranjang piknik itu lagi dan mengaitkannya ke lenganku membuatku terhuyung sedikit ke kiri . Setelah membawa semua keperluanku, aku berjalan ke arah lorong gelap tersebut . Ketika kakiku menginjak lantai lorong tersebut, seketika lampu kristal di dinding menyala serentak menerangi hingga ke ujungnya . Aku berjalan terus kedepan dan pintu rahasia di belakangku otomatis menutup dengan sendirinya .


Aku sedikit menoleh kebelakang sejenak, ' sama seperti sebelumnya ' pikirku . Aku pun kembali melangkah ke dalam lorong tersebut . Aku berjalan lama di sepanjang lorong tersebut, peluh mulai menetes di dahiku dan tangan ku yang membawa keranjang piknik juga terasa mati rasa . Aku mengumpat sepanjang jalan yang tidak terlihat ujungnya sama sekali sedari tadi .


" Sial !!! kenapa belum sampai juga !!! " teriak ku kesal dan bergema di sepanjang lorong yang hening itu


Aku duduk sebentar bersandar di dinding lorong yang dingin, wajahku memerah dengan keringat yang menetes deras . Napasku ngos-ngosan, aku meraih keranjang piknik di sebelahku lalu membukanya untuk mencari jus buah atau teh bunga yang ada di dalamnya . Aku meneguk kandas jus jeruk yang ada di termos, ' Hah .... ' aku membuang napasku sedikit lega dan melemparkan kembali termos kosong itu ke dalam keranjang .


Aku meraih saputangan sutra di dalam kantung gaunku dan mulai menyeka perlahan keringat di dahiku, aku menunggu  sebentar menenangkan nafasku yang memburu .


' Apa Curtis sudah menungguku ?? ' pikirku


' Atau jangan-jangan ia lupa janjinya, awas saja jika ia berani melupakannya . Kakak tampan jangan salahkan aku jika aku menghancurkan wajah tampanmu itu !! ' pikirku mengembara


Hah ....


Aku menghela nafas ringan menarik kembali semua pikiranku yang liar, lalu bangkit berdiri lagi untuk melanjutkan perjalanan . Aku meraih keranjang berat itu lagi dan kotak biolaku lalu berjalan kembali menyusuri lorong yang sangat panjang tersebut .


Lenganku terasa seperti akan patah menompang beratnya keranjang piknik ketika mataku melihat ujung lorong dengan tangga besi yang menempel di dindingnya, aku segera menarik kembali rasa putus asaku dan mulai mempercepat langkah kakiku ke tangga tersebut .


Hah !!!


Aku membuang nafasku kasar dan meletakkan semua barangku ke lantai lalu memijit sedikit lengan kananku yang sakit sambil mengadah melihat pintu kayu di atas tangga . Setelah lenganku tak seberapa sakit, aku meraih kotak biolaku yang lebih ringan untuk di bawa dan mulai memanjat tangga besi tersebut perlahan . Ketika aku sampai di atas, aku mendorong sedikit pintu kayu kecil itu dengan kotak biola di tanganku .


' Klik '


Suara kunci terbuka otomatis, lalu aku mendorong lebih kuat hingga pintu kayu seukuran badan manusia dewasa itu terbuka . Aku menjulurkan kepalaku keluar lebih dulu, lalu melemparkan kotak biola di tanganku ke lantai kayu reot di depan sehingga menimbulkan suara yang cukup keras .


Brak


Curtis POV


Setelah melalui sebulan penuh aktivitas konstan yang terasa membosankan sekali  kini telah tiba akhir bulan, waktu yang di janjikan bertemu kembali bersama dengan gadis kecilnya . Curtis sengaja berangkat sepagi mungkin ketika matahari baru terbit untuk menunggu gadis kecilnya agar ia tak merasa ketakutan sendiri di rumah kosong tersebut ketika aku belum datang menjemputnya .


Ibu pengasuh tua ialah satu-satunya pelayan yang tersisa di kediaman bangsawan Colombain mengandalkan balas budi pada kebaikan Nyonya  yang bertahan sekarang, ibu pengasuh mengernyit heran pada Tuan Mudanya yang sudah berpenampilan rapi di pagi buta dimana semua pelayan kediaman manapun baru saja bangun .


" Tuan Muda ?? " tegur ibu pengasuh tua itu ragu

__ADS_1


Aku menoleh melihat seorang pelayan tua yang sudah melayani keluarga ini sepanjang hidupnya hingga sekarang, raut wajahnya yang heran dan ragu membuat keriput di wajahnya menjadi semakin jelas . Kadang aku sering berfikir apakah layakkah untuk membalas budi dengan menyerahkan sepanjang hidupnya untuk melayani keluarga bangsawan yang sudah jatuh ini?? aku pun mengangguk singkat padanya lalu berkata perlahan


" Aku ada urusan mendadak jadi akan berangkat sekarang, tidak perlu membangunkan ibu " ujarku pelan


" Baik Tuan Muda " sahut ibu pengasuh tua itu pelan


Curtis pun bergumam singkat lalu berbalik akan pergi ketika ibu pengasuh tua itu memanggil lagi .


" Tuan Muda, biar pelayan ini menyiapkan sarapan sebentar " kata ibu pengasuh tua itu khawatir mengingat Tuan Mudanya akan pergi keluar dengan perut kosong .


" Tidak perlu repot, aku bisa makan di perkebunan . Jaga ibu dan nona sampai aku kembali " kataku singkat


Lalu aku berbalik segera keluar dari ruangan menuju ke halaman belakang untuk mengambil kuda . Ibu pengasuh tua hanya menemani dan melihat kepergian Tuan Mudanya, aku yang merasakan perlakuan tulus dari wanita tua tersebut sejak aku kecil hingga sekarang membuatku mempercayakan sepenuhnya untuk urusan mengurus ibu serta adik perempuanku satu-satunya ke ibu pengasuh tua selama aku tidak berada di rumah . Aku pun juga sudah menganggapnya keluargaku sendiri bukan orang asing sehingga aku akan bicara dengan nada ramah dan sedikit lebih banyak padanya dari pada orang lain  .


Curtis menunggang kuda meninggalkan kediaman keluarga Colombain dan melewati jalan setapak utama rumah-rumah di ibukota . Pagi hari buta para rakyat jelata sedang sibuk mendirikan kiosnya untuk berdagang di sisi jalanan, serta pemandangan cerobong asap rumah-rumah penduduk yang mulai mengepul menandakan para wanita di setiap rumah sedang memasak makanan untuk sarapan bagi keluarganya . Curtis memacu kudanya perlahan menikmati udara pagi dan melihat aktivitas orang-orang di pagi hari .


Ketika matahari mulai membumbung tinggi, gerbang kota ibukota kekaisaran terlihat di kejauhan . Para prajurit kota mulai membuka pintu gerbang dan berbaris untuk memeriksa orang-orang yang sudah menunggu di dalam atau di luar gerbang yang akan masuk atau keluar ibukota . Curtis memacu kudanya melewati rakyat jelata atau pedagang yang sedang mengantri untuk di periksa, dan ketika sampai di depan petugas ia berhenti sejenak untuk menyerahkan token bangsawan Colombain di tangannya . Setelah petugas itu mengenalinya barulah aku memacu kembali kuda keluar meninggalkan ibukota memasuki jalan setapak di tengah hutan .


Udara pagi hari di tengah pepohonan yang rindang hutan di luar ibu kota sangat dingin tapi sama sekali tidak menggangguku sedikitpun, aku memacu kudaku lebih cepat masuk ke dalam hutan yang masih sepi . Ketika dari arah kejauhan di depan sudah nampak sebuah rumah tua, aku mulai memperlambat laju kudaku . Rumah tua bobrok inilah sebagai penanda bahwa kita sedang berada tepat di tengah-tengah hutan belantara, dan para pedagang yang melewati jalan pintas  menjadikan ini sebagai patokan .


Aku berhenti di depan sebuah gerbang sederhana penuh karat di setiap permukaannya, aku melompat dari atas kudaku lalu berjalan maju sambil menarik tali kendali kuda . Aku mendorong gerbang tidak terkunci tersebut lalu berjalan memasuki halaman depan yang penuh dengan rumput dan tanaman liar di sisi kanan dan kiriku, aku berjalan ke arah berada depan lalu mengikat tali kuda di sebuah tiang kayu yang sudah keropos di makan rayap .


Setelah memastikan kuda itu diam merumput dengan tenang, aku berjalan memasuki rumah tua . Aku mendorong dengan hati-hati pintu yang ku pasang ala kadarnya terakhir kali, aku memasuki ruang tamu berdebu tebal di setiap benda yang ada di dalamnya . Terakhir kali hal-hal di sini tidak terlalu jelas karena malam hari dan hanya mengandalkan sebuah lentera minyak kecil sebagai penerangan .


Yang kuketahui sejak aku kecil rumah ini sudah kosong sejak lama, dan tak ada seorangpun yang mencoba mengklaim atau menempati rumah ini . Aku berkeliling di setiap lemari, rak, laci dan nakas di ruang tamu mencari-cari sebuah petunjuk tentang siapa pemilik rumah tua ini tapi nihil tak ada satupun bingkai foto atau berkas penting yang tertinggal . Seolah-olah mengatakan rumah itu hanyalah rumah tua kosong yang tidak memiliki pemilik, memang tidak ada seorangpun yang tahu atau penasaran dengan asal usul rumah bobrok ini sejak lama .


Begitupun juga dengan aku, hingga saat gadis kecil itu tiba-tiba muncul dan mengatakan bahwa ada jalan rahasia yang terhubung dari rumahnya ke rumah tua ini . Aku mulai penasaran siapa pemilik rumah ini, kenapa bisa ada jalan rahasia yang terhubung ke kediaman bangsawan besar, kalaupun rumah tua ini juga milik keluarga Cassiopeia mengapa tidak ada satu petunjuk pun yang mengarah padanya apalagi membangun rumah di wilayah ibukota harus dengan persetujuan Kerajaan langsung . Seperti ada sebuah dinding besar dan tebal yang menghalangi kebenarannya, aku pun tahu jika bangsawan Cassiopeia adalah bangsawan besar dan berkuasa tapi semua orang tahu Yang Mulia Raja Damien ialah Raja yang tegas dan adil, ia sama sekali tidak menoleransi kesalahan walaupun itu berasal dari keluarganya sendiri .


Aku menatap jendela dengan kaca yang berdebu menghadap halaman, seolah-olah aku sedang memandang keluar halaman menembus kaca yang buram tersebut padahal aku tenggelam dalam pikiranku sendiri hingga terdengar pergerakan dari arah kamar tidur .


Klik


Aku menoleh ke arah kamar tidur yang di dalamnya terdapat pintu masuk dari jalan rahasia tersebut, sudut mulutku naik dengan perlahan memikirkan gadis kecilku sudah datang . Aku berjalan ke arah pintu kamar tidur yang tertutup, ketika tanganku meraih gagang kunci terdengar suara keras dari arah dalam .


Brak


Aku terkejut dan tanpa berfikir dua kali aku segera menghempaskan pintu itu  keras-keras hingga terbuka lebar, lalu aku segera merengsek masuk ke dalam . Aku mengedarkan pandanganku ke dalam ruangan dan mataku segera tertuju ke sesosok gadis kecil yang tengah duduk di tepi lubang jalan rahasia, kakinya masih bergelantungan di lubang pintu jalan rahasia . Gadis kecil itu memiliki ekspresi terkejut di wajahnya setelah  melihat jika aku yang datang, ia pun segera menghela nafas lega lalu mulai mengomel lucu .


" Kakak tampan, kau membuatku terkejut sampai mati " serunya dengan ekspresi cemberut


" Uhm " gumamku ringan


Aku masih terpaku menatap penampilan kasual dari gadis kecil itu, ia bangkit berdiri dengan ceroboh tapi aku tak bisa mengalihkan pandanganku sama sekali darinya . Nampak jelas sekarang penampilan seutuhnya ia memakai gaun sederhana berwarna biru langit namun masih tetap indah dengan butiran mutiara yang dijahit dengan cermat, aku sadar untuk sebuah gaun kasual ini juga merupakan gaun yang mahal . Tapi jika dibandingkan dengan mewah terakhir kali di pakainya maka ini merupakan perbandingan antara langit dan bumi .


Ia berjalan ke arahku sambil tetap menggerutu tak jelas, aku hanya terfokus pada setiap tingkah lakunya yang menyedot semua perhatianku sehingga apapun di sekitar tak lagi penting . Setiap langkah kakinya membuat surai rambut hitam legamnya bergoyang ringan menyapu kulit wajah dan lehernya putih cerah hingga kontras sekali warnanya . Pandanganku tetap terpaku pada wajah cantik gadis kecilku hingga ia sampai di hadapanku dan berkacak pinggang kesal .

__ADS_1


" Tuan Curtis !! apa kau mendengarku ??!! " serunya kesal


" Uhm " aku bergumam ringan, masih dengan ekspresi datar


" Kau tidak mendengarku, Huh !!! " serunya kesal, lalu tiba-tiba menjadi cerah lagi


" Tapi baguslah kau ada disini, kemari bantu aku !! " katanya meraih tanganku lalu menarikku ke tepi pintu jalan rahasia


" Kakak tampan, bantu aku mengeluarkan keranjang itu dari dasar lubang " katanya lagi sambil menunjuk ke dalam lubang


Aku menunduk melihat ke dalam pintu lubang rahasia, terlihat di dasarnya di bawah anak tangga tergeletak sebuah keranjang piknik yang lumayan besar di atas tanah . Cleo melihatku yang tak bergerak dan tak berbicara khawatir aku menolaknya segera mulai mengeluh dengan sedih .


" Kakak tampan, bantulah aku sekali ini saja ya .... lenganku hampir patah membawanya di sepanjang jalan . Sekarang aku tidak ada tenaga lagi untuk mengangkatnya ke atas " keluhnya di sertai dengan wajah memelas


Aku menatapnya yang sedang berpura-pura menyedihkan di hadapanku ini, tapi tak semua yang di katakannya tidak benar . Bulir-bulir keringat kecil masih bertengger di pelipisnya serta lengannya yang masih kemerahan menandakan bahwa ia memang kesusahan membawa keranjang itu hingga kemari .


Aku mengangkat tanganku lalu menghapus butiran keringat di dahinya dengan punggung tanganku, karena kupikir telapak tangan yang kasar takut menggores wajah putih lembut . Lalu aku bergumam singkat " aku tahu "


Aku pun berjalan ke arah lubang jalan rahasia, aku masuk dan meraih tangga besi yang menempel di sisi dinding dengan sebelah tangan lalu melompat dengan ringan hingga ke lantai dasar . Aku mengambil keranjang piknik di dasar lantai lalu mengangkatnya, ' lumayan berat, apa yang di bawanya ?? ' pikirku sekilas . Aku mulai memanjat dengan sebelah tanganku melewati setiap 2 buah anak tangga sehingga kembali ke atas dalam sekejap .


Cleo yang melihat setiap pergerakanku yang ringan, segera berseru antusias ketika aku sampai ke atas dan menaruh keranjang itu di lantai .


" Kakak tampan, kau sangat keren !!! " serunya sambil tersenyum cerah


Degh


' Manis sekali ' batinku, tapi yang keluar dari mulutku hanyalah gumaman datar " Uhm "


" Kalau begitu aku akan menutup pintu lubangnya lalu kita berangkat " ujarku


Cleo berjalan ke arah lubang rahasia di lantai kayu, lalu menutup pintunya sampai berbunyi ' klik ' . Aku berjalan ke arah karpet penutup yang tersingkap di sisinya dan menutup pintu rahasia yang kini seolah menyatu dengan lantai kayu di sekitarnya . Tak ada perbedaan yang mencolok jika kau tak memperhatikannya dengan cermat, aku menepuk debu yang menempel di tanganku ketika menyebarkan karpet tua tersebut .


Lalu menoleh ke arah gadis kecil yang kini tengah memungut kotak alat musik mewah yang tidak ku ketahui kapan ada di sana mungkin suara keras tadi berasal dari benda itu, gadis kecil itu menoleh melihatku yang menatap kotak musik di tangannya .


" Ini biolaku, aku ingin menunjukkan padamu lagu yang indah " katanya sambil tersenyum manis


" Uhm, ayo pergi " kataku singkat


Lalu berbalik meraih keranjang piknik di lantai dan memimpin keluar dari rumah tua itu, menutup pintu kayu yang rapuh dengan hati-hati agar tidak roboh . Aku berjalan ke arah kudaku di halaman yang sedang beristirahat sambil merumput, aku menaruh keranjang piknik itu di tanah lalu menoleh ke Cleo di belakang berniat membantunya menaiki kuda .


Cleo yang mengikutiku di belakang sedari tadi pun langsung mengerti ketika aku menoleh ke arahnya . Aku akan mengatakan sesuatu ketika kulihat gadis kecilku itu mulai tersenyum misterius, aku mengernyitkan alisku heran .


" Kakak tampan, lihatlah apa yang kepelajari akhir-akhir ini !! " serunya dengan percaya diri di sertai senyum yang bangga dan senang .


Aku menatap sejenak bintang yang berkilauan indah di matanya, wajah cantik nan lembut dengan aura percaya diri menambahkan pesona yang memukau di mataku .

__ADS_1


__ADS_2