Merubah takdir ' Mawar Putih '

Merubah takdir ' Mawar Putih '
BAB 49


__ADS_3

Sepasang kaki kecil menyusuri jalanan yang ramai, sesekali kaki itu nampak melompat-lompat riang menandakan sang empu sedang dalam suasana hati yang baik .


Nampak senyuman indah terus terpatri di wajah cantik nan mungil tersebut, ia berkeliaran ke sana ke mari mengelilingi satu persatu penjual kios makanan kecil yang berderet di tep jalan .


Sesekali bila ada makanan lezat yang menarik untuknya, maka ia akan berhenti guna mencicipi makanan tersebut .


Clea berhenti di sebuah kios yang berjualan roti daging mirip dengan kebab jika di taruh di dunia asalnya, namun roti daging ini hanya berupa roti gandum kasar dan seiris daging sapi kualitas rendah yang sangat... sangat-sangat tipis hingga terlihat transparan nampak serat-serat dan lemak yang sedikit kurang sehat . Lalu roti itu di gulung dan di panggang dengan bara api .


Ini bukan pertama kalinya ia mencicipi hidangan ini, karena ia sudah cukup sering berkeliaran di pasar-pasar pedesaan bersama Curtis . Namun entah kenapa setiap kali bertemu hidangan ini lagi dan lagi selalu membuat air liurku keluar .


Berjalan mendekati kios tersebut lalu ia berdiri bersama dengan pembeli lain yang sedang mengantri, Clea tersenyum lalu memesan sebuah roti daging pada penjual itu . Penjual itu pun tersenyum ramah, lalu meminta Clea menunggu sebentar dengan sopan dan hati-hati mungkin ia takut untuk menyinggungku . Clea pun hanya mengangguk-angguk, bagaimana pun ia yang terakhir datang jadi wajar jika harus menunggu sebentar .


Clea pun mengedarkan pandangannya dengan bosan, ia melihat kios-kios yang sudah di kunjunginya . Kentang panggang, sate daging, keripik daun, jus buah dan yang lain-lain .


Ketika matanya tengah berkeliaran ke segala arah, ada sepasang mata kecil yang tengah fokus memandanginya dengan rasa penasaran . Clea yang merasa ada yang memperhatikannya sedari tadi pun menoleh ke arah tatapan itu berasal .


Clea melihat seorang anak perempuan kecil yang berasal dari rakyat biasa berusia 3-4 tahun berdiri sambil memegang bola kain lusuh di satu tangan sedangkan tangan lainnya tengah di gandeng oleh seorang wanita paruh baya mungkin ibunya yang sedang memilih sayur-sayuran di kios sebelah roti daging . Anak kecil itu tak langsung menoleh ketika aku memergokinya memandangku sedari tadi .


Aku menaikkan sebelah alisku bingung saat balas menatap anak kecil itu, tapi tiba-tiba anak kecil itu tersenyum lebar ke arahku menampakkan deretan gigi susu kecil yang ompong di bagian depan . Sontak hal lucu itu membuatku ikut tersenyum .


Anak itu pun semakin gembira ketika aku menanggapi senyumannya, ia tertawa kecil melompat - lompat sambil menunjuk-nunjuk ke arahku seraya berteriak polos


" Kakak peri ...!! Kakak peri cantik !! "


Suaranya yang gaduh pun sontak menarik beberapa orang yang melihat, mereka melihat anak kecil yang melompat-lompat gembira sambil menunjuk seorang nona muda berjubah yang berdiri di depan kios roti daging .


Orang-orang yang tertarik pun ikut menoleh dengan penasaran ke arahku setelah mendengarkan kata-kata ' kakak peri cantik ' berulang-ulang . Aku segera gelagapan ketika beberapa pasang mata sekaligus menatap bersamaan padaku, segera aku mengeratkan tudung jubahku agar menutupi wajahku . Aku menunduk dalam-dalam menghindari mata orang-orang yang ingin melihat lebih jelas .


Penjual roti daging yang sadar aku merasa risih segera berteriak mengusir orang-orang yang penasaran .


" Bubar ... bubar, jangan lihat lagi !!! Kalian membuat pembeliku tidak nyaman " ujarnya


Para rakyat yang penasaran pun segera bubar kembali ke kesibukannya masing-masing . Aku melempar tersenyum sopan berterimakasih pada penjual roti daging itu, penjual itu pun mengangguk sopan padaku . Dengan sekali pandang, ia sadar aku bukanlah berasal dari kalangan keluarga biasa berdasarkan pada wajahku saja . Tapi ia memilih untuk diam tidak ikut campur, ia hanya berfikir bahwa aku hanya seorang gadis muda keluarga bangsawan yang ingin tahu dunia luar lalu menyelinap keluar dari pengawasan pelayan di rumah .


Mungkin aku bukan satu-satunya, maka dari itu banyak penjual yang diam berpura-pura tidak tahu ketika mereka melihat seorang gadis bangsawan yang keluar seorang diri . Aku pun sadar bahwa ada banyak mata yang curi-curi pandang ketika berpapasan denganku di jalanan, tapi mereka hanya melihat dengan kagum dan tidak berani mendekat .


Aku pun hanya berkeliling di sekitaran jalan di dekat bangunan pengawas tempat acara, agar tidak terjadi hal-hal yang diluar kemauanku . Aku tidak bodoh dan terlalu nekat untuk menukar keselamatanku dengan makanan enak .


" Nona , mohon maafkan atas perkataan lancang putriku "


Aku kembali fokus setelah mendengar seseorang berbicara di sebelah . Aku menoleh ke arah suara itu, dan melihat seorang wanita paruh baya yang tengah menunduk dalam-dalam . Aku melirik di sebelahnya seorang anak perempuan kecil tadi masih melihatku dengan penasaran dan mata polos yang berbinar kagum, wanita paruh baya yang tak mendengar sahutan pun melirik dengan bingung padaku yang menatap ke sampingnya lalu ia segera menoleh ke arah aku menatap dan melihat putri kecilnya masih menatapku dengan penasaran disertai cengiran bahagia .


Wanita paruh baya itu melotot ketakutan, ia bergegas meraih kepala anaknya dan menekannya agar menundukkan kepalanya ke arahku . Dan dengan suara yang bergetar ia mengulangi apa yang di ucapkannya tadi .

__ADS_1


" Non .. nona, yang rendah ini meminta maaf atas perilaku anakku yang tidak sopan " katanya lagi dengan suara yang bergetar ketakutan


Anak kecil itu sangat terkejut ketika ibunya tiba-tiba meraih kepalanya dan menekan kepalanya memaksa untuk menunduk, tapi tubuhnya yang kecil tak kuasa melawan tenaga orang dewasa jadi ia hanya bisa meronta-ronta dengan marah sebentar lalu diam kembali dengan kesal .


Aku yang melihat hal-hal itu hanya menatap dengan datar sambil berfikir ' terlalu berlebihan, aku tak bisa memancing rasa penasaran orang lagi kalau tidak aku akan cepat di temukan '


" Tak masalah, pergilah " kataku datar lalu berbalik dengan acuh tak acuh


Wanita paruh baya itu segera mendongak dengan terkejut ketika mendengar suara jernih sarat dengan ketidakpedulian . Ia berfikir akan sulit untuk lepas dari masalah ini karena sikap tinggi seorang bangsawan yang tak mudah melepaskan masalah sekecil apapun, dan hal itu tentu saja sering di lihatnya secara langsung dengan mata kepalanya sendiri . Jadi ia tak mengira akan dilepaskan semudah itu olehku, padahal wanita itu sudah bersiap secara mental untuk bersujud dan memohon pengampunan .


Penjual roti daging yang melihat wanita paruh baya itu masih terbengong bingung segera berteriak menyadarkannya, ia tak ingin terjadi masalah di kios kecil tempatnya mencari nafkah . Jadi ia segera menegur wanita paruh baya itu agar tersadar dari linglung, dan segera pergi seperti ucapan dari nona ini .


" Wanita ini !! jika tidak ingin membeli jangan berdiri di depan tempatku dan menghalangi para pembeli, segeralah menyingkir !! " kata penjual roti daging


Wanita paruh baya itu segera tersadar ketika ia di teriaki oleh penjual roti daging, ia melihat sekilas penjual itu tapi tidak marah lalu ia kembali melirikku yang masih berdiri dengan acuh tak acuh . Dan setelah yakin aku benar-benar tidak peduli, ia buru-buru membungkukkan tubuhnya dan berterimakasih berulang-ulang .


" Terimakasih... terimakasih banyak nona ... anda sangat murah hati, yang rendah ini tak bisa membalasnya . Sungguh terimakasih " katanya terburu-buru


Aku meliriknya dan mengangguk sedikit lalu kembali fokus mengantri roti dagingku, wanita paruh baya itu pun segera pergi kembali ke kios sayuran sambil menyeret anaknya yang masih penasaran melihatku lagi . Wanita itu sedikit menegur dan memarahi anaknya ketika berjalan menjauh, anak kecil itu cemberut kesal ketika di marahi tapi ia tidak berani melawan ibunya jadi ia hanya bisa menunduk memainkan bola kain di tangannya dengan sedih .


Para pembeli roti daging lainnya yang memperhatikan dari awal sampai akhir dari kejadian, masih memperhatikan dengan minat penuh penasaran . Tapi segera teriakan penjual roti daging menyita perhatian mereka .


" Roti daging sudah matang, ayo cepat ... ambil pesananmu !! " katanya lantang


" Nona, pesananmu . Harap menikmatinya dan memaafkan pelayananku yang lama " katanya dengan senyuman tulus


Aku tersenyum menerima roti itu dan setelah melihat dengan lebih dekat, ada selapis tipis daging ekstra yang di tambahkan . ' penjual ini tidak bodoh, ia memberikan selembar daging ekstra untuk menyogok ku agar tidak marah ' pikirku di dalam hati . Aku tersenyum simpul dan merasa hal ini sedikit lucu, jadi aku hanya mengangguk sedikit sambil menyerahkan beberapa keping koin untuk membayar .


Aku berbalik sambil menggigit kecil roti yang masih mengepul panas, segera rasa gurih daging berlemak dan harum roti gandum memenuhi mulutku . Aku tersenyum senang ketika rasa enak di mulutku yang memenuhi semua ekspektasi awalku, aku pun segera melupakan gangguan-gangguan kecil tadi dan kembali melangkah bersiap berkeliling lagi .


Baru beberapa langkah kuambil tapi tiba-tiba terdengar suara teriakan keras dari kejauhan .


" Minggir !!! minggir !!! minggir jika tidak ingin di tabrak !! awas ... beri jalan !!! " teriakkan dari kejauhan terdengar sangat keras di jalan


Segera jalanan yang ramai pun gaduh ketika orang-orang bergegas menepi untuk kereta kuda yang datang melaju sangat kencang dari kejauhan . Para rakyat biasa cenderung menghindari masalah, jadi mereka segera bergegas menyingkir ke tepi dan karena itu pula tiba-tiba sekelompok orang bergegas menepi bersama menimbulkan situasi dorong mendorong antara satu dengan lainnya .


Beruntungnya aku bereaksi tepat waktu, jadi aku segera menyingkir dari gerombolan orang yang datang . Situasi tak beruntung menimpa pasangan wanita paruh baya dan anak perempuannya, mereka tidak bisa bereaksi tepat waktu sehingga terhempas bersamaan dengan orang-orang yang berdesakan membuat anak kecil itu terlepas dari genggaman orang tuanya .


" IBU ....!!!! " jerit anak perempuan tadi


Aku menoleh mencoba mencari di mana suara itu berasal, namun nilil . Aku tak bisa melihat apapun di antara lautan manusia yang saling berdesakan .


" PUTRIKU... !!! KAMU DIMANA !!! JAWAB IBU .... !!! " teriak wanita paruh baya itu dengan cemas

__ADS_1


Ia ingin segera bergegas melewati orang-orang yang mencoba mendorongnya, sayang tenaganya seorang diri tak bisa mengimbangi dorongan orang lainnya . Aku mengernyit alisku, meskipun aku tidak terlalu suka anak kecil dan tidak ada hubungan apapun dengannya kecuali melihatnya sekilas tadi . Tapi mata besar polos serta ekspresi bodoh di wajahnya membuatku tak bisa berdiam diri .


Jadi aku menyelinap di antara orang-orang yang masih berdesakan ke tepi, beruntung tubuhku yang kecil memungkinkanku untuk mencari celah-celah untuk melewati orang-orang itu . Tapi tetap saja, bahuku sedikit sakit karena terhimpit dan terdorong badan besar dari orang lain . Namun dengan sedikit usaha ekstra akhirnya aku sampai ke bagian paling depan dari orang-orang .


Aku mengedarkan pandanganku ke kanan dan kiri secepatnya . Dari arah jauh terdengar keras suara kereta kuda yang melaju, diiringi dengan teriakan kusir kereta yang melengking .


" MINGGIR !!!! CEPAT MENYINGKIR ... !!! "


' Sial, kereta sudah dekat . Mana bocah bodoh itu, kenapa tak terlihat sama sekali ' batinku gugup


Tiba-tiba diantara suara-suara yang berisik terdengar sebuah teriakkan kecil dari arah kiri .


" Bolaku ..!!! "


Aku sontak menoleh ke arah kiri dan melihat sebuah bola kain lusuh menggelinding ke tengah jalan yang kosong, di ikuti dengan sosok kecil yang berlari mencoba meraihnya .


Degh


Jantungku menclos, aku menoleh ke arah kanan tempat kereta itu datang . Mataku membelalak ngeri, kereta itu hanya berjarak kurang dari 10 meter dari anak kecil itu . Orang - orang yang melihat kejadian itu segera berteriak ketakutan ...


" AWAS .... !!!!!! " teriak seseorang


" Aaaaaaaa .... " teriak para wanita yang ketakutan


" Seseorang TOLONG ...!!! " teriak penjual sayur tadi


" Tidak sempat, terlalu dekat !!! anak itu akan tertabrak .... " kata seorang wanita lainnya


Berbagai teriakan memenuhi telingaku seketika, membuat pikiranku langsung kosong . Degh deg .. degh deg .. degh deg .. jantungku berdetak dengan keras, tanpa sadar aku meraih sebelah sepatuku . Dan tanpa berfikir dua kali aku melemparkan sepatuku ke arah kuda yang melaju kencang .


Sepatu klompen didesain khusus memiliki hak kecil di bagian tumit, hak terbuat dari kayu yang berkualitas khusus sehingga tahan benturan bahkan jika kau melemparkannya ke dinding itu akan baik-baik saja . Jadi tak mengherankan jika sepatu kecil yang terlihat tak berbahaya itu ketika mengenai kepala salah satu kuda membuatnya menjerit kesakitan .


Kuda itu meringkik keras, dengan kesakitan ia menabrak kuda lain di sampingnya membuat laju kereta oleng . Kusir kuda terkejut tapi segera menarik tali kendali dengan kencang, kuda-kuda yang bingung serta kesakitan itu segera ketakutan ketika tali kendali yang ada di lehernya mengencang . Sehingga kuda itu meringkik lagi dengan keras sambil berdiri, mengangkat kaki-kaki depan mereka dengan tinggi .


Para penonton yang mengamati sedari tadi merasa jantung mereka berhenti . Bagaimana tidak kuda-kuda itu mengamuk tepat di depan anak kecil itu, dan dapat menghancurkannya dengan sekali hentakan kakinya .


" Aaaaaaaa....... tidak .... " teriak orang-orang


" Aku tidak sanggup melihat lagi " kata penjual sayur


" TIDAK ..!!! PUTRIKU...!!! " teriak wanita puruh baya ibu dari anak itu


Gadis kecil itu sangat ketakutan, ia hanya bisa berjongkok di sana dengan wajah putih sambil mencengkram bolanya erat-erat .

__ADS_1


__ADS_2