
" Hai, bolehkah aku menumpang ke pusat ibukota " tanyaku sambil tersenyum
Remaja itu mengerutkan dahinya, terlihat tidak ramah lalu bertanya " apa kau sendirian ?? "
" Uhm... ya, aku tadi pergi piknik bersama pelayanku dan sekarang aku tersesat sendirian " jawabku pelan
Remaja itu masih mengerutkan dahinya, melihat ke atas bawah penampilan ku yang mencurigakan lalu berlalu hendak pergi tanpa mengatakan apapun . Aku yang terkejut dengan responnya langsung berlari menghalangi jalannya .
" Tunggu !! tunggu sebentar !! bagaimana bisa kamu meninggalkan gadis seorang diri di sini ?? " teriak ku emosi
Remaja itu masih mengerutkan dahinya, sambil mencebik malas menanggapi ku lalu berkata dengan dingin
" Kau berbohong " ujarnya singkat
Aku sedikit terkejut akan sikap dinginnya padaku dan terkejut dengan spontanitas ucapannya .
" hehehe ini begini... sebenarnya aku bertengkar dengan orang tuaku lalu berlari keluar dari rumah berjalan-jalan dan berakhir di sini " jawabku jujur dan cengengesan
Remaja itu masih mengerutkan keningnya tidak percaya , aku yang melihatnya tidak percaya lagi padaku segera berkata " sungguh kali ini aku tidak berbohong " kata ku cepat-cepat sambil mengacungkan V 2 jariku seraya tersenyum manis memperlihatkan deretan gigi putih ku
" Keluarga bangsawan mana ??! " tanya remaja itu singkat lagi
" Ehm..... ini.... " jawabku sedikit ragu, tak mungkin kan aku mengatakan aku seorang Putri .
Remaja itu yang melihatku terlihat ragu-ragu lagi segera berbalik hendak pergi lagi . Aku yang melihat ingin pergi lagi segera cemas dan memanggil tergesa-gesa .
" Tunggu !! tunggu jangan pergi !! akan aku jawab !! " teriakku tergesa-gesa sambil berlari mengejar nya . Remaja itu pun menoleh menungguku .
" aku... aku dari keluarga bangsawan Cassiopeia " kataku terbata-bata karna berlari mengejarnya sambil berteriak-teriak, sungguh aku tidak pernah seperti ini sebelumnya . Berlari mengejar seseorang yang menaiki kuda, Oh... ayolah aku kan sekarang pindah di tubuh seorang Putri yang di manjakan .
Remaja itu menatapku dengan tajam, seolah melihat ku sedang berbohong atau tidak . Aku yang melihatnya masih tidak percaya denganku sedangkan aku sudah kelelahan mengejar-ngejar kudanya sambil berteriak-teriak segera emosi
" Aku sungguh tidak berbohong !!! Apa perlu aku menyebutkan satu persatu silsilah keturunan bangsawan Cassiopeia ?!! " teriakku semakin cemas dan emosi
Remaja itu pun akhirnya mengendurkan kerutan alisnya sedikit, seperti mempercayai ucapan ku " tidak perlu " jawabnya singkat lagi
" Hah.... lalu apakah aku bisa menumpang ke pusat ibukota ?? " tanyaku sambil menghela nafasku
" Tidak, ibukota ke arah sana " tunjuknya ke arah belakangku di mana ia muncul , ' jadi aku tadi seharusnya belok ke kiri bukan ke kanan ' pikir ku tercengang
" Sial !!! " umpat ku pelan sambil meruntuki kebodohan ku . Remaja itu semakin memandangku aneh ketika mendengarku mengumpat .
" apa jauh ?? " tanyaku putus asa
" 50 km " katanya singkat dan datar, tidak terpengaruh oleh ekspresi ku yang sedih .
" apa kau tidak akan ke ibukota ?? " tanyaku berharap
" nanti " jawabnya singkat
" jadi kau akan kembali ke ibukota kan nanti, apa aku boleh ikut denganmu ?? " tanyaku pelan, terlihat ia ragu-ragu dan tidak nyaman dengan permintaanku . Aku yang melihatnya ragu-ragu, langsung bergegas maju untuk membujuk nya .
" Kumohon ..... aku sungguh sudah tak sanggup jika harus berjalan lagi ke arah sebaliknya " rengek ku memelas sambil memegangi ujung lengan kemejanya . Dia pun menatap ku sedikit lalu menghela nafas berkata
" naik " ujarnya singkat
Aku pun naik ke atas kuda dengan susah payah karena gaunku yang lebar dan rumit . Remaja itu hanya duduk menunggu tanpa menoleh kebelakang untuk melihatku yang kepayahan, ataupun memiliki niat untuk membantu ku sedikit .
Aku pun menyesuaikan posisi dudukku agar nyaman lalu melingkarkan tanganku ke pinggang nya untuk berpegangan . Terlihat ia kaget dengan tindakan ku dan sedikit terkejut dengan sikapku yang blak-blakan, tapi juga tidak melarangku berpegangan dengannya .
Di sepanjang perjalanan , pria di depanku terlihat kaku tidak nyaman mungkin karna aku memeluknya terlalu erat . Kulihat ia tidak berkuda terlalu cepat dari tadi jadi ku longgarkan pegangan ku di sekitar pinggang nya, kurasakan badannya mengendur rileks tidak sekaku dari pada tadi . Aku pun yang mulai penasaran mulai bertanya iseng .
" Hei, ini sebenarnya di mana ?? kenapa dari tadi yang terlihat hanya pepohonan saja ?? " tanyaku
__ADS_1
" Hutan pinggir kota " jawabnya singkat
" Lalu kita akan ke mana ?? " tanyaku lagi
" Desa Reives " jawabnya lagi
" Untuk apa kita ke Desa Reives ?? " tanyaku penasaran . Kali ini ia tidak menjawabnya mungkin ia merasa aku terlalu cerewet .
" Apakah masih lama ?? karna perutku sudah lapar .... " keluhku pelan
" Sebentar lagi " jawabnya singkat , lalu mempercepat laju kudanya .
Aku pun memeluknya erat dan menyandarkan kepalaku di punggungnya yang lebar . Kurasakan ia tersentak sedikit tapi tidak berkata apa-apa . Aku tersenyum sambil memejamkan mataku, derap kaki kuda yang menghentak ke tanah lalu dengung suara angin yang melewati telingaku membuatku nyaman .
Ketika aku sudah mulai mengantuk, kurasakan laju kuda melambat dan terdengar suara riuh dari kejauhan . Aku membuka mataku lalu mendongakkan kepalaku melihat apa yang terjadi, terlihat sebuah desa kecil di kejauhan .
" Wah..... apa kita sudah sampai ?!! " seruku di samping telinganya
" Hm " gumamnya mengiyakan
" Lalu kita akan ke mana ?? " tanyaku penasaran lagi, hilang sudah kantukku digantikan rasa penasaran ku dengan suasana pedesaan di dunia ini .
" Perkebunan " gumamnya pelan
" Wah... pasti akan sangat menyenangkan, aku belum pernah melihatnya " seruku senang terlihat seperti anak kecil, remaja itu yang melihatku senang dengan hal sepele sedikit melirik ku ringan lalu kembali melihat ke depan tidak perduli .
Kami sampai di depan desa Reives, terkenal dengan hasil kebunnya dan mayoritas penduduk desa ini berkerja sebagai petani di kebun milik bangsawan . Suasana desa sangat ramai rumah-rumah sederhana khas Eropa pada jaman dahulu dengan tembok bata merah dan genting kayu jangan lupa cerobong asap yang besar dan tinggi itu terlihat mengepulkan asap, terlihat juga kios-kios kecil para pedagang yang menjajakan sayuran dan daging, anak-anak kecil yang berlarian juga para gadis penggembala ramah yang selalu tersenyum menyapa pada setiap orang yang lewat sambil menenteng teko berisi susu segar . Aku tersenyum senang, menyapa balik serta melambaikan tangan pada gadis penggembala yang menyapaku .
" Kau tak perlu seantusias itu " ujarnya dingin
" Kenapa ?? aku sangat senang, kau tahu ini pertama kalinya aku melihat semua ini " kataku riang tak terpengaruh ucapannya
" Hm ?? " gumamnya seolah bertanya
" Ah... ini pertama kalinya aku keluar is.. maksud ku rumah ku " jawab ku cepat-cepat hampir keceplosan
" Tuan Muda Colombain " sapa seorang wanita gemuk pertengahan abad, ' Ah jadi di Tuan muda dari keluarga Colombain, kenapa aku tidak pernah dengar nama bangsawan itu ?? ' pikirku
" Hm " sahutnya singkat tanpa menoleh, aku yang melihat para pekerja kebun itu menyapa kebalas balik melambai sambil tersenyum . Para pekerja itu terlihat terkejut melihatku, lalu buru-buru kembali berkerja sambil berbisik-bisik bersama .
Aku pun tak terganggu dengan sikap mereka, dan masih tersenyum menyapa para pekerja yang lewat sambil melihat-lihat perkebunan buah yang luas itu . Akhirnya kami sampai di puncak bukit, terlihat seorang pria tua bersama anak kecil laki-laki yang berdiri disampingnya menunggu kami . Kuda berhenti, lalu Tuan Muda Colombain melompat turun dengan mudah lalu menyerahkan tali kekang ke bocah kecil yang menunggu tadi sudah berlari menghampiri kami .
" Tuan Muda, anda sudah tiba " sapa lelaki tua itu sopan .
" Ehm " jawab nya singka lalu berlalu masuk ke dalam villa
" Hei " teriak ku membuat nya berhenti " aku... aku... bantu aku turun " kataku pelan
Tuan muda Colombain berbalik menatap ku tajam, aku yang di tatap mulai mengerucut bibirku sebal lalu berkata " Gaun ku terlalu rumit " omelku
Ia hanya menatapku lalu memerintahkan " Pak Lin, bantu dia turun lalu layani apa maunya " ujarnya dingin seraya berlalu masuk ke villa
" Huh !!! " dengusku kesal
Pria tua yang dipanggil Pak Lin tadi mendekat memerintahkan bocah kecil tadi mengambil bangku untuk membantu ku turun . Sebenarnya Pak Lin sudah melihat ada seorang gadis di belakang Tuan Mudanya tapi ia bersikap profesional dengan pura-pura tidak melihatnya, karena selama ini Tuan Mudanya tidak pernah terlihat membawa siapapun kemari kecuali bersama adik perempuan . Dan ketika Tuan Mudanya bersikap acuh tak acuh meninggalkan gadis itu, ia sedikit bingung apa yang harus dilakukan ingin bertanya tapi ia berani untungnya gadis itu menyelesaikannya sendiri .
Bocah kecil kembali membawa bangku kecil sambil berlari ke arah sini, Pak Lin membantu ku turun dari kuda dengan hati-hati, ia tahu dari penampilan ku saja terlihat jika statusku dari keluarga bangsawan . Bocah itu meletakkan bangku kecil di samping kuda, aku perpegang erat di pelana dan merangkak turun ke bangku kecil ketika aku sudah berdiri di bangku lalu melompat ke bawah sembari menepuk-nepuk rokku . Pak Lin yang melihat tingkahku yang ceroboh agak terkejut tapi segera menunduk sopan lagi, berbeda dengan bocah laki-laki polos itu ia membelalak terkejut sampai terbengong melihatku . Aku pun tersenyum melihatnya .
" Terimakasih " ucapku sambil melambai padanya .
Aku masuk ke arah villa, Pak Lin segera mengikuti ku masuk meninggalkan bocah laki-laki itu yang akan mengurus kudanya . Villa itu tidak terlalu besar dengan perabotan yang sederhana tapi terawat dengan baik, aku melihat sekeliling ketika Pak Lin masuk dan berbicara padaku .
" Nona, apakah ada yang di perlukan ?? " tanya Pak Lin sopan
__ADS_1
" Aku lapar " kataku sambil menyentuh perutku
" Baiklah nona, aku akan menyuruh koki untuk menyiapkan hidangan sederhana " katanya segera
" Tunggu !! " seruku saat melihat Pak Kim akan pergi . Pria tua itu berhenti lalu membalikkan badannya ke arahku
" Apakah ada pesanan lagi nona ?? " tanyanya
" Apa ada kamar tamu di sini ?? aku ingin merapikan pakaian ku sedikit " kataku lagi
" Ada, mari saya antar " katanya sopan lalu mengantarku ke lantai 2, aku melihat perabot khas pedesaan sepanjang jalan ke arah kamar tamu . Ketika kami sampai Pak Lin membukakan pintunya, menyilahkan ku masuk ruangan lalu pergi sembari berkata
" Aku akan menyuruh pelayan wanita kemari untuk membantu nona berberes " katanya sambil berlalu menutup pintu
" Terimakasih " ucapku sambil tersenyum
Ruangan itu tidak terlalu besar dengan tempat tidur tunggal di pojok samping kanan pintu lalu lemari kayu besar di sebelahnya dan di sebelah kiri ruangan terdapat pintu yang mungkin ke arah kamar mandi, aku berjalan lurus ke arah jendela besar menyingkap korden putih tipis nya lalu membuka jendela lebar-lebar . Terlihat perkebunan buah-buahan yang sangat luas dan juga para perkerja yang sibuk sedang memanen buah yang matang sambil sesekali bercanda membuat ku ikut tersenyum senang . Tiba-tiba pintu kamar di ketuk .
" Masuk saja " teriak ku
" Permisi nona, saya gadis pelayan yang di minta Pak Lin untuk membantu " ucap seorang anak perempuan kecil yang terlihat malu .
" Masuklah, terimakasih sudah membantu " jawab ku sambil tersenyum .
Gadis kecil itu berjalan masuk sambil menutup pintu dibelakangnya, lalu mengulurkan barang yang di bawanya kepadaku .
" Saya membawa pakaian jika nona ingin berganti dahulu, bajunya mungkin terlihat jelek tapi ini masih baru dan bersih " jelasnya gugup, ' mungkin ia bukan seorang pelayan ' pikirku
" Terimakasih, tidak apa-apa aku akan memakainya . Tolong bantu aku berganti " jawab ku sambil tersenyum .
Gadis kecil itupun membantu ku berganti pakaian, mungkin karna gaunku yang rumit ia sangat berhati-hati . Aku melirik nya sambil mengajaknya mengobrol .
" Siapa namamu ?? " tanyaku
" Elis " jawabnya pelan
" Berapa umur mu ?? " tanyaku
" 7 tahun " jawab Elis
" Wah, kau masih kecil ya.... Apa kau sudah lama tinggal di perkebunan ini ?? " tanyaku
" Orang tua ku berkerja sebagai petani kebun " jawabnya pelan dari arah belakang ku, terlihat ia sangat berhati-hati dengan tali korset gaunku .
" Kau tak perlu terlalu berhati-hati, tidak apa-apa bajunya tidak akan rusak " kataku perlahan
" Tidak nona, ini gaun yang sangat bagus aku tidak berani terlalu kasar, aku akan membersihkan dengan hati-hati juga " jawabnya gugup
Aku pun hanya menghela nafas, setelah setengah jam akhirnya aku berganti pakaian menjadi baju sederhana khas penduduk desa tapi tetap nyaman . Aku duduk di depan kaca membiarkan Elise menyisir rambut ku yang berantakan, ia melepas jepit rambut safir biru pemberian dari Albert sambil bergumam " jepit rambut yang sangat indah " gumamnya kecil
" Benarkah ?? itu hadiah ulangtahun dari temanku " jawab ku yang mendengar gumaman nya .
Elis yang tidak mengira aku mendengar gumamannya menjadi salah tingkah lalu meminta maaf . Aku pun hanya tertawa kecil sambil mengatakan tak masalah . Alice hanya memperbaiki dan menata sedikit rambutku lalu memasang jepit rambut safir itu kembali .
Pintu di ketuk terdengar suara pria tua Pak Lin yang memberitahukan bahwa makanan sudah siap di meja makan . Aku pun berjalan menuruni tangga terlihat Tuan Muda Colombain yang berpakaian santai sedang duduk di sofa ruang tamu membaca buku besar seperti pembukuan dan Pak tua Lin yang berdiri menunggu di depannya, ia sedikit menoleh ketika aku datang lalu kembali fokus lagi pada bukunya .
Aku berjalan ke arah meja makan kecil di sebelah tangga, melihat hidangan sederhana yang yang terdiri dari roti dengan selai buah, sup bening serta segelas susu lalu duduk makan dengan perlahan .
Di sela-sela makan aku juga mendengarkan Tuan Muda Colombain yang memerintahkan soal tugas-tugas selanjutnya serta saran untuk perkebunan kepada Pak Lin . Ketika asyik makan aku merasa tidak mendengar suara apapun lagi, aku pun mendongak lalu terkejut dengannya yang tiba-tiba sudah ada di depanku .
" Lakukan sesukamu, kita akan kembali nanti sore " ujarnya acuh tak acuh lalu berlalu pergi tanpa sempat aku mengucapkan apapun .
Selesai makan, aku berdiri bingung ingin melakukan apa . Akhirnya aku memutuskan pergi keluar villa dan melihat perkebunan, aku memutuskan pergi ke kandang kuda untuk meminjam kuda tidak mungkin kan aku berkeliling perkebunan dengan jalan kaki . Aku berjalan mengintari villa dan akhirnya melihat kandang kuda di belakang villa, lalu aku menemui anak laki-laki tadi pagi yang sedang memberikan makan kuda.
__ADS_1
" Hei, apa aku bisa meminjam kuda ?? aku ingin berkeliling perkebunan " tanyaku
Anak laki-laki itu pergi mengambil kuda betina coklat yang terlihat jinak, lalu berjalan ke arahku sambil menenteng sebuah bangku kecil yang kugunakan untuk turun kuda tadi . Aku pun naik kuda dengan bantuan bocah laki-laki itu, ia juga menemani ku berkeliling perkebunan .