
Mencari kerja paruh waktu ternyata tidak semudah yang Maliqa bayangkan setiap pulang sekolah Maliqa mengayuh sepedah keranjangnyaberkeliling jalan besar berharap mendapatkan pekerjaan apapun yang bisa membantunya mengumpulkan uang untuk biaya perawatan dia ke dokter spesialis kulit.
Hampir seminggu lebih Maliqa menyusuri kota mencari pekerjaan, sudah puluhan toko dan restauran yang ia sambangi untuk mengutarakan maksudnya, sudah banyak tempat dia melamar pekerjaan sebanyak itu pula dia mendapat penolakan dari mulai cara halus hingga cara kasar dengan menyeret Maliqa ke luar dan mengata - ngatainya karena jijik melihat jerawat Maliqa.
Maliqa tidak berkecil hati dengan perlakuan mereka justru hal itu yang membuat Maliqa gigih untuk mendapatkan pekerjaan, pikir Maliqa mereka begitu karena jerawatnya maka dia dengan bersungguh - sungguh ingin mendapatkan pekerjaan agar tidak ada lagi orang yang bisa menghinanya.
Dari arah jalan pulang Maliqa melihat mobil Ambulans melewatinya hal itu entah mengapa membuat Maliqa bergetar hebat seketika Maliqa teringat dengan Ibu dan Bapaknya, Maliqa bergegas mengayuh sepedahnya lebih cepat lagi seketika dia mematung melihat para tetangga berkumpul dan menangis disekitar rumah ku.
"Nak kamu dari mana saja?" tanya wanita paruh baya yang rumahnya persis didepan rumah kami.
"Saya baru selesai les bu,ini ada apa ya bu?" Tanya Maliqa ketakutan dia belum siap menerima kabar buruk apapun itu.
"Bapak mu kecelakaan saat dia sedang mengemudikan angkotnya mendadak ada seseorang yang menyebrang jalan untuk menghindari menabrak orang tersebut Bapak mu bating stir dan menambrak pohon besar didepannya kini Bapak mu ada di rumah sakit kota beruntung angkot dalam keadaan kosong tidak berpenumpang sekarang lebih baik kamu ke rumah sakit temani Ibu mu sedari tadi saat dia tau Bapak mu kecelakaan dia selalu menangis" ujar tetangga ku panjang lebar
Kenapa setiap ada masalah selalu dia selipkan kata untung, rasanya aku geram mendengar ucapan terakhirnya.
"Baik bu terimaksih saya akan langsung pergi kesana" dengan perasaan gamang Maliqa menaiki ojol yang sudah dia pesan sebelumnya dalam kebingungan Maliqa memanjatkan doa meminta kepada yang maha pencipta agar Bapak diberikan keselamatan dan kesehatan seperti sedia kala.
Sesampainya di rumah sakit kota Maliqa menanyakan keadaan keberadaan orang tuanya ke pihak resepsionis rumah sakit Maliqa pun segera mencari - cari keberadaan orang tuanya, ternyata Bapak sudah dipindahkan ke ruang perawatan karena hanya mengalami cedera ringan dikepala dan tangan.
"Bapak Ibu" ucap Maliqa setengah berteriak kekhawatirannya sedari tadi terbayar sudah saat ledua orang tuanya sudah tampak didepan mata.
"Sini Nduk dekat Bapak" Bapak melambaikan tangan berharap Maliqa segera duduk disamping ranjang.
"Kamu pasti ketakutan ya sayang?" Tanya Bapak membelai rambut Maliqa penuh sayang
"Kepala dan tangannya masih sakit pak? Bapak banyak istirahat dulu ya? Bu berapa hari Bapak akan menginap disini?" rentetan pertanyaan dilayangkan Maliqa kepada kedua orang tuanya
"Harusnya ya sampai Bapak sembuh, tapi Bapak maunya pulang sekarang ini ibu lagu ngerayu Bapak biat patuh sama perintah dokter" Ujar Ibu geram
"Bapak kok gitu, Dokter lebih tau tentang luka Bapak jadi Bapak patuh ya" ucap Maliqa merayu dan memeluk Bapaknya dari samping.
"Bapak sudah sembuh ini hanya luka kecil Maliqa, besok juga Bapak sudah bisa narik angkot lagi" ujar Bapak dengan kekehan
__ADS_1
"Bapak itu takut dengan biaya yang membengkak bila Bapak berlama - lama dirumah sakit" ucap Ibu lirih.
Aku sangat memaklumi posisi Bapak dan Ibu yang mencari nafkah, Mereka tidak pernah memhambur - hamburkan uang demi menabung untuk biaya kuliah ku kelak, mereka selalu mementingkan aku diatas segalanya.
"Bapak untuk saat ini saja tidak apa ya uang untuk biaya kuliah Maliqa Bapak pakai dulu untuk berobat, saat ini Bapak jauh lebih membutuhkan uang itu ketimbang Maliqa" Maliqa memeluk kembali Bapak yang terbaring diranjang pasien.
Malam ini Maliqa kembali ke rumah karena besok masih harus bersekolah, didalam kamarnya Maliqa termenung meratapi nasib keluarganya Maliqa teringin sekali meringankan beban mereka Maliqa membuka lemari nya, menatapi lembaran kertas pola yang selama ini dia simpan rapih dalam lemarinya.
"Apa aku jual saja pola dan sketsa gaun pernikahan ku ini?" Gumam Maliqa lirih.
Semenjak Maliqa menyadari bakat mendesainnya Maliqa menginginkan gaun pernikahannya kelak adalah hasil rancangannya sendiri hingga terbentuklah pola dan sketsa yang Maliqa impikan.
Maliqa sangat menyayangi pola dan sketsa gaun pernikahannya, dia bahkan sering membayangkan kelak saat dia mengenakannya dihari yang paling membahagiakan itu.
Maliqa meneteskan air matanya hingga membuat goresan garis di sketsa gaun memudar, ini adalah barang berharga yang selalu dia jaga.
Keesokan harinya selepas pulang sekolah Maliqa kembali mengelilingi jalan besar kota untuk mencari pekerjaan, hasilnya sama saja seperti hari - hari sebelumnya Maliqa hanya mendapatkan penolakan saat mencoba melamar pekerjaan.
Kini Maliqa sedang berteduh istirahat dari lelahnya mencari pekerjaan tanpa Maliqa sadari tenyata dia berteduh tepat didepan gedung bertingkat tiga, itulah Butiq yang selama ini Maliqa kagumi, Butiq Twins adalah Butiq terbesar dikota ini hanya kaum elit dan kalangan terhormat saja yang bisa masuk bahkan membeli pakaian dengan kisaran puluhan hingga ratusan juta itu.
"Maaf Nona ada yang bisa saya bantu?" Tanya wanita itu sopan tidak ada rasa takut atau jijik sedikitpun melihat Maliqa yang berpakaian lusuh dengan peluh membanjiri hampir seluruh tubuhnya.
"Maaf Nyonya bila saya lancang, apa di Butiq ini membuka lowongan pekerjaan paruh waktu untuk saya seorang pelajar? Saya bisa melakukan apa saja menjadi tukang bersih - bersih juga boleh" tanya Maliqa sopan dengan menundukan kepalanya Maliqa takut wanita itu ketakutan.
Wanita paruh baya itu memperhatikan Maliqa, seketika pandangannya tertarik dengan gulungan kertas pola yang Maliqa genggam dengan kedua tangannya.
"Apa itu boleh saya melihatnya?" Tanya wanita itu menujuk pola gaun yang Maliqa genggam
"Boleh Nyonya" Maliqa memberikan pola tersebut.
Wanita itu membuka secara perlahan bagian - bagian pola tersebut dia mengerutkan dahinya, dia bisa menebak bila ini adalah pola gaun pengantin.
"Ini sketsa nya Nyonya" ujar Maliqa menyerahkan coretan maha karya yang selama ini ia jaga.
__ADS_1
Seketika wanita itu terbelalak kaget dia terkejut bagaimana bisa gadis muda ini memiliki sketsa dan pola gaun pengantin yang sangat indah ini, dari catatan kecil dibalik sketsa ini bahkan lebih mendetail tentang bahan kain yang akan dipakai dan bisa dipastikan hasil dari rancangan ini akan menjadi gaun yang sangat cantik dan mewah.
"Apa ini milikmu? Maksud saya apakah ini hasil karya mu?" Tanya Wanita itu
"Ya ini hasil karya saya ini adalah gaun pernikahan impian saya dan hasil rancangan saya sendiri" ucap Maliqa senang dan bangga dengan maha karyanya
Mendapat jawaban yang meyakinkan dari Maliqa wanita parih baya igu terkejut hingga membuat mulutnya setengah terbuka.
"Bisa kita bicara didalam jika Nona bersedia?Oh iya kenalkan nama saya Clarissa saya dan kembaran saya pemilik Butiq ini" ujar wanita bernama Clarissa itu.
Sekarang Maliqa yang terkejut jadi sedari tadi yang berbincang sopan dengannya adalah salah satu pemilik Butiq Twins.
"Boleh Nyonya bila memang tidak merepotkan"
Maliqa pun merasa takjub saat melangkahkan kakinya memasuki Butiq yang selama ini hanya bisa dia pandang dari kejauhan Maliqa mengikuti Nyonya Clarissa menuju ruangannya, didalam ruangan Clarissa mempersilahkan Maliqa duduk sementara dia keluar memanggil karyawannya memerintahkannya membuatkan jamuan untuk Maliqa.
Saat Nyonya Clarissa kembali Maliqa tanpa basa - basi ingin mengutarakan maksudnya, dia berniat menjual Pola dan Sketsa yang ia miliki untuk meringankan beban orang tuanya meski kini Bapak Maliqa sudah pulih dan berada dirumah.
"Nyonya apakah anda tertarik dengan pola dan sketsa yang saya buat? Jika iya saya bermaksud menjualnya" ujar Maliqa terus terang.
Seakan mengerti kesusahan Maliqa, Clarissa tidak bertanya lebih detail mengenai mengapa Maliqa sampai menjual maha karya nya Clarissa pun hanya menggangguk disertai senyuma.
"Berapa yang Nona inginkan untuk maha karya ini" Tanya Clarissa dia mengeluarkan bilyet giro pada laci mejanya.
"Se.." Maliqa tebata dia ragu ingin menjual karyanya seharga sepuluh juta dia takut clarissa mengira harga itu terlalu mahal
"Seratus juta? Baiklah" jawab Clarissa menyelesaikan coretannya.
"Semoga ini cukup" ujarnya lagi
"Apa?!" Maliqa terkejut dengan nominal yang tertera pada lembaran kertas yang ia dapatkan
"Dan sebelumnya kan Nona menanyakan lowongan pekerjaan disini? Bagaimana bila Nona bekerja sebagai asisten saya apa Nona menerima tawaran pekerjaan ini?"
__ADS_1
"Apa?!" Maliqa dibuat tak percaya dia masih mematung dengan cek senilai 100 juta sekarang dia lebih terkejut dengan tawaran pekerjaan yang selama ini dia impikan.