Metamorfosa Ugly Girl

Metamorfosa Ugly Girl
Terlatih Patah Hati


__ADS_3

"Hahahaha..." suara tawa Luna menggema di ruang tengah rumah besarnya.


"Bagaimana sayang? Semua sesuai yang kau inginkan bukan?" Maharani tersenyum menanggapi tawa Luna.


"Ya, bandit tua itu menculik Maliqa dan kedua temannya kini Lexi kembali ditangan ku sebagai senjata setiap kali aku membutuhkannya" Ujar Luna menuangkan wine kedalam gelas bertangkai diatas meja.


Luna menyesap wine dalam gelas ditangannya, dia tersenyum senang kemenangan akhirnya berada didepan mata


"Kini kita hanya perlu mendekat pada Arsya dan menjadi dewi penolongnya" ucap Luna menggoyangkan gelas wine ditangannya.


"Kau hebat sayang" puji Maharani mendentingkan gelas wine yang dia genggam ke gelas Luna.


"Aku akan pastikan hubungan kalian berakhir disini, sedari awal Arsya memang ditakdirkan untuk ku, jika bukan untuk ku maka bukan untuk siapapun" Ujar Luna membayangkan semua yang dia harapkan sudah didepan mata.


Diruangan lain seorang anak kecil penuh dengan luka lebam tertidur dengan merintih kesakitan dilantai yang dingin tanpa alas.


"Kakak maya..."


Dirumah kosong tempat Sean menculik dan mengatur rencana dibuat gaduh dengan teriakan Maliqa dan Arsya.


"Sial!! Apa kau sengaja atau kau memang dendam dengan ku" Ujar Sean geram saat merasakan muka tampannya terasa kebas dan memanas karena bogem mentah yang diberikan Sean untuknya.


"Sean cukup!" bentak Maliqa dan Amaya bersamaan.


"Apa itu sangat sakit?" tanya Sean dengan senyuman, Pertanyaan Sean terdengar seperti ledekan bagi Arsya.


"Tidak begitu, aku baik - baik saja" jawab Arsya menatap dingin lelaki dihadapannya.


"Kalau bukan untuk Maliqa sudah pasti akan ku balas kau"


"Bukankah tadi dia merengek" ujar Sean mengolok - olok Sean yang terlihat menahan marah kepadanya.


"Kau!" Arsya terbangun dan mencoba menyerang Sean, dia tak terima di olok terus menerus dihadapan gadisnya.


"Sudah!! kalian seperti anjing dan kucing saja" bentak Amaya yang mulai sakit kepala melihat kedua laki - laki yabg sama - sama bodohnya.


"Sekarang aku, Maliqa dan Martha akan tinggal sementara waktu di rumah Tuan Albertho" Ujar Amaya menjelaskan rencana selanjutnya


"Kabari orang tua Martha dan Maliqa, jangan buat mereka khawatir buat alasan yang masuk akal" ujar Amaya lagi

__ADS_1


"Bagaimana jika kita beritahu mereka bahwa kita sedang liburan keluar kota untuk beberapa hari" usul Martha yang sedari tadi hanya diam menyaksikan.


"Itu boleh juga" jawab Amaya.


"Sekarang kau pulanglah, jangan sampai ada orang lain yang tau" perintah Amaya terhadap Arsya.


"Bagaimana dengan Asisten pribadi ku?" tanya Arsya, dia tidak bisa membohongi temannya, mengetahui dia yang seperti ini tentu Willy akan bertindak diluar batas menolong sahabat dan Tuannya.


"Oh iya Kak Willy akan bertindak jika tidak mengetahui yang sebenarnya" ucap Maliqa mengetahui bagaimana kedua lelaki ini sangat dekat karena bersahabat.


"Kak Willy?" ucap Martha


"Willy" gumam Amaya.


"Apa kalian mengenalnya? Tapi setelah aku pikir - pikir kalian belum pernah bertemu dengannya" ucap Maliqa kebingungan mendengar kedua sahabatnya memanggil nama yang sama.


"Mungkin karena namanya yang sama saja" ucap Amaya menggelengkan kepalanya.


"Mungkin" ujar Martha pelan mengangguk.


"Baiklah, beri tahu jika dia bisa mengacaukan semuanya" ucap Sean tidak ingin mendapatkan kegagalan dalam rencananya.


2 kali mencintai, 2 kali mengejar dan 2 kali kegagalan membuatnya enggan mencintai kembali, rasa percaya diri untuk mendekati lawan jenis sudah dia kubur dalam - dalam, Martha tidak mau berjuang sendiri.


Jika memang bukan jodoh mau dikejar seperti apapun tak mungkin bisa bersama, dia tak mau hatinya terluka kembali hanya karena memaksakan keinginannya, ada massanya dia untuk berhenti saat orang yang dia inginkan tak membalas semua perlakuannya.


"Hati - hati Mas" Jawab Maliqa melepaskan pelukan Arsya.


Maliqa melepas kepergian Arsya, dia kembali menghampiri kedua temannya didalam.


"Kak aku lapar" ucapan Maliqa menyadarkan Amaya jika mereka belum sempat makan sedari siang karena kejadian penculikan.


"Ah iya kita belum sempat makan, ini semua karena mu!!" sulut Amaya menatap tajam Sean semua barang belanjaannya terjatuh saat anak buah Sean menculik mereka.


"Baiklah, bagaimana jika kita ke apartemen milik ayah mu, aku akan menyiapkan semuanya disana" ucap Sean merasa bersalah.


Sean mengambil kunci mobil ditangan ank buahnya dan mengantar ke tiga gadis kelaparan itu ke apartemen tempatnya tinggal.


Ketiga pasang mata itu dibuat takjub saat melihat sekeliling isi apartemen ini, satu lantai apartemen ini hanya memiliki 1 pintu masuk yang artinya lantai ini milik satu orang saja.

__ADS_1


"Ini apartemen mu?" tanya Amaya menyadarkan dirinya sendiri karena keterkejutannya.


"Ya, Tuan memberikan lantai ini untuk ku tinggalkah sementara disini" ujar Sean membuka isi lemari pendinginnya menyiapkan bahan - bahan makan yang akan dia masak untuk ketiga tamunya.


Sean menggulung kemeja hitamnya sampai ke siku adegan itu terlihat dramatis dan sexy di mata Martha, sampai dia kesusahan menelan salivanya.


"Kau bisa memasak?" tanya Amaya memastikan penglihatannya melihat Sean yang sedang bersiap memotong bahan - bahan makanan yang sudah dia keluarkan dari lemari pendingin.


"Ya" jawab Sean tanpa mengalihkan penglihatannya memainkan pisau dengan lihai memotong sayuran yang akan dia masak.


"Wow" ucap Martha takjub.


"Kalian bisa menunggu di meja makan" ujar Sean terkejut karena ketiga gadis itu malah menonton pertunjukan memasaknya.


Mereka duduk di mini bar dapur dengan nyaman seolah sedang menonton seorang chef yang sedabg memperlihatkan kemampuannya.


Sean meletakan beberapa potong besar steak sirloin di atas pemanggang dan disisi sebelahnya dia sedang menggoreng kentang dan menumis sayuran yang terdiri dari buncis, jagung dan wortel.


Saat Sean membalkkan daging asap dan api keluar bersamaan hingga membuat terkejut serta takjub bagi yang melihatnya.


"Woooaaahh" ujar Maliqa dan Martha sedangkan Amaya hanya mebolakan kedua matanya.


Sean menata makanan yang dia masak diatas piring keramik, semua tersusun rapi dan terlihat mengiurkan.


"Sudah siap, semoga kalian suka?" Sean memberikan 3 piring dengan porsi sama diatas meja mini barnya.


Suapan pertama mereka rasakan dengan rasa gugup dan ternyata diluar bayangan semua yang mereka makan sangat luar biasa.


"Woaaah ini sangat enak" Maliqa sangat terkesan dengan masakan yang ia nikmati saat ini.


"Benarkah? Syukurlah kalian bisa memakannya" ucap Sean tersenyum senang, bersyukur stok bahan makanan masih ada.


"Ternyata lelaki tampan dengan bakat memasak terlihat lebih sexy" ucap Martha menatap wajah Sean takjub dengan mulut penuh.


"Kau mulai lagi" Amaya dibuat malu dengan ucapan Martha dia bahkan sampai menggelengkan kepalanya beberapa kali.


"Ternyata tidak semua wanita pemalu ya, kau terlihat jelas sekali" ucap Sean tersenyum melihat tingkah Martha yang menurutnya luvu dengan mulut penuh terlihat menggembung dibagian pipi.


"Aku bahkan terkesan bar - bar" jawab Martha tanpa rasa malu membanggakan kelebihannya

__ADS_1


"Hahahahaha" semua tertawa karena kekonyolan Martha.


__ADS_2