
"Jadi kapan anak ini diambil?" Tanya Maliqa pada Amaya.
Saat ini mereka bertiga sedang berkumpul dirumah Amaya, bermain bersama dengan Lexi yang sudah hampir seminggu ini bersamanya.
"Entahlah" Jawab Amaya menganggkat kedua bahunya.
"Dia menggemaskan sekali" Maliqa menatap Lexi yang tembam tampak ceria bermain dengan action figure batman.
"Sudah berapa lama Kakak merawatnya?" Tanya Martha melihat kedekatan Amaya dan Lexi seolah chemistry mereka sangan dekat.
"Sekitar semingguan" Jawab Amaya singkat tanpa menoleh Martha, tetap menemani Lexi bermain.
"Apa orang yang mengaku sebagai Ibunya tidak datang lagi?" Tanya Maliqa penasaran, mereka sudah mendengar cerita panjang lebar tentang kisah anak ini.
"Tidak, tapi aku tau dia menugaskan beberapa orang untuk mengawasi kami" Jawab Amaya, kemarin - kemarin setiap dia mengawasi Lexi bermain didepan rumah, Amaya sering mendapati seseorang sedang memerhatikan mereka dari kejauhan.
"Benarkah? dari mana Kakak tau?" Tanya Martha khawatir.
"Aku pernah berjumpa dengannya beberapa kali" Jawab Amaya menenangkan dengan menujukan senyum manisnya.
"Lantas lelaki yang kau bilang supir itu bagaimana?" tanya Maliqa memastikan orang yang membantu sahabatnya bukan orang jahat yang dia pikirkan.
"Dia cukup tanggung jawab meski dia tidak ramah" jawab Amaya datar.
"Apa dia tampan?" Tanya Martha antusias dengan mata berbinar.
"Hei..! kenapa kau seperti tertarik dengan Sean? Kau ingin berselingkuh?" Tanya Amaya pada Martha, wanita satu ini memang selalu senang melihat pria tampan.
"Bagaimana bisa berselingkuh perpacaranpun tidak" celetukan Maliqa membuat Martha menundukan kepalanya serta mengerucutkan bibirnya.
"Dia masih belum mengatakannya?" tanya Amaya penasaran tak percaya menatap Maliqa.
"Malang sekali nasib mu Nak?" tanya Amaya menatap sendu menepuh bahu Martha.
"Bagaimana kabar Arsya kalian baik - baik saja?" Amaya mengalihkan pertanyaan ke Maliqa berharap Martha tidak terlalu memikirkan lelaki yang selama ujian nasional selalu dia goda.
"Tentu mereka baik - baik saja kabarnya sebentar lagi akan menikah?" ujar Martha menganggkat kedua halisnya beberapa kali tersenyum mengoda.
"Kau jangan membuat gosip yang tidak benar Martha, aku masih ingin kuliah" Jawab Maliqa menatap Martha dan memukul lengannya.
"Ini baru Maliqa kita" jawab Amaya, dia senang meski sekarang Maliqa tengah dilimpahi keberuntungan yang bisa membuatnya melepas cita - cita dan pendidikannya.
"Aku lapar" ujar Martha mengusap perut nya yang berbunyi.
"Stok makanan instan di lemari pendingin habis, bagaimana kalau kita berbelanja di mini market depan gang" Jawab Amaya mengingat dia hanya memiliki telur dan air putih saja yang memenuhi lemari pendinginnya.
"Baiklah, apakah kita bisa meninggalkn bayi itu sekarang?" tanya Martha menunjuk Lexi yang tertidur ditengah mainan yang berserakan.
"Dia seperti malaikat saat sedang tertidur" ujar Maliqa tertegun hangat menatap Lexi
" Karena dia tertidur sepertinya bisa, sebentar aku bereskan dulu kekacauan ini" Amaya, Martha serta Maliqa membereskan mainan secara perlahan agar tidak membangunkan Lexi yang tertidur, Amaya bergegas ke kamar nya mengambil sebuah bantal untuk diletakan dibawah kepala Lexi.
__ADS_1
"Sudah, Kita bisa pergi sekarang" Ujar Amaya pelan.
"Apa bisa seperti ini saja? kenapa tidak kita pindahkan ke kamar mu Kak?" Tanya Maliqa kasihan saat meliht Lexi tertidur dilantai beralaskn karpet bulu.
"Dulu juga seperti ini, aku pernah memindahkannya ke kamar dan hasilnya dia terbangun dan menangis karena tidurnya terganggu" ujar Amaya menjelaskan kekhawatiran Maliqa
Mereka bertiga keluar dari rumah menuju minimartket didepan gang usai Amaya mengunci rumahnya memastikan keselamatan Lexi.
Dari kejauhan dua orang lelaki berpakaian serba hitam membuntuti mereka.
"Yang mana dari ketiga wanita itu yang bernama Maliqa kekasih Arsyanendra" Tanya lelaki bertopi pada temannya yang mengemudikan mobil Jeep.
"Aku tidak tau, kenapa kau bertanya pada ku? bukankah kau yang melihat fotonya!" jawab lelaki berambut gondrong.
"Mereka tampak sama" jawab lelaki bertopi
"Harusnya kau bawa fotonya!" ujar lelaki gondrong kesal
"Sudahlah diam lebih baik kita ikuti saja mereka!" Jawab lelaki bertopi sma kesalnya karena kebodohannya
Usai berbelanja Amaya, Martha dan Maliqa dijegat oleh kedua pria berbaju hitam tadi dengan menodongkan belati dan pistol disebuah kebun kosong.
"Siapa kalian?!" bentak Amaya bersiap untuk melawan, namun sial Martha yang lengah tertangkap dengan belati melingkar di lehernya.
"Diam atau aku tusuk teman kalian" ancam lelaki bertopi.
"Kau ikat mereka!" lelaki bertopi memerintahkan temannya mengikat Amaya dan Maliqa dengan tali ripet juga menutup mulut mereka dengan lakban.
"Apa kita harus membawa semuannya?" tanya lelaki berambut gondrong.
"Lantas siapa yang harusnya kita culik? apa kau tau siapa diantara mereka yang bernama Maliqa? jika pun kita menculik Maliqa apa kedua temannya akan diam saja kita menculik temannya" ujar Lelaki bertopi kesal.
"Kau benar" jawab lelaki gondrong.
"Sudah diam saja, Tuan pasti akan mengerti kesulitan kita" ujar lelaki bertopi.
Mobil melaju kencang membawa mereka kesebuah rumah tua kosong dipenuhi tanaman menjalar diseluruh dindingnya.
"Diam disini anak manis, jika kalian bisa kami ajak kerjasama kalian tidak akan terluka sedikitpun" ujar lelaki berambut gondrong mendudukan mereka bertiga secara terpisah dengan tangan dan kaki terikat dengan kursi.
"Kirim foto mereka bertiga dan kirim pada Tuan?" ujar lelaki bertopi pada temannya.
Denting bunyi notifikasi pada handphone Sean mengalihkan pandangannya,melihat wajah wanita yang dia kenal ada dalam salah satu foto yang dikirim anak buahnya membuat Sean marah dan langsung menghubungi mereka.
"Kenapa Amaya ada difoto ini?!" bentaknya saat telpon yang dia tuju tersambung geram dengan kerja anak buahnya.
"Amaya?! saya tidak tau Tuan mereka sedang bertiga jadi saya bawa saja semuanya" ujar lelaki bertopi ketakutan.
"Dasar Bod0h!" bentak Sean yang terdengar sampai keluar dimana Tuannya Albertho berada.
"Ada apa Sean? Kenapa kau marah sekali?" tanya Albertho.
__ADS_1
"Tuan anak buah kita sudah menculik Maliqa untuk misi kita menghancurkan tuan Arsya, tapi mereka juga menculik orang yang selama ini mengasuh Lexi" Ujar sean menjelaskan inti masalah yang dia hadapi.
"Lantas bagaimana dengan Lexi? Apa mereka berteman?" tanya Albertho khawatir dengan anaknya.
"Saya tidak tau, maka dari itu saya akan pergi melepaskan dia" Ujar Sean menjelaskan.
"Aku ikut" Albertho ingin mengetahui siapa wanita yang sudah mau mengasub anaknya itu.
"Baik tuan" Jawab Sean.
Mereka segera bergegas ke tempat dimana anak buahnya menyekap Maliqa dan kedua temannya.
Setelah tiba Sean tidak membukakan pintu mobil untuk Tuannya seperti mana biasanya, dia berlari masuk ke rumah tua yang dijadikan tempat penyekapan.
"Amaya" Sean memeluk Amaya membukaan semua iktan serta lakban yang menempel dimulutnya.
"Maaf" ujarnya lagi.
"Jadi ini semua ulah mu? kenapa kau ingin menculik Maliqa?" Tanya Amaya menatap nyalang pria dihadapannya.
"Itu.." ujar Sean terbata dia tak tau harus menceritakan bagaimana pada Amaya.
"Aku tidak akan memberikan Lexi pada orang seperti mu" Ujar Amaya menatap tajam penuh kebencian.
"Baby.." Alberto menatap gadis dihadapannya dengan mata berkaca - kaca.
"Kau!" bentak Amaya tak percaya dengan apa yang dia lihat hari ini.
"Daddy merindukanmu sayang" Ujar Alberho mencoba mendekat.
"Aku bahkan tidak ingat memiliki seorang ayah" Ujar Amaya geram dia berfikir ini adalah hari tersialnya.
"Baby.." sapa Albertho pelan.
"Apa yang kalian inginkan dari Maliqa?!" tanya Amaya langsung ke inti masalah yang dia hadapi.
"Siapa Maliqa bagimu Baby?" tanya Albertho penasaran.
Amaya dengan cepat merebut belati dalam gengaman tangan prie bertopi di belakang Sean.
"Dia sahabat ku, jika kalian mendekati Maliqa maka aku akan melukai diriku sendiri" ujar Amaya menodongkan belati ditangannya menusuk dilehernya hingga tetesan darah itu meluncur indah di leher mulusnya.
"Baby..!" teriak Albertho
"Amaya.!" bentak Sean.
"Rupanya kalian berdua ketakutan, apa aku seberarti itu bagi kalian" ujar Amaya menyeringai menatap kedua lelaki yang mencegahnya.
"Cukup Baby, buang belati itu Daddy mohon.." ucap Albertho memohon pada anak gadisnya.
"Lepaskan meraka!!" bentak Amaya menunjuk Maliqa dan Martha berada.
__ADS_1