Metamorfosa Ugly Girl

Metamorfosa Ugly Girl
Kekeliruan Willy


__ADS_3

Arsya tersenyum - senyum sendiri saat mengikuti rapat disebuah ruang VIP direstaurant ternama bersama Ayah dan para koleganya, tanpa dia sadari dia sedang menjadi pusat perhatian saat ini, semua orang menatap bingung dengan kelakuan Arsya.


Bagaimana tidak, orang sedingin dan searogan Arya bisa tersenyum sempurna dengan memperlihatkan deretan giginya yang rapih dan putih, senyuman Arsya membuat Aditya sang Ayah mendelikan bola matanya meminta jawaban kepada Willy, Willy yang tidak tau hanya bisa menggeleng - gelengkan kepalanya.


"Wanita bermasker" gumam Arsya pelan dan terdengar oleh Aditya hingga membuatnya terperanjat menganggkat kedua alisnya.


"Ehmmmp, tuan bisa kita lanjutkan presentasinya?" Ucap salah satu kolega mencairkan suasana mencekam diruangan itu.


"Silahkan" Jawab Aditya sopan.


Rapat pun dilanjutkan kembali untuk mendapatkan kata mufakat dari kedua belah pihak.


"Bagaimana tuan Aditya, apa ada yang mau dirubah dari presentasi kami?" Tanya salah satu kolega pria paruh baya dengan perut yang buncit.


"Kami akan pelajari lagi, lusa kami kabari keputusan dan kelanjutannya" Aditya memang belum sepenuhnya mengalihkan tahta kepemimpinannya kepada Arsya, tapi dia sudah meminta Arsya untuk menetukan keputusannya dalam menangani proyek - proyek yang menjalin kerjasama dengan perusahaannya, Aditya tidak mau memberi celah Arsya untuk bersantai dalam menangani setiap proyek sebagai bentuk pembelajaran.


Tapi melihat suasana hati Arsya yang sedang tidak fokus dengan rapat kali ini, memaksa Aditya untuk menunda hasil keputusan agar tidak ada pihak yang dikecewakan dikemudian hari.


"Baik tuan terima kasih untuk waktunya" Jawab kolega yang menjadi lawan bicaranya mereka masih harap -harap cemas karena tak menerima jawaban langsung setelah mereka melakukan presentasi.


"Saya rasa rapat kali ini cukup sampai disini, terima kasih semuanya" Ujar Aditya mengakhiri dan berdiri berlalu meninggalkan ruang rapat yang diikuti oleh Arsya dan Willy dibelakangnya.


Mereka bertiga kembali ke perusahaan untuk melanjutkan sisa jam kerja, ditengah perjalanan Aditya kembali melamun dan terseyum merasa penasaran akhirnya Aditya buka suara.


"Arsyanendra" ucap Aditya memecahkan kesunyian.


"Iya Ayah?" Arsya yang duduk didepan menemani Willy yang mengendarai mobil sampai menoleh ke arah belakang dimana Ayahnya duduk karena merasa heran sang Ayah memanggil nama lengkapnya.

__ADS_1


"Siapa wanita bermasker yang sedang kau pikir kan?"


"Wa-nita ber-masker?" ucap Arsya terbata bagaimana Ayahnya tau apa yang sedang dia pikirkan


"Apa yang kau maksud itu Luna?" tanya Aditya


"Puffhh... tentu saja bukan" ucap Arsya menahan tawa, kapan wanita itu mengenakan masker medis, saat dia melakukan operasi gigi satu tahun lalu pun, wanita itu enggan menutupi wajah yang selalu dia banggakan, dia selalu menganggap jika dirinyalah wanita tercantik yang tidak boleh menutupi wajah cantiknya sungguh sifat narsis yang menggelikan.


"Lantas siapa? Willy apa ada karyawan kita yang memakai masker?" tanya Aditya penasaran


"Semua karyawan pasti mengenakan masker tuan sebagai tambahan alat pelindung diri disaat bekerja" ujar Willy menjelaskan.


"Kau benar juga" Ucap Aditya mengangguk - nganggukan kepala membenarkan perkataan Willy


"Tapi ada 1 gadis yang per.." Ujar Willy dia baru ingat dengan gadis yang kemarin membuat keributan dikantin perusahaan.


"Gadis yang apa? Arsya biarkan dia bicara dan lepaskan tanganmu kau bisa membuat Willy kesulitan dalam mengendarai mobil, kau mau kita semua celaka?" Aditya geram dan semakin penasaran dengan kelakuan Arsya yang tak ingin Willy menceritakan semuanya.


Dengan terpaksa Arsya melepaskan tangannya yang membungkam mulut Willy, Arsya mencebikan bibirnya kesal


"Terima kasih tuan" Ujar Willy tersenyum meledek ke arah Arsya


"Tuan muda Arsya kemarin sempat berdebat dengan seorang gadis magang yang mengenakan masker medis diwajahnya saya rasa wanita yang tuan besar curigai adalah gadis itu" ucap Willy panjang lebar.


"Siapa namanya sampai kau harus memberi nama panggilan seaneh itu?" Tanya Aditya


"Kami belum mengetahui siapa namanya tuan, munkin karena itu tuan muda menyebutnya wanita bermasker" Willy mengambil kesimpulannya sendiri.

__ADS_1


"Arsya apa kau menyukai gadis kecil itu?" Tanya Aditya


Menurutnya ini adalah kabar gembira, anak semata wayangnya belum pernah menjalin hubungan dengan wanita kecuali satu Luna, wanita itu selalu ingin menempel pada Arsya dan menganggap bahwa dirinya adalah kekasih Arsya, Aditya tidak pernah menyukai Luna menurutnya wanita seperti Luna tidak akan pernah cocok menjadi seorang IRT, sosok Luna yang pemberontak dan mau menang sendiri akan menyulitkan Arysa dikemudian hari jika mereka menikah nanti.


"Aku hanya senang berdebat dengannya Ayah tidak ada hal lain lagi" Arysa menjelaskan kekeliruan sang Ayah


"Baiklah Ayah akan menemuinya" Aditya berniat memancing Arsya dia ingin tau bagaimana reaksi Arsya jika dia ingin bertemu dengan gadis itu.


"Untuk apa? Jangan membuat ku malu Ayah, Aku berdebat dengannya karena dia tidak sengaja menumpahkan sup panas ke tangan Luna dan Luna memintaku untuk memberinya hukuman" ujar Arsya menjelaskan.


"Apa kau sudah memberi dia hukuman?" Tanya Aditya


"Tidak.." Ujar Arsya dipotong Willy


"Maaf tuan karena tuan saat itu langsung pergi dengan nona Luna, jadi saya pikir untuk mengeluhkan perbuatannya ke pihak sekolah" Ucap Willy dia baru menyadari jika dia melakukan kesalahan


"Kenapa kau tidak mengabari ku dulu, ish kau ini!! Keputusan mu itu akan membuat semua karyawan berfikiran jika aku tidak berperasaan dan benar memiliki hubungan dengan Luna karena telah membelanya" ucap Arsya, dia tanpa sadar memberi bogem mentah yang cukup keras pada bahu kiri Willy, Arsya kesal dengan tindakan yang Willy lakukan tanpa menanyakan dahulu kepadanya.


"Maaf tuan saya lancang menyimpulkan sendiri keputusan anda" Willy menyesal karena tidak sampai memikirkannya sejauh itu.


"Apakah sekarang dia masih magang diperusahaan kita" tanya Aditya berusaha melerai perdebatan keduanya


"Saya kurang tau tuan besar, kemungkinan dia ditarik kembali oleh pihak sekolahnya karena melakukan kesalahan dengan CEO perusahaan tempat dia melakukan pelatihan praktek kerja lapangan" ucap Willy pelan


"Kau harus menjelaskan semua ini kepada semua karyawan, aku tidak mau ada yang membenarkan jika aku memiliki hubungan apapun dengan Luna!!" ucap Arsya membentak membuat Willy hanya menganggukan kepala sebagai tanda mengerti.


Ini adalah pelajaran berharga bagi Willy, dikemudian hari dia tidak akan mengambil keputusan sendiri setelah mengetahui bagaimana marahnya tuan muda Arsya, Willy melanjutkan mengendarai mobil yang dia bawa setelah tadi sempat terhenti saat Arsya menijunya dibagian bahunya, rasa sakit menjalar dilengan kirinya.

__ADS_1


"Sepertinya ada bagian tulang yang bergeser, aku akan lebih hati - hati lagi kedepannya aku tak mau semua tulang ditubuh ku bergeser dan berpindah tempat" batin Willy dalam hati


__ADS_2