
Sudah berhari - hari Arsya tak mengabari Maliqa, ini membuat Maliqa merasa sedih dan serba salah.
"Padahal aku sudah merendahkan harga diriku dan memberanikan diri menciumnya, tapi itu semua tak membuat si beruang kutub luluh" gumam Maliqa disela jam istirahatnya.
Minggu ini adalah minggu terberat bagi Maliqa Ujian Nasional yang sudah didepan mata, pelajaran yang sudah menumpuk menunggu untuk dijamah dan hati yang tersiksa oleh rindu.
Maliqa hanya menatap minuman yang sedari tadi ada dihadapannya, Maliqa sedang menunggu dua sahabatnya yang belum terlihat batang hidungnya sedari tadi.
"Kekasih menghilang sahabat tak kunjung datang, haruskah aku berbincang dengan gelas yang berdentang" gumam Maliqa pelan yang terdengar oleh kedua sahabatnya yang baru saja tiba.
"Puisi karangan siapa?" Tanya Amaya terkekeh.
"Yang punya kekasih cara bicaranya menyamai pujangga" timpal Martha menertawakan Maliqa
"Hmmmpp" Maliqa memutar bola matanya malas meladeni kedua sahabatnya yang berusaha mengolok - oloknya.
"Kenapa Ayangnya sampai menghilang?" tanya Amaya terkekeh meski penasaran.
"Marah karena cemburu" ujar Maliqa kesal
"Cemburu?!" Tanya Martha membeo
"Hmmpp, Mas Arsya melihat ku berduaan dengan Aland di cafe sebrang, kemarin siang sepulang sekolah" Ujar Maliqa menjabarkan
"Apa?!" Martha tersentak.
"Martha jangan berfikiran yang tidak - tidak, isi kepalaku sudah penuh aku tidak mau menambah masalah dengan berdebat denganmu, kau percaya pada ku kan?" tanya Maliqa kesal
"Aku bisa percaya pada mu Maliqa, tapi aku tidak bisa percaya pada Aland, mungkin memang harus segera aku pupuskan rasa ini" ucap Martha lirih.
"Apa kau sudah berusaha mengejarnya?" tanya Amaya penasaran
"Belum" jawab Martha pelan menggelengkan kepalanya.
"Belum dikejar sudah menyerah, lemah!" ujar Amaya meledek.
"Aku kan wanita Kak" sungut Martha tak terima
__ADS_1
"Lantas hanya dengan berharap dan berhayal saja apa akan menggerakan hati Aland mendekat padamu" Ucap Amaya tersenyum meledek.
"Jadi aku harus bagaimana?" Martha sebenarnya kesal tapi kebenarannya memang dia tak pernah melakukan apa - apa.
"Kejar tunjukan perhatianmu agar kau menjadi pusat perhatiannya" ucap Amaya meyakinkan dengan senyum meyakinkan
"Disini yang sedang dirundung galau itu aku kenapa kau yang mendapat solusi" ujar Maliqa tersulut emosi mendengar perbincangan kedua sahabatnya.
Amaya dan Martha terkekeh pelan melihat Maliqa yang dirundung masalah.
"Lebih baik sekarang kesampingkan dulu urusan lelaki, bukankah Ujian Nasional sudah didepan mata? Jangan membuat nilai mu yang setinggi langit itu hancur begitu saja karena cinta" ujar Amaya berusaha bijak.
"Apa kau sudah menjelaskan kesalahpahaman itu?" tanya Martha penasaran.
"Sudah" Jawab Maliqa cepat.
"Sudah minta maaf?" Tanya Amaya meyakinkan.
"Sudah bahkan aku merayunya dengan menciumnya terlebih dulu" Jawab Maliqa tanpa sadar.
"Apa?!" Amaya dam Martha terbatuk karena terkejut mendengar jawaban Maliqa.
"Hei aku melakukannya terhadap dia saja tidak dengan yang lain" Protes Maliqa kesal.
"Baiklah, mungkin dia juga sedang sama bingungnya dengan mu" jawab Amaya menenangkan.
"Benarkah?" Maliqa cukup heran dengan penjelasan Amaya.
"Setelah mendapatkan serangan dadakan dari mu, mungkin sekarang dia tidak akan bisa tidur dengan nyenyak" ujar Amaya terkekeh pelan.
"Apa seperti itu?" Ujar Maliqa terkejut penasaran
"Hmmpp, diamkan saja dia yang akan menghubungi lebih dulu" Ujar Amaya meyakinkan
"Baiklah, aku akan fokus pada pelajaran saja" Jawab Maliqa ada raya bersyukur setelah mendapatkan penjelasan dari Amaya.
"Itu baru gadis pintar" ujar Martha dan Amaya hampir bersamaan.
__ADS_1
Ditempat lain seperti dugaan Amaya, Arsya sedang menatap kosong semua berkas yang berserakan diatas meja kerjanya.
Willy yang berada didekatnya menatap heran melihat Arsya yang melamun dan sesekali mengelus pipi sebelah kirinya.
"Tuan apa anda sedang sakit?" Tanya Willy khawatir.
"Iya" jawab Arsya pelan.
"Apa perlu kita membuat janji dengan dokter Nicolas?" Tanya Willy bersiap menelpon Dokter pribadi keluarga tuannya.
"Apa Dokter bisa membuat kadar rindu ku berkurang?" Tanya Arsya pelan
"Maksud tuan?" Willy semakin dibuat bingun dengan ucapan tuan mudanya.
"Aku sakit karena merindukan gadis kecilku" jawa Arsya kesal.
"Jika anda merindukan Nona kenapa tidak langsung menelpon atu berjumpa dengannya?" tanya Willy masih bingung
"Dia membuat masalah, aku berniat memberinya pelajaran dengan tidak menghubunginya tapi aku malah tersiska rindu" ujar Arsya geram bila mengingat keras kepala gadis kecilnya
Willy tertawa hingga terdengar oleh Arsya dan mendapat tatapan nyalang dengn raut muka kesal tuannya, meski mulutnya sudah dia tutup dengan sebelah tangannya.
"Maaf tuan, coba anda kirim Nona pesan lihat bagaimana respon Nona" ujar Willy memberikan usul.
"Aku tidak mau! kau ingin membuatku merendahkan diri dan dengan mudah memaafkannya? aku sedang memberi gadis nakal itu pelajaran dengan tidak memberikan kabar" ujar Arsya geram dengan ide yang sebenarnya dia inginkan.
"Lantas apa yang bisa saya bantu?" Willy tidak mau terus menerus dalam kondisi seperti ini, semua berkas itu perlu dicek dan ditanda tangani Arsya.
Karena rindu semua pekerjaan akan terbengkalai dan dialah yang akan terkena getah sialnya, bergadang berhari - hari karena seseorang yang dimabuk asmara.
"Sudahlah kau tidak akan mengerti bagaimana jadi aku, kau kan tidak punya pasangan!" Ujar Arsya kesal.
"Bgaimana memiliki pasangan waktu luang saja saya tak punya" gumam Willy pelan
"Apa yang kau katakan?" Ucap Arsya penasaran melihat Willy yang menggerutu dengan muka menunduk
"Tidak ada Tuan" ucap Willy.
__ADS_1
Mereka berdua kembali memfokuskan diri pada berkas - berkas pelerjaan yang perlu mereka evaluasi kembali, larinya beberapa supplier membuat daftar pekerjaan mereka bertambah banyak, meski sudah menyakinkan para suplier untuk tetap bekerja sama akhirnya masih ada beberapa suplier yang memutuskan kontrak lerja karena tuntutan mereka.
Beruntung Arsya bergerak cepat dan menemukan supplier pengganti yang cocok meski supplier sebelumnya memiliki bahan baku yang Arsya inginkan.