
Willy pria tampan dengan lesung manis dikedua pipinya, Pria berusia 23 tahun itu sedang menikmati senja dengan secangkir americano digenggaman tangannya.
Diatas rooftop cafe ternama dikota Karawang dia memandang surya dengan senyum tipis membingkai wajahnya, dia mengingat kembali pertemuannya dengan gadis manis bernama Amaya.
Gadis yang terlihat lebih dewasa dari usianya, gadis yang membantunya mengobati luka memar dihidungnya berkat rasa kesal karena cemburu buta Tuan mudanya.
Baru pertama kali dia berdekatan dengan wanita dengan jarak begitu dekat, bertatap muka menghirup udara yang sama, dia hanya gadis biasa tidak ada fisik khusus yang membuatnya tertarik tapi entah kenapa dekat dengannya membuat hati Willy menghangat.
Willy adalah anak pertama dalam keluarganya dia lebih memilih untuk hidup mandiri karena kurang nyaman dengan keluarganya, dia selalu menjadi tolak ukur keberhasilan keluarga dan membuat Adik yang yang begitu dekat dan dia sayangi menjadi jauh dari pandangannya.
Willy sangat menyayangi Adik manisnya, Adiknya yang cengeng, manja dan spontanitas membuat harinya berwarna, melihat Adiknya mengalami kesulitan karena orang tua mereka membanding - bandingkan satu sama lain membuat Willy menghindar bahkan keluar dari rumah.
Willy berharap dengan kepergiannya tidak membuat susah Adiknya, Willy ingin keluarganya saling mendukung bukan bersaing satu sama lain yang akhirnya membuat perpecahan.
Setelah Willy pergi dia memutuskan untuk mandiri dan tidak bergantung pada keluarganya, Willy lebih memilih mencari kerja paruh waktu saat dirinya masih menjadi mahasiswa, hingga akhirnya dia bertemu dengan Tuan besar Aditya.
Disaat Willy sedang bekerja sebagai waiters disebuah restauran, Willy menemukan tumpukan berkas - berkas penting tergeletak diatas meja ruang VIP restauran yang harus dia bersihkan, Willy mendatangi perusahaan Textile yang tertera pada map besar tersebut dan mengembalikan semua yang ia temukan.
Willy adalah mahasiswa jurusan manajemen terbaik dikampusnya tentu dia mengetahui bahwa berkas tersebut amatlah berharga dan bisa dipastikan keuntungannya bernilai jutaan dolar, Tuan Aditya tersentuh atas tindakan Willy yang mau bersusah payah mengembalikannya sendiri.
Aditya semakin dibuat kagum setelah mengetahui bahwa Willy mengerti dan tau jika berkas - berkas itu memiliki keuntungan yang cukup besar, karena penasaran Aditya menyuruh anak buah kepercayaannya untuk menyelidiki siapa Willy sebenarnya, berkat bantuan anak buahnya Aditya mengetahui seluk beluk siapa Willy dia seperti menemukan hadiah besar, dia berniat menjodohkan Willy sebagai pendamping Arsya untuk meneruskan perusahaan yang akan dia wariskan.
Willy yang pintar, penurut dan hangat menurut Aditya pasti bisa mengimbangi Arsya yang Arogan, dengan beberapa kali pendekatan akhirnya Willy bersedia bekerja dengan Tuan besar Aditya dan pindah ke kampus dimana Arsya belajar dan menjadi teman tedekatnya.
__ADS_1
Hingga kini mereka tetap bersama, meski kadang perdebatan sering terjadi tidak membuat keduanya memutuskan untuk pergi, ini adalah pukulan pertama yang Willy dapatkan selama dia mengenal Arsya, cinta memang gila bisa membuat temannya hilang akal.
"Apakah itu juga akan terjadi pada ku bila aku mencintai seorang gadis?" Willy bergumam terbayang wajah manis Amaya
"Hmmpp.. tidak mungkin secepat itu, mungkin aku hanya kagum semata tidak mungkin semudah itu merasakan jatuh cinta, Tuan muda saja setelah beberapa bulan baru menyadarinya" Willy hanya menggeleng - gelengkan kepalanya tersenyum merasa konyol karena sedari tadi memikirkan gadis yang baru dia kenal.
"Sekarang aku harus menyelidiki laki - laki yang mengaku sebagai pacar nona Maliqa, karena menjadi cantik membuat banyak pria menginginkannya, hah daftar pekerjaan ku bertambah banyak saja" Willy menyesap americano yang masih mengepulkan asapnya.
Willy menaiki mobil sport metalik pemberian Tuan besar Aditya mobil ini sama persis dengan tuan mudanya Arsya hanya beda warna saja, mobil itu melesat membelah jalanan sepi menjelang malam.
Tepat disebuah taman dia memarkirkan mobil, seorang lelaki berpakaian hitam lengkap dengan topi menghampiri mobil Willy. Willy keluar bersender dipintu mobil
"Kakak ini data yang kau pinta" lelaki berusia belasan tahun itu menyerahkan amplop besar berwarna coklat.
"Saya yakin Kak, Kakak bisa mengandalkan saya" ujar lelaki tersebut
"Baiklah, pulanglah besok kau masih harus sekolah bukan? Apa uang saku yang ku berikan masih ada?" Tanya Willy lagi
"Cukup Kak, Kau selalu mencukupi kebutuhan kami akan sangat tidak tau diri sekali jika aku terus meminta" ucap lelaki itu menundukan wajahnya.
"Aku bahkan belum berguna untuk membantu Kakak" timpalnya lagi
"Kapan memangnya kau meminta pada ku?" tanya Willy terkekeh, Willy menepuk - nepuk bahu lelaki tersebut
__ADS_1
"Belajarlah yang rajin, buat adik - adik mu bangga memiliki Kakak seperti mu, itu sudah cukup untuk ku, aku pergi dulu" ujar Willy tersenyum
"Baik Kak" jawab lelaki itu
Willy kembali masuk dan menutup pintu mobil, dia kembali melihat berkas yang ia terima.
"Ternyata hanya mengaku - ngaku saja, dia bahkan belum pernah menyatakan cintanya pada Nona Maliqa kedudukan masih seimbang, saya harap mendengar kabar ini Tuan muda tidak melakukan kesalahan yang membuat nona Maliqa menjauh"
Willy mengendarai mobilnya kembali menuju mansion tuan besar Aditya, dia berniat menyerahkan laporan dan pulang ke apartemen dia sudah membayangkan meminum lemon hangat dengan madu dia juga hari ini sangat merindukan ranjang dengan kasur empuknya.
Willy teringat kembali pertemuan pertama dengan lelaki yang baru saja dia jumpai, dia adalah Dilon anak usia 15 tahun yang tidak meneruskan sekolahnya, awal mula dia bertemu dengan Dilon saat dia sedang tertangkap basah mencuri makanan disebuah warung kopi.
Wajahnya sampai tidak bisa dikenali, warga yang marah melakukan hukum rimba hanya karena beberapa roti, Willy mencoba melerainya dan mengganti kerugian yang Dion lakukan, setelahnya Willy membawa dion kepusat kesehatan dan mengantarnya pulang, mendengar alasan mengapa dia mencuri untuk memberi makan adik - adiknya yang kelaparan membuat Willy mengiba, Willy menanggung semua kebutuhan Dion sampai saat ini kejadian itu sudah berselang satu tahun yang lalu Dion dan adik terbesarnya pun sudah bersekolah kembali berkat Willy.
Willy sangat menyayangkan tindakan masyarakat yang memukuli Dion saat itu, kadang kesalahan yang tidak seberapa harganya tanpa kita tau apa alasannya, membuat kemarahan satu orang bisa menjadi malapetaka bagi yang menerimanya.
Mungkin jika Willy menjadi Dion dia pun akan melakukan hal yang sama mereka yatim piyatu harusnya kita merangkul bukan memukul karena kekurang tauan mereka.
Willy memasuki halaman luas dengan berbagai tanaman hias yang tertata rapi.
"Apakah kau sudah mendapatkan apa yang ku mau?" Tanya Arsya penuh selidik
"Apa tuan begitu penasarannya sampai - sampai menyambut kedatangan saya di depan pintu?" Tanya Willy terkekeh pelan menyerahkan berkas yang dia bawa
__ADS_1
"Kau sudah mulai kurang ajar ya, aku doakan kau akan lebih parah mencintai wanita dibandingkan aku" ucap Arsya berteriak kesal