
"Kenapa apa tidak boleh?" Tanya Arsya sendu dia sudah berfikir jika perasaannya akan ditolak, dia bahkan melepaskan genggaman tangannya dan membuang pandangannya kearah lain.
"Sejak kapan tuan menyukai saya?" Tanya Maliqa menyelidik, Maliqa sebenarnya sangat senang mengetahui bahwa cintanya tak bertepuk sebelah tangan, tapi dia tidak mau jika Arsya menyukainya hanya karena perubahan fisiknya saat ini seperti kebanyakan lelaki disekolahnya.
"Entahlah, aku pun tak tau pasti kapan tepatnya, tapi semenjak kita sering berdebat aku sudah mulai nyaman dengan keberadaan mu, saat Mommy menghukum ku aku baru sadar kalau perdebatan yang aku buat hanya untuk menarik perhatian mu kepada ku, aku belum pernah merasakan perasaan ini sebelumnya hingga aku lambat menyadarinya, kini kau sudah cantik banyak lelaki diluar sana berlomba - lomba mendekati mu bahkan kemarin ada yang dengan mudahnya mengaku - ngaku sebagai kekasih mu, itu semua membuat ku tak suka dan marah" ungkap Arsya panjang lebar dia sudah terlanjur malu hingga tidak segan untuk mengungkapkan semuanya.
"Apa tuan cemburu? Saya pikir tuan hanya bisa mencintai pekerjaan dan diri sendiri" Tanya Maliqa dengan senyum diwajahnya andai Arsya tidak membuang muka tentu dia akan tau bahwa Maliqa sangat senang mengetahui Arsya cemburu padanya.
"Tentu saja aku cemburu, ini pertama kalinya aku jatuh cinta pada seorang gadis dan ada seorang lelaki dengan mudahnya mengaku - ngaku gadis ku sebagai kekasihnya, jadi mana mungkin aku tidak akan cemburu, aku hampir saja ingin memukulnya jika tidak ingat sedang berada dimana saat itu, apa lagi setelah melihatmu menari dengan pakaian yang kekurangan bahan itu, andai kau sudah menjadi kekasihku akan ku seret dan ku kurung kau semalaman karena sudah berani menggoda banyak lelaki, apa kau tau berapa banyak mata lelaki yang menatap mu saat itu!!" ujar Arsya tersulut emosi
"Ish.. selain pecemburu kau juga posesif sekali tuan, aku sampai tidak menyangka tuan Arogan dan dingin bisa seperti ini" ucap Maliqa terkekeh pelan
"Kenapa kau tertawa?! Senang sudah mempermainkan perasaan ku seperti ini? membuat ku jatuh cinta dan tak menerima perasaan ku? kau bahkan tidak menghargai perasaan ku sama sekali dan malah menertawakan kebodohan yang aku buat" ujar Arsya mendengus kesal mengerucutkan bibirnya.
"Kapan aku bilang jika aku tidak menerima dan bukan maksud aku menertawakan perasaan tuan? Aku hanya merasa gemas melihat seseorang yang biasanya angkuh bisa menjadi semenggemaskan ini ketika jatuh cinta " ucap Maliqa terkekeh dia sangat gemas dengan kelakuan Arsya saat ini, pria yang biasanya dia liat selalu tampak dingin dan arogan.
"Jadi maksud mu?!" Tanya Arsya menoleh menatap wajah Maliqa penasaran
"Aku mau menjadi kekasih tuan, karena aku juga memiliki perasaan yang sama tuan" ucap Maliqa dengan senyum malu
"Jadi kau juga mencintai ku?!" tanya Arsya memastikan
"Iya tuan aku mencintai mu" ucap Maliqa jujur
__ADS_1
Seketika Arsya merasa dikelilingi jutaann kupu - kupu dan bunga yang bermekaran disekitarnya
Arsya begitu bahagia, jantungnya terpompa cepat karena rasa yang membuncah, dia hanya bisa mematung dengan senyum mengembang hingga memperlihatkan deretan giginya menatap Maliqa yang duduk dihadapannya, semua yang baru saja dia takutkan ternyata tidak terjadi.
Karena merasa tidak mendapatkan respon dari Arsya, Maliqa pun merasa canggung, dia bangun dari duduknya berniat untuk pergi dan pamit pulang, tapi saat Maliqa melangkah kan kakinya pergelangan tangannya ditarik hingga Maliqa jatuh terduduk diatas pangkuan Arsya, Arsya meraih tubuh Maliqa dan memeluknya, Maliqa yang terkejut hanya bisa mematung dengan kedua bola mata membulat menatap Arsya.
"Terima kasih" ucap Arsya mendongkakan kepala menata Maliqa
"Tu-an bi-sa lepaskan saya, saya merasa tidak nyaman tuan" ujar Maliqa terbata dia tertunduk menutupi wajah yang merona memerah karena malu.
"Maliqa bukan kah kita sekarang sudah menjadi sepasang kekasih? Lantas kenapa kau masih saja memanggil ku tuan?" Ucap Arsya gemas melihat raut wajah Maliqa yang menunduk malu
"Jadi aku harus memanggil mu apa?" Tanya Maliqa heran
"Panggil aku sayang" ucap Arsya jahil
yang benar saja baru beberapa menit sudah harus memanggil sayang Maliqa
"Baiklah panggil aku Mas" Ujar Arsya seraya menurunkan Maliqa dari pangkuannya.
"Tuan bolehkan kita merahasiakan hubungan kita minimal dari lingkungan sekolah" Maliqa tidak ingin ada rasa tidak nyaman saat semua orang disekolah mengetahui hubungannya.
"Kenapa? Apa kau menjaga perasaan lelaki itu?" Arsya kembali merasa cemburu dengan permintaan Maliqa
__ADS_1
"Bukan begitu, akan terasa canggung jika pihak sekolah tau kalau aku memiliki hubungan khusus dengan donatur utama sekolah kami" ujar Maliqa menjelaskan perihal alasan permintaannya
"Baiklah, tapi apa kau bisa berjanji pada ku" ucap Arsya
"Apa itu?" Tanya Maliqa
"Berjanjilah untuk menjaga hati mu untuk ku dan jauhi semua lelaki yang berusaha mendekati mu" Arsya bisa saja menyewa seseorang untuk menguntit dan memata - matai Maliqa saat disekolah tapi dia urungkan dia perlu memberikan kepercayaan penuh pada Maliqa, dia tidak mau hubungan yang baru sja dia bina harus kandas lebih cepat karena sikap posesifnya.
"Baiklah Mas" ucap Maliqa mengedipkan sebelah mata senang.
"Gadis nakal sudah berani menggoda ku ya" ujar Arsya dia mencubit pipi Maliqa gemas
"Sakit..." rengek Maliqa bak anak kecil
"Aku sangat bersyukur perasaan yang baru pertama kali aku rasa ini bisa berbalas" Arsya mengelus pipi Maliqa, bekas kemerahan terlihat setelah Arsya melepaskan cubitannya.
"Masih sakit?" tanya Arsya lembut
"Tidak, tapi jangan diulangi" ucap Maliqa mencebikan bibirnya
Suasana sore itu begitu indah siluet senja seolah melukiskan isi hati kedua insan yang dimabuk cinta, rasa lega, syukur dan bahagia menyelimuti hati mereka.
Hiruk pikuk sekitar tak membuat keduanya terganggu, mereka sedang tenggelam dengan rasa cinta satu sama lain, inilah mengapa cinta pertama selalu terkesan lebih membekas dihati pemujanya.
__ADS_1
"Kau seperti senja yang hadirnya selalu membuat ketenangan dan kepergiannya selalu membuat kerinduan" ucap Arsya tanpa mengalihkan pandangannya menatap sang senja pulang ke peraduan.
Senja pun berlalu, menghadirkan gelap malam bertabur ribuan bintang, waktu terasa begitu singkat bila dihabiskan dengan orang yang kita sayang.