
Maliqa pagi - pagi sekali sudah berangkat ke Butiq Twins milik Nyonya Clarissa, hari ini Butiq akan kedatangan para model kenamaan yang akan melakukan fitting baju untuk acara fashion show amal yang setiap tahun sekolah Maliqa adakan.
Saat Maliqa sedang menata gaun - gaun yang akan dipertunjukan, Rachel anak angkat Nyonya Clarissa datang dengan dua orang karyawan yang sedang memegang contoh bahan yang akan mereka buat.
"Cih, beruntung wajah mu sudah tidak ditumbuhi jerawat kalau iya, cih Butiq ini pasti akan menanggung malu karena memiliki karyawan rendahan yang buruk rupa" Ucap Rachel berdecih mengejek Maliq dengan tangan bersedekap didepan dada.
"Terima kasih sudah memperhatikan ku Nona" ucap Maliqa datar senyum tipis menghias diwajahnya.
Sebenarnya Maliqa cukup geram dengan tindak - tanduk Rachel yang sombong dan selalu merendahkannya, tapi Maliqa sadar jika Rachel menempati posisi cukup penting bagi Nyonya Clarissa, dia tidak mau hubungannya dengan Nyonya Clarissa memburuk karena perselisihan kecil ini.
"Aku tidak pernah memiliki waktu untuk memperhatikan wanita seperti mu!" hardik Rachel sebal menatap nyalang Maliqa.
Rachel selalu saja diliputi rasa kesal setiap kali berpapasan dengan Maliqa, dia wanita pertama yang mendapat perhatian pangeran tampannya meski kelihatanya mereka hanya berdebat, tapi Rachel yang sudah mengenal Arsya sedari remaja tau jika Arsya tertarik pada Maliqa, padahal dia selalu memberi perlakuan dan perhatian khusus agar Arsya bisa sedikit bersimpati padanya.
"Apa yang kalian kerjakan? mengapa hanya mengobrol, sekarang kerjakan tugas kalian masing - masing" Clarissa menatap Rachel heran
"Ibu kami hanya menyapa Maliqa saja" ujar Rachel bersikap manis dihadapan Ibunya
"Rachel bukankah kau harus membereskan bagian depan? Biarkan Maliqa sendiri dan jangan menganggu pekerjaannya" ujar Clarissa memberi perintah.
"Baik Bu" Rachel menatap Maliqa sebal, setiap kali Rachel ingin mengolok - olok Maliqa Ibunya selalu saja datang dan seolah - olah seperti melerai menolong Maliqa.
Rachel pergi berlalu meninggalkan Maliqa dengan Ibu Clarissa diruang fitting baju.
"Sayang kau baik - baik saja?" sapa Nyonya Clarissa mengelus pundak Maliqa lembut.
"Tentu Mommy apa yang harus dikhawatirkan?" Maliqa terkekeh dengan kekhawatiran Clarissa yang berlebihan.
"hmmmp.. apa kau sedang bertengkar dengan Arsya?" Tanya Clarissa pelan.
__ADS_1
Maliqa memang memberikan syarat kepada Arsya saat menerimanya agar hubungannya tidak diketahui banyak orang hanya, sahabat, Mommy Clarissa, Aditya ayahnya Arsya, dan sekarang bertambah dengan kedua orang tuanya.
"hmmmp.. sedikit" ucap Maliqa menyatukan jari telunjuk dan ibu jarinya dihadapan Clarissa.
"Seperti itu ya" jawab Clarissa lirih pelan
"Kenapa?" tanya Maliqa heran.
"Akhir - akhir ini perusahan sedang mengalami masalah yang sangat rumit dia sangat kesulitan, dia bahkan pernah hampir menyerah, tapi kemarin dia seperti kesal dan marah karena masalah itu, ku dengar dari Willy dia sangat terbebani karena kesalahpahamannya dengan mu" ujar Clarissa lirih menjelaskan.
"Benarkah?" jawab Maliqa terkejut dia sedikit merasa bersalah karena terlalu egois.
Setelah kejadian di Mall itu Arsya terus menghubungi Maliqa, hingga akhirnya Maliqa jengah dan memutuskan memblokir nomor Arsya.
"Maliqa mungkin saat ini kau sedang salah paham Arsya tidak mungkin menghianatimu, dia hanya sedang disibukkan dengan pekerjaan dan kebetulan Luna adalah salah satu kolega kami" Clarissa menatap wajah gadis dihadapannya, dia rela memohon agarbmereka kembali bersama Clarissa tau jika cinta dikeduannya sama tulusnya.
"Mommy.." Maliqa semakin merasa tidak enak dengan sikap Clarissa padanya.
"Arsya sangat mencintaimu" ucap Clarissa lirih kedua matanya sudah berkaca - kaca
"Akupun demikian, biarkan kami sendiri yang menyelesaikan kesalahpahaman ini Mommy tidak perlu khawatir ini hanya pertengkaran kecil saja" Maliqa meraih kedua tangan Clarissa meyakjnkan jika dia dan Arsya akan baik - baik saja.
"Beri tahu Mommy jika Arsya menyakitimu" Clarissa terkekeh pelan menyeka kedua matanya yang sedikit mengembun.
"Akan ku lakukan segera jika itu terjadi Mommy tidak perlu khawatir lagi" Maliqa terkekeh dan memeluk tubuh wanita kesayangan kekasihnya itu.
Suasana terasa mengharu biru saat semua bisa menyakinkan bahwa akhirnya akan baik - baik saja.
Nyonya Clarissa harus meninggalkan Maliqa karena tamu yang dia tunggu sudah datang, Maliqa masih harus menyelesaikan pekerjaannya tanpa tau siapa tamu yang disambut Nyonya Clarissa.
__ADS_1
"Kau!!" Suara seseorang memekakan telinga dibelakang Maliqa.
"Selamat datang Nona Luna" Sapa Maliqa datar dengan sedikit menundukan kepalanya, dia berfikir mungkin Luna lah yang Nyonya Clarissa sambut
"Kenapa kau ada dimana - mana?!" Ujar Luna geram, dia sangat ingin menjauhkan Maliqa dwngan Arsya tapi wanita ini malah berada disekitar kehidupan Arsya.
"Butiq ini tempat saya bekerja paruh waktu Nona" Ujar Maliqa tersenyum datar
"Benar, kau harus mengumpulkan banyak uang untuk merombak wajahmu di klinik ternama itu" Luna menyeringai senyuman mengejek serta menertawakan Maliqa.
"Nona benar sekali" jawab Maliqa dengan senyum manisnya.
"Cih kau selalu saja bersikap sok, kenapa kau tidak bekerja ditempat lain saja? Kenapa harus di Butiq berkelas seperti ini" hardik Luna dia selalu geram bisa berbicara dengan wanita satu ini.
"Keberuntungan sedang berpihak kepada saya saat ini" jawab Maliqa merendah
"Nona Luna tidak perlu berdebat dengan karyawan rendahan seperti dia, itu akan menurunkan pamor Nona sendiri" ujar Rachel mencoba mencari muka dihadapan Luna, jika sendiri tidak membuat Maliqa terjatuh maka berdua mungkin akan lebih baik.
"Kau benar sekali Rachel, terkadang aku tidak sadar jika aku seorang model ternama yang pamornya jauh diatas dia yang hanya karyawan rendahan" Ujar Luna merendahkan Maliqa dengan tatapannya yang melihat Maliqa dari bawah hingga ke atas.
"Nona terlalu rendah hati hingga sudi bertegur sapa dengan saya" jawab Maliqa mencoba bersabar, jika dia berpapasa diluar Butiq tentu Maliqa akan lebih berani melawan siluman dan rubah licik dihadapannya.
"Nona sebaiknya kita tinggalkan saja wanita ini, silahkan ikuti saya" Rachel sudah tidak berdebat lebih jauh lagi dengan Maliqa saat dia melihat Ibunya berjalan mengarah pada mereka.
"Maliqa kau bantu para model lain Nona Luna hanya aku yang berhak melayaninya" ujar Rachel menatap nyalang Maliqa
"Baik" jawab Maliqa datar.
Dibayar puluhan juta pun aku tak sudi menjadi pelayannya meski hanya beberapa menit saja batin Maliqa
__ADS_1