Metamorfosa Ugly Girl

Metamorfosa Ugly Girl
Acara Amal


__ADS_3

Sekolah ditata sedemikian rupa, dengan tatanan lampu dan bunga - bunga yang menghiasi pintu gerbang sampai aula tempat berlangsungnya acara fashion show dilaksanakan.


Karpet merah terbentang sempurna, menyambut para tamu dermawan yang rela menggelontorkan isi kocek mereka untuk acara amal, banyak juga dari mereka menghadiri acara amal untuk bisa lebih dekat dengan kolega yang sedang mereka inginkan.


Gemerlap lampu malam membuat para tamu undangan terhanyut, dalam suasana malam yang syahdu mampu membuat siapa saja merasa terbawa dalam susana hangat kebersamaan.


Diruang terpisah Maliqa, Martha dan semua siswa yang terlibat dalam acara fashion show ini dibuat sibuk, sedari siang hari mereka menyiapkan acara yang selama ini mereka tunggu - tunggu berharap ini semua bisa membuat tangga prestasi bagi mereka naik satu tingkat lebih tinggi.


Tepat pukul 8 malam acara dimulai, semua para tamu yang hadir menempati tempat duduk yang sudah panitia siapkan, segala jenis jamuan makanan ringan hingga makanan berat terjejer rapi disamping kanan dan kiri aula.


Musik klasik yang dimainkan band kenamaan mengiringi acara pagelaran, setelah acara pembukaan kini saatnya para model menampilkan kepiawaiannya berjalan dengan anggun di atas catwalk.


Satu persatu model keluar dan berjalan diatas catwalk, mereka memperlihatkan kemolekan tubuhnya dalam balutan busana indah rancangan Clarissa dan anak - anak berprestasi disekolah ini dihadapan semua orang, kilat cahaya lampu kamera membuat pagelaran ini terlihat seperti acara spektakuler yang diselenggarakan sekolah Maliqa.


Jantung Maliqa berdegub kencang, saat ini dia bukan hanya menjadi asisten Nyonya Clarissa saja, tapi dia membawa namanya sendiri untuk dua gaun yang dikenakan oleh satu model yang ditunjuk oleh pihak sekolah.


Disini akan menjadi tolak ukur namanya dipertimbangkan oleh orang - orang yang sedang mencari desainer - desainer muda, untuk mereka para model dan Butiq kenamaan acara ini sama seperti tahap penyeleksian langsung tanpa harus pihak mereka bersusah payah mencari orang - orang muda dengan bakat ungul.


Luna dengan angkuhnya berjalan menggunakan gaun rancangan Nyonya Clarissa, saat dia ditawari pihak sekolah untuk mengenakan gaun rancangan pelajar berbakat bernama Maliqa, Luna dengan keras menolak tawaran tersebut, dia berdalih jika dia hanya mengenakan rancangan desainer yang sudah memiliki integritas yang sudah diakui banyak orang.

__ADS_1


Usai para model berlenggak - lenggok dengan indahnya, mereka pun berjejer dengan rapi bak manekin hidup dalam balutan gaun indah, acara amal pun dimulai Nyonya Clarissa yang didampingi pembawa acara memperkenalkan satu persatu gaun yang dikenakan model.


Para dermawan menatap dan memerhatikan gaun dan material yang digunakan dari tempat duduk mereka, satu persatu dari mereka menganggkat tangan untuk melakukan penawaran harga hingga kata sepakat keluar dari mulut kedua belah pihak.


Hingga tiba saatnya gaun yang dirancang Maliqa diperkenalkan, semua tampak takjub dengan material sederhana tapi mampu membuat gaun seindah ini, hiasan batu kristal swarovski dibagian dada dan lengan membuat gaun tampak terkesan mewah namun lembut, bisa dibilang ini gaun terindah diantara yang lainnya.


Awalnya mereka menyangka jika ini adalah rancangan Nyonya Clarissa sendiri, mereka dibuat terkejut setelah mengetahui jika perancang sebenarnya adalah seorang siswi berbakat kelas XI, harga terus melonjak saat pembawa acara menawarkan harga pertamanya, Maliqa dibuat sesak nafas saat mengetahui gaun sederhananya jatuh pada harga ratusan juta.


"Wah.. satu gaun ini ternyata mampu membius para tamu undangan, selamat kepada para pemenang acara amal" ujar pembawa acara menutup acara amal dengan tepuk tangan para tamu yang mengiringinya.


Terjualnya gaun Maliqa dengan harga tertinggi membuat Maliqa mendapat peringkat pertama dalam acara fashion show tahun ini, rasa gembira menyelimuti hati Maliqa, Martha turut bahagia akan prestasi yang Maliqa peroleh, kemampuan sahabatnya ini sudah tidak bisa ia sangkal lagi.


"Selamat atas keberhasilan mu, bunga ini hadiah kecil dari ku" ujar lelaki itu


"Tuan Arsya.." Gumam Maliqa


"Tuan?!" Arsya membeo memperlihatkan wajahnya yang tertutup buket bunga, raut wajah kecewa tampak jelas dimuka Arsya.


Tadinya dia berpikir Maliqa akan terkejut dan memanggilnya dengan sebutan "Mas" lantas semua yang mendengar akan terkejut dan saat itu Arsya akan menjelaskan jika gadis kecilnya ini adalah kekasih yang ia cintai.

__ADS_1


Namun khayalan tak sesuai dengan realita, Maliqa bisa membawa dirinya hingga kejutan yang dia siapkan pupuslah sudah.


"Ah ternyata benar itu anda, terima kasih tuan atas buket bungannya" Maliqa mengambil buket bunga ditangan Arsya sedikit kasar, Maliqa masih kesal Arsya tidak berniat menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi dengan mendatanginya langsung.


"Sama - sama" Jawab Arsya sedih.


Tepuk tangan bergemuruh menggema diaula tempat berlangsungnya acara, Arsya tampak canggung saat tahu pihak sekolah mendokumentasikan dirinya bersanding dengan Maliqa.


Arsya menatap nanar dan sedih saat pemotretan selesai, Maliqa masih matah terhadapnya situasi ini membuatnya frustasi dia ingin sekali menarik tangan mungil itu dan mendekap tubuhnya erat baru bebetapa hari diacuhkannya membuat Arsya hampir kehilangan akal.


Arsya berjalan perlahan kembali pada kursi yang dia tinggalkan beberapa menit yang lalu, andai disini ada Willy yang senantiasa mau mendengar sehala curhatan isi hatinya yabg sedang dilanda gundah, meski Willy sering beradu argumen dengannya tapi hanya Willy asisten pribadi sekaligus teman terdekatnya.


"Disaat seperti ini aku malah merindukan pria tua itu, aku harus berbicara dengan seseorang kalau tidak aku bisa gila karena cinta" gumam Arsya sebal


Semenjak adanya masalah dengan perusahaan, Arsya memberi perintah khusus untuk mencari tau penyebab para suppliyer nya berpindah begitu saja.


"Apa aku telpon saja dia sekarang?" gumam Arsya dia melihat jam yang melingkar dipergelangan tangan kanannya menandakan pukul 10 malam, perbedaan waktu Indonesia dan London hanya 6 jam, Indonesia lebih cepat 6 jam dari London.


"Disana baru jam 4 sore, lebih baik aku telepon saja semoga dia memiliki jawaban atas segala gundah ku" Arsya merogoh benda pipih dalam saku jasnya dan segera menghubungi Willy.

__ADS_1


__ADS_2