
Malam semakin larut, semua para tetamu satu persatu berpamitan dan meninggalkan aula sekolah.
Maliqa berniat pulang dengan Amaya saat acara dimulai, tapi setelah hubungannya membaik kembali dengan Arsya, dia pun mengabari Amaya bahwa dia akan pulang dengan Arsya.
"Sedang menelpon siapa?" Tanya Arsya tepat dibelakang Maliqa.
"Kak Amaya" Jawab Maliqa menunjukan layar ponselnya bukti panggilan keluar yang baru saja dia lakukan.
"Salah satu sahabat mu itu?" Tanya Arsya tersenyum, dia sangat senang akan kejujuran yang Maliqa lakukan tanpa harus Arsya mengetahuinya lebih jelas.
"Hmmpp" Jawanb Maliqa menganggukan kepalanya.
"Ada apa?" Tanya Arsya
"Tadi saat acara dimulai aku memintanya untuk mengantar ku pulang usai acara ini selesai, jadi tadi aku membatalkannya dan memberi tahu jika aku akan pulang dengan kamu Mas" ucap Maliqa menjelaskan.
"Gadis bijak" ucap Arsya mengacak -ngacak puncak kepala Maliqa yang membuat rambut Maliqa sedikit mengembang.
"Apa dulu dia juga pernah membully mu?" Tanya Arsya kini dia harus lebih waspada pada siapa saja yang pernah dan akan membuat sulit gadis kecilnya.
"Dia adalah sahabat dan Kakak pertama ku, dia yang selama ini selalu menolong ku saat aku dibully oleh semua siswa di sekolah ini" Ujar Maliqa tanpa sadar membuka semuanya.
"SEMUA SISWA?" Ujar Arsya tersentak kaget.
"Eh, bukan kah semua sudah baik - baik saja? setelah acara amal ini aku tinggal menunggu acara kelulusan dan aku sudah tidak ada disini lagi" Ucap Maliqa menenangkan dia sudah tidak mau mempermasalahkan lagi sikap orang - orang terhadapnya.
"Apa saat itu kau baik - baik saja? apa kau sampai terluka?" Kekhawatiran selalu menyelimuti Arsya, dia memang kurang memperhatikan Maliqa karena akhir - akhir ini banyaknya masalah di perusahaan membuatnya harus memfokuskan diri diperkerjaan hingga kasihnya terlantarkan.
__ADS_1
"Hehehe.. bahkan setiap hari aku harus berkunjung ke ruang UKS kerena luka memar, lebam atau lecet yang aku dapatkan, tapi kini berkat diri ku dan Kak Amaya, aku bisa membuat orang lain yang memandang sebelah mata kini berpihak dan berteman dengan ku, hebat bukan?" Ucap Maliqa bangga di akhiri dengan tawa lirih yang keluar dari mulut mungilnya.
"Maaf harusnya kau mendapat perlindungan ku saat pertama kali kau melakukan praktek kerja lapangan diperusahan Ayah" Ucap Arsya dengan sedikit sedih menyesal.
"Apa kau sudah mencintaiku saat itu Tuan Arsya?" Tanya Maliqa menggoda
"Ya" jawab Arsya tegas, jawaban Arsya seketika membuat Maliqa tertegun.
"Benar kah?" tanya Maliqa meyakinkan
"Maaf aku tak mengakuinya dihadapan Luna saat itu, aku terlalu terkejut dengan apa yang aku dengar hingga aku tidak bisa perpikir, maaf aku telah menyakiti hatimu" Arsya meraih kedua tangan Maliqa menggenggamnya, dengan kepala menunduk penuh penyesalan.
"Pengakuan mu saat ini baru saja meloloskanmu dari hukuman, aku memaafkanmu" Jawab Maliqa, dia sangat terharu dan tersentuh mendapat perlakuan manis dari laki - laki yang selama ini membuatnya selalu merasa bahagia.
"Aku sangat bahagia ternyata aku mencintai wanita yang sama" Ucap Arsya menatap bola mata indah Maliqa, dia bahkan sempat berpikir karma baik apa yang pernah dia lakukan hingga mendapatkan berkah seindah ini.
"Apa?" Tanya Arsya
"Kau membela Luna dan mengabaikan penjelasan ku, padahal jelas - jelas wanita arogan itu yang salah" ucap Maliqa pura -pura marah padahal dia sedang menutupi rasa bahagianya akan perkataan pengakuan cinta manis Arsya
"Aku tau" jawab Arsya datar.
"Lantas kenapa saat itu kau berdebat dengan ku?" Tanya Maliqa penasaran.
"Karna aku menyukainya" Jawab Arsya senyum manis dia perlihatkan pada maliqa, seketika muka Maliqa memerah kembali.
"Cih dasar laki - laki aneh" ucap Maliqa sebal melepaskan genggaman tangannya.
__ADS_1
"Tapi sekarang kau mencintainya bukan?" Goda Arsya yang membuat Maliqa tidak bisa mengelak.
Arsya mendekatkan tubuhnya perlahan mendekati Maliqa, setiap satu langkah Arsya mendekat maka satu langkah pula Maliqa mundur menjauh, hingga punggung Maliqa tersudut pada pintu mobil Arysa yang memang terparkir tak jauh dari tempat mereka berdiri saat itu.
"A- apa ya-ng ingin kau lakukan?" ucap Maliqa terbata, Maliqa masih takut jika Arysa berjarak terlalu dekat dengannya, mereka memang sudah menjalin hubungan selama 6 bulan tapi Maliqa yang teramat polos selalu saja dibuat jantungan setiap bersentuhan dengan Arsya.
"Kenapa? Apa kau takut?" ucap Arsya, senyum smirk muncul diwajah tampannya.
"Mas" ucap Maliqa memohon, Maliqa belum pernah melakukan hal yang menurutnya tak senonoh itu, meskipun Arsya adalah kekasih dan cinta pertamanya.
Arsya semakin mendekat hingga kening keduanya beradu pelan, Maliqa hanya memejamkan matanya dia teramat gugup.
Melihat tingkah menggemaskan Maliqa membuat Arsya tersenyum senang, dia tantas menempelkan bibirnya ditelinga kiri Maliqa dan berbisik
" I Love You" ucap Arsya pelan
Cup.
Sebuah kec*pan mendarat mesra dipipi kiri Maliqa, perlakuan Arsya membuat Maliqa malu, dia pikir Arsya akan meminta first kiss darinya.
"Aaahhh.. kau pria nakal" Ucap Maliqa membuka matanya geram.
Arsya berlari saat melihat Maliqa akan memukul bahunya, kini mereka berlarian di area parkir tampak wajah bahagia Arsya saat mengerjai dan menggoda Maliqa.
Di balik kaca mobil tampak Luna melihat dengan kesal sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara, rahangnya mengeras, giginya bergemeletuk, tangannya menggenggam dan mencengkram erat stir mobil.
"Bersenang - senanglah selagi aku memberikan kalian cukup waktu, hingga saatnya tiba kalian akan menangis karena telah berani membuat ku sakit hati seperti ini" ujar Luna geram menatap nyalang pada Maliqa dan Arsya yang tertawa sambil berpelukan dihadapannya.
__ADS_1