Metamorfosa Ugly Girl

Metamorfosa Ugly Girl
Pengakuan Maliqa


__ADS_3

Hari ini adalah ujian praktek bagi seluruh kelas XII, selama beberapa hari ini Maliqa disibukan oleh tugas prakter akhir semesternya sebelum ujian nasional tiba.


Maliqa dan Martha bagaikan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan bila berada dilingkungan sekolah, persahabatan yang dimulai Maliqa membuat Martha mengerti arti sahabat sesungguhnya.


Kini mereka sedang menunggu giliran sesuai absen untuk mempersentasikan hasil karya mereka, situasi ini mengingatkan Martha akan perlakuan curangnya yang berbuntut pada titik awal dimulainya kedekatan Martha dengan Maliqa.


"Maliqa bagaimana apa kau sudah siap?" Tanya Martha disampingnya


"Hmmmpp" Maliqa tersenyum dan menganggukan kepalanya pelan beberapa kali, sebenarnya dia cukup gugup meski dia rasa tak ada yang salah atau kurang dengan hasil karyanya.


"Aku cukup gugup" ujar Martha mengerucutkan bibirnya.


Maliqa meraih tangan Martha dan menggenggamnya, mencoba memberikan kenyamanan dan ketenangan.


"Tenanglah hasil karya kita berdua pasti akan membantu kita lulus" Ucap Maliqa memberi dukungan penuh.


"Aku berharap begitu, aku doakan semoga hasil rancangan mu yang terpilih menjadi busana utama saat fashion show kelulusan kita" ucap Martha penuh harap.


"Amiinn.. Kau juga, kita sama - sama mendoakan ya" Maliqa senang dimasa - masa seperti ini ada teman yang saling mendukung dan saling menguatkan.


"Hmmpp" Martha mengangguk - anggukan kepalanua beberapa kali.


"Aku dengar pada hari kelulusan akan ada acara amal?" Tanya Maliqa, setiap ada acara penting Martha pasti lebih tau detail dibanding siswa lain karena Martha selalu dapat bocoran semua kegiatan sekolah dari Ayahnya.


"Ya semua donatur dan orang tua murid akan hadir" Ujar Martha tersenyum senang mengingat orang tuanya akan datang pada acara itu, kini hubungan dengan kedua orang tuanya begitu hangat, dulu setiap kali ada acara yang mewajibkan orang tua untuk hadir Martha tak pernah sesenang ini, karena orang tuanya hanya akan membandingkan prestasinya dengan siswa lain yang membuat Martha tertekan dan menjadi pemarah.


"Wah pasti sekolah kita akan sangat ramai" ujar Maliqa antusias.


"Iya, dan kau tau berita mengejutkan yang lainnya? Saat acara fashion show salah satu gaun yang terindah dengan nilai kelulusan tertinggi akan dikenakan oleh model papan atas ternama" Ucap Martha berbisik ini masih jadi rahasia bagi para siswa hanya para staf guru saja mengetahuinya.


"Siapa?" tanya Maliqa penasaran.


"Namanya klo tidak salah Luna Maharani, anak dari pemilik agensi model terbesar di negara ini" Jawab Martha kedua matanya berbinar terang saat menyebut nama model ternama itu.


"Luna Maharani" gumam Maliqa pelan


"Kenapa? apa kau mengenalnya?" Tanya Maliqa, Martha tidak akan terkejut jika Maliqa memang mengenalnya secara pribadi karena Martha tau Maliqa bekerja pada Nyonya Clarissa yang hampir semua rancangannya digunakan oleh para model ternama juga kalangan artis dan istri - istri penjabat.


"Hmmpp seperti pernah mendengar namanya" Ucap Maliqa dia tidak bisa memastikan, karena dia benar - benar tidak ingat.

__ADS_1


"Tentu saja kau pasti pernah mendengar namanya dia kan sering keluar masuk acara televisi dan menjadi bintang iklan paling mahal taun ini, coba lihat ini dia begitu cantik bukan?" Martha menujukan ponsel dalam gengamannya yang terpampang seorang wanita cantik yang mengenaka mini dress berwana merah


"Dia..." gumam Maliqa


"Kau mengenalnya" Tanya Martha terkejut


"Dia wanita manja yang menyebalkan itu" ujar Maliqa teringat kembali kejadian yang membuatnya hampir di scorsing.


"Apa?!" Martha kebingungan dengan penjelasan Maliqa.


Maliqa pun menceritakan bagaimana dia mengenal sosok Luna Maharani, kejadian yang menimpanya hingga dia hampir di scorsing dan kehilangan nilai praktek magangnya.


"Lantas bagaimana kau mengejar nilai penggantinya?" Tanya Martha penasaran.


"Aku menjadi asisten Bu Siska selama masa magang ku" Jawab Maliqa lesu.


"Aku bersyukur kau bisa melaluinya saat itu, kau pasti sangat membencinya sekarang?" Tanya Martha prihatin melihat dulu hidup Maliqa yang sulit.


"Tidak terlalu, tapi jika sumpah serapah ku terkabulkan saat itu aku akan merasa bahagia" Seringai jahat tercetak jelas dibibir Maliqa


"Sumpah serapah?!" Tanya Martha terkejut


Terdengar Bu Siska memanggil nama Maliqa.


"Apa dulu dia juga menyumpahi ku? Bukankah doa orang yang tersakiti akan langsung terkabulkan? Nagaimana jika dia mendoakan ku yang tidak - tidak? Aku harus segera menanyakannya setelah ujian praktek ini selesai ini menyangkut hidup ku di masa depan" Martha kini sangat gugup bukan ujian yang membuatnya ketakutan melainkan Maliqa dengan sumpah serapahnya.


Ujian Praktek berjalan lancar, sore ini Maliqa sudah merasa lega meski nilai akan di umumkan lusa.


"Maliqa kau menunggu seseorang?" tanya Amaya yang mencoba mengeluarkan motornya dari area parkir.


"Hmmpp.. Mas Arsya akan menjemput ku" Jawab Maliqa.


"Aku pulang duluan kalau begitu" ujar Amaya menghidupkan mesin motornya


"Hati - hati dijalan Kak" ucap Maliqa melambaikan sebelah tangannya.


"Maliqa" sapa seseorang dari belakang


"Iya" Maliqa menoleh menatap orang yang memanggilnya

__ADS_1


"Bisa kita bicara sebentar" tanyanya


"Ah baiklah" jawab malika ragu


Maliqa mengikuti lelaki itu kesebuah cafe yang letaknya tak jauh dari lingkungan sekolah, Aland mengajak Maliqa duduk dan memesankan 2 minuman untuk mereka.


"Ada apa Aland?" tanya Maliqa


"Kenapa kau selalu menghindar dari ku?" tanya Aland penasaran dan kesal.


"Maaf Aland, kekasih ku pecemburu dan aku tidak mau membuat kesalahpahaman dengan kedekatan kita" ujar Maliqa menjelaskan.


"Kekasih?! Kau sudah punya kekasih? Siapa dia?" Aland terkejut dengan penjelasan yang tidak dia harapkan.


"AKU" suara bariton terdengar jelas dibelakang mereka berdua


"Mas.." Maliqa terkejut dia merasa bersalah, Maliqa sedikit ketakutan.


Sebenarnya Arsya sedari tadi meperhatikan Maliqa dari balik kaca mobil, hubungan yang dia rahasiakan mengharuskan Arsya menunggu didalam mobil.


Tapi saat Aland membawanya ke cafe Arsya mulai dilanda kecemburuan hingga dia menyusul Maliqa dan Aland ke cafe.


"Kau lelaki yang mengganggu Maliqa saat acara ulang tahun sekolah?" Tanya Aland geram


"Ya itu aku, ternyata ingatan mu cukup bagus" jawab Arsya datar dengan raut wajah penuh kekesalan melihat lelaki ini selalu mendekati gadis kecilnya.


"Maliqa apa ini semua? Kenapa kau tidak memberitahu ku?" Tanya Aland marah.


"Maaf Aland karena status Mas Arsya, aku terpaksa tidak memberitahu siapapun tentang hubungan kami" jawab Maliqa lirih.


"Status? Memang siapa dia?" tanya Aland penasaran


"Dia donatur utama sekolah kita anak dari Tuan Aditya dan Nyonya Clarissa" jelas Maliqa


"Apa?!" Aland terkejut mendapat penjelasan Maliqa.


Arsya menyunggingkan senyum, melihat keterkejutan Aland terhadap siapa sosok dia sebenarnya.


"Maaf Aland aku harap setelah ini kau tidak berharap lebih kepada ku, kita masih bisa berteman" ujar Maliqa penuh harap.

__ADS_1


Arsya menautkan jari jemari nya pada tangan Maliqa dan membawanya pergi keluar dari area cafe.


"Pantas kau menjauhi ku ternyata kau mendapatkan ikan yang lebih besar" gumam Aland setelah melihat wanita yang dia cintai dibawa pergi laki - laki lain.


__ADS_2