
Di Mansion Tuannya Aditya, Willy serasa sedang disidang oleh kedua orang atasannya.
Tatapan keduanya seolah sedang menguliti tubuh Willy hidup -hidup, semenjak pertemuannya dengan Maliqa, Martha dan Amaya, Arsya mendiaminya dengan tatapan tak suka.
"Tu- tuan.." cicitnya membuka obrolan sekedar ingin mengetahui apa sebenarnya kesalahan yang telah dia perbuat.
"Jadi bagaimana Son?" Ujar Aditya tersenyum tipis tanpa mengalihkan perhatiannya pada Willy dihadapannya yang sudah dia anggap putra ke 2nya.
"Entahlah Daddy hmm.. bukannya aku mengenalnya dari Daddy, apa Daddy tidak tau apa - apa?" Arsya menggelengkan kepalanya dan melipat kedua tangannya didada masih menatap tajam Willy dihadapan mereka berdua.
"Aku hanya mengenalnya sebagai mahasiswa yang rajin dan pandai tanpa mencari tau latar belakangnya" Ucap Aditya bingung sendiri, mengetahui orang yang selalu berada disekitarnya memiliki kisah yang dia tak tau.
"Apa Daddy sama sekali tidak tau dia punya adik perempuan?" Arsya menatap heran ayah kandung disampingnya.
"Tidak tapi apa masalahnya?" Jawab Aditya mengedikkan bahunya.
"Adiknya adalah sahabat gadisku, tapi yang membuat ku terkesan adalah sebelum adiknya menjadi sahabat Maliqa dia adalah orang yang selalu membully Maliqa!" Arsya menggeram saat teringat bagaimana cara Martha membully gadisnya dulu.
"APA..?!" Aditya tersentak setengah berteriak mendengar penjelasan Arsya.
"Tu- tuan.." Cicit Willy ketakutan melihat kilatan amarah Aditya.
"Ya itu benar Daddy, bahkan hampir tiap hari Maliqa masuk ruang UKS karena selalu mendapat luka dari adiknya Martha" Jawab Arsya memperlihatkan seringai senyum smirk nya menatap Willy seolah - olah Willy adalah mangsa yang sudah dia sudutkan dan siap dia santap.
"Tu- tuan i-tukan sudah lama, saya juga tau baru - baru ini, saat kita mengenalnya mereka sudah menjalin persahabatan" cicit Willy ketakutan melihat kedua Tuannya, keringat dingin keluar membanjiri tubuhnya.
"Kalian beruntung, gadis ku sangat baik hati bisa memaafkan dan bahkan menerima dirinya menjadi sahabatnya, jika saja gadisku pendendam maka aku akan menyalurkan dendamnya" Tekanan suara serta tatapan tajam Arsya membuat atmosfer disekitar Willy lebih dingin dan menekan tubuhnya sampai kedasar bumi.
"Ya.. Ya saya dan Martha sangat bersyukur nona Maliqa bisa memaafkan dan berteman baik dengan Martha" ucap Willy pelan namun masih bisa didengar oleh kedua pria beda generasi dihadapannya.
__ADS_1
"Sekarang ceritakan semua latar belakang kehidupanmu sebelum aku mencari tau sendiri, aku tak mau tercurangi lagi dan kenapa kau bisa mengenal Amaya? Apa kalian memiliki hubungan yang tidak aku ketahui?!" Arsya masih berbaik hati tidak memberi hukuman pada Willy saat ini, karena selain jadi Asisten pribadinya Willy juga sahabat dekatnya dari masa kuliah meski sang Daddy sebagai perantara mereka berdua.
"Tidak seperti itu Tuan.." Willy tersenyum canggung bingung bagaimana dia bisa menjelaskan perihal Amaya.
"Willy kau sudah aku anggap sebagai anak ke dua ku, kau bisa menceritakan apapun" ujar Aditya lembut melihat keraguan diwajah diwajah Willy.
"Dia sudah dewasa dan tidak memerlukan kita, kita hanya orang luar dan atasannya saja Daddy" Cibir Arsya kesal melihat Willy hanya diam saja.
"Daddy jangan dengarkan Arsya, aku tidak seperti itu!" Willy tak terima jika Arsya memprovokasi Aditya, Willy sangat menyayangi Aditya dia adalah orang yang mau menampung Willy selama pelariannya ini.
"Kau baru merubah panggilan kami, dari tadi kau selalu menyebut kami Tuan! Bukankah karena kau menganggap kami orang luar" Kesal Arsya melihat perubahan sikap Willy yang selalu kurang terbuka dan banyak rahasia dibelakang mereka.
"Baiklah akan aku ceritakan semuanya" Jawab Willy menghela nafas perlahan.
Willy menceritakan semua masalah keluarganya, dia memiliki ayah yang memiliki sikap otoriter dan menginginkan yang terbaik untuk anak - anaknya dan dia juga menginginkan hasil yang terbaik yang dicapai oleh anak - anaknya.
Willy terkadang lelah dan ingin menyerah dengan tuntutan sang ayah, namun dia selalu ditekankan untuk menanggung beban mengangkat derajat keluarga, sedari SMA Willy sudah diajari bisnis bagaimana membangun perusahaan dan mengelolah perusahan menjadi berkembang dan besar.
Willy memilih kabur dari rumah karena terlampau kesal dengan perlakuan Farhan yang selalu membanding - bandingkannya dengan adik perempuannya Martha.
Sebenarnya Willy tidak keberatan jika hanya dirinya yang ditekan tidak dengan adiknya yang saat itu masih SMP, sikap Farhan yang suka membanding - bandingkan mereka membuat tali persaudaraan mereka putus bahkan Martha sangat membenci Willy karena selalu unggul dalam segala bidang.
Adik yang selalu manja dan ceria berubah menjadi pendiam, pemurung dan pemarah diwaktu yang bersamaan, hingga pada puncaknya karena nilai diraport Martha turun Farhan membentak hingga menampar Martha.
Martha yang kesal melampiaskan amarahanya dengan membentak Arsya.
" Akan lebih baik jika aku tidak punya Kakak sepertimu !!"
Melihat kekecewaan Martha yang membuat Willy sedih, akhirnya pada dini hari Willy mengemas barang - barangnya meninggalkan rumah megah yang selama ini menjadi tempat singgahnya.
__ADS_1
"Meski kau berniat menjauhi keluargamu demi adik mu tetap saja apa yang kau lakukan salah! meski kau menjauh ayah mu tetap saja membandingkanmu dengan adikmu, hingga adikmu melampiaskan kekuranganya kepada orang yang menyainginya dan disini Martha dan Maliqa lah yang dirugikan" Ujar Arsya menghela nafas kesal setelah megetahui semuanya.
"Aku tidak tau akan seperti ini akhirnya, aku pikir dengan aku menjauh Ayah akan lebih memperhatikan Martha dan menyayanginya" Jawab Willy lirih penuh penyesalan.
"Sekarang perbaikilah hubunganmu dengan keluargamu terutama dengan adikmu" Aditya menepuk pundak Willy memberi semangat.
"Baik Daddy" Jawab Willy tersenyum tipis
"Lantas bagaimana dengan Amaya" Tanya Arsya menaikan sebelah alisnya.
"Dia wanita yang akan menjadi kekasihku" Jawab Willy terkekeh percaya diri.
"Lihat Daddy bagaimana percaya dirinya dia mengklaim seorang gadis" Arsya menatap heran menunjuk Willy menatap Aditya
"Apa kau yakin dia tak memiliki kekasih?" Tanya Aditya menanggapi perkataan kedua anaknya.
"Meski dia memiliki, aku siap merebutnya" Jawab Willy menyatukan kedua tangannya menutupi mulut menutupi senyum smirk.
"Wah kau arogan sekali" Arsya tak percaya Willy seorang lelaki hangat dan ramah yang selalu ada untuknya bisa menjadi arogant karena menginginkan seorang gadis.
"Bukankah itu nama tengah keluarga kita?" Jawab Willy tersenyum mengejek
"Hahahaha... Kau benar !!" Aditya tertawa sangat puas dengan jawaban Willy, diapun seperti itu bahkan Arsya pun sama.
"Ayah dan anak sama saja!" Ujar Arsya berdecih kesal membuang pandangannya.
"Kau juga anak ku Son" jawab Aditya terkekeh pelan.
"Cih..!"
__ADS_1
"Bawa dia ke mansion saat kau telah memilikinya" Perintah Aditya meninggalkan kedua anaknya.
" Tentu saja Daddy" Willy tersenyum senang.