
Selama diperjalanan bagaikan ajang uji nyali bagi Arsya, setiap Maliqa mengajaknya berbincang Arsya tidak berani langsung menatapnya.
Arsya hanya bisa menjawab pertanyaan - pertanyaan yang Maliqa tanyakan dengan pandangan tetap menatap jalanan ibu kota yang cukup ramai.
Mobil memasuki kawasan elit nan megah, hampir semua yang memiliki rumah dikomplek ini merupakan pimpinan perusahaan besar dan ternama, meskipun mereka bertetangga jarang satu sama lain mengenal siapa tetangga mereka dikarenakan kesibukan yang mereka miliki.
Sesampainya di mansion dua pelayan menyambut kedatangan mereka, kedua pelayan itu sengaja Arsya siapkan untuk menemani Maliqa sementara dia dan Ayahnya berbincang di ruang kerjanya.
"Selamat datang Tuan dan Nona" sapa para pelayan dengan membungkukan setang badannya yang hanya dijawab anggukan kepala oleh Arsya.
"Maliqa kau ikutlah dengan mereka, Mas akan menemui ayah sebentar" ujar Arsya
"Baik Mas" Ucap Maliqa, bola matanya menelisik seluruh ruangan mencari tau apakah ada wanita lain diruangan ini.
Arsya pergi meninggalkan Maliqa menghampiri Aditya diruang kerjanya, setelah mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk Arsya duduk dihadapan sang Ayah.
"Ayah ada apa?" tanya Arsya dia bersikap tenang.
"Ada masalah yang cukup serius dengan perusahaan Textil kita, beberapa para supllier utama meminta kenaikan harga bahan baku, jika kita tidak bisa menaikan harga sesuai permintaan mereka, mereka meminta pemutusan kontrak kerja" ujar Aditya menjelaskan inti permasalahan.
"Apa sebenarnya yang mereka inginkan? Kenapa mereka menginginkan harga lebih tinggi dari kontrak awal?" tanya Arsya penasaran
"Mereka tidak menjelaskan apa - apa, mereka juga menyanggupi penalti yang harus mereka bayar menyangkut kerjasama ini jika kita menerima pemutusan kontrak ini, tapi Ayah sudah meminta Willy dan anak buah kepercayaan Ayah menyelidiki semuanya" Ucap Aditya memijit pelipisnya yang terasa berdenyut karena masalah ini.
"Ayah jangan terlalu difikirkan, biar ini menjadi urusan aku dan Willy saja, sudah masanya Ayah istirahat dari dunia bisnis" Arsya tampak mengiba melihat Ayahnya seperti terbebani dengan masalah ini.
"Hmmmp" Aditya hanya berdehem dan menganggukan kepalanya pelan.
"Kenapa? Apa Ayah meragukan anak semata wayang mu ini?" Ujar Arsya bertanya heran.
__ADS_1
"Tidak juga, Ayah hanya takut orang yang kita hadapi punya tujuan lain terhadap kita" Aditya seperti memiliki firasat buruk tentang dibalik dari masalah ini.
"Semacam dendam pribadi seperti itu?" tebak Arsya penasaran.
"Hmmmp, bisa jadi" Aditya belum bisa menyimpulkan apapun meski perasaannya mengatakan demikian.
"Dalam dunia bisnis tidak ada yang tidak bisa dihalalkan, bagi seorang pembisnis yang terobsesi dengan kemenangan apapun akan mereka tempuh tanpa mengenal jalan yang benar" Ucap Aditya menjelaskan bagaimana kejamnya dunia bisnis yang sebenarnya.
Persaingan selalu ada, menjadi yang terbaik bisa mengontrol pasar saham adalah impian semua pimpinan seoramg pembisnis.
"Baiklah untuk masalah ini aku akan lebih hati - hati" Arsya mencpba mematuhi apa yang dikhawatirkan sang Ayah, hanya seperti ini untuk sementara waktu agar sang Ayah bisa lebih tenang dalam menghadapi masalah yang dihadapi keduannya.
"Itu lebih bagus" jawab Aditya lirih dia perlahan menghembuskan napas panjang.
"Oia ada Maliqa di ruang tamu, Ayah mau berjumpa dengannya" Ucap Arsya mencoba menghibur.
"Tentu, melihat wanita cantik bisa menurunkan tingkat stres yang Ayah alami" ucap Aditya tersenum menggoda
"Dia pasti sangat cantik dengan pakaian rumahan, pasti terlihat menggemaskan" Aditya sangat terhibur dengan kecemburuan anak semata wayangnya.
"Ayah lebih baik istirahat saja, biar aku yang menemani Maliqa" Ucap Arsya mengakhiri pedebatan yang tidak ada habisnya..
"Hahahaha.. pecemburu buta! bahkan dengan Ayah mu saja kau bisa seperti ini" Aditya terkekeh gemas menanggapi sikap anaknya yang sama posesifnya seperti dia kala muda dahulu.
"Diamlah" Arsya memutar kedua bola mata malas meladeni pria tua dihadapannya.
"Hahahahaha.." Aditya tertawa terbahak - bahak melihat kemarahaan anaknya.
"Ayah kau menyebalkan" Arsya berdiri dan berlalu meninggalkan Ayahnya yang masih tertawa dengan memegangi perutnya dengan sebelah tangan.
__ADS_1
Arsya menuruni tangga dengan raut muka sebal, Maliqa yang melihat dikejauhan langsung mendekat menghampirinya.
"Sudah bertemu Ayah? Ayah mana?" tanya Maliqa mencari sosok lelaki paruh baya yang selalu terlihat menawan meski usianya sudah tak muda lagi.
Maliqa sudah terbiasa memanggil Aditya dengan sebutan Ayah, meski memang ini semua permintaan Aditya sendiri Maliqa tidak lantas menyanggupinya, baru akhir - akhir ini saja Maliqa dengan luwes bisa memanggilnya seperti itu.
"Entahlah, mungkin masih diruang kerja" ucap Arsya datar.
"Kau habis dari mana dengan para pelayan?" tanya Arsya mengalihkan pembicaraan, dia sedang sebal dengan Ayahnya yang selalu mengodanya perihal perasaannya terhadap Maliqa.
"Ditaman belakang, dulu saat pertama kali aku berkunjung Ayah pernah mengajak ku kesana melihat taman bunga dan kolam ikan" ucap Maliqa tersenyum memperlihatkan deretan gigi gingsulnya yang terlihat manis saat tersenyum.
"Manisnya.." gumam Arsya
"Kenapa?" tanya Maliqa, dia tidak bisa mendengar jelas apa yang Arsya katakan meski mereka berdiri bersadampingan.
"Gadisku sangat manis saat tersenyum" Ucapan Arsya sontak membuat Maliqa tersipu malu.
"Tunggulah sebentar, Mas ganti baju dulu" Arsya yang gemas mencubit hidung Maliqa hingga memerah.
"Maasss.." Maliqa merengek sebal, rengekan Maliqa malah membuat rasa gemas Arsya bertambah Arsya tanpa berpikir panjang mencium pipi sebelah kanan Maliqa sekilas lalu pergi.
Perlakuan Arsya membuat Maliqa memamatung dengan kedua mata membola terkejut, jemari tangannya merapa pipi yang mendapat serangan mendadak.
Ini kedua kalinya Maliqa mendapatkan kontak fisik secara mendadak, baru tadi sebelum mereka pergi ke sini Maliqa mendapatkan pelukan dengan jarak keduanya yang cukup dekat, mengingat kejadian itu saja membuat jantung Maliqa terpacu cepat, sekarang dia malah mendapatkan yang lebih.
Jemari tangan Maliqa turun dari pipi kanan ke bagian dadanya, dia ingin memastikan jika jantungnya baik - baik saja dan masih berfungsi sebagaimana mestinya.
Maliqa menenangkan fikiran, menarik nafas panjang dan hembuskan secara perlahan.
__ADS_1
"Jika selalu mendapat serangan kontak fisik terus menerus, rasanya jantungku akan berpindah ke perut" gumam Maliqa.