Metamorfosa Ugly Girl

Metamorfosa Ugly Girl
Akan Ku Rebut Kembali


__ADS_3

Arsya menepikan mobil yang dia bawa diparkiran sebuah cafe di area perkantoran tengah kota, Arsya mematikan mesin mobil dan membuka sabuk pengaman yang dia gunakan.


"Kita makan siang bersama dulu, mau?" Tanya Arsya menatap Maliqa.


"Boleh, sekarang memang sudah waktunya makan siang" jawab Maliqa menatap jam yang melingkar di tangan kanannya.


Maliqa dan Arsya turun dan bergandengan tangan menempati tempat duduk yang masih kosong, waktu makan siang seperti ini jarang ada cafe yang masih menyisakan tempat dikarenakan banyaknya pengunjung.


Tak lama berselang seorang pelayan wanita menyapa dengan memberikan buku menu yang dia bawa, selesai memesan makanan dan minuman yang mereka inginkan pelayan itu pun berlalu pergi.


"Mas aku ke toilet sebentar ya" ujar Maliqa dengan malu - malu.


"Apa perlu Mas antar?" tanya Arsya dengan mengedipkan satu matanya


"Apa?! tentu saja tidak" Maliqa gelagapan dengan perlakuan nakal Arsya pipjnya sampai bersemu merah


"Ya, sepertinya kau bisa pergi sendiri" ucap Arsya terkekeh pelan, Maliqa tersenyum dan berlalu pergi.


Arsya mulai memainkan ibu jarinya di atas benda pipih yang dia pegang, mengecek email, berbalas pesan melihat jadwal dan sebagainya, menggalihkan kebosanan karena sendiri menunggu makanan dan gadisnya yang tak kunjung datang.


"Halo sayang.." tangan dengan jemari lentik itu melingkar dipundak Arsya, seseorang memeluknya dari belakang, dengan terkejut Arsya menghempaskan pelukan itu dan berdiri berbalik menatap orang yang sudah kurang ajar terhadapnya.


"Luna apa yang kau lakukan?" bentak Arsya dengan kedua mata elang menatapnya nyalang.


Luna tersenyum manis hingga menunjukan deretan gigi rapi dengan berhias berlian disalah satu gigi taringnya.

__ADS_1


"Kau masih sama seperti dulu, tubuh mu akan menolak jika disentuh wanita" Ujar Luna tertawa lirih, dia berputar dan duduk dihadapan Arsya.


"Bukan semua wanita, tubuh ku akan selektif memilih siapa yang pantas aku respon dan siapa yang pantas aku tolak" ucap Arsya geram.


"Hahahaha.. kau masih arogan saja, seharusnya kau membuat pesta penyambutan untuk ku" Luna menopang dagu dengan satu tangan menatap Arsya, semenjak dahulu dia selalu tertantang untuk mendapatkan lelaki dihadapannya, Arsya selalu membuat jarak dan membentengi diri dengan tembok besar setiap ada wanita yang ingin dekat dengannya.


"Rasa percaya dirimu itu tidak pernah berkurang, apa kau berfikir aku senang dengan kepulanganmu" Arsya tersenyum mengejek seringai jahat terbingkai indah diwajah tampan dengan tulang rahang yang memberi kesan sensual pada wajahnya.


"Kau jahat Arsyayang" Luna merengek manja, dia tidak bisa menahan diri lagi mendapat tatapan dingin yang membuat dirinya meremang gemas memancing gairah.


"Apa kau masih marah dengan kejadian 1 tahun yang lalu? Apa kau masih penasaran dengan gadis itu?" Pancing Luna, satu tahun yang lalu dia sebenarnya tau jika Arsya mulai tertarik dengan wanita bermasker yang tanpa sengaja pernah melukainnya.


Luna bisa melihat itu semua dari tatapan dan senyuman Arsya saat itu, tatapan dan senyuman yang selalu Luna rindukan, tatapan dan senyuman yang selalu Luna harapkan.


Setelah tau apa yang Arsya rasakan Luna mengakhiri perdebatannya dengan bocah magang yang membuatnya marah, Luna tidak mau Arsya terlalu banyak bicara lagi dengan gadis itu maka Luna menyeret dan membawa Arsya pergi dan menjauhi gadis itu.


"Kekasih?!" Luna menggebrak meja dengan kedua tangannya, dia terkejut seluruh mukanya memerah sempurna menahan amarah, satu tahun dia meninggalkan tanah air untuk melanjutkan kuliah modeling diluar negri dan menjadi model ternama dan ini kekecewaan yang harus dia hadapi.


"Kenapa? Kau terkejut?" Arsya tertawa mengejek dia harus menegaskan tentang statusnya saat ini, dia tak mau jika Luna selalu beranggapan bahwa dia adalah kekasihnya.


"Lalu dimana gadis beruntung itu sekarang" tanya Luna dia harus segera menyingkirkan serangga kecil yang sudah berani menggoda kesayangannya.


"Kau tidak perlu tau!" benta Arsya, dia memang ingin memberi tau tentang statusnya sekarang tapi tidak untuk mengenalkan Maliqa pada wanita licik dan semaunya seperti Luna, Arsya takut jika Luna menyakiti gadis kecilnya.


"Apa yang kau takutkan sayang? Kenapa kau terlalu serakah hingga tak mau memperkenalkannya kepada ku?" Luna tersenyum saat melihat keraguan dan ketakutan dimata Arsya

__ADS_1


"Aku tidak takut pernah takut padamu, aku hanya takut jika gadisku terluka" Ucap Arsya menegaskan.


"Ohh sayang kau manis sekali, kenapa kau jahat membuatku cemburu seperti ini?" Luna tersenyum miris menahan emosi, dia harus berfikir jernih untuk merebut Arsya kembali.


Dulu dia terlalu percaya diri, dia pikir dengan kerjasama yang Ibunya dan Ayahnya Arsya lakukan akan membuat Arsya dalam gengamannya tapi dia salah, setelah berpindah kepemimpinan Arsya memutuskan kerjasama dengan Ibunya dan bersedia membayar penalti penuh karena membatalkan kontrak yang setengah jalan.


Maharani berpikir perusahaan itu akan bangkrut dan mereka akan merangkak memohon belas kasihan kepada Maharani dan Luna untuk mau menyuntikan dana ke perusahaan Arsya, tapi semua dugaannya salah besar.


Perusaahan justru berkembang pesat saat dibawah kepemimpinan Arsya yang saat itu masih duduk dibangku kuliah, Arsya bahkan mendirikan perusahaan sendiri dibidang properti.


"Pergilah Luna kehadiranmu tak diharapkan" Arysa kembali duduk dan memainkan ponselnya ingin menghubungi Maliqa yang sedari tadi tak terlihat batang hidungnya.


"Baiklah, sekarang aku akan pergi kau tidak perlu merindukan ku, meski jadwal terbang ku sangat padat akan aku usahakan untuk selalu mengunjungimu" ucap Luna dengan bangganya.


"Cih..!" Arsya berdecih sebal membuang muka, muak dengan semua kelakuan Luna yang selalu narsis.


"Bye Arsyayang.. muaaaccchhh" Luna pergi dengan mengibaskan rambut panjang terurainya.


Maliqa memperhatikan wanita cantik yang baru saja berlalu dengan anggunnya, Maliqa memicingkan matanya dia mengingat - ngingat wajah yang sekilat dia lihat.


"Sepertinya aku mengenali wanita itu, tapi siapa?" gumam Maliqa mendekati Arsya


"Mas" sapa Maliqa lembut yang cukup mengagetkan Arsya.


"Ah Iya, kenapa?" Jawab Arsya terkejut

__ADS_1


"Siapa dia? kenapa dia ciuman diudara" Tanya Maliqa memicingkan matanya penuh selidik


__ADS_2