
"Dasar wanita *******" ucap Alberto geram lelaki paruh baya itu menatap nyalang aura dingin mencekam seolah mengintimidasi semua yang ada dalam satu ruangan dengannya.
"Kenapa Tuan?" tanya Sean dia harap - harap cemas, setiap kali Tuannya berurusan dengan wanita ular itu selalu berakhir dengan masalah yang menyudutkan dan menyulitkan Tuannya.
"Ular itu menginginkan kita berurusan dengan seorang pengusaha dan menghancurkannya, entah apa yang dia inginkan, semua yang dia lakukan selalu mengancam keselamatan putra ku" ucapnya geram tanpa menatap lawan bicaranya Sean.
"Apa yang harus saya lakukan Tuan?" Tanya Sean sama geramnya.
Sean akan selalu setia pada orang yang sudah memberikannya hidup layak selama ini, dahulu dia hanya seorang anak yatim piyatu yang dijual ayah tirinya, memiliki hutang besar yang disebabkan kekalahannya di atas meja judi ayah tiri Sean menjual bocah berusia 7 tahun kepada Alberto pemilik casino serta tempat hiburan malam yang dia hutangi.
Melihat tidak ada harta benda yang bisa diambil dari ayah tiri Sean Alberto terpaksa menerima Sean sebagai alat pelunas hutang, awalnya Alberto berniat menjualnya kembali tapi saat anak itu menangis dan berjanji akan melakukan apapun yang Alberto perintahkan asalkan dia dibiarkan hidup.
Melihat anak dihadapannya menangis seketika dia teringat dengan anak gadisnya, seketika rasa iba pun muncul bukan hanya dibiarkan hidup, Sean bahkan dianggap sebagai anak kandung, bukan hanya hidup dengan layak Sean bahkan merasakan bagaimana menjadi seorang mahasiswa, pendidikan yang selama ini selalu dia impikan dengan mudah dia peroleh dari orang yang membelinya.
Sean juga memiliki bakat khusus dalam bisnis, terbukti dengan berdirinya perusahaan yang dia dirikan atas nama Tuannya Alberto, meaki saat itu dia masih pelajar sekolah menengah atas, Alberto memang hanya memberinya peluang tapi dia menyadari bagaimana caranya berterima kasih.
Meski usaha yang Alberto miliki ada dalam jalur ilegal, semua jejak jual beli yang Tuannya lakukan tidak pernah tercium oleh pihak yang berwenang.
Kepintaran Sean dalam memanipulasi barang dagang yang ia jual, membuat perusahaan yang bertahun - tahun dia jalankan selalu dalam kendalinya.
"Sean, kau temui dia pastikan Lexi tidak terluka sekalipun, buat kelompok untuk menyelidiki siapa yang menjadi target Luna saat ini, kita tidak bisa selamanya membantu wanita ular itu, aku sudah muak dengan kelakuannya sudah saatnya Lexi berada dalam pengawasan ku" ujar Alberto marah, rahangnya mengeras dengan bunyi gigi bergemeletuk membuat siapa saja yang melihatnya akan merasakan ketakutan.
__ADS_1
"Baik Tuan" Jawab Sean menganggung lantas berlalu pergi dari hadapan Tuannya.
"Luna kau salah sudah mempermainkan ku, aku memang seorang mafia tapi aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama dengan menelantarkan anak ku yang lainnya" gumam Alberto setelah Sean meninggalkannya.
Di geduh bawah tanah tempat tersembunyi para anggota yang selalu setia pada Tuannya berkumpul, disinilah tempat Alberto dan Sean menyimpan senjata -senjata ilegal yang dia perjual belikan, semua merk dan jenis senjata terjejer rapi membuat mata sang kolektor senjata serta para mafia seperti Alberto bersinar terang bak menemukan harta terpendam.
Bangunan mewah 20 lantai dengan basement luas ini beratas namakan Sean sebagai pemiliknya, gedung yang dia jadikan casino, hiburan malam, serta tempat tinggal ini adalah hadiah pemberian Alberto atas rasa setianya selama 20 tahun terakhir ini.
Sekitar 30 orang berkerumun menunggu arahan Sean sebagai wakil Tuannya, mereka sangat menghormati Sean sama seperti Tuannya, bagi mereka semua yang diperintahkan Sean sama saja seperti Tuannya yang memerintahkan.
Badan kekar dan ilmu bela diri yang memumpuni membuat semua kagum serta segan pada tangan kanan Tuannya.
"Wanita itu berulah kembali ini titik akhir kesabaran Tuan kita, buat dua kelompok tiga orang selidiki siapa lawan dia kali ini dua orang pantau terus kondisi Tuan muda kita jangan sampai ada luka gores menempel pada tubuh berharganya, aku tidak mau mendengar kegagalan dalam misi kita saat ini mengerti?" ujar Sean lantang memerintahkan
"Sisanya persiapkan pengiriman senjata sesuai jadwal yang sudah ditentukan, jangan ada keterlambatan hingga mengecewakan pelanggan" ucap Sean mengarahkan lagi.
"Baik Tuan" jawab mereka serempak.
"Ini sepenuhnya bukan kesalahan Tuan ku kaulah awal dari semuanya, saat aku mendapatkan Tuan muda aku sudah tidak perduli lagi dengan mu bahkan dengan nyawamu sekalipun" gumam Sean geram, dia sangat kesal melihat perlakuan Luna terhadap Tuannya.
Dalam kamar sebuah rumah mewah Lexi anak diluar pernikahan Luna dan Alberto sedang menangis pilu mendapat perlakukan kasar dari Luna sang Ibu.
__ADS_1
"Bibi.. mama.. mama una" ucapnya terbata dengan isak tangis dan air mata yang berurai di pipi tembamnya.
"Tuan muda jangan menyebutnya mama panggil dia Nyonya, bibi tidak mau Nyonya sampai marah dan melukai Tuan" ujar wanita paruh baya yang berjongkok dihadapannya sambil menghapus buliran air mata yang masih menganak sungai membasahi pipinya.
"Mama.. ma.. ma una" ujarnya lagi dengan isak tangis yang mengiringi ucapannya.
"Mama Tuan ada diluar sana, suatu saat Tuan pasti akan bertemu dengannya" Ujar Wanita bernama Nina mengelus puncak kepala Lexi
"Ma.. ma.." ucapnya terbata
"Anak manis jangan nangis ya, bibi ajak maen keluar mau?" rayu Bi Nani mencoba menghentikan isak tangis anak asuh yang dia sayangi.
"Mau aen, mau bayon.." ucap Lexi tersenyum, sesekali mengendus air lendir yang keluar dari lubang hidungnya.
"Tuan Lexi mau Balon? kita tunggu tukang balon didepan mau? semoga ada tukang balon lewat, nanti bibi belikan 1 buat Tuan Lexi" Bi Nani tersenyum senang saat Tuan mudanya ceria kembali.
Bi Nani menatap tanda merah dipergelangan tangan mungil Lexi, tanda merah ini menjadi bukti seringnya Lexi mendapatkan tindakan kekerasan yang dilayangkan Luna ibu kandungnya, anak yang sedang lucu - lucunya ini seharusnya mendapat limpahan kasih sayang orang tuanya, bukan perlakuan kasar sebagai pelampiasan amarah seperti ini.
Pernah suatu hari Bi Nani mendapati Lexi hanpir dicekoki minuman keran berkadar alkohol tinggi oleh Luna, beruntung Lexi menjerit ketakutan hingga anak batita itu bisa lolos dari tindakan yang bisa saja mengancam jiwanya.
Sebagai pengasuhnya Bi Nani pernah ingin melaporkan perilaku majikannya kepihak berwenang, tapi anak buah Luna berhasil menangkap dan menyiksanya selama satu minggu dia dipisahkan dan dikurung digudang tua jauh dari rumah Luna, dijauhkan dari Lexi membuat dirinya sadar bahwa tindakannya malah membuat Lexi dalam bahaya, tampa adanya dia sebagai pelindung disisi Lexi bisa saja Luna membuat kesalahan yang berujung mencelakai Lexi kembali.
__ADS_1
Kini meski rencana kabur sudah tersusun rapi dia selalu mengurungkan niatnya, dia selalu memikirkan bagaimana keselamatan Lexi.