
Malam semakin larut ditengah waktu istirahatnya Sean teringat dengan tuan mudanya Lexi.
Sean menatap jam dinding yang terpaku dihadapannya, waktu menunjukan pukul 23.00 WIB.
"Mungkinkah wanita itu sudah tidur" gumam Sean saat akan menghubungi Bi Nani.
"Aku akan coba mengirim pesan dia terlebih dahulu" Ujarnya lagi.
[Anda sudah tidur? Bagaimana dengan tuan muda? Apa dia baik - baik saja]
Tak lama pesan itu pun berbalas.
[ Tuan muda? Apa ini anak buah tuan Alberto?] balas Bi Nani
[Ya, tolong jaga baik - baik tuan muda kami kabari apapun yang terjadi padanya, apa lagi saat Luna menyakitinya kami tidak segan - segan akan membalas orang yang tak punya hati itu, tidak perlu takut kami akan melindungi anda] Balas Sean memberi tahu bahwa Bi Nani pun dalam perlindungan dia.
[Panggil saja saya Bi Nani, saya sangat menyayangi Lexi seperti cucu saya sendiri, saya akan selalu mengabari apa saja yang dilakukan Lexi bersama saya, saya harap Tuan Alberto jauh lebih baik dari pada majikan saya saat ini] balas Bi Nani pada Sean.
Mendapat balasan dari Bi Nani, Sean pun mengukirkan senyum bahagia Bi Nani seperti apa yang ada dalam pikirannya dia hanya wanita tulus yang menyayangi Lexi lebih dari sekedar pengasuh.
Baru saja Sean akan membalas pesan, Bi Nani sudah mengirim sebuah gambar, disana terlihat Lexi yang bahagia duduk dikursi taman dwngan memegang balon yang ia berikan pada Bi Nani.
[Terima kasih] Balas Sean mengakhiri.
"Syukurlah masih ada orang baik yang berpihak kepada kami" gumamnya
Sean menatap foto Lexi.
"Tuan muda aku akan mempertemukanmu pada Tuan besar, aku akan menjadi pelindungmu"
Perlahan rasa kantuk menghampiri, karena terlalu lelah tanpa sadar Sean menjatuhkan Handphonenya hingga terbentur terjatuh tepat diwajahnya.
"Ah harusnya aku tertidur diranjang bukan di sofa" ujarnya menggerutu kesal
__ADS_1
Pagi - pagi sekali Arsya sudah disibukan dengan jadwal pertemuannya bersama beberapa kolega untuk peluncuran proyek kerjasama terbarunya.
Saat ini karir dan reputasi perusahaan sedang dalam masa puncaknya, pernah hampir jatuh bangkrut dan bisa bangkit tanpa bantuan dari orang lain tidak membuat Arsya menjadi tinggi.
Semenjak dia mengenal dan memiliki Maliqa sedikit demi sedikit sifat ramah Maliqa menular padanya.
Kini setiap ada yang menyapanya dia akan tersenyum dan mengangguk meski tak menyapanya balik itu saja sudah kemajuan yang pesat karena dahulu setiap karyawan akan enggan menyapa atasannya karena sikap dingin dan sorot mata tajam yang membuat lawan bicaranya ingin mati ditempat.
"Jam berapa kita selesai meeting?" Tanya Arsya saat membaca materi meeting yang akan disampaikan pihaknya kepada pihak client.
"Ada apa Tuan? Apa ada hal yang mendesak?" Tanya Willy antusias dengan pertanyaan sang tuannya.
"Ya" Jawab Arsya tegas membuat Wilky sedikit ketakutan
"Apa itu?!" Tanya Willy penasaran perihal mendesak yang Tuannya katakan.
"Aku merindukan gadisku" Jawab Arsya lemah dengan menghembuskan nafas seperti melepaskan beban berat.
"Tuan tolong serius ini client terbesar kita, kita satu - satunya yang bisa kerjasama dengan beliau setelah memenangkan tender besar ini" Ujar Willy tercekat.
"Kau menyebalkan sekali, kau belum tau saja rasanya merindukan kekasih, oh ya kau kan tidak punya kekasih dan siapa juga yang mau dengan lelaki yang terobsesi dengan pekerjaan seperti mu, wanita akan lari mencari yang lain karena merasa diabaikan " Ucap Arsya tersungut amarah mendengar ucapan Willy
"Tuan tolong untuk saat ini fokus ke jadwal meeting kita, anda bisa mencaci maki saya setelahnya" Ujar Willy tidak bisa fokus memahami isi materi yang dibacanya.
"Kau benar - benar tidak punya kekasih?" Ujar Arsya penasaran menatap penuh tanya
"Tuan!" Bentak Willy merasa risih dengan pertanyaan Tuannya.
Semenjak sibuk dengan urusan perusahaan, dia jadi tidak bisa menyelidiki wanita yang sudah 2 kali menolongnya, bahkan saat acara malam amal di sekolah Maliqa dia tidak bisa hadir karena urusan perusahaan di luar negeri.
"Wah kau mulai kurang ajar sekarang berani membentak ku!" Sulut Arsya penuh emosi menendang tulang kering Willy hingga menyebabkan Willy jatuh tersungkur.
Tersadar dengan kelakuannya yang kurang ajar Willy tidak mengelak perlakuan Tuannya.
__ADS_1
"Maaf Tuan saya tidak bermaksud seperti itu, jadi tolong kembali fokus ke materi meeting kita saat ini" Ujar Willy menunduk penuh penyesalan.
"Aku terpancing emosi karena memikirkan wanita yang aku sendiri tak tau siapa namanya" pikir Willy dalam hati
"Cikh, alasan!" sulut Arsya kesal.
Arsya keluar dari ruangannya bersama Willy sang asisten pribadinya menuju ruangan yang sudah dipersiapkan untuk berjumpa dengan clientnya.
Diruang meeting Arsya menunggu kedatangan client yang akan bekerja sama dengannya, selang beberapa menit client itu pun tiba, Arsya bertatap muka dengan seorang lelaki paruh baya blasteran bertubuh tegap dengan bulu halus memenuhi dagunya.
"Selamat datang Tuan Alberto diperusahaan kami, perkenalkan ini Tuan Arsyanedra CEO perusahan kami yang akan bekerja sama dengan anda diproyek ini" Ujar Willy memperkenalkan Arysa pada Albertho
"Terima kasih atas sambutannya, saya Alberto Moregan senang bisa bertemu pengusaha muda seperti anda, ini asisten pribadi saya Sean Julio" Ujar Albertho mengenalkan pria muda sebaya dengan Arysa disampingnya.
Setelah saling memperkenalkan diri mereka memulai meeting, Willy mempresentasikan proyek kerjasama yang akan mereka lakukan.
Sesekali Asya menatap Sean yang kedapatan sengaja memerhatikannya, Arsya sebagai seorang pembisnis merasa adanya keanehan dengan cara Sean yang menatapnya.
"Kenapa aku meragu dengan mereka? padahal kami yang berusaha keras mendapatkan kerjasama ini" batin Arsya bingung dengan pikirannya sendiri
Usai sudah Willy menyampaikan presentasinya, Alberto nampak puas dengan apa yang Willy sampaikan, dia merasa mereka adalah orang yang handal dalam berbisnis.
"Aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi sebelum aku menghancurkan mereka" pikir Albertho teringat dengan keinginan Luna.
"Cara penyampaian yang sangat lugas dan jelas, hingga saya dapat memahami langsung dengan mudah" puji Albertho pada Willy dan Arsya dengan senyum merekah merasa puas dengan presentasi mereka.
"Terima kasih Tuan" Ucap Willy tersenyum senang
"Jadi kapan kita akan mulai?" Tanya Albertho antusias
"Secepatnya sesuai rencana yang sudah kita sepakati setelah anda menanda tangani kerjasama kita" Ucap Arsya tersenyum ragu.
"Baiklah kalau begitu, saya akan pelajari isi kontrak kerjasama kita dan segera mengabari anda" Ujar Albertho mengakhiri pembicaraan mereka bangun dari tempat duduk berniat untuk pamit.
__ADS_1
"Kami tunggu kabar baiknya" Ujar Willy penuh semangat.
Merekapun akhirnya berpisah setelah Willy dan Arsya mengantar sampai lobi kantor.