
Gertakan yang Maliqa layangkan membuat Martha memutar otak menyusun rencana untuk membalas perlakuan Maliqa terhadapnya.
"Aku akan buat dia menginginkan kematian karena malu, itu baru akan setimpal" gumam Martha dengan seringai kejam diwajahnya
Sudah hampir satu minggu Maliqa merasa was - was karena belum ada tanda - tanda balasan dari Martha, Maliqa selalu berhati - hati dimana pun dia berada entah sekolah ataupun lingkungan rumah, jangan sampai dia menjadi korban perundungan kembali bila itu terjadi maka mau tidak mau dia akan membongkar kartu As Martha.
Meski Maliqa telah berjanji terhadap orang tua Martha bahwa dia tidak akan memperpanjang kasus Martha terhadapnya.
"Hmm aku masih berbaik hati tidak menyerahkan bukti itu kepada pihak sekolah jadi kalau dia masih berani macam - macam dengan ku, jangan salahkan aku bila menjadi jahat" gumam Maliqa mengerucutkan bibirnya
Hari ini Maliqa dan siswa satu kelas sedang berada dilingkungan lapangan basket sekolah untuk menerima mata pelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan.
"Maliqa bisa bantu Bapak bawa peralatan olah raga?" Tanya Pak guru.
Semenjak kasus pembullyannya disaksikan oleh Farhan dan didengar oleh semua orang, kini mereka mulai membuka hati dan mulut mereka untuk bertegur sapa dengan Maliqa entah karena mereka sadar diri atau atas dorongan orang lain tapi Maliqa bersyukur sekolah sudah tidak semenakutkan dahulu.
Maliqa mengikuti arahan Pak guru menuju gudang peralatan sekolah, sesampainya pak guru menyuruh Maliqa membawa satu keranjang bola basket dan pak guru sendiri membawa satu keranjang bola sepak dan halang rintang berbentuk kerucut berwarna jingga.
"Maliqa Bapak duluan ya, ini kuncinya setelah selesai tolong kunci kembali" Pak guru memeberikan kunci gudang dan berlalu.
Maliqa terlebih dahulu menyeret keranjang bola basket keluar barulah setelahnya dia mengunci gudang, saat hendak mengunci tubuh Maliqa terdorong kuat dari belakang hingga malika tersungkur dilantai, Maliqa mengaduh kesakitan saat sikunya terbentur lantai.
"Ini pasti kerjaan Martha" pikir Maliqa dalam hati
__ADS_1
Saat Maliqa mendongkakan kepalanya berdiri seorang lelaki dengan seringai aneh menatap buas ke arah Maliqa. Maliqa segera bediri menatap balik lelaki didepannya itu.
Lelaki itu mendekat Maliqa berlari ke arah pintu mencoba untuk lari, tapi ternyata pintu terkunci di luar tadi saat Maliqa tedorong masuk ke gudang anak kunci itu masih melekat pada lubang kuncinya.
Maliqa terpojok lelaki itu seperti ingin melakukan tindakan senonoh dengan menatapi Maliqa dari atas ke bawah dan begitu terus menerus.
"Apa kau tau meski wajah mu jauh dari kata menarik tapi tubuh berisi mu membuat ku berga*rah" ucapnya dengan menjulurkan lidah dan tersenyum aneh.
"Aku harus berani, bila aku terus menerus menjadi penakut maka mereka akan merasa senang dan puas dengan pencapaian mereka"
Maliqa mengedarkan pandanganya ke sekeliling ruang gudang Maliqa menemukan Martha dibalik jendela yang terbuka dengan mengarahkan kamera yang menyala kearah Maliqa.
"Rupanya kau sedang merekam, silahkan lanjutkan apa yang ingin kalian lakukan.."
"Bila kalian meneruskan pembulian ini maka aku dengan senang hati mengirimkan bukti rekaman CCTV yang ada pada handphone ku kepada semua orang termasuk pada Ayah dan Ibu mu Martha" ujar Maliqa di sertai senyum manis yang membuat lelaki dihadapannya mundur beberapa langkah karena takut.
"Ibu ?!" Martha membeo heran
"Yah Ibu, Nyonya Dinda seminggu yang lalu dia berkunjung ke rumah ku untuk meminta maaf dengan membawa banyak buah tangan, dan jangan lupa dia juga memberikan kartu nama yang berisi no Handphone nya kami bahkan akhir - akhir ini sering berkomunikasi lewat telepon" ujar Maliqa santai dia duduk di kursi kayu yang sudah cukup tua yang sengaja disimpan diruangan itu.
Martha dengan cemas membuka kunci pintu gudang dan memasuki ruangan tindakan itu diikuti oleh kedua temannya Liana dan Nilam.
"Kau pasti berbohong kan Maliqa" tanya Martha geram, untuk pertama kalinya Martha menyebut Maliqa dengan namanya biasanya Martha akan menyebutnya dengan gadis buruk rupa. Dengan gerakan tangan halus Maliqa menelpon Ibu Martha.
__ADS_1
"Hallo Maliqa" sapa dari sebrang sana saat telepon tersambung, Maliqa sengaja mengeraskan pengeras suara agar Martha dan teman - temannya bisa mendengar percakapan mereka.
"Hallo Tante Dinda apa kabar?" Jawab Maliqa sopan dan terkesan manis
" Tante baik sayang, kapan Maliqa mau jalan - jalan dan main ke rumah Tante? Masa Tante terus sih yang main ke rumah kamu sayang" ujar Dinda dengan ramah
" Baiklah Tante kali ini Maliqa mau, sore sepulang sekolah bagaimana apa Tante bisa? Sekalian ada yang mau Maliqa bicarakan dengan Tante" ucap Maliqa bola matanya mengarah ke Marta dia tersenyum dan mengangkat satu alisnya.
Martha yang mendengar pecakapan Martha dengan Ibunya menjadi ketar - ketir ketakutan selama ini ibunya yang selalu menyayanginya, Ibunya lah yang selalu membelanya bila sang Ayah marah dan membanding - bandingkan dia dengan Kakak nya, Ibunya lah yang menjadi pelindung saat dia terluka Martha tidak tau jika Ibunya sedekat itu dengan Maliqa, Martha juga tidak mau jika Ibunya sampai membencinya karena kelakuannya pada Maliqa.
"Bicarakan? Ada apa? Tante sore ini kebetulan tidak ada acara jadi Tante bisa ajak kamu jalan - jalan sore ini" Jawab Dinda antusias
" Baiklah Tante sampai berjumpa nanti sore, nanti Maliqa kirim alamat dimana kita ketemu. Sudah dulu ya Tante bye" ucap Maliqa
"Sampai ketenu nanti sore Maliqa"
Telepon pun berakhir Martha tampak pucat pasi menatap Maliqa.
"Aa- apa yang kau inginkan?" Tanya Martha terbata
"Bila kau ingin lanjutkan perundunganmu maka akan aku pastikan hari ini adalah hari terakhirmu berbahagia, selain dekat dengan Ibu mu aku juga mempunyai kartu As kalian, bukti rekaman CCTV pencurian yang kau lakukan dengan mereka" ucap Maliqa menunjukan vidio rekaman yang ia dapatkan.
Kini bukan hanya Martha saja yang pucat pasi kini Liana dan Nilam pun begitu, mereka takut bila apa yang telah mereka lakukan akan berdampak pada dikeluarkannya mereka dari sekolah ini.
__ADS_1
Kini mereka kalah telak niat hati ingin membalas dendam nyatanya sebelum mereka melakukannya Maliqa sudah mengetahui alur yang akan mereka buat bahkan kini mereka tidak bisa berkutik lagi dihadapan Maliqa. Kekesalan tempo hari harus mereka kubur dalam - dalam, mereka tidak menyangka Maliqa akan secerdik ini dan memutar balikan keadaan seperti tempo hari, Martha dan ketiga orang yang ada dihadapan Maliqa kini seperti anak kecil yang ketakutan bahkan mereka tak ada yang berani bercicit sedikitpun.