Metamorfosa Ugly Girl

Metamorfosa Ugly Girl
Pengawasan Lexi


__ADS_3

Sudah hampir satu jam Lexi dan Bi Nani duduk ditaman depan menunggu penjual balon yang tak kunjung tiba.


"Bi bayon ana?" Tanya Lexi merengek


"Bibi juga tidak tau sayang, mungkin sebentar lagi datang kita tunggu sebentar lagi ya?" Jawab Bi Nani mencoba menenangkan Lexi


"Bayon.." Lexi menunjuk pada penjual balin yang tepat berdir dibalik gerbang rumah tuannya.


"Lexi tunggu disini sebentar ya biar Bibi yang belikan" Ujar Bi Nani, Lexi memang tidak diperkenankan keluar rumah dengan alasan apapun oleh sang Nyonya.


"Bayon obot pecawat" ucap Lexi menunjuk balon merah berbentuk robot pesawat


"Lexi mau balon Super Wings?" Tanya Bi Nani memastikan.


"Ya.. ya.." Jawab Lexi senang, senyumannya menunjukan gigi kecil yang berderet rapi.


"Lexi tunggu disini ya" Bi Nani keluar gerbang menghampiri penjual balon.


"Pak saya beli balonnya satu yang Super Wings" Pinta Bi Nani sambil menyerahkan uang nominal pecahan dua puluh ribu rupiah.


"Ini Bu" jawab penjual balon.


Penjual balon itu tak hanya memberikan tali yang mengikat pada balon yang diinginkan Bi Nani, tapi menodongkan pistol yang tadi terselip dalam jaket lusuhnya.


"Ada apa ini?!" Bi Nani terkejut hampir berteriak.


"Diam dan jangan berteriak, ambil handphone ini angkat saat setiap kali aku menelpon mu" Ujar Penjual balon itu.


"Siapa kau?" Tanya Bi Nani pelan dia tetap ketakutan meski sudah mencoba menutupinya.


"Aku Sean anak buah Tuan Alberto Ayah Tuan muda Lexi, aku hanya ingin memastikan kabar Tuan muda saat berada dalam jangkauan wanita ular itu" Ujar penjual balon yang ternyata salah satu anak buah Ayah Lexi, anak yang selama ini sudah dia anggap cucu.


"Baiklah" Jawab Bi Nani tanpa ragu, dia bisa memastikan bahwa sang Ayah lebih sayang dari pada Ibu nya.

__ADS_1


"Sekarang pergi tanpa membuat yang lain curiga" Perintah Sean pada Bi Nani.


Bi Nani segera menyembunyikan handphone pemberiannya dan beberapa kali menarik nafas untuk menghilangkan rasa takutnya.


"Tuan yakin dia tidak akan berulah?" tanya salah Leo salah satu anak buah Sean yang memegang kemudi saat Sean memasuki mobil yang terparkir tak jauh dari kediaman Luna.


"Dia bahkan sudah berada dipihak kita sedari awal" Ujar Sean menyakinkan, Sean selama ini memang mengawasi gerak - gerik Bi Nani, Sean juga tau Bi Nani pernah mencoba membawa lari Lexi untuk menyelamatnya dari amukan Luna.


"Benarkah?" Tanya Leo menyakinkan.


"Ya, kembali ke markas, kita akan menghubunginya nanti malam" Ujar Sean, dia ingin bersantai sejenak setelah pekerjaannya selesai.


Mobil Jeep Wrangler berwarna army itu melaju meninggalkan kediaman Luna dan kembali ke markas mereka.


Lexi berlari mengelilingi taman dengan seutas tali yang mengikat balon ditangannya.


"Lexi bahagia sekali" senyum diwajah penuh kerutan itu selalu terlihat bersinar saat melihat tawa dan senyum bahagia Lexi.


Bi Nani memang memiliki handphone miliknya sendiri meski hanya bisa menelpon dan berbalas pesan saja.


Bi Nani menatap para penjaga yang sedang santai dan lengah dipos nya masing - masing, ada sekitar 7 pengawal yang Luna kerjakan untuk mengawasi kediamannya.


Bukan orang biasa namun orang - orang yang handal dalam ilmu bela diri meski dengan tangan kosong.


Bi Nani menatap handphone pemberian Sean anak buah Albertho, itu adalah handphone keluaran terbaru yang hampir sama dengan milik Luna.


Bi Nani teringin sangat mengabadikan momen bahagia Lexi saat bermain, dengan tetap waspada melihat situasi Bi Nani menatap Lexi.


"Lexi sayang sini Nak" panggil Bi Nani pada Lexi yang masih asik bermain dengan balonnya.


"Duduk sini, Bibi mau ambil foto Lexi boleh?" ucap Bi Nani setengah berbisik di telinga Lexi


"Boyeh" jawab Lexi sambil menganggukan kepalanya.

__ADS_1


"Duduk sini, senyum sayang" ujar Bi Nani memberikan arahan menyuruh Lexi duduk di bangku taman bercat putih sambil memegang balon di tangan kanannya.


"Foto Lexi bagus sekali, lihat Lexi lucu ya matanya hilang" Bi Nani tersenyum senang melihat masih jepretannya yang masih amatir


"Hehehehe.. matanya ilang ya" Jawab Lexi tertawa lucu.


"Bi Nani ini sudah sore, sebaiknya Bi Nani bawa Lexi masuk kedalam" tegur seorang pengawas mengejutkan Bi Nani hampir saja dia menjatuhkan handphone dalam genggamannya


"Baik" jawab Bi Nani setelah berhasil menyembunyikan handphone dalam saku bajunya


Pengawas itu pun pergi meninggalkan Bi Nani dan kembali berjaga di posnya.


"Waktunya mandi sudah sore" Ujar Bi Nani menggandeng tangan mungil Lexi


"Bawa bebek" pinta Lexi menatap dan mengerjap - ngerjapkan kelopak matanya.


"Mandinya mau sama bebek?" tanya Bi Nani memastikan


"Ya, ama bebek" jawab Lexi mengangguk


"Tapi jangan main air lama -lama ya? Nanti Lexi sakit oke?" Ujar Bi Nani mengacungkan ibu jarinya


"Okey" Jawab Lexi mengacungkan jari telunjuk dan ibu jarinya.


Bi Nani tertawa lucu melihat Lexi belum bisa mengacungkan ibu jarinya dengan benar, karena gemas Bi Nani mencium kedua pipi tembam Lexi dan menggendongnya.


"Aduh Lexi sudah besar, Bi Nani sampai susah gendongnya" Keluh Bi Nani menggoda Lexi


"Hahahaha.." suara tawa Lexi memenuhi setiap ruangan yang dilewatinya.


Beginilah seharusnya orang tua, memberi kebahagiaan meski bukan dari hal yang berharga, mendampingi masa tumbuh dan bermain bersama sudab menjadi hal berharga bagi mereka.


Usia batita seperti Lexi harusnya masa dimana dia mendapatkan limpahan kasih sayang dari semuanya, bukan tamparan atau cubitan dari orang yang seharusnya melindunginya.

__ADS_1


Rasa miris dan kasihan sering menyelimuti Bi Nani setiap kali melihat Lexi sedih meminta rasa sayang Ibunya.


__ADS_2