
Malam semakin larut ketiga remaja itu tidur dikamar yang sama di kamar tamu milik Sean, rasa tidak percaya diri Sean menyeruak saat sehari yang lalu mengetahui jika wanita yang mampu membuatnya tertarik adalah anak dari Tuannya.
Dibalkon dengan sebatang rokok ditangannya yang mengepulkan asap menemani malam dinginnya sendiri.
"Sepertinya perasaan yang baru tumbuh ini harus aku pangkas segera agar pertumbuhannya tak menyulitkan ku, Tak mungkin bagi ku mencintai anak dari orang yang aku anggap dewa penolong" gumam Sean tersenyum miris sendiri untungnya rasa itu belum terlalu dalam hanya sebatas menyukai, mengagumi dan baru akan mencintai karena merasa menemukan sosok yang sama pada diri Amaya.
"Kau sendiri?" Sapa seorang wanita dibelakangnya mengejutkan Sean.
"Kau belum tidur?" Tanya Sean mematikan rokok yang masih menyala.
"Apa Tuan mu masih berjibaku dengan kegiatan haramnya?" tanya Amaya duduk di kursi sebelah Sean dengan segelas air dingin ditangannya.
"Kau tau?" Tanya Sean sedikit terkejut.
"Itulah sebabnya mereka berpisah dan meninggalkan ku sendiri, Ciih..keegoisan orang dewasa" ujar Amaya menenggak habis air dingin yang dibawanya.
"Apa kau masih membencinya" tanya Sean
"Dia tidak pernah berkontribusi dalam kehidupan ku, jadi untuk apa aku menyukainya" Jawab Amaya datar yang membuat Sean mengangguk menghela nafas perlahan.
"Tapi bagaimana pun dia tetap Daddy mu" Ujar Sean mencoba mendamaikan hati Amaya.
"Dalam tes DNA, aktualnya tidak" Jawab Amaya menatap jauh pandangannya mengingat bagaiman kedua orang dewasa itu dengan mudahbmeninggalkannya dengan seorang Nenek yang sama memerlukan perlindungan karena sudah lanjut usia
"Kau sangat keras kepala" Ujar Sean menggelengkan kepala pelan.
"Biarlah, karena hanya aku yang merasa orang lain hanya bisa menghakimi dan mengeluarkan pendapat mereka tanpa tau rasanya seperti apa" Jawab Amaya tersenyum getir jika membahas kehidupannya.
"Kau benar, semoga jalan yang kau pilih bisa menuntun mu dengan baik" Sean sedikit mengerti setelah Amaya menggambarkan rasa sakitnya.
"Kau sendiri kenapa begitu mengabdi pada Tuanmu?" tanya Amaya penasaran kisah dibalik Sean yang patuh bagaikan anjing yang setia.
"Dia pernah menolong ku, aku berhutang padanya, kini hidup ku entah masa lalu atau masa depan sudah menjadi miliknya" Jawab Sean tersenyum menatap Amaya
"Kau bodoh sekali" Amaya tanpa mengalihkan pandangannya menatap jauh pemandangan didepannya.
"Kenapa?"
"Memberikan semua yang kau miliki hanya karena hutang budi" ujar Amaya
__ADS_1
"Mungkin, tapi kalau bukan karena Tuan bisa jadi aku tidak bisa sampai seperti saat ini, bahkan hanya untuk hidup" ucap Sean menggambarkan sedikit kisahnya.
"Waah, cukup mengejutkan tapi aku tak akan meminta kau menceritakan history kehidupanmu" ucap Amaya menghentikan kisah sedih Sean, dia tak ingin ada hal yang membuat seseorang malu karena Amaya mengetahui masa lalunya.
"Kenapa?" tanya Sean penasaran
"Aku takut merasa kasihan dan mulai mengasihani mu" ujar Amaya memicingkan kedua matanya.
"Kenapa?" tanya Sean masih bingung.
"Karena aku sudah punya 2 remaja yang membuat ku kesulitan sejak berawal mengasihanya" ujar Amaya menertawai dirinya
"Hahaha.." Sean tertawa lepas dengan nasib Amaya saat ini, sungguh wanita yang malang.
"Apa yang kau suka dari ku?!" Ujar Amaya menatap Sean
"APA?" Sean terkejut dengan pertanyaan Amaya saat ini.
"Aku mendengar semuanya sebelum aku duduk menemani mu disini?" ujar Amaya membuat Sean kesulitan dalam menjawab pertanyaannya.
"Ah itu..?" Sean kebingungan dia bahkan sesekali menggaruk tengkuk lehernya merki tak gatal.
"Entahlah, aku tak tau" Jawab Sean tersenyum aneh menatap Amaya yang amsih memandangnya.
"Tanpa alasan?" tanya Amaya mengangkat kedua alisnya kedua matanya membola membuat Sean tersenyum lucu.
"Mungkin" jawab Sean
"Biasanya para lelaki akan merayu dengan semua kelebihan yang wanita miliki saat ditanya apa yang membuat mu menyukai ku?" tanya Amaya mengerutkan keningnya heran.
"Dan wanita akan terlihat canggung bahkan diam saat mengetahui seseorang menyukainya" jawab Sean melipat kedua tangannya didepan dada
"Kenapa harus canggung?" tanya Amaya dengan polosnya
"Kau ini.." Sean dibuat gemas sendiri dengan pertanyaan Amaya
"Bukan kah aku wanita yang tidak sensitif? Aku terkesan biasa saja saat ada seseorang menyukai ku,benar?" tanya Amaya memastikan semua sifatnya saat ini
"Ya" Jawab Sean setengah berteriak kesal.
__ADS_1
"Entah mungkin karena tumbuh hidup sendiri membuat aku seolah mati rasa akan perasaan, hingga tak ada yang mampu bertahan saat ingin menjalin hubungan, hanya kedua gadis remaja itu yang bertahan dan menganggap ku sebagai teman" ujar Amaya panjang lebar diakhiri dengan tawanya.
"Aku tak menyalahkan orang lain, ini murni karena diriku sendiri" ujar Amaya kembali
"Ya aku bisa lihat itu, cobalah membuka diri mu pada hal - hal yang membuatmu bahagia" saran Sean memotivasi Amaya
"Contohnya menerima perasaanmu begitu" ujar Amaya langsung
"Jangan" jawab Sean pelan.
"Kenapa?" Amaya bingung
"Jangan hanya mencoba, aku takut tidak bisa melepas saat kau tak bisa bersama, kata orang cinta selalu main perasaan jadi bila memang tidak ada rasa lebih baik jangan, bukankah akan menyakitkan untuk orang yang berharap bila tetap dipaksakan" ucapan Sean membuat Amaya berfikir bahwa Sean sangan mengerti betul apa itu perasaan cinta.
"Wah sepertinya kau pemain yang handal" ujar Amaya menepuk pundak Sean tanda bangga.
"Tidak juga, kau adalah cinta pertama bagi ku" jawab Sean dengan tatapan tajam menatap Amaya
"Waah itu lebih mengejutkan" Jawab Amaya memegangi dadanya seolah benar - benar terkejut.
"Rasanya aneh membahas cinta seperti ini" Sean mengalihkan pandangannya menatap alam sekitar.
"Mungkin karena kita masih sama - sama meraba" jawab Amaya
"Ini sudah malam istirahatlah kau membutuhkannya, besok kau harus bangun pagi untuk menyiapkan sarapan bagi kami bertiga" Ujar Amaya terkekeh pelan
"Ish.. Kalian sudah menumpang merepotkan pula" Ujar Sean berdecih sebal
"Wah kau sudah tidak menyukai ku lagi, buktinya sekarang sudah berani berkata kasar seperti itu" keluh Amaya terlihat seolah - olah menyedihkan
"Diam!" Sentak Sean malu sendiri karena kini Amaya mengetahui perasaannya.
"Baiklah, aku akan tidur selamat malam" Ucap Amaya membungkuk seperti seorang putri
"Selamat malam tuan putri" JawabSean tersenyjm melihat kelakuan Amaya
"Nah itu baru benar" ujar Amaya mengedipkan sebelah matanya berlalu meninggalkan Sean sendiri
"Gadis itu" gumam Sean tersenyum menggelengkan kepalanya.
__ADS_1