
"Kakak dari mana?" Tanya Maliqa saat melihat Amaya masuk ke kamar mereka.
"Dapur, aku haus" Jawab Amaya menunjukan botol dan gelas yang dia bawa.
"Oh" Jawab Maliqa mengangguk - anggukan kepalanya
"Kenapa ada yang mengganggumu?" Tanya Amaya, karena seingatnya Maliqa sudah tertidur saat dia keluar kamar.
"Aku memikirkan keadaan Mas Arsya" Keluhnya menghembuskan nafas panjang.
"Sudah mencoba menelponnya?" Tanya Amaya meletakan botol dan gelas di atas nakas.
"Sudah, tapi tidak diangkat mungkin sedang tidur" Jawab Maliqa menunjukann layar ponselnya yang dijawab anggukan kelapa oleh Amaya.
"Kak bagaimana Nenek?" Tanya Maliqa
"Untuk sementara Nenek ditemani oleh perawat, akan mencurigakan kalau dia dibawa kemari bukan?" Jelas Amaya dia juga baru mengetahuinya tadi saat berbincang dengan Sean.
"Iya juga" Jawab Maliqa dia masih menatap layar ponsel yang tidak berdering sama sekali.
"Ada yang masih ingin kau tanyakan? Perihal orang tua itu mungkin" Tanya Amaya saat melihat kecanggungan Maliqa dengan pertanyaandan jawaban yang cukup sederhana.
"Maaf" Ujar Maliqa Kikuk
"Maliqa kau sudah aku anggap sebagai adik ku jadi tidak perlu sungkan, katakanlah" Amaya duduk diatas ranjang disamping Maliqa.
"Sejak usia berapa Kakak ditinggal beliau" Tanya Maliqa mulai penasaran dengan kisah hidup sahabat yang sudah dia anggap sebagi Kakaknya sendiri.
"Sejak usia 5 tahun, bukankah saat itu aku sedang lucu - lucunya? Hahaha.. Tapi mereka berdua malah meninggalkan ku" Ucap Amaya menertawai dirinya sendiri tapi Maliqa bisa melihat kesedihan mendalam yang Amaya rasakan dari cara dia tertawa menceritakan kisahnya.
"Maaf Kak, aku membuat mu tidak nyaman" Maliqa memeluk Amaya dari samping menyesal
"Kau? Kenapa?" Tanya Amaya heran
"Masalah ini membuat kita semua kesulitan" Jawab Maliqa menatap Amaya merasa menyesal.
"Kau lupa? Lelaki tua itu awal mula masalah ini ada, jika dia tidak menghamili Luna dia tidak akan dimanfaatkan dan kita semua tidak akan bernasib sial" Jawab Amya kesal dengan kelakuan orang tua itu.
"Hahaha.. Tapi dengan begini akhirnya kau bisa bertemu dengan Daddy mu kan? Jujur saja kau pasti sedikit merindukannya?" Ujar Maliqa menggoda mencoba membuka hati Amaya untuk bisa jujur pada dirinya sendiri.
"Kau yang paling tau tentang aku, ya aku merindukannya pertama melihatnya kembali di rumah tua itu rasanya aku sangat ingin berlari memeluknya tapi kekecewaan memendam itu semua dan kemarahaanlah yang bisa aku tunjukan" Ujar Amaya panjanng lebar tak terasa air matanya mulaii membendung di pelupuk dan meluncur perlahan membasahi pipi.
__ADS_1
"Cobalah berdamai dengan masa lalu, bicaralah dengannya" Malliqa mencoba menenangkan mengelus dan menepuk punggung Amaya memberi kekuatan.
"Tidak mungkin semudah itu" Jawab Amaya tersenyum perih.
"Aku tidak menyuruhmu langsung memaafkannya, aku hanya menyarankan Kakak untuk lebih sering berbicara dengannya" Ucap Maliqa memberi saran agar hubungan ayah dan anak ini bisa sedikit mencair.
"Akan ku coba lain kali, sebaiknya kita tidur ini sudah larut malam" ucap Amaya dia dan Maliqa membaringkan diri dikasur yang sama sedangkan Martha diranjang yang berbeda.
Tanpa diketahui oleh orang yang berada didalam kamar, diluar kamar dibalik pintu seorang lelaki paruh baya sedang menahan sedih dengan air mata yang terus mengalir menyesali perbuatannya.
"Daddy juga merindukanmu sayang, maaf.." Ujar Albertho pelan saat tak sengaja menguping pembicaraan anaknya.
"Terima kasih sudah berjuang dan sehat sampai saat ini" Albertho meninggalkan kamar ketiga gadis itu dan kembali ke apartemennya.
Pagi ini usai melakukan bersih - bersih sebagaimana mestinya ketiga gadis itu keluar kamar secara bergiliran menuju ruang makan untuk memulai sarapan.
"Selamat pagi semua, selamat pagi matahari" Ucap Martha setengah berteriak dibelakang Maliqa dan Amaya
"Kau berisik sekali Martha" Jawab Amaya duduk disalah satu kursi yang ada.
"Bukankah wanita biasanya berisik?" Jawab Sean tertawa pelan melihat polah Martha yang seperti itu.
"Tidak untuk ku" Jawab Amaya datar.
"Benarkah? Seperti apa dia sebelumnya" Tanya Sean penasaran, dia meletakan sepiring telur mata sap sebagai pendamping nasi goreng yang sudah dia siapkan sebelumnya.
"Gadis tanpa emosi berdarah dingin" Jawab Martha terkikik pelan takut Amaya menatapnya.
"Tidak seperti itu Kakak cukup hangat didalam" Jawab Maliqa yang mendapat balasan senyum manis Amaya.
"Hanya Maliqa yang benar - benar menjadi adik ku" Ujar Amaya mengedipkan sebelah matanya menatap Malliqa.
"Ya tentu saja, karena aku adalah musuh kalian" Ujar Martha menyunggingkann senyum sebal.
"Benar" Jawab Amaya menambah geram Martha
"Apa mereka sering bertengkar?" Tanya Sean setengah berbisik, sedikit mendekat ke arah Maliqa yang ada dihadannya
"Iya terutama perihal memperebutkan perhatian ku, pada intinya keduanya baik" Jawab Maliqa berbisik mengikuti Sean.
"Syukurlah kalian bisa berteman dengan baik" Jawab Sean bersyukur ternyata mereka memang sering seperti ini.
__ADS_1
"Sudah, apa kalian akan terus bergibah ria? Aku sudah lapar" Ujar Martha mendenting - dentingkan sendok dan garpu ke piring yang sudah terisi nasi goreng dan dua telur mata sapi
"Ternyata makan mu banyak juga" Ucap Sean terkejut melihat piring yang sudah menggunung.
"Semenjak dia tidak bisa bersaing dengan Maliqa nafsu makannya terkesan bar - bar seperti sikapnya" Jawab Amaya menyuapkan nasi goreng ke mulutnya.
"Karena aku dikelilingi banyak cinta kalian jadi tak ada beban dalam hidup ku lagi" Jawab Martha tersenyum gembira menatap dengan mata persinar melihat makanan dihadapannya.
Sean meninggalkan ketiga gadis yang sedang sarapan setelah melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya sudah menunjukan waktunya dia bertemu Tuan Albertho.
Sean terbiasa sarapan dengan secangkir kopi dan sepotong sandwich jadi dia bisa memakannya diperjalanan menuju tempat kerjanya.
"Aku pergi sekarang, jika ada yang kalian inginkan kalian bisa menelponku di no ini" Sean meletakan kartu namannya di meja makan dan mengambil jas yang tergantung di kursi sebelum pergi.
"Oia ada yang ingin aku tau, apa hubungan mu dengan Tuan Willy?" Tanya Amaya memecah kesunyian setelah Sean pergi.
"Kenapa? Itu juga yg ingin aku tau dari Kakak" Jawab Martha sama penasarannya.
"Aku mengenalnya secara tidak sengaja dan berjumpa dengannya beberapa kali" Jawab Amaya mengingat pertemuannya dengan Willy.
"Oh, bagaimana dia menurut Kakak?" Tanya Martha penasaran karena dia memiliki misi khusus
"Dia sopan, baik dan manis" Jawab Amaya lugas.
"Mann- is?" Maliqa terkejut hingga tersedak mendengar ucapan Amaya, Amaya tidak pernah terlibat dengan lelaki bahkan memuji pun tidak pernah.
"Hmmpp.. Dia manis, apa lagi saat dia tersenyum" Jawab Amaya membuat kedua adiknya tercengang.
"Kakak menyukainya?" Tanya Martha menatap curiga
"Apa dia incaran mu? Jika iya aku akan mengalah" ada hembuhan nafas berat diakhir kalimat saat Amaya mengucapkannya.
"Mengalah?! Jadi Kakak menyukainya" Tanya Maliqa masih dibuat bingung dengan semuanya.
"Ya" Jawab Amaya menatap keduanya secara bergantian.
"Semudah itu? Apa Kakak tidak merasa malu mengungkapkannya dihadapan Martha?" tanya Maliqa pelan seperti berbisik
"Kenapa?" Amaya malah balik menatap heran
"Kau lupa apa julukannya dahulu" ucap Martha cukup puas dengan pernyataan dan jawaban Amaya
__ADS_1
"Gadis tanpa emosi berdarah dingin" ucap Maliqa menggeleng tak percaya