
Dering ponsel berbunyi, Maliqa merogoh benda pipih itu dalam saku rok sekolahnya.
"Hallo.." sapa Maliqa pada penelpon disana.
"Hallo sayang, sudah waktunya pulang?" Tanya Arsya yang menelpon Maliqa
"Ehmm.. " Maliqa mengangguk dan membuat teman didekatnya Martha terkekeh geli meliat kelakuan Maliqa.
"Untuk apa dia menganggukan kepalanya memangnya yang menelepon dapat melihatnya?" batin Martha
"Mas ada didepan gerbang, cepatlah datang sebelum Mas jemput kesana" Ujar Arsya yang sedari tadi menyempatkan waktu menjemput untuk mengajak makan siang bersama.
"Baiklah, tunggu sebentar" Ujar Maliqa dengan mata berbinar mengetahui kekasihnya sudah menunggu untuk menjemputnya pulang.
Maliqa menyimpan ponselnya kedalam saku kembali, setelah mengetahui panggilan sudah terputus oleh Arsya.
"Martha aku duluan ya, Mas sudah jemput" Ujar Maliqa berbisik, identitas kekasih Maliqa masih dirahasiakan jadi dia perlu berhati - hati saat membicarakannya.
"Baiklah tuan putri, sampai berjumpa lagi" ujar Martha membungkukan setengah badannya menghadap Maliqa, lalu mereka tertawa bersama.
"Hehehe.. bye" ucap Maliqa.
Dia terburu - buru berlalu pergi dengan setengah berlari, saat melewati gerbang sekolah Maliqa tanpa sengaja menambrak punggung seorang pria dihadapannya.
Brugh.
__ADS_1
Maliqa terpental dan akan jatuh jika bukan pria yang dia tabrak meraih tubuhnya hingga terlihat seperti adegan sepasang kekasih yang sedang berpelukan.
Kejadian itu tak luput dari pandangan Arsya yang berada dalam mobil dibalik kemudi, matanya menatap nyalang, darah ditubuhnya berdesir cepat, rahangnya mengeras dengan kedua tangan Arsya mencengkram kuat stir mobil mencoba melampiaskan kekesalan.
"Maaf aku terburu - buru dan tidak melihat dengan benar" Ucap Maliqa melepaskan pelukan Pria didepannya dan membungkuk sebagai permohonan maaf.
" Syukurlah kau tidak terluka" Ujar Pria tersebut membuat Maliqa menengadahkan kepalanya saat dia mengenali pemilik suara tersebut.
"Eh Aland,.." Ucap Maliqa canggung, sebenarnya Maliqa akhir - akhir ini berusaha menghindar dari pandangan Aland, setelah tau Martha menyukai dan sempat salah paham terhadapnya Maliqa memilih jalan aman nengan menghindari pertwmuan dengan Aland.
"Mau aku antar?" tawar Aland mendengar Maliqa sedang terburu - buru.
"Ah tidak udah, aku sudah ada yang menunggu terima kasih" Ujar Maliqa melambaikan kedua tangannya.
"Oh" Aland hanya membulatkan bibirnya mendengar penjelasan Maliqa, dia sempat kecewa mendengar penolakan Maliqa.
Maliqa menghampiri sebuah mobil SUV yang selalu dia kenali, Maliqa memasuki mobil tersebut tanpa rasa canggung lagi.
"Sudah lama?" Tanya Maliqa sambil mengipas - ngipasi wajahnya dengan telapak tangan, berlari membuatnya kelelahan hingga mengeluarkan peluh di sekitar mukanya.
"Bukankah dia Aland darma, lelaki yang mengaku pada ku kalau dia itu kekasihmu?!" ujar Arsya geram dengan tidak menatap wajah Maliqa.
"Ah iya.." Ucap Maliqa sedikit merasa bersalah.
"Kenapa dia hampir memelukmu?" Tanya Arsya lagi Lelaki ini sudah dalam mode cemburu meski sedari tadi dia menahan amarahnya untuk tidak menjatuhkan suasana hati sang kekasih.
__ADS_1
"Apa?! dia tidak memelukku dengan sengaja, tadi kami bertabrakan dan dia menahanku agar tidak jatuh" ucap Maliqa menjelaskan perlahan agar Arsya tidak salah paham dengan kejadian yang baru saja terjadi
"Benar seperti itu?" ucap Arsya menegaskan.
"Apa Mas cemburu?" Tanya Maliqa pelan.
"Apa rasa cinta ku salah atau bertepuk sebelah tangan, hingga tidak boleh cemburu?" Arsya hampir terpancing emosi dengan menaikan nada suaranya.
"Tidak bukan seperti itu? Kenapa Mas tidak malu mengakui jika Mas sedang cemburu?" Tanya Maliqa yang sebenarnya senang jika sang kekasih sedang mendeklarasikan perasaannya.
"Kenapa harus malu jika kenyataannya aku benar - benar mencintai dan takut kehilangan gadisku, orang yang malu mengakui dirinya sedang cemburu, hanya akan menimbulkan kebimbangan terhadap diri dan pasangannya, apakah dia benar cinta atau sudah mati rasa" ungkap Arsya panjang lebar
"Terima kasih" Ucap Maliqa meraih tangan Arsya menautkan jari jemari dan menggenggamnya memberi rasa nyaman akan ke khawatiran berlebihan yang sedang Arsya rasa.
"Untuk?!" Tanya Arsya seperti kebingungan.
"Memberikan banyak cinta hanya untuk ku, Aku berjanji tidak akan memberi kesempatan kepada orang lain untuk menggeser posisi Mas dihati ku" ucapan Maliqa membuat hati Arsya menghangat dan bahagia, dia merasa sangat beruntung memiliki gadis yang sudah berfikiran terbuka dan dewasa yang bisa mengimbangi cara berfikir Arsya yang masih labil mengenai perasaan dan cinta.
"Kedepannya tetaplah seperti ini, tambahkan selalu rasa itu hanya untuk ku" ucap Maliqa lagi.
"Jangan ada kebohongan diantara kita, bicarakan saja meski itu menyakitkan" timpal Maliqa
"I Love You" ujar Arsya mencium punggung tangan Maliqa yang masih dalam gengamannya.
"Love You too Mamas" Maliqa terkekeh pelan
__ADS_1
Arsya mulai menghidupkan kendaraannya dan keluar dari area sekolah, mobil melaju dijalanan ibu kota yang ramai di jam - jam istirahat.