Metamorfosa Ugly Girl

Metamorfosa Ugly Girl
Kemarahan Arsya


__ADS_3

Arsya menarik tangan Maliqa keluar dari area cafe menuju tempat dimana mobilnya terparkir, Arsya menghempaskan pegangan tangannya secara kasar hingga membuat Maliqa hampir mencium jendela mobil.


Rasa panas menjalar didalam hati hingga membuat dadanya sesak, Arsya berbalik membuang muka menahan dan mengontrol kemarahannya dengan beberapa kali mengatur nafas dan membuangnya secara perlahan, dia harus bisa berfikir jernih untuk tidak menyakiti gadis kecilnya.


"Maaf.." ucap Maliqa lirih gemetar ketakutan.


"Masih ingin merahasiakan hubungan ini?" tanya Arsya geram tangannya mengepal erat kedua bola matanya menatap nyalang.


"Tapi Mas.." Jawab Maliqa pelan.


"Maliqa apa kau benar - benar menginginkan hubungan ini atau tidak?!" ujar Arsya menyela ucapan Maliqa setengah berteriak.


"Maksud Mas apa?" tanya Maliqa ketakutan.


"Aku tidak bisa terus menahan kecemburuan setiap kali melihat kau didekati lelaki lain karena status ku yang tak kau akui" Jawab Arsya mendengus kesal


"Bukan begitu Mas, aku hanya tidak ingin semua teman ku menjauh dan menciptakan kecanggungan pada guru - guru yang mengajari aku" ujar Maliqa pelan mengimbangi kemarahan Arsya

__ADS_1


"Dan semua lelaki bebas mendekatimu seperti tadi begitu?" hardik Arsya geram.


"Mas aku akan menjaga diri untuk mu" ucap Maliqa lembut meraih tangan Arsya dan menggengamnya


"Kau itu wanita Maliqa, bagaimana jika salah satu dari mereka nekat karena penasaran selalu mendapat penolakan dari mu? Lelaki akan merasa tertantang mendekati wanita yang susah dimiliki tapi jika wanita itu telah dimiliki orang lain pantang baginya untuk merebut milik orang demi menjaga harga dirinya" ucap Arsya menjelaskan dengan raut muka yang masih kesal.


"Mas itu semua tidak akan terjadi, semua itu hanya ada dalam ketakutan mu saja percayalah" Maliqa masih belum bisa mengabulkan tuntutan Arsya untuk mempublikasikan hubungan ini.


"Terserah pada mu, aku tak mau kehilangan kesadaran karena berdebat dengan kau yang keras kepala, sekarang masuk!" Arsya sudah kehabisan akal untuk menasehati Maliqa.


Mereka pun memasuki mobil, Arsya melajukan mobil menuju rumah Maliqa dia berniat segera mengantar Maliqa pulang dan pulang ke rumah untuk meredakan amarah.


Sesampainya dipekarangan rumah Maliqa, Arsya menepikan mobilnya dan masih berdiam diri tanpa menoleh pada Maliqa, Maliqa hanya bisa menatap sendu raut wajah marah Arsya.


"Terima kasih sudah mengantar pulang Mas" ujar Maliqa melepaskan self belt yang melingkar ditubuhnya.


"Hmmmp" Arsya hanya berdehem tanpa menoleh wajah kekasihnya.

__ADS_1


Saat hendak turun dari mobil Maliqa memberanikan diri berbalik menatap Arsya, mendekatkan wajahnya ke telinga Arsya.


"Jangan pernah meragu, aku akan selalu menjadi milikmu" ujar Maliqa berbisik tepat ditelinga Arsya, Arsya yang merasakan hembusan pelan nafas Maliqa membuat jantungnya berdebar kencang.


Cup


Sebuah kecupan mendarat sempurna dipipi sebelah kiri Arsya, Arsya yang mendapat kecupan terkejut hingga menoleh menatap wajah Maliqa matanya membulat dengan muka bersemu merah.


Detak jantungnya terpompa lebih cepat dari biasanya, dia mematung merasakan gelenyar aneh merayap dilubuk hatinya.


"I Love You Arsyanendra" Maliqa tersenyum manis lantas turun dari mobil meninggalkan Arsya yang mematung setengah sadar.


Setelah beberapa menit berlalu Arsya mengelus pipi bekas kecupan hangat gadis kecilnya, seulas senyum terbingkai manis diwajah tampan Arsya.


"Dasar gadis nakal, sudah berani menggoda rupanya, akan ku balas kau" Arsya terkekeh menertawakan dirinya sendiri yang dimabuk asmara.


"jangan pernah berpikir dengan satu kecupan ini akan membuatmu lolos dari masalah, aku akan tetap mendiamkannya, ini pelajaran untuk kau yang keras kepala" gumam Arsya.

__ADS_1


Mobil pun melaju kembali keluar dari area lingkungan rumah Maliqa dan memasuki jalan besar.


__ADS_2