
Kedua mata Arsya membola melihat foto dalam layar handpone nya, itu Maliqa kekasihnya sedang terduduk dikursi kayu dengan tangan dan kaki terikat dan mulut ditutupi lakban.
Pletak.
Ballpoint yang berada ditangannya terbelah menjadi dua setelah menerima tekanan dari gengaman sang empunya.
Mata Arysa memerah dengan rahang mengeras kedia tangannya mengepal hingga buku - buku dijari tangannya terlihat memutih.
"Kurang ajar!!!"
Arsya menyapu semua benda yang berada diatas meja kantornya, rasa marah memenuhi urat nadinya.
"Ada apa Tuan?" Willy ketakutan melihat kekacauan yang Tuannya perbuat.
"Ada seseorang yang mencoba mempermainkan dan mengancam ku lewat Maliqa" Arsya geram menatap tajam benda pipih dihadapannya.
"Kenapa dengan Nona?" tanya Willy penasaran.
"Mereka menculiknya!!" tanya Willy menyakinkan apa yang baru saja dia lihat pada layar telpon Arsya.
"Kita akan tau setelah kita berjumpa dengannya, Willy tetap atur semua yang ada disini aku akan pergi menyelamatkan Maliqa" ujar Arsya marah, dia bagaikan binatang buas yang siap untuk bertarung.
"Tapi Tuan saya yakin mereka sudah mempersiapkan segalanya, apa Tuan tidak mencoba menelpon polisi saja??" Ujar Willy mengingatkan karena mengkhawatirkan tuannya Arsya.
"Mereka memiliki mata - mata yang mengetahui gerak - gerik kita, jika kita sampai menghubungi polisi maka mereka tidak akan segan - segan untuk menyakiti Maliqa" ujarnya datar.
"Apa sebenarnya yang mereka inginkan hingga melibatkan Nona? Dasar pengecut" bentak Willy marah mengetahui jika lawannya bermain kotor.
"Willy aku pergi sekarang mereka sudah memberikan alamat untuk kami bertemu" Asya bergegas mengenakan jasnya dan mengambil kunci mobil dan handpone diatas meja kerjannya.
"Kabari saya secepatnya" pinta Willy memohon karena tak bisa mencegahnya.
"Jika dalam waktu 2 jam aku tak mengabari mu, datanglah dan selamatkan Maliqa" ucap Arsya setengah putus asa.
"Tuan.." jawab Willy kebingungan.
Arsya menempatkan handphonenya pada dashboard mobil agar lebih mudah menelusuri alamat yang diberikan si penculik.
Arsya memarkirkan mobil yang dia kemudikan di sebuah halaman rumah tua dengan ilalang disekelilingnya.
"Kau datang sendiri?" Tanya lelaki berbadan kekar dengan tato di kedua tangannya.
"Seperti yang kau lihat" Jawab Arsya menahan emosi.
"Ikat tangan dan tutup matanya!" ujar lelaki bertato itu pada kedua anak buahnya.
"Apa yang kalian inginkan? Dimana Maliqa!" Ujar Arsya mencoba berontak saat matanya akan ditutup kain hitam.
"Tenanglah kekasihmu baik - baik saja" jawab lelaki bertato itu, mereka menuntun Arsya kesebuah tempat dan mendudukan Arsya diatas kursi kayu, mengikat tubuhnya dengan kursi yang dia duduki.
__ADS_1
"Selamat datang tuan Arsya kita langsung saja, aku menginginkan perusahaanmu apa kau bersedia menukarnya dengan kekasihmu?" Ujar Sean tanpa membuka penutup mata yang dipakai Arsya.
"Kenapa harus perusahaan ku? Apa yang sebenarnya kalian inginkan?" Tanya Arsya mencari tau.
"Ternyata perusahaan lebih penting dari kekasihmu, sungguh malang Maliqa memiliki kekasih sepertimu" Ujar Sean mencemooh Arsya sambil mematap Maliqa yang berdiri dibelakangnya.
"Apa maksudmu!!" Ujar Arsya marah, dia ingin sekali meninju wajah orang yang meledek perasaannya.
"Harusnya kau berkata, baik akan aku turuti keinginanmu bukannya malah menanyakan pertanyaan yang bod0h seperti itu" Ujar Sean cukup geram dengan lelaki didepannya
"Aku tidak bisa memberikan perusahaan" ujar Arsya datar.
Kedua wanita disamping Maliqa menatap sendu pada Maliqa, ini cukup logis mereka hanya berpacaran bahkan sepasang suami istri saja belum tentu mau mempertaruhkan seluruh kekayaannya.
Maliqa hanya terdiam tersenyum menanggapi tatapan kesua sahabatnya, Maliqa cukup sadar dan tau diri.
"Kenapa? Kau terlalu sayang dengan hartamu?" Ujar Sean meledek kembali
"Tidak!" Jawab Arsya tegas.
"Lantas?" kini Sean dibuat kebingungan dengan semua pernyataan Sean.
"Perusahaan Textile atas nama ayah ku, sedangkan perusahan Properti sudah aku alih kepemilikan menjadi milik Maliqa jadi kau tidak bisa meminta salah satu perusahaan yang aku pegang saat ini" Ujar Arsya panjang lebar.
"APA! Mas mengalihkan kepemilikan perusahaan Properti menjadi milik ku?!" Sentak Maliqa terkejut kedua matanya terbelalak dengan pernyataan Arsya.
"Maliqa itukah kau sayang? Kau baik - baik saja??" Tanya Arsya dia hanya bisa menajamkan pendengarannya.
"Amaya?!" tebak Arsya menyakinkan jika Maliqa bersama sahabatnya.
"Aku tidak bisa berkata apa - apa lagi?" Martha menggeleng - gelengkan kepala.
"Martha?! Kalian semua disini? Kalian semua diculik? ada apa sebenarnya ini?" Tanya Arsya kebingungan mendengar suara kedua sahabat Maliqa
"Hei kau buka ikatannya kita sudahi semuanya, kita sudah terlalu terkejut hingga tak bisa berkata apa - apa lagi" perintah Amaya pada salah satu ank buah Sean, kini Amaya leluasa melakukan apa saja pada anak buah Daddy nya itu.
"Baik Nona" Jawab lelaki bertato disamping Arsya.
Mengetahui dia sudah dibebaskan, kedua mata Arsya mencari keberadaan Maliqa dan langsung memeluknya.
"Sayang, kau baik - baik saja? Apa mereka menyakiti mu?" ujar Arsya memeriksa semua bagian tubuh Maliqa.
"Diamlah, selama ada aku disisinya tak kan ada yang berani menyakitinya" Ujar Amaya malas.
"Kenapa kau diam saja?" Tanya Arsya menatap binggung wanita dihadapannya.
"Apa benar perusahan properti itu milik ku?" tanya Maliqa setengah tidak sadar.
"Ya" jawab Arsya pasti.
__ADS_1
"Kau tidak takut aku menikah dengan yang lain?" pertanyaan itu lolos begitu saja keluar dari mulut Maliqa
"Akan ku patahkan leher kalian berdua" Jawab Arsya kesal dan marah dengan pertanyaan Maliqa.
"Selamat datang Tuan Arsya" ujar Sean membuat Arsya mengalihkan perhatiannya terhadap Maliqa
"Kau! Kau Asisten Tuan Albertho ! Kau yang menculik mereka semua termasuk Maliqa?" Ujar Arsya, rasa marah seketika membuat darah memgalir deras ditubuh Arsya.
"Benar" jawab Sean datar.
Bugh.
Bugh.
Bugh.
"Sean!" pekik Amaya terkejut dengan tindakan brutal Arsya yang memukuli wajah tampan Sean.
"Kau mengenalnya? Ada apa ini sebenarnya? dan kenapa kalian tidak dalam keadaan terikat?" bentak Arsya marah saat semua keanehan yang ia lihat .
"Tenanglah Tuan Arsya semua akan kami jelaskan, duduklah dahulu" Ujar Amaya menengkan kekasih sahabatnya.
Maliqa memeluk Arysa dan mendudukannya berharap dia bisa leboh tenang.
"Kenapa kau mengikuti arahannya? Kau tau betapa khawatirnya aku memikirkan dirimu" sentak Arsya melihat Maliqa yang tampak tenang tanpa ketakutan sedikitpun.
"Maaf tapi ini harus terlihat seperti nyata, Luna selalu mengawasi kita" Ujar Maliqa masih menvoba menenangkan Arsya.
"Luna?" tanya Arsya kebingungan.
Sean menceritakan semuanya, ya semuannya tentang kisah masa lalu Tuannya hingga ancaman pembunuhan Lexi.
"Apa masalah yang dulu aku alamipun ada kaitannya dengan Luna" tanya Arsya penasaran, perusahan textilenya pernah mengalami kebangkrutan karena para supliyer yang memutuskan kerjasama.
"Ya" ujar Sean mengelus rahangnya yang masih terasa linu bekas pukulan Arsya.
"Wanita itu!" Arsya mengepalkan kedua tangannya dengan rahang mengeras menegaskan tulang rahang yang terlihat jelas.
"Bagaimana, anda mau bergabung dengan kami?" tanya Sean meyakinkan.
"Apa aku bisa mempercayai kalian?" ujar Arsya menyipitkan kedua matanya menatap Sean dan Amaya.
"Jika kesepakatan ini merugikan anda, maka kami bersedia mengganti kerugian yang anda alami sebanyak 2x lipat" ucap Sean meyakinkan.
"Apa kalian bisa menjamin keselamatan Maliqa" tanya Arsya memastikan.
"Tentu" jawab Sean yakin
"Baik, aku setuju" Arsya menatap Maliqa
__ADS_1
"Ok waktunya bermain" senyum seringai menghiasi wajah tampan Sean.