Metamorfosa Ugly Girl

Metamorfosa Ugly Girl
Aib Keberuntungan


__ADS_3

"Daddy aku menginginkan sesuatu" ujar Luna saat sambungan teleponnya diterima oleh orang yang dia tuju.


"Katakanlah, apa lagi mau mu?" Jawab seorang pria dengan nada marah.


"Aku ingin kau menghancurkan seseorang" ujar Luna seringai jahat terbingkai dalam wajah cantiknya.


"Apa itu perlu?" tanya Pria dalam sambungan telepon memastikan.


"Apa kau ingin anak kita baik - baik saja?" Ujar Luna nada suaranya memang pelan lembut seolah menggoda, tapi nyatanya mampu membuat pria disebrang sana marah.


"Jangan kau berani melukai anak ku" Ujar pria itu membentak.


"Baiklah, turuti permintaan ku maka aku akan menjamin keselamatan anak manis mu" ujar Luna menjanjikan lalu mengakhiri sambungan teleponnya.


"Bagaimana sayang?" Tanya Maharani ibu Luna.


"Semua harus sesuai dengan keinginan ku bukan begitu Mommy?" ujar Luna memberikan senyuman manis menatap Mommy nya.


"Pelayan bawa anak itu kemari" Ucap Maharani setengah berteriak.


Tak berselang lama, seorang pelayan paruh baya membawa anak laki - laki berumur 3 tahun yang bersembunyi dibalik badannya, anak laki - laki itu menoleh dan tersenyum.


"Ma -ma?" ucapnya terbata menghampiri dan berdiri dihadapan Luna.


"Panggil aku Nyonya, kau tidak pernah punya mama" sanggah Luna setengah berteriak dihadapan sang anak sambil mencengkram dagu anak tersebut kesal, dia tidak pernah mau jika anak yang ada dihadapannya memanggilnya dengan sebutan itu.


"Foto dia semenarik mungkin, aku perlu memberikan hadiah kecil pada si tua bangka itu" perintah Luna mendorong tubuh anak mungil itu hingga tersungkur jatuh ke lantai, pelayan yang membawa anak laki - laki itu bergegas menghampiri dan langsung menggendongnya.


"Baik Nyonya" jawab wanita paruh baya yang selama ini mengurus semua kebutuhan anak laki - laki itu, ada raut kasihan saat dia menatap anak lelaki tampan yang berada dalam gendongannya.


Pelayan dan anak kecil itupun berlalu pergi dari hadapan Luna dan Maharani.

__ADS_1


"Selama kita memiliki mahluk kecil yang menjijikan itu, kita bisa melakukan apa saja yang kita inginkan" ujar Luna menatap kepergian anak laki - laki itu, dia membanggakan dirinya sendiri karena memiliki orang yang selalu bisa dia andalkan.


"Kau pintar sekali sayang" puji Maharani menatap takjub pada putri semata wayangnya.


"Ternyata aib yang selama ini aku simpan menjadi harta yang berguna juga" ucapnya terkekeh pelan meneguk habis wine dalam gelas yang berada dalam gengaman tangannya.


Masih teringat jelas saat dulu dia selalu mengejar - ngejar Arsya semasa Sekolah Menengah Atas, tapi Arsya selalu saja menolaknya.


Dari semua lelaki yang pernah menyukainya hanya Arsya yang membuat hatinya bergetar dan seolah tertantang ingin mendapatkannya.


Kekecewaan yang selalu dia rasakan membuat Luna mencari cara untuk menghilangkan rasa kesalnya dengan bermabuk - mabukan di sebuah club malam.


Luna memang sering keluar masuk club malam, menjadi model diusia remaja membuatnya sudah tak asing dengan dunia penuh gemerlap, Maharani yang memiliki beberapa kolega pemilik club memudahkannya untuk masuk ke dunia gemerlap itu meski usianya belum mencapai cukup umur.


Hingga kejadian itupun terjadi, saat Luna mabuk parah dia memasuki ruangan VIP yang berisikan pimpinan mafia kejam dinegara ini.


Dengan santainya dia mengambil minuman dan duduk dipangkuan pimpinan mafia bernama Alberto.


Semua anak buah yang berada dalam ruangan itu dibuat ketar - ketir dengan kelakuan wanita ini, Tuannya memang sering ditemani pelayan wanita tapi tidak sampai menyentuhnya.


Kegagalan dalam rumah tangga membuatnya enggan berdekatan dengan mahluk yang bisa meluluhkan hatinya.


Sebenarnya semua anak buah yang ada diruangan itu sangat ingin menyeret wanita muda yang duduk manja dipangkuan sang Tuan dari ruangan ini dan melemparnya keluar.


Luna memang baru menginjak usia 17 tahun tapi dengan postur tubuh tinggi yang berisi dan wajah cantiknya tidak akan ada yang menyangka jika usianya masih belia.


"Aku menginginkan mu sayang" ucap Luna meracau berbisik ditelinga Alberto dan sesekali menjilatnya.


Mendapatkan perlakuan yang tak biasa jelas membuat Alberto terpancing, 2 tahun menduda dan tak pernah menyentuh wanita membuat dirinya tak bisa menahan saat seseorang melakukan perlakuan agresif seperti ini.


"Jadi kau menginginkan aku?" ujar Alberto tersenyum menatap Luna.

__ADS_1


"Tentu saja sayang" Luna mencium bibir Alberto singkat.


Semua anak buah yang ada disana dibuat terkejut dengan perlakuan wanita tersebut, Tuannya bahkan tidak marah dan malah meladeni kegilaan wanita yang duduk dipangkuannya.


"Aku menginginkan sebuah kamar, aku akan bermain - main sebentar dengannya" ucap Alberto menatap Luna dari atas ke bawah.


"Tapi Tuan kami tak tau siapa pelayan wanita ini" Ujar lelaki tampan bertubuh kekar.


"Urus itu nanti Sean, setelah aku selesai bermain dengan wanita penggoda ini, kau bisa mengurusnya bukan?" Ucap Alberto dia sudah tidak bisa diganggu lagi, dia menginginkan wanita yang sudah berani membuat pertahanannya runtuh selama ini.


"Baik Tuan" ujar lelaki bernama Sean yang selama ini menjadi kaki tangannya yang setia.


Setelah menyiapkan semua yang diinginkan Tuannya, Sean segera mencari pemilik club tersebut untuk memastikan bahwa yang sedang bersama Tuannya adalah benar wanita yang biasa menjajakan tubuhnya, hingga suatu hari nanti jika ada hal yang tidak diinginkan dia bisa meminimalisir resiko yang akan Tuannya tanggung.


Setelah hampir satu jam mencari akhirnya Sean bisa mengorek informasi bahwa wanita yang sedang bermesraan dengan Tuannya adalah tamu yang telah berlangganan di club malam ini, di remaja SMA yang berprofesi sebagai model.


Mengetahui hal tersebut Sean dibuat ketar - ketir dan kebingungan, dia lantas berlari menju kamar yang telah dia pesan untuk Tuannya.


Dengan tergesa - gesa dan nafas masih membhru didada Sean akhirnya sampai di depan pintu kamar, namun belum sempat dia mengetuk untuk membukanya, pintu sudah terbuka dari dalam.


"Rupanya dia tamu?" tanya Alberto memastikan menatap Sean ketakutan serta bercucuran keringat.


"Benar tuan" jawab Sean sedikit ketakutan.


"Sial! Bereskan sebelum kita mendapat masalah" Bentak Alberto


"Baik Tuan" Jawab Sean


"Pantas ada bercak darah saat aku selesai menjamahnya, akan menjadi masalah bila suatu saat wanita ini mempermasalahkan apa lagi jika dia sampai hamil" gumam Albertho geram dengan kecerobohannya.


Sean memeriksa tas yang dibawa Luna berharap menemukan kartu identitas agar bisa membawanya pulang.

__ADS_1


"Sean, suruh salah satu anak buah kita mengawasinya ikuti kemanapun dia pergi" Perintah Alberto, dia berfikir wanita ini mungkin wanita baik - baik buktinya dia masih menjaga keperawanannya, Alberto akan bertanggung jawab bila memang suatu saat wanuta ini hamil anaknya.


__ADS_2