
"Sudah habis?" Tanya Amaya pada Lexi yang memakan makanannya sendiri tanpa menunggu Amaya datang menyuapinya lagi.
"Sudah, kenyang Kak" Ujar Lexi tersenyum menunjukan deretan gigi putih mungil menuodorkan piring yang sudah bersih tanpa ada remah nasi yang tersisa.
"Wah hebat, Lexi sedang menggambar apa?" Amaya membereskan piring kotor bekas pakai Lexi dengan mata tetap memandangi hasil karya yang Lexi buat.
"Mommy and Daddy" Jawab Lexi menatap haskl karyanya bangga.
"Kenapa Daddy Lexi tidak diberi mata hidung dan mulut seperti Mommy" Amaya mengerutkan keningnya keheranan saat mendapati lukisan itu tampak ganjil, diatas kertas itu terlukis seorang wanita dan seorang pria sedang menggandeng tangan dengan anak kecil ditengahnya sebagai penyambung mereka, namun Lexi tak melukis raut wajah sang ayah sebagai mana ibu dan anak dalam lukisan, sang ayah terkesan memiliki wajah datar dan tampak menakutkan.
"Lexi tidak tau wajah Daddy" ujar Lexi polos menatap wajah Amaya.
"Lexi belum pernah bertemu Daddy" tanya Amaya dibuat terkejut dengan ucapan Lexi
"Belum" jawab Lexi menggelengkan kepalanya.
Kembali terdengar bunyi ketukan pintu.
Aku menoleh kearah pintu dan menghela nafas panjang.
"Sebentar ya sayang Kakak tinggal lagi"
Amaya meninggalkan Lexi kembali penghampiri tamu yang tak diundang.
__ADS_1
"Siapa lagi sekarang" Amaya menggerutu sambil berjalan menghampiri pintu.
"Maaf anda siapa?" Tanya Amaya pada lelaki tampan bertubuh tinggi didepannya.
"Saya Sean" Jawabnya datar menatap sekeliling seperti ada yang dia cari.
"Ada perlu apa anda ke rumah saya?" Tanya Amaya tak kalah datar.
"Saya ingin menjemput Tuan Lexi" Jawabnya menatap Amaya dihadapannya.
"Gadis yang cantik" pikir Sean
"Tuan?!" Ulang Amaya kebingungan
"Maaf saya hanya akan memberikan Lexi pada Mommy dan Daddynya saja, jadi maaf saya tidak akan memberikan Lexi pada orang yang tidak berkepentingan meskipun itu supir Mommy dan Daddy nya sendiri" Jawab Amaya terkesan ketus dan tak berhati.
"Supir? Anda anggap saya supir?" Tanya Sean terbelalak, bagaimana bisa lelaki setampan dan segagah dirinya dianggap sebagai supir.
"Lantas apa? Anda memanggil Lexi dengan sebutan Tuan, kalau bukan supir lalu apa? tukang kebun dirumahnya? Atau baby sitter?" Terka Amaya bibirnya menyunggingkan ledekan telak bagi Sean.
"Kenapa anda berlaku kurang ajar?" Tanya Sean, dia mencoba menahan amarah untuk tidak berlaku kasar pada seorang wanita.
"Saya tidak perlu berlaku sopan pada orang yang tidak mengenal saya" Jawab Amaya menatap nyalang.
__ADS_1
"Kenapa tatapannya seketika membuatku ketakutan, ada apa dengan tatapan itu? kenapa terasa dingin hingga aku merasakan menggigil dibuatnya" pikir Sean kesusahan menelan saliva
"Kenapa anda tidak menanyakan hal yang sama saja saat ada yang ingin mengambil Lexi" Ujar Sean mencoba tetap tenang.
"Wah anda tau kode yang saya gunakan rupanya, meskipun anda tau, bisa jadi anda bukan orang baik dan saya bisa jamin jika Lexi tidak mengenal anda" Jawab Amaya mencibir Sean.
"Anda cukup cerdik" Sean dibuat takjub dengan pola pikir wanita dihadapannya.
"Terima kasih atas pujiannya dan selamat malam" Tanpa basa - basi lagi Amaya menutup pintu dan kembali menghampiri Lexi
"Wanita yang menarik, aku seperti menemukan kesamaan pada dirinya" Sean masih terpaku dibalik pintu dia tersenyum takjub dengan wanita yang baru saja di temui.
Sean mengambil handphone dibalik jas yang ia kenakan mencoba menghubungi seseorang yang ia tugaskan.
"Tetap awasi sekitar rumah ini, wanita ini cukup menarik dia tidak akan melepaskan Tuan Lexi dengan sembarang orang" Ujar Sean pada sambungan telpon yang menerimannya.
Sean kembali masuk ke dalam mobil Sport Utility Vehicle yang dia bawa, dia memandangi rumah mungil yang baru saja dia singgahi.
"Dia cukup layak untuk menjadi pendamping ku, aku akan pastikan kau menjadi kekasih ku nona" Sean tersenyum dengan terus memegagi sebelah dadanya,
Rasa itu ternyata ada, jantungnya berpacu lebih cepat saat matanya bertatap langsung dengan Amaya, dia tidak pernah jatuh cinta atau tertarik pada kaum yang baginya selalu menyusahkan.
Tapi wanita ini terasa lain, auranya terlalu kuat hingga menyedot semua daya hidup yang Sean miliki.
__ADS_1
"Akan ku urus kau nanti setelah pekerjaan ku selesai" Ujar Sean saat mengemudikan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah Amaya.