Metamorfosa Ugly Girl

Metamorfosa Ugly Girl
Bunga Liar


__ADS_3

"Aahh disaat terlambat dan mendesak seperti ini, selalu ada saja barang yang tidak dapat aku temukan" ujar Willy dia terus saja mengacak - ngacak laci meja walk in closet miliknya.


"Dimana penjepit dasi itu?! Aahh lebih baik aku bergegas akan ada rapat penting 30 menit lagi" Willy bergegas keluar dari apartemennya dan berlari menuju lobi.


Willy segera menuju parkiran untuk menaiki mobilnya, selama 2 tahun mengikuti tuan besar Aditya, Willy sudah memiliki apartemen dari hasil jerih payahnya sendiri, tuan Aditya pernah menawarkan untuk tinggal bersama dan Willy bisa menempati salah satu kamar tamu yang kosong, tapi Willy menolaknya dengan halus.


"Maaf tuan saya tidak mau tersiksa diwaktu luang saya" Jawab Willy kala itu yang membuat Tuan besarnya tertawa dan Arsya menatapnya jengkel.


Kini Willy sedang dalam perjalanan menuju perusahan, untuk mengikuti rapat yang sebentar lagi akan dimulai.


"Beruntung sekarang aku tidak perlu menjemput tuan muda Arsya, semenjak dia menjalin hubungan dengan nona Maliqa aku bisa sedikit tenang, kalau dipikir - pikir tuan muda selain arogan dia juga pencemburu buta, dia memilih untuk pergi dan pulang kerja mengendarai mobilnya sendiri karena tak mau kekasihnya terlalu sering bertatap muka dengan ku dan mengabaikannya, kekanakan sekali" Willy tekikik geli bila mengingat kelakuan Arsya perihal kecemburuannya.


"Aku harap tidak terlambat" Willy menaikan kecepatan laju kendaraannya hingga tanpa sengaja dia menabrak seekor kucing yang melintas.


Saat dia ingin menghampiri kucing tersebut untuk mengecek kondisinya, dia melihat seorang gadis remaja sudah berjongkok meraih kucing malang dengan luka dikakinya tersebut.


"Maaf apa itu kucing mu, aku tidak sengaja sungguh" Ujar Willy menyesal


"Bukan, aku hanya ingin menolongnya saja" ucap gadis itu bangkit berdiri berbalik menghadap Willy

__ADS_1


"Kau!?" Ucap Willy terkejut dia tidak menyangka akan bertemu kembali dengan gadis yang pernah mengobatinya.


"Tuan sepertinya sedang terburu - buru, hingga tidak menyadari ada kucing melintas, jika ucapan ku memang benar lebih baik tuan bergegas biar kucing ini saya bawa untuk diobati" ucap Amaya menawarkan diri.


"Terima kasih, ini kartu nama ku jika terjadi sesuatu yang parah terhadap kucing ini segera kabari aku" Willy menyerahkan kartu nama nya pada Amaya dan bergegas menaiki mobil dan pergi.


Willy sampai diperusahaan pada saat rapat telah separuh jalan, Arsya sempat dibuat terkejut dengan kedatangan Willy yang tidak biasanya.


Usai rapat selesai Arsya memanggil Willy untuk menemuinya diruangannya, Arsya melempar hasil laporan rapat tadi diatas meja dihadapan Willy.


"Apa ini Willy? Apa terjadi sesuatu" ucap Arsya penasaran.


"Maaf tuan, tadi saya menabrak.." Belum selesai Willy menjelaskan semuanya Arsya sudah memotong ucapan Willy


"Sepertinya tidak terlalu parah hanya kakinya saja yang terluka" ungkap Willy dengan senyuman.


"Kau menabrak seseorang dan kau senang?" Arsya heran dengan kelakuan Willy.


"Ah tidak tuan, saya hanya senang bisa berjumpa seseorang" ucap Willy tersenyum malu.

__ADS_1


"Jangan sok misterius dengan ku, selesaikan proyek kerjasama kita dengan perusahaan konveksi milik Nyonya Maharani aku tidak mau ada kesalahan yang akan berbuntut panjang" Ucap Arsya kesal dengan kelakuan Willy


"Baik tuan, saya juga tidak mau berlama - lama berurusan dengan beliau, Ibu dan anak sifatnya membuat gerah saja" Willy memijat pelipisnya, mendengar nama Maharani membuatnya sakit kepala.


"Hahahaha.. kau pasti suka melihat kemolekan tubuh mereka yang tercetak jelas dalam balutan kain kurang bahan yang selalu mereka kenakan bukan?" Arsya tertawa terbahak - bahak bila mengingat setiap pertemuannya dengan Nyonya Maharani dan putrinya Luna.


Ibu dan Anak itu selalu berpenampilan mencolok dengan balutan kain yang ketat dan belahan dada yang rendah, sehingga gunung kembar mereka setengah menyembul tertekan pakaian yang mereka kenakan.


"Bukannya anda yang selalu digadang - gadang untuk menjadi menantu tersayangnya" ujar Willy balik mengejek, Nyonya Maharani memang menginginkan Arsya menjadi menantunya.


"Dan yang akan menjadi menantu tersayang tuan besar mu adalah Maliqa, aku tidak mengenal wanita lain selain gadis ku" Ucap Arsya tegas dengan kedua mata elangnya menatap tajam Willy.


"Saya rasa Nona Luna tidak akan menyerah begitu saja" ucap Willy waspada.


"Itulah yang harus kita waspadai, melihat perangainya dia pasti akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan ku, aku akan mentolelir jika dia berlaku curang padaku tapi jika mereka berani mengganggu Maliqa maka aku sendiri yang akan turun tangan " Arsya tidak peduli jika hanya berhubungan dengannya tapi dia akan segera bertindak jika mereka berani mengganggu gadisnya.


Perjalanan hubungan ini baru dimulai, Arsya baru merasakan manisnya sambutan cinta gadisnya, tak mungkin dia biarkan tanaman liar merusak bunga indahnya.


Luna adalah model yang pernah menjalin kerja sama dengan Mommynya Clarissa, wanita yang selalu menempel pada Arsya semenjak mereka duduk dibangku kuliah.

__ADS_1


Dia selalu menganggap dirinya wanitanya Arsya, hingga setiap wanita yang memuja Arsya menjauh dengan sendirinya, mereka hanya bisa menitipkan salam kagum dan rindunya pada Willy yang hampir sama tampannya.


Meski Willy tergolong lelaki yang ramah dan mampu membuat wanita nyaman dengannya, lama kelamaan dia jengah juga karena banyaknya wanita yang menyukai Arsya, padahal Arsya lelaki yang Arogan, pendiam yang tak pernah mau berbicara dengan wanita.


__ADS_2