Metamorfosa Ugly Girl

Metamorfosa Ugly Girl
Perempuan Selalu Merepotkan


__ADS_3

Flashback


"Sayang.." suara rengengek mengalun manja dilorong koridor kampus.


"Sayang tunggu!" Teriaknya lagi setengah berlari.


"Arsyayang" rengek seorang gadis dengan sesekali menghentakan kakinya ke tanah kesal karena orang yang dipanggilnya tak menyahut atau berhenti sesuai yang dia harapkan.


"Ish.. kau ini" gadis itu mencebikan bibirnya, berlari meraih tangan seorang pria dan menggandengnya.


"Tidak boleh seperti ini kalau sama pacar Arsyayang, kamu kemana - mana harus gandeng aku, klo enggak nanti dikira kita lagi marahan terus banyak yang deketin aku gimana?" Ucap sang gadis dengan senyum manja memandang Arsya


"Kita mau kemana Asisten Pribadi Willy?" tanyanya pada pria disamping Arsya


"Kami akan pulang nona Luna, saya harap anda tidak membuat tuan muda kesusahan" ujar Willy merotasi bola matanya malas, dia tidak habis fikir kenapa wanita ini begitu bebal untuk dinasehati.


"Memangnya apa yang sudah aku lakukan hingga membuat Arsyayang kesusahan, salahnya dimana jika aku ingin dekat - dekat dengan pacar ku" Bentak gadis bernama Luna itu.


"Sayang beri pelajaran Aspri mu itu dia membuat ku kesal" Luna mengerucutkan bibirnya dengan kepala bersandar pada lengan Arsya


"Luna jaga kelakuan mu, ini kampus dan kau bukan pacar ku!" Arsya sudah kehabisan kesabaran Luna selalu saja membuatnya kesal dengan tingkah manjanya.


"Bukan? Kenapa? Apa kurangnya aku?" kedua bola mata Luna sudah mulai berkaca - kaca setelah mendapatkan ultimatum dari Arsya, dan ini lah yang paling Arsya benci, Luna selalu menjadikan air matanya sebagai senjata saat penolakan Arsya diucapkan.


"Karena Aku tidak mencintaimu" Manik mata elang Arsya menatap nyalang Luna.


"Tid-ak.. tid-ak kau hanya belum mencintai ku saja, biarkan semua mengalir seperti apa ini, dirimu disekitar ku dengan kita menghirup udara yang sama itu sudah cukup bagi ku, biarkan aku yang berusaha untuk mengetuk hati mu kau hanya perlu menerima semua perasaan yang aku berikan" Mendapat perlakuan dingin dariArsya membuat Luna sedikit gugup ketakutan.


"Mau sampai kapan?! Jangan bertindak melebihi batas karena aku tidak ingin memiliki hubungan dengan wanita manapun" Arsya mengibaskan kaitan tangan Luna yang melingkar di lengannya dan berlalu pergi.

__ADS_1


"Nona tolong mengerti, tuan Arsya tidak bisa menjalin hubungan dengan anda, jangan memaksakan semua sesuai keinginan anda"


ujar Willy tegas jika Luna bukan anak kolega tuan besar Aditya kata - kata pedas pasti sudah Willy lintarkan untuk wanita bermuka tebal ini.


"Tidak, Arsya hanya akan menjadi milik ku kami sudah ditetapkan untuk bersama" ujar Luna setengah berteriak memandang Willy yang masih ada disampingnya.


"Jangan memancing kemarahan tuan Arsya nona atau nona akan menanggung malu melebihi dari penolakan ini" ucap Willy tegas


" Diam kau dasar asisten kurang ajar!" bentak Luna


Willy hanya memberikan senyum mengejek dan berlalu pergi mengejar Arsya yang sudah tidak terlihat lagi.


"Jika sikap halus ku tidak membuat mu tunduk, maka jangan salahkan aku melakukan kecurangan untuk mendapatkanmu" seringai jahat membingkai wajah cantiknya.


Luna merogoh benda pipih dalam clutch bag nya untuk menghubungi seseorang.


"Ibu Aku ingin Arsya dan tuan Aditya hadir sebagai calon keluarga diacara ulang tahun ku lusa" ujar Luna saat ponselnya terhubung.


Luna menutup panggilan dan memutar - mutarkan benda pipih itu, seringai jahat tercetak jelas diwajahnya.


"Kita akan mulai permainannya" gumamnya pelan.


PT. Maharani adalah kolega terbesar perusahan Aditya, hingga membuat Arsya tidak sampai hati untuk langsung menyakiti atau bertindak kasar pada Luna sang pewaris tunggal perusahaan tersebut.


Meski Ayahnya Aditya tidak ambil pusing perihal sikapnya terhadap Luna, tapi Arsya selalu menjaga nama baik Ayahnya, dia tidak mau karena sikapnya yang menyinggung salah satu kolega Ayahnya, membuat dia dan Ayahnya kesusahan dikemudian hari.


"Willy kenapa jalan mu lambat sekali" ujar Arsya geram.


"Maaf tuan, nona Luna menahan saya jadi ada sedikit perdebatan tadi" ucap Willy malas.

__ADS_1


"Cih.. wanita itu sudah tidak punya rasa malu, cepat jalankan mobilnya aku ingin segera pergi ke perusahaan, perempuan selalu merepotkan" Arsya berdecih mencebikan bibirnya sebal.


"Baik tuan" Willy hanya tersenyum dan segera menjalankan mobil yang ia kendarai dan melaju menuju perusahan Textile terbesar di kota Karawang.


Saat mobil yang ditumpanginya masuk ke area parkir perusahaan Arsya melihat ada segerombolan remaja perempuan duduk dikursi diarea taman.


"Willy siapa mereka?" tanya Arsya menunjuk remaja yang sedang duduk bergerombol.


"Mereka adalah siswa Sekolah Menengah Kejuruan yang menjadi peserta Pelatihan Kerja Lapangan diperusahaan ini tuan" ujar Willy menjelaskan.


"Biasanya kelas berapa yang pihak sekolah kirimkan?" Tanyanya lagi


"Kelas XI tuan, mereka akan mengikuti pelatihan sesuai dengan kejuruan mereka, sekolah mereka adalah sekolah yang menerima dana bantuan dari tuan Aditya dan Nyonya Clarissa tuan" ujar Willy menjelaskan kembali.


Saat Arsya keluar dari mobil, karena sedang terburu - buru dia menabrak salah seorang gadis yang mengenakan masker dengan rambut terurai gadis itu menambrak dan menginjak kakinya.


"Aaghh..!! Kau tidak punya mata hah!" bentak Arsya pada gadis didepannya yang langsung menundukan kepala.


"Maaf tuan saya kurang hati - hati maafkan saya tuan" ucap gadis itu menyesal.


"Kau..!!" ucap Arsya kesal


"Tuan lebih baik kita bergegas, tuan besar sudah menunggu kita" ucap Willy melerai perdebatan yang Arsya lakukan.


Mendengar ucapan Willy Arsya bergegas memasuki lobi dan meninggalkan gadis yang sudak berkaca -kaca menahan tangis ketakutan, Willy segera berlari mengimbangi gerak jalan Arsya.


"Hei buruk rupa kau membuat kita dalam masalah saja, sudah cukup sial kami satu tempat pelatihan dengan mu, jangan membuat kekacauan disini dan merugikan kami semua" ujar gadis dengan rambut kucir kuda.


"Cepatlah kita harus ke Human Resources Development untuk menyerahkan surat pengantar dari sekolah" timpalnya lagi.

__ADS_1


Mereka berlima berjalan menuju HRD dengan didampingi seorang pengawas, seampainya disana gadis berkucir kuda menyerahkan map berisi data siswa yang mengikuti magang di perusahaan ini.


"Jadi ada lima orang siswa yang akan mengikuti pelatihan disini sesuai dengan kejuruannya, Firda dan Kinara silahkan mengikuti Ibu eva untuk membantu dibagian Administrasi, Tisha silahkan mengikuti Pak Abdul untuk membantu dibagian IT, Lusi bisa mengikuti Ibu Linda ke bagian Akuntan dan untuk Maliqa, bisa mengikuti Ibu Diana ke Departemen knitting sebagai proses awal sementara pelatihan, karena kejuruan kamu tata busana maka kamu akan mendapat ilmu lengkap disini mulai dari Departemen knitting awal mula terbentuknya kain dari rajutan benang, sampai ditahap akhir yaitu buang benang untuk membersihkan sisa benang yang menempel dipakaian yang siap pakai dan siap dipasarkan" Ujar lelaki paruh baya bernama Luki


__ADS_2