
Rasa lelah terlihat jelas dalam raut wajah Arsya dia beberapa kali menghela nafas panjang memperjelas rasa lelahnya.
Melihat tingkah polah Asya saat kembali ke ruang kerjanya, Willy menjadi merasa gemas sendiri.
"Ternyata cinta bisa membuat seorang yang dingin bagaikan es menjadi cair dan menggemaskan seperti ini" Batin Willy ingin sekali tertawai tapi rasa takut lebih besar dari pada rasa inginnya.
"Sedang apa sekarang gadis ku" gerutu Arsya sepanjang jalan hingga tiba di depan pintu ruang kantornya.
Ceklek.
Suara pintu terbuka sebelum Arsya menggapainya.
"Sedang menunggu Mas, mau makan siang bersama?" Jawab Maliqa yang ada dibalik pintu mengejutkan Arsya namun tidak dengan Willy.
"Sayang kau disini?" Tanya Arsya terkejut setengah tidak percaya dengan penglihatannya saat ini.
"Hehehe.. tadi Kak Willy mengirim pesan katanya Mas sedang bad mood jadi aku mampir untuk membawa bekal makan siang" Jawab Maliqa tersenyum senang karena sikap antusias yang ditunjukan Arsya saat bertemu dengannya.
"Ah.. sayang" Arsya tersentuh dengan kedatangan Maliqa di hari yang melelahkan baginya, dia merengkuh tubuh mungil Maliqa kedalam pelukannya.
Arsya memerlukan pelukan sang kekasih untuk mengisi ulang semangat yang tersedot habis oleh semua pekerjaan yang tidak ada habisnya.
"Mas malu ih" Ujar Maliqa seraya ingin melepaskan pelukan Arsya.
"Mas rindu" Ucap Arsya terdengar lirih ditelinga Maliqa
"Aku juga" Jawab Maliqa menghentikan tindakannya untuk melepas pelukan, Maliqa mengusap - usap sesekali menepuk - nepuk punggung Arsya seraya memberikan semangat tambahan untuk harinya yang melelahkan.
"Sekarang kita makan siang dulu ya" ujar Maliqa membuat Arsya melepaskan pelukannya.
Melihat Tuan dan kekasihnya memasuki ruangan kerja Arsya, Willy pun mengikutinya dari belakang.
"Willy mau apa kau!" tanya Arsya setengah membentak, dia sedang ingin berduaan dengan kekasihnya tanpa ada gangguan apa lagi hadirnya orang lain.
"Makan siang tuan" Jawab Willy polos.
__ADS_1
"Pergi ke area kantin perusahaan saja, aku ingin makan berduaan dengan gadisku" ujar Arsya ketus, dia sedikit terpancing emosi.
"Dasar bujang lapuk, tidak pernah mengerti situasi yang Tuannya inginkan" batin Arsya menatap tajam Willy
"Mas aku bawa bekal lebih, aku juga sudah siapkan bekal untuk Kak Willy" Ujar Maliqa mencoba menengahi.
"Seharusnya kau hanya menyiapkan untuk ku saja kenapa repot - repot membuatkannya juga" ujar Arsya pada Maliqa dengan sedikit mengerucutkan bibirnya sebal.
"Dasar begitu saja harus cemburu" batin Willy tak habis fikir
"Aku bisa sampai kesini karena tau kabar Mas dari Kak Willy, seharusnya Mas berterima kasih kepadanya" Ujar Maliqa menjelaskan tanpa bermaksud memihak salah satu dari mereka.
"Senang kau dipuji kekasih ku!" ucap Arsya menatap Willy yang tersenyum seolah senang karena menang.
"Mas" Maliqa meraih tangan Arsya dan menautkan jari jemari mereka hingga genggaman tangan itu membuat Arsya sedikit lebih tenang.
"Baiklah anggap saja ini hadiah istimewa karena kepintaranmu saat ini" Ujar Arsya mengalah, bagaimana pun Willy telah berjasa mendatangkan Maliqa ke kantornya.
"Terima kasih Tuan" Jawab Willy senang.
Maliqa menggandeng tangan Arysa mengajaknya masuk karena sedari tadi mereka berbicara dibibir pintu.
"Ayo kita makan, aku sudah lapar karena menunggu Mas terlalu lama" ujar Maliqa sedikit manja berharap mendapatkan perhatian Arsya yang masih ingin berdebat dengan Willy.
Menu makan siang yang Maliqa bawa cukup sederhana, tak lain adalah makanan yang biasa Ibunya masakan dan akhirnya Maliqa pelajari.
Melihat makanan rumahan yang Maliqa bawa membuat Arsya tersenyum senang, dia berasa dibawakan bekal oleh sang istri dari rumah.
"Apa ini semua kau yang memasaknya?" Tanya Arsya penasaran melihat menu bekal makan siang yang beragam, ada satu lauk pauk dan 2 macam sayur serta ada potongan buah sebagai pencuci mulut.
"Iya, semoga sesuai dengan lidah Mas" Jawab Maliqa malu - malu dia takut apa yang dia buat tidak sesuai dengan selera Masnya.
"Apapun yang kau hidangkan pasti akan aku makan" Ujar Arsya tersenyum senang, meskipun nanti tidak enak setidaknya Maliqa sudah bersusah payah membuatkan bekal untuknya.
"Mau makan sendiri atau aku suapin?" Tanya Maliqa sedikit menggoda.
__ADS_1
"Suapin" jawab Arsya manja tanpa malu meski masih ada manusia lain yang mendengarkan pembicaraan mereka.
"Manjanya" ucap Makiqa mendayu menggoda
"Nona.." Belum selesai apa yang ingin disampaikan Willy, Arsya sudah memotong percakapannya.
"Apa?! Kau juga mau disuapin?" sulut Arsya geram menatap tajam Willy.
"Tidak tuan saya cukup tau diri, saya hanya ingin bertanya punya saya yang mana?" Ucap Willy menundukan kepala tak mampu menatap sorot tajam Tuannya.
"Punya Kakak yang ini" Maliqa menyerahkan bekal yang sudah tertata rapi dengan lauk pauknya dalam satu wadah bekal bento.
"Terima kasih saya akan makan di ruangan saya saja" Ujar Willy memilih jalan aman untuk menghindar banteng pencemburu yang siap menyerang.
"Baguslah" Ucap Arsya ketus.
"Mas" keluh Maliqa menanggapi sikap Arsya yang selalu seperti ini.
"Saya permisi Tuan, selamat makan" Willy undur pamit meninggalkan Tuan dan kekasihnya.
Arsya merasa senang dengan perlakuan Maliqa padanya, sempat mengalami salah paham dalam hubungan membuatnya bersyukur bisa merajut kembali masa - masa indah bercinta dengan wanita yang membuatnya selalu jatuh cinta.
"Kenapa memandang ku seperti itu? ada yang aneh?" Ujar Maliqa saat mendapati Arsya memandanginya dengan senyum melekat indah diwajahnya.
"Tidak, kau tampak sempurna seperti bisanya aku bersyukur memiikimu" Ujar Arsya masih memandangi Maliqa dengan tersenyum malu.
"Dan akupun demikian adanya" Ujar Maliqa membuat Arsya tersipu malu.
"Tetaplah seperti ini" Arsya meraih kedua tangan Maliqa menggenggamnya dan mencium kedua punggung tangan Maliqa secara bergantian.
"Akan ku usahakan, Mas tau kan semenjak aku menjadi cantik banyak lelaki tampan mendekati ku" Ujar Maliqa menggoda pria bucin yang sedang menatap dirinya.
"Jangan berusaha memancing ku nona, atau kau akan ku kurung dalam sangkar emas" Arsya melepaskan pegangan tangannya seraya menatap tajam wanita dihadapannya sedikit kesal perihal ucapannya barusan.
"Cobalah kalau kau bisa" goda malika dengan menaikan kedua alisnya dan tersenyum mengejek.
__ADS_1