Metamorfosa Ugly Girl

Metamorfosa Ugly Girl
Salah Paham


__ADS_3

Pagi itu hari tampak cerah bagi Arsya meski diluar sedang hujan lebat dengan petir yang sesekali menyambar, pagi itu dia terus menerus tersenyum bahkan sesekali tertawa dan menggeleng - geleng kepalanya.


Pagi ini dia berniat mengantarkan kekasih hatinya pergi ke sekolah, siulan kecil terdengar beedendang merdu keluar dari mulutnya disepanjang perjalanannya dari kamar ke ruang makan.


"Ada kabar baik apa hari ini, Ayah rasa atmosfer mansion terasa berbeda pagi ini, seperti ada jutaan kupu - kupu dan bunga indah yang berterbangan dimana - mana" ujar Aditya terkekeh menahan tawa


"Tentu saja ada kabar gembira Ayah, sebentar lagi aku akan membawa menantu kesayangan Ayah tinggal disini" Jawab Arsya berapi - api


"Jadi kapan kita akan menyelenggarakan pesta pernikahannya Son?" Tanya Aditya antusias menatap Arsya


"Tentu saja secepatnya, Ayah tunggu saja" Ujar Arsya tersenyum bahagia


"Pesta pernikahaan apanya? dia mungkin baru saja menyatakan cintanya pada gadisnya, Maliqa juga masih kelas tiga Sekolah Menengah Kejuruan, orang tua mana yang mau melepaskan anak gadisnya secepat itu, ish kalian ini" ucap Clarissa panjang lebar mengomel sembari membantu pelayan mempersiapkan sarapan


"Benar begitu rissa? Ah Ayah sedikit kecewa, tapi tidak mengapa dan kau Arsya jangan membuat menantu Ayah terlepas seperti tempo hari mengerti" ucap Aditya memberi peringatan.


"Baik Ayah" Ujar Arsya pelan dia juga masih belum tau mengapa tempo hari Maliqa menjauhinya dan dia berniat menanyakannya langsung pada Maliqa hari ini agar dikemudian hari Arsya tidak melakukan kesalahan yang sama.


Mereka pun memulai memakan sarapan mereka masing - masing, bila sekilas orang melihat orang lain akan menganggap mereka adalah sebuah keluarga yang sempurna.


Arsya mengendari mobilnya menuju rumah Maliqa, menjemput gadisnya untuk mengantarkannya pergi sekolah Arsya ingin sekali masuk kerumah minimalis bercat hijau tosca itu, tapi dia urungkan mengingat Maliqa belum mengijinkan dia berkunjung dan bertemu kedua orang tuanya.


Tok.. tok.. tok


Terdengar suara kaca pintu mobil samping diketuk membuyarkan lamunan Arsya, Maliqa telah tiba dengan payung dalam pegangannya.


"Maaf aku tidak menyadari kau sudah tiba" ucap Arsya menyesal


"Tidak apa, hujannya lebat sekali" ucap Maliqa duduk disamping kemudi dan melipat payung yang baru saja dia gunakan.


Arsya mengeluarkan sapu tangan dibalik jas yang ia kenakan, ia menyapu kening dan pipi Maliqa yang terkena cipratan air hujan


Tindakan Arsya yang manis membuat Maliqa terdiam terpaku kedua mata mereka pun bersiborok menatap satu sama lain, degub jantung berdetak lebih keras dari biasanya.


"Semoga detak jantung ku tak terdengar olehnya" batin Maliqa dan Arsya hampir bersamaan


"Kita berangkat sekarang?" ucap Maliqa mengalihkan perhatian Arsya

__ADS_1


"Ah iya, kita berangkat sekarang" ucap Arsya terbata


Mobil mulai melaju membelah jalanan dan hujan yang masih turun meski tak selebat sebelumnya.


Didepan gerbang sekolah mobil berhenti Arsya turun lebih dulu memutari kap mobil dan membukakan pintu untuk Maliqa dengan payung ditangan kanannya.


"Tidak perlu antar sampai dalam, biarkan saya masuk sendiri tuan"


"Tuan?" Arsya meraih pinggang Maliqa dengan erat hingga tiada jarak antara mereka berdua


"Mas ya Mas maaf" ucap Maliqa terbata


"Sekali lagi kau menyebutku dengan kata tuan aku akan menikahi mu sekarang juga" ujar Arsya berharap Maliqa akan tersipu malu seperti biasanya yang selalu membuatnya gemas.


"Aku akan menyebutnya suatu saat jika aku sudah siap melepas masa gadis ku" ucap Maliqa sembari memberikan senyuman manisnya.


Perkataan Arsya malah menjadi bomerang bagi dirinya sendiri, alih - aling ingin melihat wajah Maliqa yang memerah malu karena ucapannya, kini malah dia yang dibuat tersipu hingga tak bisa berkata - kata, seketika raut mukanya memerah merona.


"Maksud mu kau bersedia jika kelak kita berjodoh hingga kepelaminan?!" Ucap Arsya memastikan


"Kenapa tidak?" jawab Maliqa


"Melihat apa yang Mas miliki dan yang ada pada diri ku, aku merasa kau jauh dari jangkauan ku, aku tak kan sepadan meski aku mencintaimu" ucap Maliqa lirih


"Jadi saat itu kau sudah menyukai ku?" Tanya Arsya terheran - heran


"Menurut mu aku mempercantik diri untuk siapa? aku juga baru merasakannya hanya kepadamu" ucap Maliqa yang membuat Arsya ingin berteriak kegirangan setelah mengetahui jika dia menjadi cinta pertama bagi gadisnya.


"Mulai sekarang jangan berfikir yang tidak - tidak cukup percaya semua yang aku lakukan hanya berdasarkan rasa cinta dan sayang ku terhadapmu, mengerti?" ungkap Arsya


"Baik Mas" ucap Maliqa


Arsya mengantar Maliqa hanya sampai lorong kelasnya, beruntung belum terlalu banyak yang datang, hingga tidak ada yang menyadari donatur utama sekolah ini mengantarkan kekasihnya.


Arsya dengan sayang mengelus pipi Maliqa sebagai tanda perpisahan dan pamit untuk pergi ke perusahaan.


Siswa - siswa pun mulai berdatangan, seketika sekolah terasa ramai dengan canda tawa mereka, Maliqa tidak bisa menghilangkan rasa bahagia yang terlukis indah dalam wajahnya.

__ADS_1


Bell tanda muali belajar pun terdengar, suara riuh para siswa seketika berganti dengan keheningan saat guru mata pelajaran pertama datang.


Martha melihat kebahagiaan yang Martha rasakan hanya bisa menghela nafas panjang dan menahan diri dengan senyum yang terpaksa dia buat.


"Aku akan merelakanya" batin Martha


Saat jam istirahat Maliqa sangat bersemangat bertemu dengan Amaya, dia berencana memberitahu kedua temannya mengenai hubungannya dengan Arsya sembari makan siang bersama.


"Ayo Martha aku ingin makan siang bersma kalian, kali ini biarkan aku yang membayar semuanya kau hanya duduk diam saja oke" ucap Maliqa menarik pergelangan tangan Martha.


Sesampainya dikantin Maliqa menyuruh Martha dan Amaya memesan makanan yang mereka inginkan, meski mereka masih dalam keadaan kebingungan mereka tetap melakukan apa yang Maliqa perintahkan.


"Ada angin apa kau mentraktir kami makan siang kali ini?" Tanya Amaya heran


"Aku ingin merayakan sesuatu Kak" ujar Maliqa


"Apa?! Merayakan apa? Setau ku hari ulang tahunmu masih lama" ujar Amaya


Martha hanya berdiam diri menjadi pendengar, dia sedang berusaha tenang meski yang akan dia dengar bukanlah kabar baik untuknya.


"Aku sudah punya kekasih" ucap Maliqa setengah berbisik menempelkan sebelah tangannya didekat bibirnya


"Apa?!" ujar Amaya terkejut


Martha hanya terdiam mematung mencoba menenangkan hati yang terasa sakit.


"Martha kenapa kau tidak terkejut? apa kau sudah mengetahuinua?"tanya Amaya heran melihat sikap Martha yang diam saja sedari tadi


" Ah tidaak, aku juga batu mendengarnya sekarang" jawab Martha gugup


"Siapa lelaki itu? Apa kami mengenalnya?" Tanya Amaya


"Kalian mengenalnya, bahkan semua orang yang berada disekolah juga mengenalnya, jika mengetahui kami menjalin hubungan pasti akan menjadi kehebohan tahun ini" ucap Maliqa lesu


"Siapa?!" Tanya Amaya lagi


Bunyi ponsel Maliqa berdering, setelah Maliqa lihat ternyata Arsya menelponnya.

__ADS_1


"Sebentar aku angkat telpon dulu" jawab Maliqa


"Hallo Mas" sapa Maliqa


__ADS_2