Metamorfosa Ugly Girl

Metamorfosa Ugly Girl
Cemburu Membuatku Malu


__ADS_3

"Dia anak teman Ayah, dulu Ibunya pernah menjadi kolega diperusahaan Ayah" Ujar Arsya santai.


Sampai saat ini Maliqa tidak mengetahui jika Arsya memiliki dua perusahan yang dia pimpin, Maliqa hanya mengetahui jika Arsya anak seorang pengusaha dan Willy adalah karyawan diperusahaan Ayahnya dan menjadi teman dekat Arsya.


"Apa dia menyukaimu!" tanya Maliqa penuh selidik dengan tangan bersedekap didepan dada.


"Mu?" Arsya membeo heran mendengar panggilan Maliqa terhadapnya.


"Jawab saja" ujar Maliqa geram


"Sepertinya iya" jawab Arsya tak ambil pusing dengan perlakuan Maliqa.


"Apa kau tertarik kepadanya" tanya Maliqa lagi memastikan jika dia tidak sedang dicurangi.


"Kenapa kau jadi tidak sopan hanya memanggil Mas dengan sebutan mu dan kau?" Ujar Arsya sedikit kesal dan heran dengan tingkah Maliqa saat ini.


Seorang pelayan wanita menghampiri mereka dengan nampan beriso minuman dan makanan yang mereka pesan, pelayan itu pergi setelah menghidangkan semua pesanan yang mereka tunggu sedari tadi.


"Hmmmpp.. Aku lapar" ujar Maliqa dengan raut muka datar tanpa menatap Arsya.


Mereka segera memulai makan siang dengan perasaan sama - sama canggung, usai menghabiskan makanan ponsel dalam saku jas Arsya berdering, Arsya merogoh saku jasnya.


"Hallo Ayah ada apa?" sapa Arsya pada penelepon yang ternyata Ayahnya sendiri


"Apa kau sudah bertemu dengan Luna?" jawab Aditya disebrang sana


"Ya, aku sudah berjumpa dengan Luna" jawab Arsya malas dengan pertanyaan Ayahnya


"Pulanglah sekarang ada yang harus kita bicarakan" ujar Aditya.


"Baiklah aku akan segera pulang" jawab Arsya mengakhiri panghilan telpon.


"Maliqa, Mas harus segera pulang" Ucap Arsya lesu, sebenarnya Arsya ingin membawa Maliqa ke Perusahaan dan menyuruhnya untuk menemani sisa jam kerja.


"Apa Luna yang Ayah bicarakan adalah wanita tadi" tanya Maliqa penasaran


"Iya" jawab Arsya malas.


"Oh" Maliqa hanya membulatkan bibirnya.

__ADS_1


" Ternyata mereka cukup dekat, sebenarnya siapa wanita itu? apakah dia akan menjadi penghalang hubungan ini? mungkinkah aku bisa bersaing dengan wanita secantik dia?" batin Maliqa


Pertanyaan demi pertanyaan memenuhi isi kepala Maliqa, dia merasa cukup tau diri bila bersaing dengan wanita yang baru saja dia jumpai.


Sebenarnya saat wanita itu duduk dihadapan Arsya Maliqa telah memerhatikan dari jauh tanpa mengetahui apa isi perbincangan mereka, tapi saat Maliqa penasaran dan mulai mendekat dia cukup terkejut dengan kelakuakuan wanita itu yang memberikan kecupan diudara kepada Arsya.


"Kenapa?" tanya Arsya menautkan kedua alisnya heran.


"Tidak" jawab Maliqa singkat.


"Baiklah kalau begitu Mas akan antar kamu pulang sekarang" ujar Arsya


"Hmmmpp"Maliqa hanya berdehem dan menganggukan kepala


Mereka mulai beranjak dari cafe setelah melakukan transaksi pembayaran. Arsya dan Maliqa menaiki mobil dan berlalu meninggalkan area parkiran, mobil yang Arsya melaju pelan dijalanan Arsya masih ingin menghabiskan waktu bersama.


Maliqa yang melamun tidak menyadari jika selama perjalanan Arsya terus mencuri -curi kesempatan untuk memandang wajahnya.


Mobil yang mereka tumpangi berhenti didepan pekarangan rumah Maliqa.


"Sudah sampai" Ujar Arsya pelan.


"Hmmmpp" Maliqa dan Arsya saling pandang karena berdehem bersamaan


"Ada apa?" ujar mereka hampir bersamaan kembali.


"Kamu duluan?" Ujar Arsya tersenyum menawarkan Maliqa untuk berbicara lebih dahulu.


"Mas mau langsung pulang?" tanya Maliqa segan, Arsya hanya menjawab dengan anggukan.


"Boleh aku ikut?" tanya Maliqa lagi.


"Kenapa?" ujar Arsya heran, tidak biasanya Maliqa seperti ini bahkan pernah beberapa kaki Arsya menawarkan untuk mengunjungi mansion tapi Maliqa selalu menolak dengan halus.


"Aku masih rindu" dengan malu Maliqa berucap pelan, sebenarnya dia sedikit penasaran perihal wanita bernama Luna yang dibicarakan Aditya dan Arsya, ketimbang harus mengaku cemburu yang membuatnya malu, Maliqa malah memilih mengaku rindu sebagai gantinya agar tak dicurigai oleh Arsya.


"Apa?!" Arsya terkejut hingga setengah berteriak, dia sampai kehilangan kata - kata mendengar pengakuan Maliqa yang membuat hatinya melonjak gembira.


"Ah tidak, terima kasih sudah mengantar" Maliqa baru menyadari jika kata rindu sama memalukannya dengan kata cemburu, hingga akhirnya dia memutuskan untuk mengakhiri rasa penasarannya.

__ADS_1


Maliqa berbalik berniat pergi memasuki halaman rumah, tapi seketika pergelangannya ditarik hingga dia masuk kedalam pelukan Arsya yang sengaja melakukannya.


Arsya mendekatkan wajahnya menatap Maliqa yang membuat keduanya merasakan gelenyar perasaan aneh, tubuh mereka meremang ada perasaan bahagia dan gugup bersamaan.


"Katakan sekali lagi" Ucap Arsya pelan aroma harum nafasnya tercium sempurna oleh Maliqa


"A-apa?" tanya Maliqa terbata Maliqa tak mau ada dalam kondisi seperti ini, Maliqa berusaha berontak untuk melepaskan pelukan Arsya, kondisi ini membuat jantungnya berdebar lebih cepat dan itu membuatnya takut.


"Katakan yang barusan kau ungkapkan" Ucap Arsya pelan dia tak akan melepaskan Maliqa begitu saja setelah membuatnya terbang melayang karena terlalu bahagia


"Aku masih rindu, boleh aku ikut pulang ke mansion?" Maliqa menyerah dan mengulang kata - kata yang diinginkan Arsya.


"Tentu saja boleh!" ucap Arsya cepat perlahan dia melepaskan pelukan gadis kecilnya setelah dia merasa senang dengan apa yang telah Maliqa ucapkan.


"Benarkah?! Baiklah aku akan minta izin dan berganti pakaian, bisakah Mas tunggu sebentar" Maliqa meloncat senang, Arsya terkekeh gemas melihat kelakuan kekasihnya.


"Baiklah, Mas akan tunggu di mobil" ujar Arsya tersenyum.


Maliqa setengah berlari memasuki pekarangan rumah.


"Memiliki kekasih jauh lebih muda ternyata membuat ku awet muda dengan kelucuannya" batin Arsya


Maliqa bergegas berganti pakaian setelah sebelumnya dia mencuci muka untuk menghilangkan peluh dan mengenakan riasan sederhana, Maliqa mengenakan kaos oblong berwarna putih dengan gambar beruang madu berwarna kuning dan celana levis pendek diatas lutut berwarna soft blue dengan sepatu kets berwarna putih.


Karena merasa gerah rambut panjangnya dia gulung dan ikat cepol tinggi asal dengan anak rambut yang menjuntai dibagian telinga.


Usai meminta Izin akan bermain bersama teman, Maliqa bergegas keluar takut jika Arsya bosan karena menunggu terlalu lama.


"Maaf lama ya?" sapa Maliqa saat memasuki mobil dan duduk disamping kursi kemudi.


Gluk.


Arsya menelan salivanya dengan susah payah, setelah melihat indahnya leher jenjang dengan tulang selangka yang terlihat jelas, tubuhnya meremang, darahnya mengalir deras gelenyar perasaan gelisah menghampirinya.


"Maliqa apa kau sering ngengulung rambutmu seperti itu?" tanya Arsya dengan susah payah mengalihkan pandangannya.


"Biasanya hanya dirumah saja, disekolah aku belum pernah melakukannya lebih sering mengeraikannya" jawab Maliqa bingung dengan pertanyaan Arsya.


"Jangan pernah menggulung rambutmu seperti itu jika orang lain yang melihatnya" ucap Arsya tegas, dia tidak mau Maliqa jadi sorotan para lelaki hidung belang diluar sana.

__ADS_1


"Oh.. baiklah" Maliqa tidak ambil pusing dengan peraturan yang baru saja Arsya berikan, dia hanya berpikir Arsya menyukainya dan tidak mau berbagi dengan yang lain.


__ADS_2