Metamorfosa Ugly Girl

Metamorfosa Ugly Girl
Supir?!


__ADS_3

Akhirnya baby sitter Lexi datang namun tak berniat mengambil Lexi sebagai mana yang dia harapkan.


Bi Nani menceritakan hampir semua yang dia tahu mengenai Lexi serta siapa Sean yang menyebut Lexi sebagai Tuan muda.


"Nona tolonglah saya, jagalah Lexi mereka tak akan berani melukai Nona karena Nona berani menentang mereka" Bi nani bersimpuh dihadapan Amaya memohin belas kasihan untuk anak asuh yang dia sayangi.


"Saya harus bekerja Bi, bagaimana saya bisa menjaganya saat saya bekerja"Ujar Amaya memberikan pengertian pada Bi Nani, meski sesungguhnya dia pun merasa iba pada Lexi.


"Saya takut jika Lexi dan saya kembali ke rumah itu Nyonya akan menghukum kami" Kedua mata Bi Nani mulai berkaca - kaca ada kekhawatiran dan kecemasan disana.


"Kenapa tidak meminta bantuan Daddynya Lexi?" ucap Amaya memberi solusi,sepertinya Daddy nya orang yang cukup baik dengan menyuruh anak buahnya terus mengawasi Lexi lewat Bi Nani.


"Saya belum percaya dengan anak buah Daddy nya, saya juga tidak tau mereka orang yang bisa menjaga Lexi atau malah sama saja dengan Nyonya" Ujar Bi Nani meragu, terlihat wajah lesu pucat pasi itu belum sembuh sepenuhnya.


"Tapi saya tidak bisa berbuat banyak Bi" Ucap Amaya memberi pengertian, dia tidak bisa mengiyakan bagaimana pun Lexi tidak bisa selalu 24 jam bersamanya.


"Lexi suka bisa main bareng Kak Amaya?" Tanya Bi Nani mengeluh rambut tebal Lexi yang sedang bermain dengan puzzle yang aku beli.


"Suka Lexi suka Kak Amaya" Ujar Lexi senang setengah berteriak


"Lexi mau tinggal sama Kak Amaya?" Tanya Bi Nani menatap Lexi menunjuk diri Amaya


"Mau.. mau..mau" Jawab Lexi antusias penuh harap dengan mata berbinar menatap Amaya


"Bi.." keluh Amaya mencoba menghentikan Bi Nani


"Saya mohon Nona bisa menolong saya, saya akan tetap berpura - pura sakit agar Nyonya tidak bisa memanfaatkan saya lagi" pintanya memohon dengan sangat menggenggam kedua tangan Amaya.


"Bagaimana saya bisa menemaninya saat jam kerja" Ujar Amaya menjelaskan inti permasalahan yang membuatnya tidak bisa menerima Lexi dirumahnya, Neneknya yang pikun tidak bisa Amaya percaya untuk menitipkan Lexi bukannya menjaga Lexi yang ada malah Lexi yang menjaga neneknya.

__ADS_1


"Itu.." Bi Nani kebingungan sendiri dengan ucapan Amaya


"Supir" Amaya seketika mendapat Ide.


"Supir?! Siapa?" Tanya Bi Nani di buat heran dengan ucapan Amaya


"Lelaki bernama Sean bisa menjaganya saat aku sedang bekerja" Ujar Amaya tersenyum menatap Bi Nani


"Sean anak buah Daddy Lexi?"Tanya Bi Nani menyakinkan


"Ya, dengan begitu kita juga bisa mengetahui apakah mereka tulus atau tidak mengenai Lexi?" ucap Amaya tersenyum senang mendapat satu ide untuk dua masalah yang mereka hadapi.


"Bagaimana caranya?" Tanya Bi Nani penasaran


"Biar aku yang fikirkan" Senyum aneh menghias di wajah Amaya membuat Bi Nani tersenyum menggelengkan kepala.


Di basement apartemen Sean sedang menguji coba senjata yang baru saja tiba, sebelum barang dijual ke lapangan Sean bertugas memastikan kualitas senjata yang dijualnya.


"Hallo siapa ini?" Tanya Sean dengan tetap memegang senjata api membidik sasarannya.


"Supir kau dimana?" Tanya dari panggilan telpon terasebut, itu seorang wanita.


Mendengar ada seorang wanita yang berani menyebut Tuan ke duanya dengan sebutan supir, beberapa anak buah yang mendengarkan pecakapan mereka menahan tawa, baru kali ini ada yang lancang memanggil seorang yang cukup kejam dan dingin seperti Sean dengan sebutan menghina dan itu dari seorang wanita.


"Supir?! Siapa kau berani menyebut ku dengan sebutan supir?!" bentak Sean aura dingin dan mengintimidasi menyerang diruangan latian tembak itu semua anak buah Sean bungkam menundukan kepala.


"Aku Amaya apa sekarang kau sudah ingat?" Tanya wanita itu datar.


"Amaya?!" Ujar Sean membeo.

__ADS_1


"Wah sepertinya kau amnesia, baiklah jika kau tidak mengingat ku aku akan menutup panggilan ini selamat tinggal" Jawab Amaya yang sebenarnya hanya mengetes Sean


"AKU INGAT!" Teriak Sean melempar senjata ditangan ke salah satu anak buah didekatnya, dia ketakutan jika memang benar wanita itu memutuskan panggilan dan bisa jadi tak mau menghubunginya lagi.


"Kau akhirnya mendekati ku" pikir Sean berpuas diri


"Tidak perlu berteriak, kau ingin menghancurkan gendang telinga ku" Ujar Amaya geram mendapat serangan mendadak dari Sean


"Baiklah aku minta maaf" ucap Sean menyesal.


Semua anak buahnya dibuat terkejut ini pertama kalinya sang Tuan mengaku salah dan meminta maaf, mereka tau Sean hanya takut pada Albertho saja itu pun bukan takut lebih ke menghormati.


"Permintaan maaf mu belum aku terima sekarang bisa kau temui aku?" Tanya Amaya ketus.


"Dimana?" Tanya Sean antusian.


"Alamat dan tempatnya akan aku kirim, bergegaslah setelah mendapatkan pesan dari ku" Ujar Amaya ingin mengakhiri percakapannya karena ini waktu kerja, dia menghubungi Sean karena merasa tidak terlalu banyak pelanggan yang datang saat ini.


"Baiklah" Jawab Sean mencoba mengerti.


Sean tersenyum menatap nomor yang sudah menghubunginya baru saja, senyum manis Sean terekam oleh semua anak buahnya yang merasa lucu dan menyangka jika Tuannya sedang jatuh cinta pada wanita bernama Amaya..


"Apa yang kalian liat, dia bersama dengan Tuan muda Lexi jadi jangan berfikiran yang tidak - tidak" Ujar Sean membentak membuat semua tersentak dan terpaku dengan pandangan mata menunduk tak berani menatap Tuannya.


"Selesaikan semuanya, aku akan pergi dulu" ujar Sean memerintahkan semuanya.


"Baik Tuan" jawab semua anak buah serempak


"Sial seharusnya aku mematikan pengeras suaranya, kenapa aku jadi ceroboh seperti ini bertingkah konyol didepan merek" gumam Sean kesal dan malu dengan tindakannya.

__ADS_1


"Aku harus bersiap - siap menemui gadis ku" Sean berlalu demngan senyum menghiasi wajah tegasnya.


__ADS_2