Metamorfosa Ugly Girl

Metamorfosa Ugly Girl
Tangisan pilu


__ADS_3

Arsya mencoba berlari mengejar Maliqa, dia kebingungan hati dan fikirannya tak seiringan berjalan, dia hanya berlari dan berputar - putar didalam Mall berharap bisa menjelaskan kesalahpahaman yang Maliqa pikirkan.


Arsya Keluar dari Mall dan menuju area parkir disana dia menemukan kedua sahabat Maliqa, Arsya berlari untuk menghampirinya.


"Dimana Maliqa?!" ujarnya dengan Nafas tersenggal akibat berlari - larian.


"Untuk apa Tuan mencari Maliqa?" ujar Amaya geram, andai disini bukan tempat ramai Amaya pasti akan menghajar Arsya dengan karatenya.


"Kemana dia pergi?" Tanya Arsya kembali sembari mengatur nafas yang belum teratur.


"Jauhi Maliqa bila Tuan hanya berniat menyakitinya" Ujar Amaya mengertak setengah berteriak dia tidak ingin orang yang dia sayangi terluka.


Maliqa sudah lebih dari sahabat baginya hadirnya Maliqa dalam kehidupannya bagaikan sang mentari yang menghangatkan bumi setelah hujan badai datang, hingga hadirnya pelangi sebagai perumpamaan rasa sayang yang besar untuk melindungi.


"Menyakitinya? Apa dia menangis??" Tanya Arsya panik raut wajahnya berubah pucat pasi membayangkan gadisnya sedang bersedih.


"Pertanyaan macam apa itu? tentu saja dia menangis, cinta Maliqa itu tulus dan Tuan hanya menyianyiakannya" Amaya mencecar Arsya habis - habisan.


"Kak.." ucap Martha pelan menenangkan Amaya, Martha sangat mengerti kemarahan yang dirasakan Amaya.


"Kenapa Martha? biarkan lelaki bodoh ini mengetahui semuanya agar dia sadar atas kebodohannya" Ujar Amaya menatap nyalang Arsya


"Kak dia itu.." Belum selesai Martha menjelaskan Amaya sudah memotong ucapan Martha.


"Iya aku tau, dia adalah donatur utama sekolah kita lantas kenapa? Apa dia akan mencelakai Maliqa dan kita juga?" Jawab Amaya geram dia sudah tidak peduli jika harus keluar dari sekolah.


"Aku tidak akan melakukannya, maaf akan sikap ku, aku memiliki alasan kuat kenapa sampai berbuat seperti ini" Arsya menunduk menyesal


"Bagus, sampaikan langsung alibi mu itu kepada Maliqa, biar Maliqa sendiri yang memutuskan kau bersalah atau tidak" Ujar Amaya kemarahannya sedikit mereda setelah mendapat permintaan maaf dari Arsya.


"Bolehkan aku meminta no telpon kalian?" ujar Arsya menyerahkan ponselnya dihadapan Martha dan Amaya.


Martha mengambil ponsel dari tangan Arsya dan memasukan nomor teleponnya dan nomor telepon Amaya.


"Silahkan Tuan" ucap Martha menyerahkan kembali ponsel milik Arsya.

__ADS_1


"Terima kasih, aku boleh meminta tolong? tolong jaga Maliqa selama jauh dari ku, kabari aku jika terjadi sesuatu dengannya" Ujar Arsya memohon kedua matanya sudah berkaca - kaca seperti menahan amarah.


"Apa maksud mu?!" tanya Amaya tersentak kaget


"Wanita yang tadi dengan ku adalah wanita licik, aku akan menceritakannya lain hari" ucap Arsya tanpa bisa menjelaskan semua tentang Luna dihadapan kedua sahabat Maliqa.


"Baik tuan, kami permisi pulang dulu" Martha mewakili Amaya pamit untuk pulang ke rumah masing - masing.


"Baik terima kasih" ucap Arsya.


Mereka pun membubarkan diri kearah yang berbeda.


Diperjalanan pulang Maliqa terus saja memeluk erat punggung seorang driver ojek online, driver itu adalah Bapaknya saat Maliqa keluar dan akan memesan jasa ojek online, Bapaknya menghampir.


Bapaknya memberi tahu tadi dia menerima orderan dari seorang wanita dan setelah sampai wanita itu mengcancelnya lantaran suaminya telah datang jntuk menjemput, meskipun demikian wanita iyu tetap membayar sejumlah uang melebihi tarif yang sudah tertera dalam aplikasi.


Bapaknya tidak tau perihal apa yang membuat Maliqa menjadi sedih, tanpa bertanya Bapak mengajak Maliqa untuk pulang bersama karena waktu sudah menujukan jam makan siang.


Sesampainya dirumah Ibu menatap heran pada Maliqa yang pulang bersamaan dengan Bapaknya.


"Maliqa kamu kenapa sayang?" Ujar Ibu pelan dia sangat khawatir saat melihat kedua mata Maliqa memerah seperti habis menangis.


"Maliqa kamu istrahatlah dulu, jika sudah merasa tenang dan mau menceritakannya dengan senang hati Bapak dan Ibu akan menunggu mu" ucap Bapak lembut, dia berusaha bijak saat semua pertanyaan Ibu tidak satupun Maliqa jawab, beliau tau bahwa Maliqa butuh waktu untuk menceritakannya.


"Terima kasih Pak, Maliqa ijin ke kamar dulu" Jawab Maliqa lirih menatap Ibu dan Bapaknya lalu berlalu pergi meninggalkan kedua orang tuanya yang masih mematung menatapnya.


"Baiklah, istirahatlah" ujar Ibu lemah.


Bapak dan Ibu berjalan ke meja makan untuk memulai makan siang mereka.


Di kamar Maliqa kembali menangis pilu, dia tidak menyangka jika selama dua minggu ini anggapannya benar, Arsya kembali mendekati Luna dan diam - diam menghabiskan waktu bersama.


Maliqa tidak menyangka kekecewaannya akan sesakit ini, dia berani membentak Luna saat dia kurang ajar merangkul tangannya tapi kenapa dia tidak berani mengatakan jika Maliqa adalah kekasihnya.


Bukankah Luna pernah mengatakan jika dia pernah tertarik pada Maliqa sebelumnya, bukankah seharusnya rasa itu sekarang melebihi dari sebelumnya, lantas kenapa dia hanya diam mematung tanpa menyambut dirinya.

__ADS_1


"Mungkin rasanya sudah memudar saat kami sama - sama menjauh selama dua minggu ini"


"Kenapa kamu jahat Mas"


Bapak mendengar sepintas apa yang diucapkan Maliqa, dia bisa menarik benang merah jika yang membuat Maliqa menangis pilu adalah lelaki yang menjadi kekasihnya.


Sejujurnya Bapak merasa terkejut, dia memang sempat melarang Maliqa memiliki kekasih, Bapak dan Ibu ingin Maliqa fokus ke sekolah, tapi Bapak juga tidak bisa mencegah Maliqa adalah gadis remaja yang ingin mencoba rasa yang dia anggap indah dan semua orang umum melakukannya.


Bapak hanya takut kejadian seperti ini membuat sekolah Maliqa terganggu dan membuat dia tidak ceria lagi seperti biasanya.


"Nak..." sapa Bapak saat memasuki pintu kamar Maliqa yang terbuka.


"Bapak.." Jawab Maliqa lirih sambil menghapis air mata yang masih menganak sungai dikedua pipinya.


"Masih sedih?" jawab Bapak pelan duduk diranjang samping Maliqa


"Sudah lebih baik" Jawab Maliqa dengan senyuman


"Ada yang ingin kamu ceritakan tentang kenapa gadis manis Bapak bisa menangis seperti ini" ujar Bapak mencubit pipi Maliqa gemas


"Pak.." rengek Maliqa manja


"Apa kau benar - benar mencintainya?" Tanya Bapak menatap bola mata anak semata wayangnya mencari kebenaran.


"Pak.." Maliqa terkejut dan bingung.


"Ceritalah Bapak tidak akan marah" ucap Bapak pelan mengelus puncak kepala Maliqa.


"Maliqa mencintainya Pak, tapi tidak tau bagaimana dengan dia" ucap Maliqa lirih menundukan kepalanya.


"Apa kalian sudah memiliki hubungan?" tanya Bapak penasaran.


"Ya sudah, hampir 5 bulan terakhir ini" ujar Maliqa menatap sang Bapak sambil mengggigit bibir bawahnya, Maliqa sangat takut jika kedua orang tuanya kecewa dengan larangan yang sudah pernah Maliqa dapatkan.


"Apa yang membuatmu menangis?" tanya Bapak.

__ADS_1


"Sudah 2 minggu ini kami tidak berhubungan, tadi saat di Mall kami bertemu dan dia sedang berduaan dengan wanita lain" Ujar Maliqa rasa sakit itu masih berbekas.


__ADS_2